NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Malam terakhir di Paris terasa begitu tenang dan syahdu. Udara dingin yang menggigit tak menyurutkan langkah Rizal untuk membawa Aisyah ke sebuah kawasan yang tak jauh dari pusat keramaian Le Marais. Namun, sesampainya di depan sebuah bangunan klasik berlantai dua yang sangat cantik, Rizal tiba-tiba berdiri di belakang istrinya.

Rizal menutup mata istrinya dengan kedua telapak tangannya yang hangat.

"Mas, kenapa ditutup segala? Kita mau ke mana lagi sih? Kan besok kita sudah harus berkemas," tanya Aisyah sambil tertawa kecil, meski jantungnya berdegup kencang karena penasaran.

"Sabar, Sayang. Langkah kecil lagi, nah, berhenti di sini," bisik Rizal tepat di telinga Aisyah.

Perlahan, Rizal membuka tangannya. Di depan Aisyah, berdiri sebuah bangunan dengan etalase kaca besar yang sangat estetik.

Di atas pintunya, terdapat papan nama kayu berukir indah: "Boulangerie d'Aisyah".

Ini adalah kejutan Rizal, rumah baru untuk produksi kue kering Aisyah yang ada di dekat pusat perbelanjaan di sana. Aisyah juga bisa langsung berjualan.

"Mas, ini apa?" tanya Aisyah dengan suara bergetar.

Ia melihat ke dalam kaca; sebuah dapur modern dengan oven-oven canggih sudah tertata rapi, dan di bagian depan terdapat konter kayu minimalis untuk memajang kue-kue keringnya.

"Ini adalah tempatmu untuk berekspansi, Sayang. Aku sudah mengurus izinnya. Selain di Jakarta, aku ingin kue kering buatanmu punya 'rumah' di Paris. Lokasi ini sangat strategis, turis dan warga lokal selalu lewat di sini. Kamu bisa memproduksi sekaligus menjualnya langsung di sini," jelas Rizal dengan bangga.

Aisyah menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagia tak terbendung lagi.

"Mas, ini terlalu luar biasa. Aku bahkan tidak pernah bermimpi sampai ke sini."

Rizal memeluk Aisyah dari belakang, menatap bangunan itu bersama-sama.

"Sudah seminggu kita di sini, Sayang, dan besok kita pulang. Tapi tempat ini akan selalu menunggumu. Kita akan sering ke sini untuk menengok bisnismu."

Rizal ingin menunjukkan bahwa ia tidak hanya mencintai Aisyah sebagai istri, tapi juga mendukung penuh impian dan kemandirian istrinya.

Di bawah temaram lampu jalanan Paris, Aisyah merasa hidupnya benar-benar telah berubah menjadi sebuah keajaiban yang nyata.

Aisyah membalikkan tubuhnya dalam pelukan Rizal, menatap wajah suaminya yang tampak begitu tampan di bawah cahaya lampu jalan Paris yang temaram.

Kebahagiaan yang meluap di dadanya membuat rasa haru itu berubah menjadi gairah yang manis.

"Aku semakin cinta, Mas, sama kamu," ucap Aisyah dengan tulus.

Ia menjinjitkan kakinya dan mencium pipi suaminya dengan lembut, memberikan kecupan lama yang menyalurkan seluruh rasa terima kasih dan kasih sayangnya.

Rizal tertegun sejenak, lalu tersenyum nakal. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Aisyah, menarik tubuh istrinya hingga tak ada jarak lagi di antara mereka. Dinginnya malam Paris seolah menguap begitu saja.

"Ayo kita olahraga malam, mumpung masih di Paris," goda Rizal dengan suara rendah yang serak, memberikan kode yang langsung membuat wajah Aisyah memerah sempurna.

Aisyah hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rizal sambil tertawa kecil.

"Mas ini, pikirannya ke sana terus."

"Hanya denganmu, Sayang. Hanya denganmu," balas Rizal sambil mengecup kening Aisyah, lalu membimbingnya kembali menuju hotel dengan langkah yang lebih cepat.

Malam terakhir di Paris itu menjadi puncak dari perjalanan bulan madu mereka.

Di balik dinding kamar hotel yang mewah dengan latar belakang kerlap-kerlip Menara Eiffel, mereka merayakan cinta yang sempat terluka namun kini tumbuh menjadi jauh lebih dewasa dan perkasa.

Tak ada lagi bayang-bayang masa lalu, hanya ada kehangatan dua raga yang telah menyatu dalam janji suci.

