Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Cowok yang Menjaga Jarak
Lampu gantung kristal di tengah ruang kerja Aksa memantulkan cahaya yang tajam dan dingin, menciptakan bayangan panjang yang seolah-olah membagi ruangan itu menjadi dua kutub yang berbeda. Aksa Pratama menyesap single malt scotch-nya perlahan, membiarkan cairan berwarna amber itu membakar kerongkongannya, memberikan sensasi hangat yang artifisial di tengah ruangan yang disetel dengan suhu pendingin yang rendah. Ia berdiri tegak di balik jendela kaca raksasa penthouse-nya yang berada di lantai tiga puluh lima, menatap hamparan lampu Jakarta yang tampak seperti tumpahan mutiara di atas hamparan beludru hitam.
Di bawah sana, di labirin beton yang bising, jutaan orang sedang tertawa, menangis, dan saling mengkhianati dalam kegelapan. Baginya, pemandangan itu hanyalah sebuah statistik yang berulang setiap malam. Hidup Aksa adalah tentang kontrol, tentang bagaimana memastikan setiap variabel dalam hari-harinya berjalan sesuai algoritma yang ia susun dengan teliti. Tidak ada ruang untuk kesalahan, tidak ada celah untuk impulsivitas, dan yang paling penting, tidak ada panggung untuk emosi yang meluap-luap.
Namun, malam ini, ada satu fragmen kejadian yang gagal ia eliminasi dari benaknya.
“Cengeng,” gumamnya datar. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh desis halus sistem ventilasi udara di ruangan itu.
Ia meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan denting pelan yang bergema, memecah kesunyian yang mencekam. Ponsel di atas meja itu bergetar pendek, memecah fokusnya. Sebuah nama muncul di layar yang berpendar terang: Rayyan – Assistant. Aksa menekan tombol speaker tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari cakrawala kota.
“Ya, Ray?” suara Aksa terdengar tanpa riak, seolah-olah ia tidak baru saja melakukan hal paling tidak logis di sepanjang kariernya malam ini.
“Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Pak. Data yang Anda minta sudah saya kirimkan ke tablet pribadi Anda,”suara Rayyan terdengar formal dan efisien, ciri khas asisten yang sudah memahami ritme kerja bosnya.
“Nama subjek adalah Alea Niskala. Dia tercatat sebagai mantan kekasih dari salah satu staf pemasaran kita di divisi regional, Hanif Ardiansyah. Hanif sendiri adalah karyawan yang memiliki catatan performa cukup kompeten secara teknis, namun laporan perilaku dari departemen HR menunjukkan kecenderungan narsistik dan kurangnya integritas personal dalam beberapa proyek terakhir.”
Aksa terdiam sejenak. Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya yang panjang di pinggiran gelas kristal dengan irama yang teratur dan kalkulatif.
“Integritas, ya? Sepertinya HR menggunakan diksi yang terlalu sopan untuk menggambarkan pria yang baru saja membuang wanitanya seperti sampah di depan umum hanya untuk pamer.”
“Maksud Anda, Pak? Apakah ada masalah serius dengan Hanif yang harus saya tindak lanjuti?” Rayyan terdengar sedikit bingung di ujung telepon, mencoba menangkap arah pembicaraan atasannya yang biasanya sangat berorientasi pada profit.
“Bukan apa-apa,” Aksa memotong cepat, nada suaranya kembali mengeras dan dingin. “Cari tahu lebih detail di mana Alea Niskala bekerja saat ini. Dan pastikan kamu tidak memberitahu siapa pun tentang instruksi ini. Terutama orang-orang di divisi pemasaran. Saya tidak ingin ada desas-desus tidak berguna yang mencemari lantai kantor.”
“Baik, Pak. Sudah saya lampirkan di bagian bawah laporan. Saat ini, Alea Niskala bekerja sebagai pelayan di Litera & Latte, sebuah toko buku yang juga mengusung konsep kafe di pusat kota. Dia menangani layanan pelanggan dan distribusi buku di area kafe tersebut.”
