NovelToon NovelToon
Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.

Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.

Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Benturan yang Tidak Bisa Dihindari

Ada sebuah tekanan udara yang tiba-tiba terasa berat.

Tekanan itu seolah tidak ada jeda dan tidak ada peringatan.

Saat Yuda masih berdiri dengan napas belum sepenuhnya stabil, sisa getaran latihan sebelumnya bahkan belum menghilang dari tubuhnya, dunia di sekeliling bangunan batu hitam langsung berubah.

Udara yang semula hanya berat mendadak mengeras, seolah ruang itu sendiri memutuskan untuk menutup dan menghimpit segala sesuatu di dalamnya.

Yuda pun bergerak refleks menekuk lututnya.

Telapak kakinya bergeser di atas lantai batu yang bergetar pelan.

Getaran itu bukanlah sebuah gempa besar, melainkan getaran halus namun konsisten, seperti sesuatu yang sangat besar sedang menekan dari atas, perlahan namun pasti yang membuat napasnya terasa tertahan.

Seolah udara yang ia hirup terasa enggan masuk ke paru-parunya.

Sedangkan Tara, ia terlihat bereaksi lebih dulu.

Kucing putih kecil buntal itu melompat ke depan Yuda, berdiri rendah dengan cakar sedikit terangkat.

Bulu di sepanjang punggungnya berdiri seluruhnya, bahkan saat ini tampak tidak ada sikap santai dan tidak ada candaan dari wajahnya.

“Ini bukan sisa tekanan latihan, tapi ini seperti sebuah kehadiran baru.” ucap Tara pelan.

Mendengar itu, wajah Yuda terlihat sedikit panik dan menelan ludahnya sendiri.

“A-apa.. Apa banyak?” tanya Yuda kemudian.

“Lebih dari satu, dan ini semua tidak peduli apakah kau siap atau tidak.” jawab Tara tanpa menoleh.

Langit di atas bangunan batu hitam mulai berubah. Awan yang selama ini diam berputar, bukan berarak, melainkan dipelintir seperti kain basah yang diperas paksa.

Cahaya redup menembus celah formasi pelindung dan jatuh ke tanah dalam bentuk garis-garis tidak beraturan yang berdenyut pelan dan membuat tekanan mulai terasa bertambah berat.

Yuda merasakan tulang-tulang di tubuhnya berderit pelan.

Bukan suara nyata, tetapi sensasi yang membuatnya sadar bahwa jika ini berlanjut, tubuhnya akan dipaksa berlutut.

Di saat itu juga, terdengar sebuah langkah kaki terdengar.

Setiap langkah seperti menekan pernyataan bahwa siapa pun yang datang, tidak merasa perlu menyembunyikan diri.

Itu adalah Guruh yang muncul dari lorong batu.

Wajahnya tetap datar, sama seperti biasanya, namun Yuda langsung merasakan perbedaan besar pada tubuh pria tua itu.

Aura Guruh tidak lagi ditekan, bahkan tidak lagi disamarkan.

Ia berdiri sepenuhnya dengan kekuatan yang benar-benar terbuka, seperti tembok terakhir yang sengaja ditunjukkan ke arah ancaman.

“Kau belum siap,” kata Guruh tiba-tiba.

Yuda pun tidak membantahnya.

“Ya, aku tahu itu.” jawab Yuda dengan wajah yang serius.

“Bagus kalau begitu, orang yang sadar dirinya belum siap masih punya kesempatan bertahan.” jawab Guruh dengan nada yang datar.

Tara pun hanya mendengus pelan setelah mendengar itu.

“Hmm.. Pak tua, cara bicaramu tetap saja menyebalkan di situasi apa pun.” ucap Tara dengan wajah yang tetap serius.

Di saat itu juga, terlihat sebuah retakan muncul di tanah di luar bangunan.

Cahaya asing menyembur dari celah itu, yaitu sebuah warna kusam yang membuat mata terasa tidak nyaman jika menatapnya terlalu lama.

Tak berselang lama, sosok pertama terlihat turun.

Sosok itu tidak mendarat, namun ia berhenti melayang beberapa jengkal di atas tanah.

