Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simetri Dua Jantung
Malam setelah runtuhnya kekuasaan Valerius, suasana di paviliun Shaneen terasa sangat berbeda. Tidak ada laporan intelijen, tidak ada musik Geomungo yang memberontak, hanya ada suara rintik hujan yang jatuh dengan irama teratur di atap kaca.
Matthias duduk di sofa beludru biru tua, memperhatikan Shaneen yang sedang sibuk menyusun piring-piring kecil berisi macarons berdasarkan gradasi warna di meja kopi.
"Ninin," panggil Matthias pelan. "Kau sudah merapikan piring itu lima kali dalam sepuluh menit."
Shaneen terhenti. Tangannya sedikit gemetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Jarak antara macaron hijau dan kuning ini tidak konsisten, Matthias. Itu menggangguku."
"Bukan itu yang mengganggumu," Matthias berdiri, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di belakang Shaneen. "Kau sedang menghindari pertanyaanku yang menggantung selama dua tahun ini."
Shaneen membelakangi Matthias, mencoba mengatur napasnya. "Kau baru saja menjatuhkan seorang Raja, Matthias. Tidakkah itu cukup untuk memuaskan egomu malam ini?"
"Aku tidak butuh takhta, aku sudah mengatakannya pada kakekmu," Matthias memutar bahu Shaneen dengan lembut agar menghadapnya. "Aku melakukan semua ini—menolak Putri, melawan negaraku sendiri, berdiri di depan kakekmu yang menyeramkan itu—hanya untuk satu jawaban. Kau membalas pelukanku kemarin, kau memakai pin kesetiaanku hari ini... tapi kau belum pernah mengatakannya."
Shaneen mendongak, menatap mata ice blue Matthias yang penuh dengan luka perang namun sangat hangat saat menatapnya.
"Kau ingin aku mengatakan apa?" suara Shaneen mengecil. "Bahwa aku merindukanmu? Bahwa aku benci setiap kali mendengar berita kau terluka di garis depan? Bahwa aku sengaja membuat lagu-lagu sedih selama dua tahun ini karena studionya terasa terlalu luas tanpamu?"
Mata Shaneen mulai berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang bisa membuat Matthias rela menyerahkan nyawanya saat itu juga.
"Kau itu tidak simetris, Matthias," lanjut Shaneen, suaranya sedikit bergetar. "Kau datang dan merusak seluruh tatanan hidupku yang tenang. Kau membuatku cemas, membuatku marah, dan membuatku harus berurusan dengan politik istana yang kotor. Kau adalah variabel paling berantakan dalam hidupku."
Matthias tersenyum tipis, tangannya mengusap pipi Shaneen dengan ibu jarinya. "Dan?"
"Dan..." Shaneen menghela napas panjang, lalu ia menyandarkan kepalanya di dada Matthias, menyerah sepenuhnya. "Dan aku tidak bisa membayangkan hidup di dunia yang simetris jika kau tidak ada di dalamnya untuk merusaknya."
Matthias tertegun. Itu adalah pernyataan cinta paling jujur dari seorang Shaneen von Asturia.
Shaneen mendongak lagi, kali ini dengan tatapan tajamnya yang kembali, meski ada rona merah di pipinya. "Aku menerimamu, Matthias von Falkenhayn. Bukan karena kakekku setuju, bukan karena kau seorang Duke, tapi karena hanya kau satu-satunya orang yang cukup bodoh untuk mencintai 'monster' sepertiku."
Matthias tertawa rendah, suara tawa yang penuh kelegaan. Ia menarik Shaneen ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah takut gadis itu akan berubah menjadi melodi dan terbang menghilang.
"Aku akan menjadi orang bodoh itu seumur hidupku, Ninin," bisik Matthias di rambutnya.
Shaneen terdiam dalam pelukan itu sejenak, lalu ia melepaskan diri dan merapikan kerah baju Matthias yang sedikit miring karena pelukan tadi.
"Baiklah. Karena aku sudah menjawabnya, sekarang dengarkan aturanku," ujar Shaneen kembali ke mode Alpha-nya. "Satu, jangan pernah berani terluka lagi tanpa seizinku. Dua, kau harus mandi sebelum menyentuh sofa ini jika kau baru pulang dari pangkalan militer. Dan tiga..."
"Dan tiga?" Tanya Matthias sambil menaikkan alisnya, geli.
"Berhenti menatapku seperti itu di depan umum. Itu merusak citra 'Ice Queen'-ku," sahut Shaneen ketus, meski ia tidak bisa menyembunyikan senyum kecil di sudut bibirnya.
Matthias menarik tangan Shaneen dan mencium punggung tangannya dengan takzim. "Siap dilaksanakan, Ninin-ku. Jadi, kapan kita harus memberitahu kakekmu untuk memesan undangan?"
"Besok," jawab Shaneen. "Malam ini, aku ingin tidur sepuluh jam tanpa gangguan. Dan kau... pulanglah. Kau terlihat butuh tidur di ranjangmu sendiri, bukan di teras paviliun ku."
Matthias terkekeh, ia mencuri satu kecupan singkat di kening Shaneen sebelum melangkah menuju pintu.
"Selamat malam, calon Duchess Falkenhayn."
"Selamat malam, Tuan Falken yang berantakan," balas Shaneen.
Setelah Matthias pergi, Shaneen kembali ke meja kopinya. Ia menatap deretan macaron yang tadi ia susun. Kali ini, ia sengaja menggeser satu macaron hingga posisinya sedikit miring. Ia tersenyum. Ternyata, sedikit ketidakteraturan tidak seburuk yang ia kira.