NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pangeran Greta

Pagi itu, napas Greta terasa pendek saat ia melompat turun dari bus di halte depan sekolah. Ia berlari sekuat tenaga menuruni tanjakan, tasnya memantul-mantul di punggung. Tekanan batin dari ancaman Eleanor Vanderbilt semalam benar-benar menyiksanya, membuatnya terjaga hingga dini hari hanya untuk memandangi langit-langit kamar apartemennya dengan perasaan takut.

​Begitu ia mendorong pintu kelas sains, suasana sudah tenang. Mr. Larry terlihat sibuk di meja depan, menata peralatan kaca untuk praktikum hari ini.

​"Ma... Maaf Pak..." ucap Greta terengah-engah, wajahnya memerah karena kelelahan.

​Mr. Larry tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kirinya, melihat ke arah jam tangannya dengan teliti, lalu menatap Greta datar.

​"Kamu telat 6 menit, Greta," ucapnya dengan suara berat. Ia tidak memarahi, tapi nada bicaranya menunjukkan kedisiplinan yang kaku. "Ayo bantu saya untuk mempersiapkan ini. Kita butuh semua tabung reaksi ini terisi tepat waktu."

​Greta mengangguk patuh. Ia segera masuk ke area laboratorium, meletakkan tasnya dengan cepat, dan menghampiri meja Mr. Larry. Sambil tangannya bergerak lincah membantu menata gelas ukur dan bahan kimia, ia bisa merasakan atmosfer di kelas itu sangat tidak bersahabat.

​Dari sudut samping, sesekali ia melirik ke arah bangku penonton. Di sana, Norah dan Revelyn sedang duduk bersandar. Mereka tidak berbicara, namun mata mereka menatap Greta dengan sangat sinis.

"Baik, kamu boleh duduk Greta," ucap Mr. Larry setelah semua tabung reaksi tertata rapi.

​Greta mengangguk kecil dan segera berjalan menuju barisan bangku belakang. Saat sampai disamping Luca, ia melihat pemuda itu sudah dalam posisi favoritnya, Melipat tangan di atas meja dan menyembunyikan wajahnya di balik lengan—tertidur pulas seolah kelas sains yang membosankan ini adalah pengantar tidur terbaik. Greta duduk di bangkunya, mencoba fokus dan mulai mencatat poin-poin yang ditulis Mr. Larry di papan tulis.

​Di seberang ruangan, atmosfer terasa jauh lebih panas. Revelyn menyenggol lengan Norah, matanya tidak lepas dari punggung Greta.

​"Norah... ayo kita serang Greta lagi. Apa rencanamu hari ini?" bisik Revelyn dengan nada penuh ambisi.

​Norah tidak langsung menjawab. Ia hanya terdiam, melirik tajam ke arah Greta yang sedang serius mencatat.

​"Aku tidak tahu, Rev..." gumam Norah pendek.

​Revelyn mendadak langsung menatap Norah dengan dahi berkerut. "Hmm? Tidak tahu?" Ia mendengus pelan, merasa sahabatnya itu tiba-tiba menjadi lembek. "Baiklah, biar aku yang memikirkannya. Jangan khawatir, kali ini Leon tidak akan bisa membantunya lagi," ucap Revelyn dengan senyum licik yang mulai mengembang.

​Norah hanya bisa menghela napas panjang. Ia ingin sekali melampiaskan kekesalannya karena kejadian di gerbang kemarin, tapi rasa penasarannya tentang apa yang dibicarakan Ibunya dan Greta jauh lebih besar.

​Tiba-tiba, Mr. Larry mengetukkan penggaris ke papan tulis. "Perhatian semuanya. Untuk praktikum hari ini, saya ingin kalian bekerja berpasangan sesuai dengan teman sebangku kalian. Kita akan menguji reaksi oksidasi."

​Revelyn langsung menyeringai. Ia tahu Luca sedang tidur, dan itu artinya Greta akan kesulitan melakukan praktikum sendirian.

