Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suatu Sore di Tanah Abang
“Baik bang Rand,” kata Mat Pelor. “Tapi aku punya satu permintaan.”
“Apa tuh?” tanya Randy.
“Aku minta tolong sama Bang Randy,” Mat Pelor berseru lirih. “Anakku tangannya bengkok karena patah akibat tawuran. Harus dioperasi tapi biayanya mahal. Akhirnya cuma diurut sama tukang urut daerah sini, dan sekarang tangannya bengkok.”
“Boleh Mat, bisa,” kata Randy. “Sekarang di mana anak Mat Pelor?”
“Wah, hari ini dia sedang ke Bogor, ke rumah neneknya,” sahut Mat Pelor. “Besok ada di rumah dia, sepulang sekolah.”
“OK Mat, besok sehabis kuliah aku ke sini lagi,” kata Randy. “Ayo sekarang aku traktir di warteg.”
“Saya pakai kikil dan sayur,” kata Randy kepada mbak Sari yang jual warteg.
“Sama,” kata Mat Pelor.
Setelah makan di warteg mereka berpisah. Randy memacu motornya pulang ke rumah, berpacu dengan kemacetan di ibukota yang sudah menjadi makanan sehari-hari.
Besok paginya aktivitas kampus berjalan normal. Seperti biasa, Randy menghabiskan waktu di kantin kampus sambil melihat-lihat foto di laptopnya dan memilih beberapa yang layak dijual untuk diposting ke Shutterstock, dan beberapa dia posting di Instagram.
Beberapa cewek duduk di dekat Randy dan mulai pdkt.
“Hai Rand, masih suka berburu foto?” tanya Susan sok dekat.
“Masih dong,” jawab Randy sambil senyum dan mengalihkan pandangannya ke Susan. “Kamera itu seperti istri kedua buat aku.”
Susan tertawa genit dan membalas candaan Randy, “Mau dong jadi istri pertama kamu.”
Randy tak kalah gesit, membalas candaan Susan, “istri kedua ini mau kunikahi tanpa surat, kamu jadi istri pertamaku tanpa surat mau?”
“Walah, nggak kuku deh,” jawab Susan sambil tertawa-tiwi.
Kemudian datanglah Tatia. Jalannya biasa aja dan Randy menegurnya, “Tat, kakimu sudah nggak sakit lagi?”
Baru dia ingat, kemarin dia pura-pura keseleo di depan Randy, dan dia segera berjalan pura-pura pincang lagi.
“Masih, Rand,” jawab Tatia pendek. Randy tahu Tatia bohong, tapi dia sudah menyiapkan balasannya.
“Kubawain arak Cina nih,” kata Randy sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Arak ini sangat ampuh mengobati keseleo.”
“Mau dong,” kata Tatia sambil membayangkan kakinya digosok-gosok pakai arak Cina oleh sang idola kampus.
Bagaikan tukang urut profesional, Randy langsung menggosok kaki Tatia dengan arak China itu.
“Aduh aduh, panas banget!” jerit Tatia. “Udah, udah. Stop.”
Randy tertawa terbahak-bahak melihat Tatia melonjak-lonjak karena kakinya kepanasan diurut pakai arak Cina panas itu.
“Itu akibat berbohong sama Randy,” kata Randy dalam hati sambil tertawa sampai perutnya sakit.
“Ih Randy, jahat banget,” rajuk Tatia. “Orang beneran sakit malah dikerjain.”
Susan yang berada dekat situ ikut mentertawakan Tatia yang kepanasan itu.
“Lho, siapa yang ngerjain? Ini kan bener-bener ngobatin,” kata Randy sambil terus menahan ketawa. “Aku ketawa karena melihat kamu blingsatan.”
“Ih nggak lucu,” kata Tatia ngambeg. “Randy jahat.”
Tatia membatalkan keinginannya jajan di kantin kampus. Dia segera kembali ke ruang kelasnya sambil memasang muka cemberut.
Yohannes, anak jurusan komunikasi yang melihat adegan itu, mendekat ke Randy dan berbisik, “Apa sih rahasianya bro, bisa ngerjain cewek cakep kaya Tatia gitu?”
Randy tersenyum dan membisiki Yohannes, “Sudah bawaan bayi, bro.”
Yohannes dan Randy kemudian tertawa bareng-bareng. Hal itu membuat Susan curiga dengan apa yang mereka bicarakan sambil berbisik-bisik gitu.
Kemudian Randy meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Tatia: “Sorry ya Tat, tadi araknya kepanasan. Kamu lonjak-lonjak gitu, aku jadi geli sendiri. Besok aku bawa arak Cina lain yang nggak terlalu panas.”
“Nggak, aku kapok,” balas Tatia.
“Iya deh,” balas Randy selanjutnya.
Setelah itu Randy seharian berkutat dengan perkuliahan di kampus, dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Randy teringat janjinya pada Mat Pelor untuk datang ke rumahnya. Selesai kuliah dia memacu motornya dengan cepat ke rumah Mat Pelor.
Sesampainya di Tanah Abang dia clingak-clinguk mencari rumah Mat Pelor. Dia pernah sekali ke sana, tapi sudah lupa lokasi persisnya. Setelah berkali-kali nanya, akhirnya ketemu juga rumah Mat Pelor. Agak nyempil di sebuah gang. Maka agak susah nyarinya.
