Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.
"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.
"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.
"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.
Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.
Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?
"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran Angkasa Dan Jingga
Rintik hujan mulai turun membasahi kaca mobil mewah milik keluarga Rodriguez. Di kursi belakang, Jingga menatap ke arah jalanan yang mulai diguyur hujan deras dengan tatapan kosong. Di pangkuannya, Raya sudah tertidur lelap dengan napas yang teratur. Seperti biasa, setiap kali bocah mungil itu merasa kenyang, ia akan segera menjemput mimpinya tanpa perlawanan. Hal ini memudahkan Jingga untuk membawanya pulang tanpa harus menghadapi drama penolakan atau tangisan karena kelelahan.
Namun, di balik ketenangan itu, raut wajah Jingga tampak menyiratkan beban pikiran yang cukup berat. Ia mengusap pipi gembul Raya dengan penuh kasih, namun pikirannya melayang ke tempat lain. Angkasa, yang duduk di sampingnya sambil memperhatikan jalanan, menyadari perubahan suasana hati sang istri. Dengan gerakan lembut, Angkasa mengelus kepala Jingga, mencoba memberikan kenyamanan.
"Ada apa, Sayang? Apa yang sedang kamu pikirkan sampai keningmu berkerut begitu?" tanya Angkasa dengan suara rendah yang menenangkan.
Jingga menghela napas panjang, matanya kini beralih menatap suaminya. "Artan ... akhir-akhir ini dia terlihat sangat suka tinggal di rumah Delvin," lirih Jingga. Suaranya terdengar sedikit parau, menyimpan rasa cemburu sekaligus kekhawatiran seorang ibu.
Angkasa tersenyum tipis, ia paham betul perasaan istrinya. "Terus, masalahnya di mana? Artan itu sudah dewasa, dia sudah punya pertimbangannya sendiri. Apalagi melihat ayah kandungnya sekarang tinggal sendirian dan sering jatuh sakit, dia pasti tidak tega. Artan memiliki hati yang terlalu lembut untuk membiarkan ayahnya menderita tanpa ada yang menjaga."
Jingga terdiam, mencoba mencerna ucapan Angkasa. Memang benar, putra pertamanya itu memiliki jiwa empati yang sangat tinggi. "Iya juga sih," gumamnya pelan.
Dalam hati, Jingga merenung. Putra sulungnya itu memang lebih suka menghabiskan waktu dengan mantan suaminya sekarang. Delvin, pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, kini hidup dalam kesunyian. Setelah bercerai dari Jingga, Delvin tercatat pernah menikah dua kali lagi, namun kedua pernikahan itu berakhir tragis dengan perceraian tanpa membuahkan anak.
Jingga bertanya-tanya, apakah ini yang disebut dengan menabur badai dan menuai tunai? Dahulu, Delvin pernah menolak kehadiran putra kembarnya hanya demi mengejar pujaan hatinya yang ternyata justru menceraikannya di kemudian hari. Sementara Arga kembaran Artan, tampak acuh tak acuh dan cenderung dingin pada sang ayah kandung, Artan justru sebaliknya. Jiwanya tidak tegaan melihat penderitaan orang lain, bahkan penderitaan orang yang pernah menyakiti mereka.
"Apapun kesalahan Delvin di masa lalu, kita tidak punya hak untuk membuat anak-anak membenci ayahnya sendiri. Itu urusan hati, dan hati berhak memilih siapa yang ingin ia sayangi. Sekarang, kita fokus saja pada kebahagiaan kita," ucap Angkasa lembut. "Lagipula sekarang, Delvin sudah merasakan buah dari keputusannya. Dia tidak mendapatkan kebahagiaan yang dia cari, bahkan pernikahan ketiganya hancur berantakan."
Jingga mengangguk pelan, mencoba merelakan pilihan Artan. Namun, pikirannya kemudian beralih pada sosok lain yang absen di hari bahagia ini. "Mama Nara ... dia tidak datang hari ini ya," ucap Jingga pelan, merujuk pada ibu kandung Nara yang entah berada di mana.
Mendengar nama itu, raut wajah Angkasa seketika berubah. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap butiran air yang mengalir di kaca. "Biar saja. Entah dia masih peduli atau tidak pada putri kandungnya sendiri, itu urusannya. Dari dulu pun dia memang begitu, egois. Biar Nara sendiri yang menilai nanti. Yang terpenting bagiku, aku sudah memenuhi kewajibanku sebagai ayah untuk putriku. Aku yang menggandengnya ke altar, dan itu sudah cukup."
Perceraian memang tidak selalu berakhir bvruk bagi pasangan, tetapi dampaknya pada anak seringkali membekas seumur hidup. Itulah sebabnya Angkasa selalu mewanti-wanti putri-putrinya untuk mencari suami yang tepat. Ia pernah merasa gagal menjaga keutuhan rumah tangganya bahkan putri pertamanya, dan ia harap tidak akan membiarkan kesalahan yang sama menimpa putrinya yang lain.
"Tapi tadi Zeno tidak datang," celetuk Angkasa tiba-tiba, mengganti topik pembicaraan.
Jingga tersentak kaget. "Kamu mengundang Zeno?!" serunya dengan tatapan tak percaya.
"Iya lah, aku mengundangnya!" gerutu Angkasa dengan nada kesal yang dibuat-buat. "Aku ingin dia melihat bagaimana bahagianya putriku sekarang. Menikah dengan pria yang berlipat-lipat kali lebih hebat darinya. Ditambah lagi pestanya yang begitu mewah. Aku masih sakit hati mengingat dia dulu mengajak Nara menikah hanya di gedung kecil dan sempit. Cih, apa-apaan itu. Bahkan Nara yang lebih banyak mengeluarkan uang untuk modal nikah saat itu."
Jingga terperangah mendengar kejujuran suaminya. Ia menggelengkan kepala dan akhirnya tertawa kecil. Ternyata Angkasa masih menyimpan dendam yang cukup lucu terkait masa lalu Nara.
"Dasar kamu ini, Sayang ... Sayang ... bisa-bisanya kamu berpikir sampai ke sana," tawa Jingga pecah, membuat suasana di dalam mobil yang tadinya tegang menjadi hangat kembali. Suaminya memang jail dan memiliki cara unik dalam mencintai anak-anaknya.
Yakin kamu akan bertahan hanya 3 bulan Vier??
mksh kak ditunggu lagi up nya, udah nungguin dr tadi😍