“Pelayan toko buku?” gumam Aksa pelan, sebuah kilasan memori tentang aroma kertas tua dan kopi segar muncul di benaknya secara tidak sengaja.
“Benar, Pak. Berdasarkan data, dia sudah bekerja di sana selama satu tahun terakhir.”
“Oke. Itu saja. Terima kasih, Ray.”
Aksa mematikan sambungan telepon dengan satu gerakan tegas. Ia melangkah menuju meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati gelap yang diimpor langsung dari Eropa, meraih tablet dan menatap foto profil karyawan bernama Hanif Ardiansyah. Di sana, wajah pria itu tampak penuh dengan senyum percaya diri yang berlebihan, jenis wajah yang paling dibenci Aksa. Jenis pria yang merasa dunia adalah panggung sandiwara miliknya dan merasa berhak menginjak-injak harga diri orang lain demi memuaskan ego sesaat.
“Hanif Ardiansyah,” lirih Aksa dengan nada sinis yang tajam. Ia melemparkan tablet itu kembali ke meja marmer hingga layarnya berkedip.
“Kamu membangun menara harga diri di atas reruntuhan hati seseorang. Benar-benar metode yang sangat murahan dan menjijikkan.”
Ia kembali teringat saat mobilnya berhenti di bahu jalan beberapa jam yang lalu. Keputusannya untuk menginjak rem adalah sebuah anomali besar dalam hidupnya yang selama ini terjadwal dengan presisi militer. Biasanya, Aksa akan melewati pemandangan drama jalanan seperti itu tanpa menoleh sedikit pun; baginya, air mata adalah variabel yang tidak stabil dan membuang-buang waktu yang berharga.
Namun, saat lampu depan mobilnya menyapu sosok Alea Niskala yang tampak seperti burung dengan sayap patah di tengah hujan cahaya kota yang kejam, tangannya bergerak sendiri memutar kemudi ke kiri.
“Kenapa aku harus peduli pada gadis yang bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri?” tanyanya pada sunyinya ruangan yang terasa terlalu luas untuk dihuni satu orang saja.
Ia teringat betapa kaku dan dinginnya ia saat menyerahkan sapu tangan biru tua itu. Bayangan wajah Alea yang mendongak dengan mata bengkak dan hidung yang memerah masih tercetak jelas di balik kelopak matanya. Sorot mata itu, sorot mata yang jujur namun hancur total. Itu adalah jenis sorot mata yang pernah ia lihat di cermin sepuluh tahun yang lalu, saat ia dikhianati oleh orang-orang yang ia anggap sebagai keluarga dalam perjalanan membangun Pratama Group.
Aksa menyentuh dadanya sendiri yang tersembunyi di balik kemeja sutra hitamnya. Di sana, di balik reputasi ‘Pria Es’ yang ia sandang dengan bangga di lantai bursa saham, ada bekas luka yang sama parahnya. Luka yang membuatnya bersumpah untuk membangun tembok yang sangat tinggi, sangat tebal, dan sangat dingin sehingga tidak ada satu pun orang yang bisa masuk terlalu dekat lagi.
“Harga diri.” Aksa mendengus pelan, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang kini tampak seperti bayangan hitam yang mengancam.
“Sesuatu yang sangat mahal harganya, Alea. Dan kamu membuangnya begitu saja hanya untuk pria yang bahkan tidak layak mendapatkan satu detik perhatianku.”
Ia teringat pesan singkat yang ia kirimkan tadi melalui saluran anonim, sebuah umpan yang ia lemparkan bukan untuk memberikan harapan, melainkan untuk memicu sisa-sisa api yang mungkin masih tersembunyi di balik abu kehancuran gadis itu.
“Lupakan malam ini. Besok, kamu punya harga diri yang harus dibangun lagi.”
Aksa melangkah kembali ke balkon, membiarkan angin malam yang kencang menyapu rambutnya yang rapi dan menerpa wajahnya yang kaku. “Aku bukan pahlawanmu, Alea Niskala,” bisiknya pada kegelapan malam yang tak berujung. “Aku hanya benci melihat seseorang dihancurkan oleh orang yang bahkan tidak lebih berharga dari kotoran di bawah sepatuku. Aku benci melihat ketidakmampuan untuk bangkit kembali.”