“Maaf Mat, telat, karena nyasar, harus beberapa kali nanya orang,” kata Randy kepada Mat Pelor yang tengah main catur sama tetangganya di teras rumahnya.
“Maklum, bukan anak Tanah Abang,” sapa Mat Pelor sambil tertawa renyah dan menjabat tangan Randy. “Mari masuk.”
“Capek tadi di kampus?” tanya Mat Pelor berbasa-basi.
“Lumayan capek hari ini, kuliah dari pagi sampai sore,” jawab Randy.
“Tapi kan cewek kampus bikin capek hilang?” kata Mat Pelor berbisik-bisik takut kedengeran istrinya.
“Ah biasa aja,” jawab Randy pelan. “Buktinya aku masih njomblo.”
Istri Mat Pelor kemudian datang sambil menyuguhkan minuman.
“Bu, bilang Harris, dicari Om Randy yang mau ngobatin dia ya,” kata Mat Pelor sambil menyalakan rokoknya.
“Oh ya, ini biasa, oleh-oleh rokok buat Mat Pelor,” kata Randy pelan. “Mau ngoleh-olehin cewek kampus, takut perang sama ibu.”
“Bisa aja,” jawab Mat Pelor tertawa terbahak-bahak. “Omong-omong, terima kasih.”
Randy sendiri sudah lupa ihwal perkenalannya dengan Mat Pelor jadi dekat gini dengan preman yang ditakuti di seantero Tanah Abang ini. Kalau nggak salah waktu itu mereka ketemu dan ngobrol di warteg mbak Sari pertamanya.
Harris kemudian datang, wajahnya tampak mirip dengan Mat Pelor, tapi lebih tinggi dan di tangannya ada bekas luka seperti bacokan.
“Kenapa ini tanganmu?” tanya Randy.
“Nggak apa-apa kok Om,” kata Harris.
“Harris, jangan bohong sama Om Randy,” tegur Mat Pelor. “Dia yang akan membantumu.”
Lalu Mat Pelor memegang tangan satunya milik Harris yang bengkok karena patah tulang itu.
“Tahun lalu Harris dibacok karena tawuran sampai begini,” kata Mat Pelor. “Sedang ini tulang patah juga karena tawuran tahun ini. Habis uang Bapak untuk biaya pengobatanmu, Ris.”
“Coba saya tolong, moga-moga bisa,” kata Randy lalu memegang tangan Harris yang bengkok itu. Kemudian Randy berkonsentrasi dan tangan satunya didekatkan ke tangan Harris yang bengkok itu. Lalu sensasi hangat dan ribuan setrum kecil muncul di tangan Randy dan menjalar ke tangan Harris.
Keajaiban pun terjadi, Harris merasakan sensasi hangat dan ribuan setrum kecil di tangannya, seperti yang dirasakan Randy. Dan tangan Harris yang bengkok secara ajaib kembali normal. Harris seakan tak mempercayai apa yang terjadi pada tangannya.
“Wah, kenapa bisa begini, Om?” teriak Harris. “Terima kasih, Om.”
“Sama-sama,” jawab Randy. “Jangan buat tawuran lagi, ya.”
Dan buat Mat Pelor, meski ini bukan pertama kali dia melihat keajaiban ini, dia tetap ternganga karena takjub.
“Benar-benar ajaib,” seru Mat Pelor. “Entah aku harus bayar pakai apa padamu Bang.”
“Biarlah, Mat, nggak usah dipikir, bisa menolong sudah senang aku,” kata Randy. “Begini aja, kalau ada teman, saudara atau kerabat Mat Pelor yang punya penyakit, bawa sini. Setiap hari aku ke sini setelah jam kuliah, nanti aku WhatsApp jadwal kuliahku.”
“Mulianya kamu bang,” kata Mat Pelor.
“Biasa aja, kok Mat, yah tolong-menolong lah,” jawab Randy. “Tapi sehari satu saja, ya. Takut efek energi ilmu penyembuhan itu tidak terlalu kuat, kalau lebih dari 1 pasien sehari.”
“Baik, bang,” jawab Mat Pelor.
Kemudian mata Randy tertuju pada sebuah gramofon tua yang dipajang di ruang tamu Mat Pelor.
“Izin aku foto-foto ya Mat,” kata Randy.
“Silakan,” kata Mat Pelor. “Itu peninggalan ngkongku, ambil saja kalau tertarik.”
“Nggak kok Mat, aku cuma tertarik ambil foto-fotonya saja, siapa tahu ada yang beli fotonya,” jawab Randy. “Aku bukan kolektor barang antik kok.”
Setelahnya Randy pamitan dan segera pulang mengendarai motornya. Belum ada 500 meter, dia dihadang enam orang kekar dan gondrong serta berjaket kulit, beberapa di antaranya bertato, yang langsung menghentikan motornya.
“Berhenti!” kata seseorang dari mereka.
Randy segera menghentikan motornya dan bertanya, “Ada apa?”
Seseorang dari mereka memegang kaca spion motor Randy dan mematahkannya, “Kalau kamu masih mendekati Helen, kaki kamu yang akan aku patahkan seperti spion ini. Paham!?”