NovelToon NovelToon
Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:82.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.

Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.

Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.

Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.

“Daddy!”

"Hah?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Subuh itu, Tasya terbangun dengan rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhnya. Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya benar-benar kembali. Langit di balik tirai masih gelap. Lampu kamar redup, menciptakan bayangan panjang di dinding.

Ia menoleh ke sampingnya, kosong dan tak ada siapa pun di sana.

Seprai berantakan menjadi satu-satunya bukti bahwa semalam bukan mimpi. Namun, tak ada sosok pria itu.

Jantung Tasya berdetak lebih cepat.

"Apakah dia sudah pergi?"

Pertanyaan itu belum sempat terjawab terjawab, ketika suara air mengalir terdengar dari kamar mandi.

Tasya membeku, "pria itu masih di dalam."

Kesadarannya langsung pulih sepenuhnya. Ia bangkit tergesa dari ranjang, tetapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya hampir terjatuh kembali. Lututnya lemas, tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri.

Ia menahan napas, menahan nyeri, memaksa dirinya berdiri.

“Aku harus pergi…” bisiknya pelan.

Matanya mencari pakaiannya. Gaun tipis yang ia kenakan malam tadi tergeletak di lantai, sobek di beberapa bagian. Tak mungkin dipakai keluar hotel tanpa mengundang perhatian.

Tanpa pilihan lain, Tasya meraih kemeja pria itu yang tersampir di kursi. Ia mengenakannya dengan tangan gemetar. Kemeja putih itu kebesaran, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha. Setidaknya cukup untuk membawanya keluar dari kamar ini.

Suara air masih terdengar, waktunya tidak banyak. Tasya melangkah menuju pintu, tetapi langkahnya terhenti. Dia baru sadar satu hal yang lebih menyakitkan dari tubuhnya sendiri.

Ia tidak punya uang, tak punya sepeser pun. Ia tak mungkin pergi jauh tanpa uang, bahkan untuk naik taksi pun tidak cukup. Dengan napas tertahan, Tasya menoleh kembali ke dalam kamar. Pandangannya menyapu meja kecil di dekat sofa. Di sana tergeletak sebuah dompet hitam.

Dia berjalan cepat ke sana, tangannya sedikit ragu sebelum membukanya. Di dalamnya terdapat kartu-kartu tanpa nama dan beberapa lembar uang euro.

Ia menghitung cepat, hanya ada dua lembar. Tasya mendengus pelan, kesal di tengah kepanikan.

“Tinggal di kamar hotel semewah ini, tapi cuma simpan dua lembar uang…” gumamnya lirih.

Kesal, tetapi tetap mengambil uang itu untuk ongkosnya. Ia tak berani mengambil kartu apa pun. Ia tak ingin meninggalkan jejak lebih banyak dari yang sudah terjadi.

Suara air di kamar mandi tiba-tiba mengecil. Tanpa menoleh lagi, Tasya membuka pintu perlahan. Lorong hotel masih sunyi dalam dingin subuh Berlin. Dengan langkah tertahan oleh rasa sakit dan dada yang dipenuhi campuran takut serta tekad, Tasya berjalan pergi.

Dia tidak mengucapkan apa-apa, dia tidak meninggalkan pesan. Ia hanya membawa dua lembar uang, luka yang tak terlihat, dan keputusan untuk menghilang sejauh mungkin dari malam itu.

Pintu lift terbuka di lantai dasar.

Begitu Tasya melangkah ke lobi hotel, udara hangat menyambutnya, berbanding terbalik dengan dingin yang terasa di dalam dadanya.

Beberapa pasang mata langsung menoleh.

Penampilannya tak biasa. Kemeja putih kebesaran dengan langkah yang sedikit tertatih jelas menarik perhatian. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat.

Namun, Tasya tak peduli. Dia tak punya tenaga untuk merasa malu. Tasya hanya ingin pergi. Dengan langkah cepat, ia melirik ke kanan dan kiri mencari akses keluar. Meja resepsionis. Sofa tamu, pintu putar besar yang mengarah ke jalan.

Ia menuju pintu tanpa berhenti.

Udara subuh Berlin menyentuh kulitnya begitu ia keluar. Dingin, menusuk, tetapi entah mengapa terasa lebih menenangkan daripada kamar hotel tadi. Beberapa taksi terparkir di depan hotel. Tanpa berpikir panjang, Tasya membuka pintu salah satunya dan masuk ke kursi belakang.

“Wohin?” tanya sopir itu singkat.

Tasya menyebutkan alamat rumah pamannya. Suaranya pelan, tetapi tegas.

Mobil mulai melaju. Jalanan masih gelap, lampu-lampu kota redup, sebagian toko belum buka. Berlin pukul tiga lewat, kota itu belum benar-benar hidup.

Di dalam mobil yang bergerak pelan, Tasya menatap ke luar jendela.

Air matanya jatuh tanpa suara. Dia tak pernah menyangka orang yang ia anggap keluarga, orang yang membesarkannya sejak orang tuanya meninggal, bisa menjualnya seperti barang.

Tangisnya pecah pelan, dia menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Kenapa hidupku harus seperti ini?"

Beberapa menit berlalu dalam diam. Sopir taksi tak banyak bertanya. Hanya sesekali melirik dari kaca spion, mungkin bertanya-tanya, tetapi memilih tak ikut campur.

Tasya menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. Dia harus kembali ke rumah pamannya.

Semua barangnya ada di sana. Paspor cadangan. Dokumen, sisa tabungan kecil yang ia sembunyikan. Jika ingin benar-benar pergi dari Jerman dan mungkin kembali ke Indonesia, ia harus mengambil semuanya malam ini juga.

Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan yang lebih sepi. Tangis Tasya mereda, berganti tekad yang perlahan mengeras di dalam dada. Ia mungkin tak bisa mengubah apa yang terjadi malam ini. Namun, ia masih bisa memilih apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mobil taksi berhenti di depan rumah besar milik pamannya.

Lampu taman masih menyala redup, tetapi suasana terlihat sepi. Tak ada mobil di halaman. Tak ada suara, tak ada tanda-tanda kehidupan.

Tasya membayar dengan dua lembar uang yang ia ambil dari kamar hotel tadi. Tangannya masih gemetar, tetapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena tekad yang mulai mengeras.

Ia turun dari mobil.

Gerbang rumah terbuka sedikit. Satpam yang berjaga menatapnya terkejut.

“Nona Tasya?” tanyanya, heran melihat penampilannya yang tak biasa. “Anda baru pulang?”

Tasya sedikit tersentak, lalu memaksakan diri untuk tetap tenang.

“Paman dan Bibi sudah bangun?” tanyanya pelan.

Satpam itu menggeleng.

“Belum pulang, Nona. Sejak sore tadi kalian pergi bersama. Sampai sekarang belum kembali.”

Tasya terdiam beberapa detik, lalu ia mendengus pelan.

Tentu saja, mereka pasti sedang merayakan keberhasilan transaksi itu. Berfoya-foya dengan uang yang mereka dapatkan dari menjual dirinya.

Ia yang hampir kehilangan segalanya, sementara mereka mungkin sedang tertawa di restoran mahal.

“Baik,” jawab Tasya singkat.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu lebih lama. Rumah itu terasa asing meski ia telah tinggal di sana bertahun-tahun. Dinding-dinding yang dulu ia anggap tempat berlindung kini terasa seperti kandang.

Ia menuju kamarnya, pintu dibuka cepat. Semua barangnya masih di sana. Lemari, meja belajar. Koper kecil di sudut ruangan. Tanpa membuang waktu, Tasya menarik koper itu dan mulai memasukkan pakaian seperlunya.

Ia membuka laci meja dan mengambil tabungan yang selama ini ia sembunyikan, uang hasil kerja sambilan dan sisa pemberian almarhum orang tuanya yang tak pernah ia sentuh.

Setelah semuanya siap, Tasya duduk sejenak di tepi ranjang. Ia menyalakan ponselnya dan memesan tiket penerbangan pertama menuju Indonesia. Penerbangan subuh menuju Jakarta masih tersedia.

Ia memesan tanpa ragu.

Begitu sampai di bandara, ia hanya perlu mencetak boarding pass dan langsung berangkat. Tak ada lagi ruang untuk berpikir ulang.

Beberapa menit kemudian, Tasya menarik koper keluar dari kamarnya. Ia berjalan menyusuri lorong rumah untuk terakhir kalinya.

Saat ia melewati pos jaga, satpam kembali menegurnya.

“Nona Tasya mau ke mana pagi-pagi begini?”

Tasya berhenti sejenak.

“Aku akan pergi dari sini,” katanya tenang.

Satpam itu terlihat bingung. “Pergi? Maksudnya…”

“Kalau Paman dan Bibi tanya apakah aku pulang,” lanjut Tasya, menatap lurus ke depan, “tolong jangan katakan apa pun.”

Satpam itu terdiam, dia hanya mengangguk pelan.

Tasya tidak menoleh lagi.

Ia melangkah keluar dari gerbang rumah yang selama ini ia sebut tempat tinggal.

1
Endang
salah saing TDK tau anak sendiri jdi detektif
Lican
good job Kenzo, buat tu Deddy mu GK berkutik
ken darsihk
Wooowww Kenzo 👍👍👍
merry
berati Alex msh impoten donk 😄😄😄 di ancam ank kcil sm anky sndri lgg
merry
siapa ya dsrh plg🤔🤔
Teh Euis Tea
alex, anak km jenius lex keturunan tasya dan km menjadikan anak itu super jenius
Joey Joey
kamu tidak akan tau , dia tau dari iPad mu sendiri😲🤪🤭🤣
ken darsihk
Siapa yng bi Mirna hubungi yak atas perintah kakek Rocki
Aseli penasaran 👍👍👍
Joey Joey
naseb mu aja gak mujur , jgan sampai melukainya🤣🤣🤣
Joey Joey
astaga
Dini Anggraini
alex kenzo itu persis seperti kamu versi mini punya pandangan tajam terhadap sesuatu yang mengancam sedangkan kenzi persis tasya ceria gampang luluh sama orang. 😍😍
Esther
Kamu cari kemanapun tidak akan ketemu Alex, karena Kenzo sangat jenius
Nyonya Gunawan
Ayooo kenzo bkin si Alex g' bisa berbuat apa",,
Ace🌷
aish kamu cari sampe ke pelosok pun tak akan ketemu, Alex karena dia memang ditakdirkan jenius 🤭🤭
Uviek Ku: Lebih cocok ROMAN PICISAN kak🤣🤭
total 3 replies
Esther
Siapa yg diminta kembali sama kakek Rockhi ?
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
Teh Euis Tea
makin penasaran ini, siapa lg yg di hubungi tuan rocksi?
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal
Oma Gavin
keren cerita nya penuh intrik dan dendam asli nya pasti cuma salah paham ada mafia lain yg memanfaatkan persahabatan mereka supaya saling bunuh, jgn harap alex bisa memilih hati tasya dan kenzo
Nelly M
Salah paham gak sih
Nyonya Gunawan
Tuan Rokhi ceritakan pda tasya apa yg trjdi di masa lalu biar kn tasya yg menilai sendri,,siapa tau dgan bantuan kenzo yg mnjdi rahasia di masa lalu bisa terbuka
tia
kenzo cemburu 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!