Kelas praktikum pun dimulai. Suasana laboratorium menjadi riuh dengan bunyi denting alat kaca dan gumaman para siswa yang berdiskusi. Greta harus melakukannya sendirian karena Luca masih terlelap, wajahnya tetap tersembunyi di balik lipatan tangan.

​Greta sesekali melirik ke arah Luca. Ada keinginan untuk membangunkannya, namun melihat betapa lelapnya pemuda itu, ia mengurungkan niatnya. Ia memilih berjuang sendiri, meski harus bolak-balik mengambil bahan kimia dan memastikan tabung reaksinya tidak meledak.

​Namun, ia tidak menyadari bahwa dari barisan samping, Leon Weiss juga sesekali melihat ke arahnya. Leon memperhatikan Greta yang sepertinya agak kesulitan mencocokkan hasil oksidasi sambil memegang nampan yang berat sendirian. Ada gurat kekhawatiran di wajah Leon, tangannya sempat bergerak seolah ingin membantu, namun ia tertahan oleh situasi kelas.

​Hingga akhirnya waktu praktikum pun tiba di penghujung. "Harap semua peralatan dikembalikan ke meja depan dalam keadaan bersih," seru Mr. Larry.

​Para siswa mulai berdiri, mengantre untuk mengembalikan nampan beserta peralatan kaca ke depan kelas. Revelyn dengan sigap menjadi orang pertama yang maju. Setelah meletakkan nampannya dengan suara denting yang sengaja dikeraskan, ia berpura-pura mencuci tangan di wastafel yang berada tepat di jalur utama siswa kembali ke bangku mereka.

​Sambil membelakangi kelas, tangan Revelyn diam-diam meraih botol sabun cair di pinggir wastafel. Dengan satu gerakan cepat dan tak terlihat, ia menekan pump botol itu berkali-kali ke lantai ubin tepat di depan area langkah kaki Greta. Cairan sabun bening itu menyebar, menciptakan jebakan licin yang hampir tak kasat mata di bawah lampu neon laboratorium yang terang.

​Greta mulai berjalan maju, kedua tangannya memegang nampan besi penuh dengan tabung reaksi dan gelas kimia yang licin karena embun air. Ia tidak melihat ke bawah, fokusnya hanya pada meja depan agar tidak menabrak siswa lain.

"Greta, hati-hati," gumam Leon pelan dari tempatnya berdiri, merasa ada yang tidak beres dengan posisi Revelyn yang terus memperhatikan lantai.

Benar saja, ketika kaki Greta menginjak titik licin itu, dunianya seakan miring. Tubuhnya limbung ke depan dengan nampan berisi botol-botol kaca yang siap hancur berkeping-keping. Pemandangan itu membuat jantung siapa pun yang melihatnya seakan berhenti berdetak.

​Sial... Jika ia jatuh dengan botol kaca itu, bisa sangat berbahaya! teriak Leon dalam hati.

​Tanpa pikir panjang, Leon Weiss langsung melesat dari posisinya. Ia berlari kencang, tangannya terulur untuk meraih bahu Greta sebelum gadis itu menghantam ubin laboratorium yang keras. Namun, di tengah perjalanannya, langkah Leon mendadak mati. Ia terpaku di tempat, matanya membelalak menatap pemandangan di depannya.

​Hanya berjarak beberapa senti dari lantai, tubuh Greta tertahan.

​Sebuah tangan yang kuat dan kokoh telah melingkar di pinggang Greta, menyentak tubuh gadis itu kembali ke posisi tegak dengan satu tarikan stabil. Nampan kaca di tangan Greta bergoyang hebat, namun tidak jatuh.

​Leon terdiam membeku. Ia melihat sosok yang menahan Greta adalah Luca Blight.

​Luca berdiri di sana dengan rambut yang sedikit berantakan dan mata yang masih terlihat merah karena mengantuk, seolah ia baru saja bangkit dari tidurnya sedetik yang lalu. Meskipun raut wajahnya tampak malas dan nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, refleksnya tidak bisa dibohongi.

​Luca menatap tajam ke arah lantai yang licin, lalu beralih menatap Greta yang masih syok di dalam dekapannya.