Tubuhnya tinggi, diselimuti lapisan pelindung gelap yang tampak seperti logam, namun bergerak seperti cairan hidup dengan wajahnya tertutup helm tanpa celah mata.

“Wilayah terlarang, subjek tidak terdaftar terdeteksi.” suara itu terdengar, bergema dari segala arah.

Sosok kedua pun muncul di sisi lain, dengan tubuh yang lebih ramping, lebih rendah, membawa senjata panjang yang ujungnya berdenyut pelan, memancarkan aliran energi asing.

Sedangkan sosok ketiga tidak langsung terlihat.

Namun Yuda sudah merasakannya.

Tekanan tambahan datang dari belakang, sehingga membuat nalurinya menjerit.

“Belakang!” teriak Tara dengan tiba-tiba.

Yuda langsung berputar, namun sepersekian detik terlambat.

Gelombang tekanan menghantam punggungnya.

Tubuh Yuda terlempar ke dinding batu hingga membuat suara benturan keras menggema.

Napasnya seperti di lepas dengan paksa dari paru-parunya, hingga akhirnya ia jatuh berlutut.

Sakit menjalar cepat, tetapi tubuhnya tidak ambruk sepenuhnya.

Latihan brutal yang ia jalani selama ini telah menyisakan satu hal penting.

Itu membuat tubuhnya benar-benar masih mau berdiri.

“Menarik, makhluk ini mampu bertahan.” kata suara ketiga dari udara kosong.

Di sisi Yuda, terlihat Guruh mulai melangkah maju satu langkah.

“Wilayah ini berada di bawah pengawasan internal, kalian tidak memiliki izin.” kata Guruh dengan tegas.

Membuat sosok pertama menoleh perlahan ke arahnya.

“Instruksi kami berada di atas pengawasan lokal.” jawab sosok pertama.

“Sayang sekali, karena aku tidak tunduk pada instruksi itu.” jawab Guruh dengan datar.

Setelah itu, Guruh seketika menginjak tanah, sehingga membuat tekanan berubah arah.

Jika sebelumnya udara menekan ke bawah, kini seolah dunia sendiri mengeras dan menolak tekanan asing.

Getaran menyebar dari titik pijakan Guruh, memukul balik kekuatan yang turun dari langit.

Yuda akhirnya merasakan ruang bernapas.

Ia pun lantas berdiri, walau lututnya masih bergetar.

“Hei kucing jelek, kalau aku hanya diam di belakangmu, maka aku tidak akan belajar apa pun.” ucap Yuda cepat pada Tara.

Mendengar itu, Tara pun meliriknya singkat.

“Kau telah belajar dengan cara yang sangat menyakitkan, bocah." jawab kucing buntal itu.

Yuda pun hanya tersenyum tipis.

“Huhh.. Aku sudah terbiasa dengan itu Tara." jawab Yuda dengan sedikit keluhan.

Ia kemudian melangkah keluar dari perlindungan Guruh.

Sosok kedua langsung bergerak dengan membawa senjata panjangnya yang sudah berayun, menciptakan lengkungan energi yang memotong udara.

Yuda menghindar setengah langkah, seketika panas menjalar di sisi tubuhnya.

“Refleksmu meningkat, bocah bebal..” ucap Tara pelan.

“Jangan ingatkan lagi kucing jelek, aku sudah sangat gugup.” gumam Yuda sedikit bercanda.

Tara pun akhirnya mulai melompat dengan cakarnya menyayat udara, bukan untuk melukai tubuh fisik, melainkan mengganggu aliran energi di sekitar lawan sehingga membuat sosok kedua tersendat sepersekian detik.

Setelah itu, Yuda juga ikut menyerang.

Ia tidak menggunakan teknik rumit, ia langsung mengerahkan tenaga yang selama ini ditekan dengan diarahkan lurus ke depan hingga membuat sebuah benturan terjadi.

Beberapa detik kemudian, terlihat tubuh Yuda terpental ke belakang.

Namun di sisi lain, terlihat sosok itu juga terdorong mundur.

