NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Pernikahan Tanpa Suara

​"Mana dasi abu-abuku?"

​Teriakan itu menggema dari walk-in closet, memecah keheningan pagi di penthouse lantai tiga puluh Skyline Residence.

Kalandra keluar dengan kemeja putih yang kancingnya baru terpasang separuh, wajahnya kusut, dan aura di sekitarnya seolah siap meledakkan siapa saja yang berani lewat.

​Dia menyambar tumpukan jas di sofa ruang tengah, melemparnya lagi karena bukan itu yang dia cari. "Zoya! Kamu dengar aku nggak, sih?"

​Di meja makan yang terbuat dari marmer hitam impor, Zoya Ravendra duduk tenang. Tidak ada kepanikan, tidak ada gerakan terburu-buru.

Perempuan itu hanya menyesap kopi hitamnya pelan-pelan, matanya tidak lepas dari layar TabTech seri terbaru yang menyala menampilkan deretan teks rapat. Rambutnya digelung asal-asalan dengan jepit plastik murah, kontras sekali dengan kemewahan apartemen yang mereka tinggali.

​"Di gantungan dekat pintu, Mas. Sudah disiapkan Bik Sumi sejak semalam," jawab Zoya tanpa menoleh, suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Jarinya menggeser layar tablet, matanya bergerak cepat membaca baris demi baris artikel—yang di mata Kalandra pasti cuma berita gosip artis atau katalog belanja online.

​Kalandra menoleh ke arah pintu. Benar saja. Dasi itu tergantung manis di sana. Dia mendengus kasar, merasa bodoh tapi gengsi untuk mengakuinya.

Dengan gerakan kasar, dia menyambar dasi itu dan melilitkannya ke leher.

​"Kamu itu istri macam apa?" Kalandra berjalan mendekat ke meja makan, menarik kursi di seberang Zoya dengan kasar hingga kaki kursi berdecit ngilu beradu dengan lantai.

Dia memasang jam tangan hitamnya sambil menatap istrinya dengan tatapan tajam. "Suami mau berangkat kerja, bukannya dibantu, malah asyik main gadget. Nggak ada sarapan, nggak ada basa-basi."

​Zoya akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya kosong, seperti kolam air tenang yang tidak tersentuh angin. "Ada roti di toples. Kopi di mesin. Bik Sumi lagi belanja ke pasar."

​"Bik Sumi, Bik Sumi terus!" Kalandra menggebrak meja pelan, cukup untuk membuat sendok di piring kecil berdenting. "Aku nikah sama kamu, bukan sama pembantu. Setidaknya berlagaklah peduli sedikit. Orang di luar sana mikir aku beruntung dapat putri tunggal keluarga Ravendra. Mereka nggak tahu kalau di rumah, aku kayak tinggal sama patung es."

​Zoya meletakkan cangkir kopinya perlahan. Bunyi keramik beradu dengan marmer terdengar begitu nyaring di antara ketegangan mereka. "Mas mau aku ngapain? Masangin dasi? Mas kan punya tangan. Masak nasi goreng? Mas bilang masakan aku hambar. Jadi aku diam biar nggak salah terus."

​Jawaban itu begitu logis, begitu tenang, dan justru itu yang membuat darah Kalandra mendidih. Dia benci ketenangan Zoya. Dia benci bagaimana istrinya itu seolah tidak punya gairah hidup, tidak punya ambisi.

​Kalandra berdiri, merapikan jasnya dengan kasar. Dia menatap Zoya dengan tatapan merendahkan yang tidak ditutup-tutupi.

​"Enak ya jadi kamu, Zoya," sindir Kalandra, suaranya rendah tapi tajam. "Bangun siang, ongkang-ongkang kaki, cuma habisin uang warisan orang tua. Kamu nggak punya beban. Nggak perlu mikir keras. Cuma jadi pajangan cantik di rumah mewah ini."

​Dia mendekatkan wajahnya sedikit. "Kadang aku mikir, otak kamu itu isinya apa selain belanja dan tidur? Sayang banget lulusan kedokteran cuma berakhir jadi pengangguran elit."

