NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Lyra tidak bergerak.

Ia bisa merasakan kehadiran pria itu di belakangnya seperti bayangan yang menempel di kulit.

Udara malam terasa lebih berat. Bahkan suara ombak di kejauhan seperti tertahan.

“Akhirnya aku melihatmu secara langsung,” ulang suara pria itu pelan.

Nada bicaranya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang datang sebagai ancaman.

Lyra menelan ludah, tapi suaranya tetap santai.

“Kalau mau berkenalan, biasanya orang mulai dari depan.”

Hening sejenak.

Lalu terdengar langkah pelan mengitari dirinya.

Lyra tetap menatap lurus ke depan, menahan dorongan untuk menoleh.

Suara di telinganya berdesis pelan.

“Jangan putar badan,” bisik Damian.

Namun pria itu sudah berdiri di samping Lyra sekarang.

Lyra akhirnya menoleh.

Pria itu tinggi, mengenakan mantel hitam panjang. Wajahnya tampan dengan garis tajam, namun matanya… kosong. Bukan kosong tanpa emosi, tapi kosong seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak kematian.

Ia tersenyum tipis.

“Sikapmu berbeda dari laporan yang kuterima.”

Lyra menyilangkan tangan. “Dan kau berbeda dari bayanganku. Kupikir musuh Damian lebih menyeramkan.”

Nama itu diucapkan sengaja.

Sebagai umpan.

Pria itu menatapnya beberapa detik lebih lama.

Kemudian sudut bibirnya terangkat.

“Ah… jadi kau tahu siapa yang kau lindungi.”

Di jalur komunikasi, suara Elena nyaris berbisik, “Identitas belum cocok dengan database mana pun…”

Kael menahan napas. “Aku tidak suka ini.”

Damian tidak bicara.

Tapi langkahnya sudah semakin dekat.

Lyra menangkap gerakan kecil dari sudut mata.

Ia tahu Damian melanggar posisi.

Dan itu membuat sesuatu di dadanya menghangat sekaligus menegang.

Pria misterius itu menatap lurus ke arah Lyra.

“Banyak orang mati karena terlalu dekat dengan pria itu.”

Lyra mengangkat bahu ringan. “Banyak juga yang hidup karena bertemu denganku.”

Pria itu tertawa pelan. Tawa yang tidak benar-benar lucu.

“Kau tidak takut.”

“Takut itu mahal. Aku lagi hemat.”

Sekali lagi, hening.

Angin laut mengibaskan mantel pria itu, memperlihatkan sekilas gagang senjata di pinggangnya.

Aidan berbisik cepat, “Jika dia menarik senjata, aku tembak.”

“Tidak,” potong Damian tegas.

Lyra mendengar nada itu.

Nada yang hanya muncul ketika Damian sudah membuat keputusan final.

Pria misterius itu melangkah lebih dekat. Terlalu dekat.

Lyra bisa mencium aroma logam dan parfum dingin darinya.

“Aku tidak datang untuk membunuhmu,” katanya pelan.

“Bagus,” jawab Lyra. “Karena aku juga belum berniat mati.”

“Tapi aku datang untuk memastikan sesuatu.”

“Memastikan apa?”

Pria itu menatap matanya dalam-dalam.

“Apakah kau kelemahannya… atau kekuatannya.”

Jantung Lyra berdetak keras.

Namun wajahnya tetap tenang.

“Aku bukan milik siapa pun.”

“Semua orang adalah milik sesuatu,” jawab pria itu.

Tiba-tiba—

Langkah cepat terdengar dari sisi gelap plaza.

Damian muncul.

Tatapannya tajam, tubuhnya tegak seperti garis lurus antara hidup dan mati.

Ia berhenti hanya dua meter dari mereka.

Suasana berubah total.

Udara terasa lebih dingin.

Lebih berat.

Lebih berbahaya.

Pria misterius itu menoleh perlahan ke arah Damian.

Untuk pertama kalinya, ekspresi serius muncul di wajahnya.

“Jadi kau keluar dari bayanganmu sendiri.”

Damian tidak menjawab.

Tatapannya berpindah dari pria itu ke Lyra.

Satu detik.

Dua detik.

Cukup untuk memastikan ia aman.

Kemudian kembali ke lawannya.

“Apa tujuanmu,” kata Damian datar.

Pria itu tersenyum tipis lagi.

“Pertemuan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Semua perang besar dimulai dari pertemuan kecil.”

Kael berbisik di jalur komunikasi, “Perimeter bergerak. Ada tim lain mendekat dari timur.”

Elena menambahkan, “Sinyal komunikasi asing meningkat.”

Situasi berubah dari tegang menjadi kritis.

Lyra menatap Damian sekilas.

Ia melihat sesuatu di mata pria itu yang jarang muncul.

Bukan kemarahan.

Bukan ancaman.

Tapi kewaspadaan murni.

Pria misterius itu mundur satu langkah.

“Ini bukan malam untuk perang,” katanya tenang.

“Lalu kenapa datang,” tanya Damian.

Pria itu menatap Lyra sekali lagi.

“Untuk melihat apakah legenda itu benar.”

Ia menatap Damian.

“Dan ternyata… benar.”

“Legenda apa,” tanya Lyra.

Namun pria itu tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum tipis, lalu berbalik berjalan menuju bayangan.

Aidan langsung berseru, “Target mundur!”

Kael, “Tim timur berhenti bergerak… mereka ikut mundur!”

