NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Tanda-Tanda di Cakrawala

Lima tahun berlalu dalam kedamaian yang nyaris sempurna.

Hyun kini berusia enam tahun, seorang anak laki-laki dengan mata tajam dan senyum lebar. Dia mewarisi keberanian ibunya dan rasa ingin tahu ayahnya. Setiap pagi, dia berlatih pedang dengan Hyerin. Setiap sore, dia duduk di sampingku, belajar membaca dan berhitung.

Jin Bi, lima tahun, adalah kebalikannya. Dia lebih suka buku daripada pedang. Di usianya yang masih belia, dia sudah bisa membaca kalimat rumit dan bertanya tentang segala hal. "Ayah, kenapa langit biru?" "Ayah, kenapa api bisa membakar?" "Ayah, dari mana bayi berasal?"

Pertanyaan terakhir hampir membuat Hyerin tersedak teh.

Kadang aku berpikir, akankah mereka tumbuh seperti anak-anak normal di dunia ini? Atau akankah mereka jadi orang aneh seperti ayahnya? Tapi melihat mereka tertawa bersama, aku rasa tidak masalah.

---

Markas Klan Gong sekarang telah berubah total.

Bukan lagi sekadar benteng, tapi sebuah kota kecil. Tembok luar menjulang setinggi lima belas meter, dilengkapi meriam di setiap sudut. Di dalam, rumah-rumah rakyat berjejer rapi, dikelilingi sawah dan kebun. Pasar ramai setiap hari, pedagang dari berbagai klan datang untuk membeli produk-produk unggulan kami—alat pertanian, peralatan dapur, dan tentu saja, mesiu dalam jumlah terbatas.

Akademi Jin sekarang memiliki seratus murid. Bukan hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa yang ingin belajar. Beberapa bahkan datang dari klan lain, dengan izin khusus. Mereka belajar baca tulis, berhitung, dan dasar-dasar sains.

Song Hwa menjadi kepala sekolah. Setelah lukanya sembuh, dia memilih dunia pendidikan daripada militer. "Aku sudah cukup bertarung," katanya. "Sekarang giliran generasi baru."

Jin-wook menjadi panglima tertinggi. Di usia tiga puluh, dia sudah diakui sebagai salah satu komandan terbaik di wilayah selatan. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Klan Gong tumbuh menjadi seribu orang—lima ratus infanteri bersenapan, tiga ratus kavaleri, dua ratus pemanah, dan seratus pasukan khusus bersenjata lengkap.

Baek Dongsu, dengan satu matanya, tetap setia sebagai kepala intelijen. Jaringan mata-matanya tersebar di seluruh Murim, melaporkan setiap gerakan mencurigakan.

---

Suatu sore, Baek Dongsu datang dengan wajah serius.

"Tuan, ada kabar dari barat."

Aku mengerutkan kening. "Barat? Klan apa di sana?"

"Bukan klan. Organisasi. Mereka menyebut diri mereka 'Aliansi Suci'."

"Aliansi Suci?"

"Sekelompok pendekar dari berbagai klan yang tergabung dalam perkumpulan rahasia. Mereka menganggap mesiu sebagai 'kekuatan sesat' yang merusak keseimbangan Murim. Mereka ingin... menghancurkan semua jejaknya."

Darahku terasa dingin.

"Seberapa besar?"

"Belum tahu persis. Tapi informasiku bilang, mereka sudah merekrut ratusan pendekar level menengah dari berbagai wilayah. Dan mereka punya pendanaan besar."

---

Malam itu, aku mengadakan pertemuan darurat.

Hyerin, Jin-wook, Song Hwa, Baek Dongsu—semua hadir. Wajah mereka tegang mendengar kabar itu.

"Aliansi Suci," gumam Jin-wook. "Namanya saja sudah bikin merinding."

"Kita hadapi klan, bukan organisasi rahasia," kata Song Hwa. "Ini berbeda. Mereka tidak punya wilayah, tidak punya rakyat yang harus dilindungi. Mereka bisa bergerak bebas, menyerang kapan saja."

"Dan mereka punya ideologi," tambahku. "Orang yang berjuang untuk ide lebih berbahaya daripada yang berjuang untuk kekuasaan."

Hyerin diam sejak awal. Lalu dia berkata, "Ayahku dulu pernah cerita tentang organisasi seperti ini. Mereka muncul setiap beberapa generasi, mengklaim ingin 'membersihkan' Murim dari kekuatan 'sesat'. Biasanya mereka hanya kelompok kecil, cepat bubar. Tapi kalau mereka sudah merekrut ratusan..."

"Ini berbeda," sambung Jin-wook. "Ini yang terbesar dalam sejarah."

---

Kami memutuskan untuk tidak panik, tapi meningkatkan kewaspadaan.

Patroli diperketat. Intelijen diperluas. Produksi senjata ditingkatkan. Dan yang paling penting, aku mulai menulis ulang semua pengetahuanku dalam kode yang lebih rumit—untuk berjaga-jaga jika markas jatuh.