Di saat Rizal dan Aisyah sedang memadu kasih di romantisnya kota Paris, suasana yang jauh berbeda terasa di sebuah sudut sunyi di Jawa Timur.

Suara serangga malam bersahutan dengan lantunan ayat-ayat suci yang menggema rendah dari bilik-bilik asrama.

Intan dan Yuana sedang hafalan karena besok ada ujian.

Di bawah temaram lampu belajar, kedua gadis itu duduk bersila dengan Al-Qur'an terbuka di pangkuan masing-masing.

Udara malam yang dingin di Kediri merayap masuk melalui celah jendela, namun semangat mereka tetap hangat.

Intan berkali-kali menutup matanya, mencoba merangkai kembali potongan ayat yang baru saja ia hafal, namun rasa gugup tiba-tiba menyerangnya.

Ia menghentikan bacaannya dan menatap Yuana yang tampak lebih tenang.

"Apa aku bisa?" tanya Intan dengan suara lirih. Matanya menunjukkan keraguan yang besar.

"Ujian besok menentukan apakah aku bisa naik ke tingkatan selanjutnya atau tidak. Aku takut mengecewakan Ayah dan Mama, apalagi mereka sedang jauh di sana."

Yuana menutup mushafnya, lalu tersenyum menenangkan. Ia menggenggam tangan sahabatnya itu.

"Kamu sudah berubah banyak, Intan. Dulu kamu hanya ingin main-main, tapi sekarang aku lihat kamu belajar sampai larut malam. Allah tidak akan menyia-nyiakan usahamu," hibur Yuana.

"Ayah dan Mamamu pasti bangga melihatmu berjuang seperti ini, bukan hanya karena hafalannya, tapi karena niat tulusmu untuk memperbaiki diri."

Intan menarik napas panjang, mencoba mengusir kecemasan yang menghimpit dadanya.

Mengingat wajah Aisyah yang kini begitu lembut padanya dan ketegasan Rizal yang kini penuh kasih, menjadi bahan bakar baru bagi semangatnya.

"Aku ingin memberikan kejutan saat mereka pulang nanti," bisik Intan penuh tekad.

"Aku ingin mereka tahu bahwa putri mereka bukan lagi pengacau, tapi seseorang yang bisa dibanggakan."

Yuana menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Intan, mencoba mengusir sisa keraguan yang masih membayangi sahabatnya itu.

Ia tahu, Intan butuh dukungan lebih agar hatinya benar-benar tenang sebelum beristirahat.

Kemudian Yuana mengajak Intan hafalan sebentar sebelum mereka tertidur pulas.

"Ayo, satu halaman terakhir sebelum kita istirahat. Kita baca bergantian, aku satu ayat, kamu satu ayat. Biar malaikat menjagamu lewat ayat-ayat ini di dalam mimpi nanti," ajak Yuana dengan suara yang menyejukkan.

Intan mengangguk pelan. Mereka mulai melantunkan ayat demi ayat dengan syahdu.

Suara Intan yang awalnya sedikit bergetar karena ragu, perlahan-lahan menjadi lebih mantap dan lancar.

Di setiap jeda napasnya, ia membayangkan senyum Mama Aisyah dan tatapan bangga Ayah Rizal, hal yang kini menjadi motivasi terbesarnya untuk berubah.

Setelah menyelesaikan satu halaman penuh tanpa kesalahan, perasaan lega yang luar biasa menyelimuti hati Intan. Beban di pundaknya seolah terangkat.

"Terima kasih ya, Yuana. Aku merasa jauh lebih siap sekarang," bisik Intan sambil menutup mushafnya dengan lembut dan menciumnya.

Mereka pun merapikan peralatan belajar dan merebahkan diri di atas kasur sederhana di kamar asrama itu.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk terhanyut dalam alam bawah sadar.

Dalam tidurnya, Intan tampak sangat tenang—sebuah ketenangan yang tak pernah ia dapatkan saat ia masih menjadi gadis pemberontak di Jakarta.

Besok adalah hari besar, dan ia sudah siap menjemput masa depannya yang baru.

1
Lizam Alby
lohhh ko Rizal yg JD wali kan dia bpak sambung
my name is pho: terima kasih kak. Thor revisi sebentar
total 1 replies
mfi Pebrian
cerita nya bagus......semangat untuk up nya yah KK.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya" Dialah sang pewaris" terimakasih
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!