Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Markas bawah tanah dan sumpah di antara tumpukan ban
Pelarian dari Apartemen Melati meninggalkan luka fisik dan mental. Bagas Putra mengarahkan mobil boks tua yang mereka sewa menuju satu-satunya tempat di mana "orang-orang berjas" tidak akan berani melacak: kawasan gudang tua di pinggiran dermaga yang menjadi wilayah kekuasaan Bang Jago.
"Aman di sini, Den Bagas," kata Bang Jago sambil menggeser tumpukan ban bekas yang menutupi pintu masuk sebuah ruang bawah tanah bekas gudang garam. "Anak buah gue udah jaga di depan gang. Kalau ada mobil asing masuk, mereka bakal dapet 'salam hangat' duluan."
Ruangan itu pengap, hanya diterangi lampu bohlam kuning yang berkedip. Juna Pratama langsung duduk di lantai, membuka laptopnya yang layarnya sedikit retak akibat pelarian tadi.
"Data flashdisk merah ini dienkripsi pakai algoritma militer, Gas," lapor Juna, wajahnya pucat karena kelelahan. "Gue butuh waktu buat upload ke server publik tanpa bisa di- take down sama Kominfo atau diretas balik."
Dewi Laras duduk bersandar di dinding semen yang dingin. Dia menatap buku catatan kecil ayahnya. Setiap nama di sana bukan sekadar nama, tapi orang-orang yang sering dia lihat di televisi sedang bicara soal moralitas.
"Kita bukan cuma ngelawan bokap gue sekarang, Ras," bisik Gia Kirana sambil mengobati luka gores di lengan Rhea Amara. "Kita lagi ngelawan sistem. Begitu Juna tekan tombol 'Enter', nggak ada jalan balik. Kita mungkin nggak akan pernah bisa jadi pengacara, polisi, atau pengusaha lagi."
"Terus kita jadi apa?" tanya Rhea lirih. "Pelarian seumur hidup?"
Eno Surya keluar dari sudut ruangan membawa enam bungkus mi instan cup yang dia seduh dengan dispenser tua di sana. "Kita jadi legenda, Rhe. Mahasiswa paling mahal di sejarah Indonesia."
Eno membagikan mi instan itu. Meski suasananya genting, aroma mi instan tetap bisa sedikit menenangkan saraf mereka yang tegang.
"Gue udah mikir," kata Bagas tiba-tiba setelah menelan mi-nya. "Kita nggak bisa cuma sebar data ini lewat internet. Mereka punya ribuan buzzer buat bilang kalau data ini hoaks atau hasil editan AI. Kita butuh saksi hidup yang kredibel buat berdiri bareng kita."
"Siapa? Semua orang di daftar ini adalah pelaku," sahut Gia.
Laras membuka halaman terakhir buku catatan ayahnya. Ada satu nama yang dilingkari berkali-kali: Ir. Darmono.
"Darmono adalah mantan mitra bokap yang dikhianati dan sekarang hidup dalam persembunyian sebagai saksi terlindung yang terlupakan," kata Laras. "Kalau kita bisa temuin dia, data Juna punya 'mulut' buat bicara di pengadilan."
Malam semakin larut. Di tengah kesunyian gudang, Bagas mendekati Laras yang sedang menatap langit-langit.
"Lo takut?" tanya Bagas pelan.
Laras menoleh, lalu menggenggam tangan Bagas. "Gue takut kehilangan kalian. Uang 100 juta itu harusnya buat kita lulus bareng-bareng, Gas. Bukan buat kita lari kayak gini."
"Duit itu masih ada di rekening aman Gia," Bagas tersenyum tipis. "Gue janji, setelah badai ini lewat, kita bakal pake toga bareng. Meskipun mungkin kita harus wisuda di kantor polisi atau di tengah pasar Bang Jago."
Tiba-tiba, laptop Juna mengeluarkan bunyi bip yang nyaring.
"Dapet!" seru Juna. "Gue berhasil melacak transmisi terakhir yang dikirim Pak Haris sebelum dia menghilang. Dia nggak cuma kerja buat bokap lo, Laras. Dia lagi negosiasi buat jual data ini ke pihak asing seharga sepuluh juta dolar."
"Artinya, kita bukan cuma diburu sama kaki tangan bokap lo," Gia menyimpulkan dengan wajah serius. "Tapi juga sama tentara bayaran korporat yang mau data ini bersih sebelum transaksi."
Suara deru mesin motor yang sangat banyak terdengar dari atas gudang. Bang Jago berteriak dari tangga, "GAS! MEREKA DATANG! JUMLAHNYA BANYAK BANGET!"
Bagas berdiri, meraih sebatang besi panjang yang tergeletak di pojok ruangan. "Juna, berapa lama lagi buat upload?!"
"Dua menit! Jangan biarin mereka masuk sebelum kabel LAN ini selesai!" teriak Juna panik.
"Eno, Rhea, jaga pintu belakang! Gia, bantu Juna! Laras, tetep di belakang gue!" perintah Bagas.
Resimen Hijau kembali bersiap. Kali ini bukan dengan mesin pengolah sampah, tapi dengan tekad bulat untuk menjaga kebenaran di tengah kepungan predator.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...