​Hening sejenak. Kalimat itu seharusnya menyakitkan. Istri mana pun pasti akan menangis atau melempar gelas jika dikatai seperti itu. Tapi Zoya? Dia hanya mengedipkan mata sekali.

​"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Zoya.

Singkat. Padat. Tanpa nada tersinggung sedikit pun.

Dia kembali menatap layar tabletnya, seolah Kalandra sudah tidak ada di sana.

​Kalandra menggeram tertahan. Rasanya seperti meninju kapas. Tidak ada perlawanan, tidak ada kepuasan.

​"Cih. Dasar beban," umpat Kalandra sambil membalikkan badan dan melangkah lebar menuju pintu utama. Dia membanting pintu penthouse itu keras-keras, meninggalkan Zoya yang masih tenang menyesap sisa kopinya.

​Di dalam lift yang membawanya turun ke basement, Kalandra memijat pelipisnya yang berdenyut.

Pernikahan ini gila. Sudah dua tahun dia terjebak dalam perjodohan konyol demi memuluskan bisnis keluarga dan koneksi politik ayahnya.

Dia, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti para bandit di kota, harus pulang ke rumah yang terasa seperti kamar mayat karena istrinya yang tak lebih hidup dari mayat itu sendiri.

​Mobil SUV hitam dinasnya melaju membelah kemacetan pagi kota. Sirine kecil dinyalakan sesekali untuk memecah kepadatan jalan.

Pikiran Kalandra masih tertinggal di meja makan tadi. Wajah datar Zoya benar-benar mengganggu konsentrasinya.

​Begitu mobilnya berbelok tajam memasuki pelataran Markas Besar Kepolisian Distrik Metro City, suasana hati Kalandra langsung berubah mode.

Dia bukan lagi suami yang kesal, dia adalah Komandan Kalandra Dirgantara. Sang anjing pelacak.

​Dia membanting pintu mobil, berjalan cepat melintasi lobi. Beberapa petugas memberi hormat, tapi dia hanya mengangguk sekilas.

Langkahnya mantap menuju lift khusus. Namun, baru saja pintu lift terbuka di lantai divisi kriminal, seorang pria muda dengan rompi lapangan berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.

​Itu Raka, anak buah kepercayaannya yang biasanya santai, tapi kali ini wajahnya pucat pasi.

​"Komandan! Gawat, Ndan!"

​Kalandra tidak berhenti berjalan, dia terus melangkah menuju ruangannya sambil melepas jas. "Napas dulu, Ka. Jangan kayak orang dikejar setan pagi-pagi. Kenapa? Kasus perampokan di Grand Mall lagi?"

​"Bukan, Ndan. Ini jauh lebih parah." Raka menyamakan langkah, menyodorkan sebuah tablet kerja dengan tangan gemetar.

​Kalandra berhenti mendadak di depan pintu ruangannya. Dia menatap Raka, alisnya menukik tajam. "Jangan bilang..."

​"The Puppeteer, Ndan," potong Raka cepat, suaranya tercekat. "Baru saja ditemukan mayat perempuan di gudang tua pelabuhan distrik tujuh. Kondisinya... sama persis. Posisi tubuhnya diatur seperti boneka yang sedang menari, dan ada benang merah terikat di pergelangan tangannya."

​Darah Kalandra berdesir hebat. Kasus itu.

Mimpi buruk yang sudah enam bulan membuat timnya tidak bisa tidur nyenyak. Pembunuh berantai jenius yang selalu selangkah lebih maju, yang mempermainkan polisi seperti anak kecil.

​"Siapkan tim. Kita berangkat sekarang!" perintah Kalandra, rasa kesal pada istrinya tadi pagi langsung lenyap, digantikan oleh adrenalin pemburu yang mencium bau darah. "Jangan biarkan tim forensik menyentuh apa pun sebelum aku sampai di sana. Kali ini, bajingan itu tidak boleh lolos."

​Kalandra menyambar kunci mobilnya lagi, berbalik arah lari kembali ke lift, tidak menyadari bahwa kasus kali ini akan memaksanya menyeret serta "beban" yang dia tinggalkan di meja makan tadi pagi.

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!