Greta segera memperbaiki posisi berdirinya begitu merasa tumpuan kakinya sudah stabil. Wajahnya memerah karena malu sekaligus kaget, apalagi menyadari tangan Luca masih melingkar di pinggangnya di depan seluruh kelas, termasuk Leon yang masih mematung tak jauh dari sana.

​"Luca... Kamu saja yang antar ya..." bisik Greta pelan dengan nada canggung, sambil menyerahkan nampan besi itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

​Luca tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mendengus kecil, lalu dengan satu tangan ia mengambil alih nampan berat itu seolah benda itu tidak berbobot sama sekali.

​Luca mulai melangkah. Ia sengaja melewati jalur lantai yang licin itu dengan langkah yang mantap dan berat, seolah ingin menunjukkan bahwa trik murahan seperti itu tidak mempan baginya. Sambil berjalan, matanya terkunci pada Revelyn. Tatapan Luca begitu tajam dan mengancam, sepasang mata yang masih terlihat mengantuk itu kini berubah menjadi sedingin es.

​Revelyn yang tadi terlihat sombong, kini mundur satu langkah hingga punggungnya menabrak wastafel.

Norah pun hanya bisa membuang muka, tidak berani membela sahabatnya itu saat Luca lewat di depan mereka.

Bel istirahat berbunyi dengan nyaring, memecah ketegangan yang sempat menyelimuti ruang laboratorium sains. Greta segera merapikan bukunya, berusaha menghindari tatapan Norah dan Revelyn yang masih tampak kesal, serta Leon yang sepertinya ingin menghampirinya namun ragu.

​Di lorong depan kelas, Clara sudah menunggu dengan wajah ceria yang kontras dengan pagi Greta yang berat. Clara, sahabat karibnya yang berbeda ruang laboratorium itu, langsung merangkul lengan Greta begitu ia keluar.

​"Tadi aku dengar ada suara gelas pecah dari ruangmu? Apa ada yang meledak?" tanya Clara penasaran saat mereka berjalan menuju kantin.

​Greta hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Hampir saja, untung ada Luca."

​Setelah mengantre dan memesan makanan, mereka memutuskan untuk mencari suasana yang lebih tenang. Mereka berjalan menuju pinggir taman sekolah yang asri, duduk di salah satu bangku kayu di bawah naungan pohon maple yang rindang.

Greta yang baru saja hendak menyuap makanannya tertegun ketika mendengar suara getaran samar yang terdengar sangat dekat. Suara itu bukan berasal dari tas atau tangan mereka, melainkan dari balik saku kemeja Greta sendiri.

​Clara mengernyitkan dahi, menatap saku kemeja sahabatnya itu dengan penuh selidik. "Greta? Itu suara dari sakumu?"

​Tanpa menunggu izin, Clara yang sudah sangat akrab dengan Greta langsung merogoh saku kemeja tersebut. Matanya membelalak lebar saat tangannya menarik keluar sebuah iPhone hitam yang terlihat sangat mewah dan berkilau di bawah sinar matahari taman.

​"Wah, sejak kapan kamu punya ponsel semahal ini?!" seru Clara tertahan. Namun, saat layar ponsel itu menyala karena ada panggilan masuk, Clara tiba-tiba membeku. Ia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya menatap layar itu seolah baru saja melihat hantu.

​Greta yang melihat ekspresi Clara menjadi bingung sekaligus cemas. "Ada apa, Clara? Siapa yang menelepon? Apakah... Ibu Norah?" tanya Greta dengan suara bergetar.

​Clara tidak menjawab, ia justru memutar ponsel itu agar Greta bisa melihat layarnya. Di sana, terpampang sebuah nama kontak yang baru saja disimpan oleh Luca semalam tanpa sepengetahuan Greta…

​Pangeran Greta 👑

​Greta terpaku. Wajahnya yang tadi pucat karena takut, kini mendadak berubah menjadi merah padam sampai ke telinga. Ia teringat momen di Cypress Mountain saat Luca meminjam ponselnya untuk "menyetting" isinya. Ternyata, itulah yang dilakukan pemuda menyebalkan namun manis itu.