Elena, “Sinyal hilang satu per satu…”

Dalam hitungan detik, plaza kembali kosong.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Hanya angin laut dan detak jantung yang tersisa.

Lyra mengembuskan napas panjang.

“Jadi…” katanya pelan tanpa menoleh, “itu tadi siapa sebenarnya?”

Damian menatap ke arah bayangan tempat pria itu menghilang.

Suaranya rendah.

“Masalah yang belum selesai.”

Lyra menoleh padanya.

“Dan sekarang?”

Damian menatapnya balik.

“Sekarang mereka tahu wajahmu.”

Hening.

Lalu ia menambahkan pelan,

“Dan itu membuatmu target utama.”

Namun anehnya—

Lyra tidak merasa takut.

Ia hanya menatap Damian dan berkata ringan,

“Berarti aku harus tetap dekat denganmu.”

Damian tidak menjawab.

Tapi untuk pertama kalinya malam itu—

Ia tidak membantah.

---

Lyra menyadari sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dia Bukan takut. Bukan juga berani. Tapi kesadaran bahwa hidupnya benar-benar telah berubah arah.

Ia menatap plaza kosong itu lebih lama dari yang diperlukan. Bayangan pria misterius masih terasa menempel di udara.

“Aku benci tipe orang yang ngomong setengah-setengah,” gumamnya.

Damian melangkah mendekat. Jarak di antara mereka kini begitu tipis hingga Lyra bisa merasakan panas tubuh pria itu di tengah dinginnya malam.

“Kau tidak seharusnya berada di sini,” kata Damian pelan.

Lyra menoleh. “Aku juga tidak pernah berencana masuk ke hidupmu.”

Hening sebentar.

Aidan muncul lebih dulu dari sisi kanan, langkahnya cepat, matanya masih menyapu area.

“Perimeter aman sementara,” lapornya singkat. “Tapi mereka bisa kembali kapan saja.”

Kael datang beberapa detik kemudian, membawa jaket hitam tebal. Tanpa banyak bicara, ia menyampirkannya ke bahu Damian.

“Kau kehilangan terlalu banyak darah malam ini,” katanya datar.

Lucian muncul terakhir, memasukkan ponselnya ke saku.

“Semua kamera publik di radius dua kilometer sudah bersih,” ujarnya santai. “Secara resmi, malam ini sangat membosankan.”

Lyra menatap satu per satu wajah mereka.

Lingkaran orang-orang yang hidup di dunia di mana ancaman adalah rutinitas.

“Jadi,” katanya pelan, “apakah ada bagian dari hidup kalian yang normal?”

Lucian tersenyum miring. “Aku suka kopi manis.”

Kael menjawab, “Tidak.”

Aidan tidak menjawab sama sekali.

Lyra menghela napas panjang. “Ya… itu menjelaskan banyak hal.”

Damian masih menatap arah bayangan tadi.

“Dia datang bukan untuk menyerang,” katanya akhirnya.

Aidan mengangguk kecil. “Observasi.”

Kael menambahkan, “Pengukuran kekuatan.”

Lucian mengangkat bahu. “Atau sekadar pamer.”

Lyra menatap Damian. “Dan hasil pengamatannya?”

Damian tidak langsung menjawab.

Tatapannya berpindah pada Lyra.

“Bahwa kau tidak mundur.”

Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang lebih dalam dari sekadar penilaian.

Lyra menyeringai tipis. “Kalau aku mundur, siapa yang bantu kamu berdiri tadi?”

Lucian menahan tawa.

Kael menatap mereka berdua bergantian, ekspresinya sulit dibaca.

Aidan akhirnya bicara, “Mulai malam ini, Lyra tidak boleh sendirian.”

Lyra langsung bereaksi. “Hei, aku bukan paket ekspedisi!”

Aidan menatapnya lurus. “Kau target prioritas.”

“Kalian suka sekali pakai kata itu.”

Damian melangkah lebih dekat.

“Ini bukan pilihan,” ucapnya pelan.

Lyra menatapnya balik.

“Kalau begitu jangan perlakukan aku seperti beban.”

Hening jatuh.

Angin laut bertiup lebih kencang, menerbangkan rambut Lyra ke wajahnya.

Tanpa sadar, Damian mengangkat tangan dan menyingkirkan helaian rambut itu dari matanya.Gerakan kecil. Refleks. Namun cukup untuk membuat semua orang terdiam.

Damian menarik tangannya kembali secepat kilat, seolah baru menyadari apa yang ia lakukan.

Lucian mengangkat alis pelan. Kael pura-pura melihat ke arah lain. Aidan memperhatikan dalam diam. Sementara Lyra sendiri… hanya berkedip pelan. Jantungnya berdetak tidak teratur.

Damian berbalik lebih dulu.

“Kita pindah lokasi.”

Kael langsung mengangguk. “Kendaraan siap.”

Lucian melirik Lyra. “Selamat datang di dunia yang tidak pernah tidur.”

Lyra menghela napas panjang, lalu berjalan mengikuti mereka.

Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi ke plaza kosong itu. Perasaan aneh berbisik di dalam dirinya. Pertemuan tadi bukan akhir. Itu pembukaan. Dan tanpa ia sadari… Ia sudah menjadi bagian dari permainan yang jauh lebih besar dari dirinya.

Lyra menatap punggung Damian yang berjalan di depannya. Pria itu dingin. Berbahaya. Tertutup. Namun satu hal kini jelas baginya— Ia tidak lagi berjalan sendirian. Dan mungkin… itu justru yang paling berbahaya dari semuanya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!