Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Restu di Bawah Langit Senja
Langkah kaki Sean terhenti di ambang pintu paviliun klinik. Ia tidak lagi masuk dengan gebrakan atau aura yang mengintimidasi. Matanya terpaku pada pemandangan di dalam ruangan: Ayahnya, Edward Elgar, sedang membantu Kirana merapikan selimut Hana yang sedang terlelap.
Tidak ada kemarahan. Tidak ada teriakan. Hanya ada keheningan yang penuh dengan rasa penyesalan.
"Sean..." Lyra berdiri di samping suaminya, menyentuh lengan Sean dengan lembut. "Sebelum kau membawaku pulang, ada satu hal yang harus kau lakukan."
Sean menatap Lyra, matanya melembut. "Apa itu, Sayang?"
"Minta restu pada ibu kandungku. Dan bicara pada ayahmu," bisik Lyra.
Sean menghela napas panjang, lalu melangkah masuk. Edward menoleh, tampak terkejut melihat putranya ada di sana. Untuk pertama kalinya, Sean melihat ayahnya tanpa setelan jas mewah, tanpa topeng wibawa. Edward hanyalah seorang pria tua yang sedang mencoba memperbaiki puing-puing hatinya.
"Jadi selama ini... ini alasan kalian selalu bertengkar di rumah?" suara Sean memecah kesunyian, datar namun sarat akan kesadaran baru.
Edward menunduk, meletakkan baskom air di meja. "Kau sudah tahu semuanya, Sean."
"Aku selalu mengira kau sibuk bekerja karena kau haus kekuasaan, Pa. Aku mengira kau mengabaikan Mama karena kau punya wanita lain di luar sana," Sean mendekat, menatap ayahnya tepat di mata. "Tapi ternyata... kau hanya seorang tawanan. Kau menjadikan pekerjaan sebagai pelarian karena kau dipaksa menikahi wanita yang tidak kau cintai, sementara jiwamu tertinggal pada wanita yang kau khianati."
Edward tersenyum getir. "Jangan menjadi sepertiku, Sean. Aku adalah contoh kegagalan pria Elgar. Aku memiliki segalanya, tapi aku tidak memiliki apa pun yang benar-benar berharga."
Sean terdiam. Ia memikirkan Martha, ibunya. Ia menyadari bahwa selama ini Martha bersikap kejam karena ia tahu ia tidak pernah benar-benar memiliki hati suaminya. Perjodohan yang dipaksakan hanya menciptakan lingkaran kebencian yang tak berujung.
"Aku tidak akan menjadi sepertimu, Pa," ujar Sean tegas, namun kali ini tanpa nada menghina. "Aku sudah memilih Lyra sejak awal, dan aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba memisahkan kami, termasuk jika itu adalah tradisi keluarga kita sendiri."
Sean kemudian beralih ke arah tempat tidur Hana. Wanita itu terbangun, matanya yang sayu menatap Sean dengan rasa ingin tahu yang polos.
"Harimau..." gumam Hana pelan.
Sean berlutut di samping tempat tidur Hana, sebuah tindakan yang belum pernah ia lakukan pada siapa pun seumur hidupnya. Ia meraih tangan kurus Hana, menggenggamnya dengan sangat hati-hati.
"Nyonya Hana," suara Sean bergetar rendah. "Namaku Sean Nathaniel Elgar. Aku adalah suami dari putri Anda, Lyra. Aku datang untuk meminta izin Anda... biarkan aku membawa Lyra kembali ke sisiku. Aku berjanji, aku tidak akan menjadi pria yang menyakiti wanita. Aku akan menjadi harimau yang menjaganya dari dunia yang busuk ini."
Hana menatap Sean lama, seolah sedang mencari kejujuran di balik mata gelap pria itu. Perlahan, Hana tersenyum. Ia mengelus rambut Sean dengan jemarinya yang gemetar.
"Jaga matahari... jangan biarkan dia menangis," bisik Hana. "Harimau baik... matahari suka harimau."
Air mata Lyra jatuh melihat pemandangan itu. Ia tahu, di balik kegilaan ibunya, Hana bisa merasakan ketulusan Sean. Kirana yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menyeka air matanya, menyadari bahwa jerat yang dibuat Sean kali ini bukan lagi sekadar obsesi, melainkan komitmen yang berakar dari rasa takut akan kehilangan.
"Ayo pulang, Lyra," ujar Sean sambil berdiri, mengulurkan tangannya pada sang istri.
Lyra menatap Kirana dan Edward sejenak. "Ibu... Ayah... aku pergi dulu."
Edward mengangguk haru saat mendengar Lyra menyebutnya 'Ayah' untuk pertama kalinya. "Jaga dirimu, Nak. Sean, bawa dia pulang dengan selamat."
Di dalam mobil menuju Jakarta, keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Lyra menyandarkan kepalanya di bahu Sean, sementara Sean mengemudi dengan satu tangan, tangan lainnya menggenggam erat jemari Lyra seolah tidak ingin melepaskannya sedetik pun.
"Terima kasih sudah mau meminta restu padanya, Sean," bisik Lyra.
"Aku melakukan apa pun untuk memilikimu kembali, Lyra. Bahkan jika aku harus berlutut di depan seluruh dunia," jawab Sean tanpa ragu. Ia menepikan mobilnya di sebuah area peristirahatan yang sepi, menghadap ke arah lampu-lampu kota yang mulai terlihat di kejauhan.
Sean menarik dagu Lyra, memaksa istrinya menatap matanya yang membara oleh gairah dan kerinduan yang sudah tak terbendung selama berhari-hari.
"Kau tahu betapa tersiksanya aku selama kau pergi?" bisik Sean di depan bibir Lyra. "Aku merasa seperti kehilangan separuh jiwaku. Jangan pernah lari lagi dariku, Lyra. Kau tidak tahu seberapa berbahaya aku jika aku benar-benar kehilangan kendali atas diriku sendiri."
"Aku tidak akan lari lagi, Sean," janji Lyra, ia melingkarkan tangannya di leher Sean, menarik suaminya itu untuk menciumnya.
Ciuman itu tidak lagi kasar oleh amarah atau cemburu. Ciuman itu adalah penyatuan dari dua jiwa yang telah melewati badai rahasia dan penghinaan. Sean melumat bibir Lyra dengan intensitas yang panas, tangannya mulai menjelajahi tubuh istrinya dengan posesif yang liar namun penuh pemujaan.
"Malam ini..." Sean berbisik di sela napasnya yang memburu. "Aku akan mengingatkanmu lagi... bahwa kau adalah satu-satunya penguasa di hidupku. Aturan mainnya sudah berakhir, Lyra. Sekarang, hanya ada kau dan aku."
Sean memacu mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi menuju apartemen mereka. Ia tidak sabar untuk mengklaim kembali miliknya di atas sprei hitam itu, memastikan bahwa mulai besok, Lyra Graceva tidak akan pernah meragukan bahwa ia adalah pusat dari semesta seorang Sean Nathaniel Elgar.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...