​"Greta..." bisik Clara dengan nada menggoda, matanya berkilat penuh gosip. "Pangeran? Sejak kapan Luca Blight punya gelar seromantis ini di ponselmu?".

Greta menyambar ponsel itu secepat kilat, mendekapnya di dada sambil menutupi wajahnya yang terasa panas membara dengan telapak tangan satunya. Clara yang melihat sahabatnya bertingkah seperti itu malah semakin bersemangat menggoda.

​"Angkat, Greta! Keburu mati itu telepon dari 'Pangeran'-mu!" seru Clara sambil tertawa geli, menyenggol bahu Greta dengan bahunya.

​Dengan tangan yang masih gemetar karena malu, Greta akhirnya menggeser tombol hijau. "Ha... halo..." ucapnya lirih, mencoba terdengar sedatar mungkin.

​Sambil menempelkan ponsel ke telinga, mata Greta menyisir area sekolah hingga ia melihat ke arah sudut jauh dari taman. Di sana, di dekat lapangan olahraga, terlihat Luca sedang berdiri bersama anggota tim basket lainnya. Luca tampak menonjol dengan postur tubuhnya yang tegap, sedang memegang bola basket di pinggangnya. Begitu mata mereka bertemu dari kejauhan, Luca menyeringai tipis—seringai kemenangan yang sangat menyebalkan bagi Greta—lalu ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melambaikan tangan dengan santai ke arahnya.

​Greta langsung menyadari bahwa Luca meneleponnya hanya untuk pamer dan menggodanya dari jauh.

​Klik!

​Tanpa menunggu Luca bicara sepatah kata pun, Greta langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia menaruh ponsel itu di atas meja dengan muka jengkel yang dibuat-buat, meski jantungnya masih berdegup kencang.

​Clara yang menyaksikan seluruh adegan "komunikasi jarak jauh" itu meledak dalam tawa. "Ya ampun, Greta! Ternyata Luca bisa seromantis itu ya?"

​Greta hanya bisa cemberut sambil menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. "Dia cuma mau mengerjaiku saja, Clara. Jangan dipikirkan."

"Eh.. Sebenarnya.." Greta tiba-tiba mengubah nada bicaranya menjadi sangat serius, membuat Clara yang sedang tertawa langsung terdiam penasaran.

​"Hmm? Kenapa Greta?" tanya Clara, mencondongkan tubuhnya ke depan.

​Greta memainkan jemarinya dengan gelisah, lalu berbisik pelan, "Ponselmu iPhone juga, kan? Aku mau tahu... cara untuk mengganti wallpaper itu gimana ya? Maaf, aku gaptek sekali soal teknologi... Hehe," ucap Greta sambil memberikan tawa canggung yang dipaksakan.

​Mendengar permintaan itu, Clara tidak langsung menjawab. Ia justru menyipitkan matanya, menatap Greta dengan senyuman penuh arti. "Memangnya ada apa dengan wallpaper-nya? Biar aku lihat."

​Tanpa aba-aba, Clara merebut ponsel hitam tersebut dari meja. Begitu jarinya menyentuh layar, ponsel itu menyala, menampilkan foto beresolusi tinggi yang diambil di Cypress Mountain semalam.

​Clara seketika mematung. Matanya membelalak lebar, hampir tidak berkedip. Ia melihat sosok Luca yang tampak begitu rileks dan tampan, berbaring sangat dekat dengan Greta yang sedang cemberut menggemaskan. ​"Greta... ini..." Clara menutup mulutnya dengan satu tangan, suaranya tertahan karena kaget.

​"Clara! Kembalikan!" Greta mencoba meraih ponselnya, wajahnya kini merah padam, jauh lebih merah dari saus pasta di piringnya. Ia merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.

​Clara tertawa lepas sambil menghindar, ia terus memandangi foto itu dengan tatapan kagum sekaligus menggoda. "Tidak akan kuberi tahu caranya!".

​Greta akhirnya menyerah dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan senyum malu yang tak sanggup ia bendung.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!