Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Batas Teritori
"Geser meja itu sedikit ke kiri, Mina. Ya, di situ."
Suara Elena menggema di lorong. Dia menyulap kamar tamu bekas gudang berkas menjadi markas besar.
Mina mendorong meja kayu jati dengan napas tersengal. "Nyonya, serius tidak panggil tukang? Meja ini berat. Kalau Tuan Kairo tahu, dia bisa marah."
"Kairo tidak perlu tahu," dengus Elena, sibuk merapikan kabel. "Kalaupun tahu, dia tidak peduli punggungku patah. Dia cuma peduli sahamnya hijau atau merah."
Elena menghubungkan laptop baru ke dua monitor layar lebar. Layar menyala, menampilkan logo booting.
Mundur selangkah, Elena menatap puas. Ruangan berdebu itu kini berubah menjadi war room. Bersih, dingin, dengan papan tulis strategi dan mesin penghancur kertas.
"Sempurna. Ini baru ruang kerja."
"Tapi Nyonya..." Mina menunjuk pintu. "Kenapa pasang alat itu?"
Di gagang pintu kayu jati, terpasang kotak hitam dengan panel angka menyala biru. Kunci digital pintar.
"Itu privasi, Mina," jawab Elena. Dia menekan kombinasi angka.
Bip. Bip. Bip. Ceklek. Lidah kunci mengunci otomatis.
"Mulai hari ini, ini zona terlarang. Tidak ada yang boleh masuk kecuali aku. Terutama Kairo."
Mina melongo ngeri. "Mengunci Tuan Kairo di rumah sendiri? Ini cari gara-gara, Nyonya! Tuan paling benci pintu tertutup!"
"Bagus kalau dia benci," Elena tersenyum miring. "Biar dia belajar. Kalau mau masuk duniaku, dia harus punya tiket."
Pukul delapan malam, Kairo pulang. Langkahnya berat menaiki tangga. Saham membaik karena saran Elena, tapi egonya menolak mengakui itu ide istrinya.
Dia menuju gudang berkas di ujung lorong, mencari dokumen sengketa lahan lama.
"Sial, kenapa harus cari sendiri?" gerutunya.
Sampai di depan pintu, dia menekan gagang. Keras. Terkunci.
"Sejak kapan gudang ini dikunci?"
Mata Kairo menangkap kotak hitam menyala biru di pintu. Kunci digital security grade tinggi. Rasa kesal merambat naik. Dia lelah, lapar, dan harus berhadapan dengan pintu sok canggih di rumahnya sendiri.
Bang! Bang! Bang!
"Sora! Buka pintunya!"
Hening sejenak. Lalu langkah kaki mendekat.
Ceklek.
Pintu terbuka sepuluh senti, tertahan rantai pengaman. Wajah Elena muncul, berkacamata, rambut dicepol pensil, tatapannya datar seperti resepsionis hotel judes.
"Ada apa gedor-gedor? Mau merobohkan rumah?"
"Buka pintunya lebar-lebar," perintah Kairo, emosi naik ke ubun-ubun. "Aku mau masuk."
"Tidak bisa," jawab Elena singkat. "Ini jam kerjaku."
"Jam kerja?" Kairo tertawa mengejek. "Kerja apa? Main game? Atau jualan panci?"
"Terserah aku. Intinya ini ruang privatku." Elena hendak menutup pintu, tapi Kairo menahannya kuat.
"Jangan main-main, Sora," desis Kairo. "Ini rumahku. Setiap inci tanah, setiap pintu milikku. Kau tidak berhak mengunci apapun dariku."
"Secara sertifikat, ya," aku Elena tenang. "Tapi secara etika, penghuni berhak punya privasi. Anggap aku penyewa. Aku butuh ruang tanpa wajah marahmu."
"Aku butuh berkas!" bentak Kairo. "Sengketa lahan Sukajaya ada di dalam. Minggir."
Elena berkedip. "Berkas Sukajaya? Tumpukan kertas kuning berdebu?"
"Ya! Itu dokumen penting!"
"Sudah aku shredder."
Kairo mematung. Jantungnya seolah berhenti. "Apa? Kau hancurkan?"
"Bercanda," Elena menyeringai tipis menyebalkan. "Berkasnya aman. Tapi kau tidak bisa masuk. Ruangan ini berantakan, aku sedang menyusun sesuatu. Aku tidak suka orang asing mengacak zonaku."
"Orang asing?! Aku suamimu!"
"Status KTP, ya. Status hati? Kita orang asing satu atap," balas Elena telak. Tatapannya begitu tegas, membuat Kairo merasa dimarahi dosen, bukan istri.
"Kalau butuh berkas, buat janji temu. Kirim pesan ke Mina. Kalau aku luang, kucarikan. Sekarang pergi, kau mengganggu konsentrasiku."
Blam!
Pintu tertutup keras di depan hidung Kairo.
Bip. Bip. Bip. Tut. Terkunci otomatis.
Kairo mematung, mulut ternganga. Dia baru saja diusir? Di rumahnya sendiri? Oleh istrinya sendiri?
"Sialan!" Kairo menendang pintu, meninggalkan jejak sepatu.
Harga dirinya sebagai "Tuan Rumah" baru saja diinjak-injak. Dulu Sora selalu membuka pintu lebar, memancingnya masuk. Sekarang Elena membangun tembok dan batas teritori.
Dan yang paling membuat gila: dia tidak tahu apa yang ada di balik tembok itu.
Rasa penasaran membakar lebih panas dari amarah. Apa yang disembunyikan wanita itu? Kenapa butuh kunci digital? Apa dia menyembunyikan laki-laki lain?
Pikiran itu membuat darah Kairo mendidih.
"Kau pikir bisa main kucing-kucingan denganku, Sora?" geram Kairo, berjalan mundur dengan tatapan predator. "Kau lupa siapa yang pegang kunci utama di istana ini."
Udhlah,, senggol bacokl🤣🤣
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