Hyun dan Bi tidak tahu apa-apa. Mereka masih asyik dengan dunia mereka. Tapi suatu malam, Hyun bertanya.

"Ayah, kenapa akhir-akhir ini Ayah sering terlihat tegang?"

Aku tersentak. Anak ini terlalu pintar.

"Tidak apa-apa, Nak. Hanya urusan orang dewasa."

"Ayah, aku sudah besar. Aku bisa tahu."

Aku menatapnya. Matanya tajam, seperti ibunya. Seperti Hyun Moo.

"Baik. Ada orang-orang jahat yang ingin menyakiti kita. Tapi Ayah dan ibu akan melindungi kalian."

"Aku bisa bantu?"

"Kau bisa bantu dengan jadi anak baik. Belajar rajin. Latihan pedang sungguh-sungguh. Itu sudah cukup."

Dia mengangguk, meskipun ragu.

---

Seminggu kemudian, serangan pertama datang.

Bukan ke markas, tapi ke desa kecil di perbatasan. Dua puluh orang terbunuh. Gudang persediaan dibakar. Di dinding desa, mereka meninggalkan pesan:

"Ini baru permulaan. Hentikan produksi mesiu, atau kalian akan hancur."

Darah mendidih di dadaku. Bukan marah—tapi tekad.

Aku memanggil Jin-wook. "Lacak mereka. Aku mau tahu markas mereka."

"Tuan, mereka bergerak cepat. Sulit dilacak."

"Gunakan semua sumber daya. Aku mau balas."

---

Dua bulan kemudian, kami berhasil menemukan markas utama Aliansi Suci.

Sebuah benteng tersembunyi di pegunungan barat, dikelilingi hutan lebat. Dijaga ketat oleh dua ratus pendekar. Tapi intelijen bilang, pemimpin mereka—seorang pendekar tua bernama Swordsaint Myung Jin—jarang di sana. Dia lebih sering bergerak, merekrut anggota baru.

"Swordsaint," gumam Hyerin. "Level tertinggi dalam kultivasi. Legenda hidup."

"Aku tidak peduli levelnya. Dia ancam keluargaku."

"Oppa, kau tidak bisa lawan Swordsaint sendirian."

"Aku tidak sendirian. Aku punya kalian. Dan aku punya mesiu."

---

Rencana penyerangan disusun dalam tiga minggu.

Lima ratus pasukan terbaik kami—tiga ratus infanteri bersenapan, seratus kavaleri, seratus pasukan khusus. Juga dua puluh meriam portabel dan lima ratus bom.

Jin-wook memimpin serangan utama. Aku dan Hyerin di barisan belakang, mengawasi dari kejauhan. Song Hwa menjaga markas. Baek Dongsu mengoordinasi intelijen.

Sebelum berangkat, aku pamit pada Hyun dan Bi.

"Ayah pergi sebentar. Jaga ibu, ya?"

Hyun mengangguk tegas. "Aku akan jaga adik."

Bi menangis. "Ayah jangan pergi..."

Aku menggendongnya. "Ayah akan kembali. Janji."

---

Pertempuran di benteng Aliansi Suci berlangsung tiga hari.

Hari pertama, pasukan kami berhasil mengepung benteng. Meriam-meriam menghujani tembok dari kejauhan. Pasukan infanteri maju dengan senapan, membersihkan perlawanan di luar.

Tapi malam harinya, mereka melancarkan serangan balik. Pendekar-pendekar level tinggi menyusup ke barisan kami, membunuh puluhan prajurit dalam kegelapan.

Kami kehilangan seratus orang malam itu.

Hari kedua, Jin-wook mengubah strategi. Tidak lagi menyerbu, tapi mengepung dan menunggu. Memutus jalur logistik. Membuat mereka kelaparan.

Strategi itu berhasil. Hari ketiga, benteng kehabisan makanan. Mereka mencoba menerobos, tapi dihadang senapan dan ranjau.

Sore hari, bendera putih berkibar di atas benteng.

---

Aku masuk ke benteng itu dengan pengawalan ketat.

Di dalam, pemimpin Aliansi Suci—Swordsaint Myung Jin—duduk di singgasana. Seorang pria tua dengan rambut putih panjang dan janggut menjuntai. Matanya tenang, seperti telaga yang tidak beriak.

"Jin Tae-kyung," sapanya. "Aku sudah lama ingin bertemu."

Aku berdiri di hadapannya. "Kau membunuh anak buahku."

"Mereka mati untuk keyakinan."

"Keyakinan apa? Bahwa kemajuan itu jahat? Bahwa pengetahuan harus dihancurkan?"

Dia tersenyum tipis. "Kau tidak mengerti. Mesiu, senapan, meriam—semua itu akan menghancurkan dunia persilatan. Para pendekar akan kehilangan makna. Yang kuat akan jadi lemah. Yang lemah akan jadi kuat dengan cara instan. Itu tidak adil."

"Tidak adil? Apa yang adil dari sistem di mana yang kuat bisa seenaknya menindas yang lemah?"