Aksa memiliki prinsip hidup yang keras tentang jarak sosial. Pengkhianatan di masa lalunya telah mengajarkannya bahwa keterikatan emosional adalah kelemahan yang mematikan. Ia nyaman dalam kesendirian yang megah. Ia merasa tidak kekurangan apa pun dalam hidupnya yang serba terkontrol ini. Namun, ada rasa penasaran yang aneh, sebuah rasa ingin tahu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika bisnis, yang kini mengusik ketenangannya.
“Apa kamu akan bangun besok? Ataukah kamu akan tetap merangkak di lantai kamar kostmu yang sempit dan meratapi pengkhianatan pria itu seperti korban yang tidak berdaya?”
Aksa menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran tidak produktif itu dari kepalanya. “Ini hanya eksperimen psikologis.” ia mencoba menghibur egonya sendiri.
“Aku hanya ingin membuktikan teoriku sendiri, bahwa kehancuran bisa diperbaiki jika seseorang diberikan sedikit dorongan yang cukup tajam dan tepat sasaran.”
Ia membayangkan Alea Niskala besok pagi. Berdiri di antara rak-rak buku yang tinggi, mengantarkan pesanan kopi dan buku ke meja pelanggan dengan tangan yang mungkin masih gemetar. Ia membayangkan Alea mencoba memaksakan senyum ramah sebagai seorang pelayan profesional, sementara dunianya sendiri sedang berantakan di balik dadanya. Aksa tahu betul rasanya menjadi sebuah mesin yang bekerja di tengah kehampaan jiwa. Ia telah menjadi mesin itu selama satu dekade terakhir.
“Pelayan di toko buku Litera & Latte,” ujar Aksa pelan, lidahnya seolah sedang mencicipi nama tempat itu seperti sebuah koordinat penyerangan.
Ia menyesap sisa wiskinya hingga tetes terakhir, merasakan sensasi panas yang membakar menjalar dari dadanya ke seluruh tubuhnya. Baginya, Alea Niskala seharusnya hanyalah sebuah gangguan kecil, sebuah serpihan debu di tengah rutinitasnya yang monoton dan berkuasa. Sebuah kejadian lewat di pinggir jalan yang seharusnya ia lupakan begitu fajar menyingsing di ufuk timur.
“Mari kita lihat besok, Alea,” ujarnya sambil menatap lurus ke cakrawala kota yang perlahan mulai memucat karena polusi dan cahaya lampu yang tak pernah mati.
“Apakah kamu cukup kuat untuk memakai seragammu, berdiri tegak di depan pelangganmu, dan menunjukkan bahwa kamu masih bernapas? Atau kamu akan membiarkan Hanif memenangkan taruhan ini karena berhasil membunuh jiwamu sepenuhnya?”
Ia meletakkan gelas kristalnya yang sudah kosong dengan gerakan lambat, lalu mematikan seluruh lampu ruang kerja dengan satu sentuhan ringan pada panel sensor di dinding. Ruangan itu seketika jatuh ke dalam kegelapan yang pekat, hanya menyisakan cahaya rembulan yang masuk melalui jendela kaca. Aksa melangkah menuju kamarnya dengan langkah yang tetap tenang dan teratur. Hidupnya kembali terkontrol, atau setidaknya itulah narasi yang ia bangun untuk menenangkan pikirannya sendiri.
Ia tidak berniat masuk lebih dalam ke hidup Alea Niskala. Tidak ada rencana untuk menjadi penolong yang budiman. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling gelap, ada sebuah retakan kecil di dinding pertahanan yang selama ini ia jaga dengan nyawanya sendiri, sebuah rasa penasaran yang mungkin akan menjadi awal dari keruntuhan benteng yang ia bangga-banggakan selama ini.
“Selamat tidur, Alea,” gumamnya pelan sebelum benar-benar menutup pintu ruangan kerja.
“Jangan biarkan sapu tangan biruku berakhir menjadi kain pembersih air mata yang tidak ada harganya.”