Namun untuk Yuda, ia terlihat jatuh dan terguling dan sebuah tawa pendek keluar dari mulutnya.

“Ahaha... A-duduh.. Ternyata masih sakit.” keluh Yuda dengan wajah yang terlihat bercanda

“Dasar bocah bebal, fokuslah, bodoh” bentak Tara seketika sehingga membuat Yuda langsung terdiam menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Setelah menstabilkan energinya kembali, pertarungan pun akhirnya berlanjut dan membuat tekanan sekitar meningkat lagi.

Di tengah pertarungan itu, sesuatu di dalam diri Yuda mulai bergerak.

Tenaga yang selama ini ia tahan, yang ia paksa diam, mulai memberontak.

Sebuah aliran yang kasar dan tidak teratur terasa merambat.

Yuda merasakannya seperti arus panas yang ingin keluar tanpa kendali.

“Napasmu berubah, Yuda, tahanlah.” kata Tara cepat dengan wajah yang sangat serius.

Namun dilihat dari wajah Yuda, ia seperti sangat tersiksa, dan hanya mampu menggertakkan giginya.

Ia mencoba menahannya sebisa mungkin namun gagal.

Hingga akhirnya tenaga itu melonjak yang membuat tekanan di sekitarnya terlempar mundur dan membuat batu di lantai retak.

Beberapa detik kemudian, Yuda menjerit dengan tertahan yang membuatnya kehilangan fokus.

Dan serangan berikutnya pun hampir mengenainya.

Namun Tara dengan sigap langsung bergerak cepat.

Ia melompat tepat ke depan Yuda dengan tubuh kecilnya yang mulai bersinar.

Dalam sekejap saja, sosok kucing kecil itu membesar.

Akhirnya tubuh raksasa Tara berdiri di antara Yuda dan serangan yang datang.

Sebuah aura kuno meledak keluar, menekan seluruh area.

“Cukup!” suara Tara menggema membuat tekanan asing tersentak.

Sedangkan di belakangnya, Yuda terlihat jatuh ke belakang dengan napasnya terengah.

Tara menoleh dengan mata emasnya menatap tajam ke arah Yuda.

“Hei bocah, jika kau kehilangan kendali sekarang, kau akan mati bodoh, dan aku tidak akan berniat menguburmu hari ini.” ucap Tara sinis menggoda Yuda.

Mendengar itu, Yuda pun terdiam sejenak dan menarik napasnya perlahan berusaha menahan tenaga yang liar dari dalam tubuhnya.

Sedangkan tubuh Tara terlihat mulai mengecil kembali.

Tapi pertarungan tetap berlanjut namun terlihat lebih singkat.

Hingga akhirnya, suara lonceng yang keras terdengar.

Tengg!!!

Satu kali berbunyi.

Suara itu seketika membuat sosok-sosok itu berhenti.

“Penilaian selesai, makhluk ini akan dicatat.” kata suara pertama.

Setelah berkata seperti itu, mereka semua pun mulai mundur dan membuat langit perlahan kembali normal.

Yuda akhirnya jatuh terduduk dengan tangan dan kaki yang masih terlihat sedikit bergetar.

“Aku benar-benar benci dengan kata-kata dicatat,” katanya terengah dengan keringat yang deras

Guruh yang dari tadi hanya menyaksikan itu, kini mulai menoleh.

Aura dan energinya telah kembali di sembunyikan.

“Hmm, bocah, kau hampir kehilangan kendali,” kata Guruh dengan tatapan sedikit khawatir.

“Umm.. Aku tahu, Guru." jawab Yuda dengan menundukkan kepalanya.

“Tapi kau telah kembali," lanjut ucap Guruh.

"Ummm.. Ya, itu semua juga karena Tara si kucing jelek itu," jawab Yuda dengan keluhan.

Guruh hanya mengangguk mengiyakan jawaban dari Yuda.

“Ini semua karena kau mau mendengar saat latihan." ucap Guruh kembali.

......................

1
JUNG KARYA
/Coffee/
JUNG KARYA
mohon dukungannya teman-teman🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!