Dia diam. Lalu berkata, "Kau tidak bisa mengubah dunia, Jin Tae-kyung."

"Aku tidak ingin mengubah dunia. Aku hanya ingin melindungi keluargaku."

"Dan kau akan lakukan apa pun untuk itu?"

"Apa pun."

Dia menghela napas. Lalu berdiri.

"Kalau begitu, ayo. Selesaikan ini. Satu lawan satu. Aku ingin lihat seberapa jauh tekadmu."

---

Aku melangkah maju. Hyerin menarik lenganku.

"Oppa, jangan! Dia Swordsaint!"

"Aku tahu."

"Kau akan mati!"

"Mungkin. Tapi kalau tidak, dia akan terus jadi ancaman."

Aku melepas tangannya, melangkah ke tengah ruangan.

Myung Jin menghunus pedangnya. Pedang tua, berkarat di beberapa tempat, tapi aku tahu di tangannya, itu senjata mematikan.

Aku tidak punya pedang. Hanya belati dan dua bom kecil di saku.

Dia menyerang pertama.

Cepat. Terlalu cepat. Aku hampir tidak bisa mengikuti gerakannya. Hanya refleks dan naluri yang membuatku bisa menghindar.

Tapi aku tidak perlu mengalahkannya dalam pertarungan pedang.

Saat dia menyerang lagi, aku melempar bom pertama.

LEDAK!

Dia terkejut, mundur. Tapi tidak terluka—Qi-nya melindungi.

Bom kedua. Sama saja.

Dia tertawa. "Hanya itu?"

Aku tersenyum tipis. "Tidak."

Dari balik pintu, Hyerin melompat dengan pedang ayahnya. Serangan mendadak.

Myung Jin terkejut, tapi masih bisa menangkis. Sekarang kami berdua melawannya—aku dengan bom, Hyerin dengan pedang.

Tapi dia terlalu kuat. Sepuluh menit, dua puluh menit, kami mulai kelelahan.

Aku butuh cara lain.

Tiba-tiba, ide muncul. Aku ingat kelemahan pendekar level tinggi: mereka mengandalkan Qi untuk melindungi tubuh. Tapi Qi butuh konsentrasi. Kalau konsentrasi buyar...

Aku meraih bom terakhir—bukan untuk meledak, tapi untuk asap. Kusulut, lempar ke arahnya.

Asap putih pekat memenuhi ruangan.

Myung Jin terbatuk, matanya perih. Konsentrasinya buyar.

Hyerin menyerang dari samping. Pedangnya menembus pertahanan, menusuk pinggangnya.

Dia terhuyung, jatuh berlutut.

"Aku... kalah..." bisiknya. "Oleh... bocah... dan... asap..."

Lalu dia mati.

---

Kami berdiri di atas mayatnya, terengah-engah.

Hyerin berlumuran darah—darahnya sendiri, dari luka-luka kecil. Aku juga, tapi tidak parah.

"Oppa... kita berhasil..."

Aku memeluknya. "Iya. Kita berhasil."

Di luar, pasukan bersorak. Aliansi Suci hancur.

---

Tapi kemenangan ini tidak gratis.

Kami kehilangan dua ratus prajurit dalam tiga hari pertempuran. Jin-wook terluka parah di bahu. Baek Dongsu kehilangan satu telinga lagi. Song Hwa, yang bertahan di markas, hampir mati dicekik mata-mata musuh.

Aku kembali ke paviliun dengan tubuh lelah dan hati berat.

Hyun dan Bi berlari menyambut.

"Ayah! Ayah pulang!"

Aku menggendong mereka berdua—berat, tapi aku kuatkan.

"Ayah janji akan kembali, kan?"

Bi menangis bahagia. Hyun hanya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.

Hyerin datang dari belakang, memeluk kami semua.

Di luar, matahari terbenam di ufuk barat. Warna jingga keemasan, seperti api yang hangat.

---

Malam itu, saat anak-anak tidur, Hyerin bertanya.

"Oppa, ini akan terus terjadi, ya? Ancaman demi ancaman."

"Mungkin. Tapi kita akan hadapi bersama."

"Kau tidak capek?"

Aku diam. Capek? Sangat. Tapi—

"Capek itu wajar. Tapi menyerah? Tidak. Selama kalian ada, aku tidak akan pernah menyerah."

Dia tersenyum. Lalu tertidur di dadaku.

Aku memandangi langit-langit, memikirkan masa depan.

Ancaman baru akan datang. Itu pasti. Tapi aku tidak sendiri lagi.

Aku punya keluarga. Punya sahabat. Punya klan yang kuat.

Dan aku punya pengetahuan.

Biarkan mereka datang. Kita siap.

---

[Bersambung ke Bab 33]

1
Q. Zlatan Ibrahim
terimakasi atas semangatnya
SR07
semangat updatenya bro
.
halo semua.. saya pembaca baru 👋😊
Q. Zlatan Ibrahim: terimakasih atas dukunganya
total 1 replies
SR07
ayo semangat updatenya 💪
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!