"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGIT LANGIT KAMAR DAN PERTANYAAN YANG TAK TERJAWAB
Kenangan pahit itu tiba-tiba melintas dengan sangat tajam di ingatan Kanaya saat ia sedang menghitung sisa saldo di dompetnya untuk membayar biaya fotokopi tugas kuliah. Pikirannya melayang kembali ke masa itu, saat kondisi ekonomi di rumah Mbah Akung benar-benar sedang di titik terendah. Ibu Maya tertunduk lesu karena tidak punya uang sepeser pun untuk ongkos sekolah Kanaya, hingga akhirnya dengan suara yang sangat berat, Maya meminta Kanaya pergi ke rumah ayahnya untuk meminjam uang—hanya lima puluh ribu rupiah.
Kanaya ingat betul bagaimana kakinya gemetar saat berdiri di depan pagar rumah baru ayahnya. Saat Bagas keluar, bukan pelukan atau sambutan hangat yang ia terima. Bagas menatapnya seolah ia adalah pengemis yang datang mengganggu ketenangan keluarga barunya. Sebelum mengeluarkan selembar uang dari dompetnya, Bagas memaki-makinya di depan teras, menyalahkan Maya yang dianggap tidak becus mengelola uang dan menyebut Kanaya sebagai beban yang selalu datang di saat yang tidak tepat.
"Ambil ini! Bilang sama ibumu, jangan terus-terusan mengandalkan saya! Saya sudah punya tanggung jawab lain di sini!" bentak Bagas sambil menyodorkan uang lima puluh ribu itu dengan kasar.
Kanaya pulang dengan air mata yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak tumpah di sepanjang jalan. Sesampainya di rumah, ia hanya menyerahkan uang itu pada Maya tanpa menceritakan makian yang ia terima. Namun, hingga kini, saat ia sudah menjadi mahasiswi, pertanyaan yang sama selalu menghantui benaknya setiap kali ia merasa sendirian.
Sebenarnya aku ini siapa di mata Ayah? batin Kanaya sambil menatap bayangannya di cermin kamar yang mulai usang. Bukankah aku juga anaknya? Bukankah darah yang mengalir di tubuhku ini juga darahnya? Mengapa adikku, Syifa, bisa mendapatkan semua kemewahan dan kasih sayang itu, sementara aku harus dimaki hanya untuk uang lima puluh ribu?
Rasa sakit itu bukan lagi berupa tangisan histeris, melainkan sebuah kekosongan yang sangat dingin. Kanaya menyadari bahwa status "anak" di atas kertas ternyata tidak cukup untuk menjamin sebuah kasih sayang. Kejadian itu menjadi alasan terkuat mengapa Kanaya kini sangat tertutup dan enggan meminta bantuan pada siapa pun. Ia tidak ingin lagi merasakan harga dirinya diinjak-pijak oleh orang yang seharusnya menjadi pelindungnya. Kanaya berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan sukses dengan kakinya sendiri, bukan untuk membalas dendam, tapi untuk membuktikan bahwa anak yang dulu pernah dimaki karena uang lima puluh ribu ini bisa berdiri tegak tanpa perlu belas kasihan dari ayahnya lagi.
Pikiran itu terus berputar di kepala Kanaya seperti kaset rusak yang menyakitkan. Ada rasa tidak adil yang menghimpit dadanya setiap kali ia mengingat kejadian "lima puluh ribu" itu. Selama bertahun-tahun, sejak ayahnya pergi dan menikah lagi, Kanaya dan ibunya berjuang sendirian. Mbah Akung-lah yang banting tulang, dan Ibu Maya-lah yang memutar otak agar dapur tetap mengepul. Ayahnya? Sepeser pun tidak pernah mengirimkan uang saku, biaya buku, atau sekadar menanyakan apakah Kanaya sudah makan.
"Sekali," bisik Kanaya lirih pada dinding kamarnya yang sunyi. "Cuma sekali itu aku datang karena Ibu benar-benar terdesak... tapi makiannya seolah-olah aku ini parasit yang setiap hari mengemis di depan pintunya."
Yang paling membuat hati Kanaya perih adalah kenyataan bahwa ayahnya seolah menghapus memori tentang ketidakhadirannya. Bagas bersikap seakan-akan dia adalah pahlawan yang selama ini menafkahi mereka, sehingga saat Kanaya datang meminta bantuan kecil, dia merasa punya hak untuk murka. Padahal, uang lima puluh ribu itu bahkan tidak sebanding dengan harga satu mainan yang pernah ia lihat dibelikan ayahnya untuk Syifa di mal.
Kanaya mengepalkan tangannya. Ia ingat bagaimana ia berdiri mematung di teras rumah ayahnya saat itu, menerima makian yang menghujam harga dirinya. Ia tidak membalas, bukan karena ia takut, tapi karena ia terlalu syok melihat sosok yang dulu ia banggakan bisa berubah menjadi begitu kejam hanya karena uang yang nominalnya sangat kecil.
"Aku tidak pernah minta apa-apa sebelumnya, dan setelah hari itu, aku bersumpah tidak akan pernah minta apa-apa lagi," tekad Kanaya dalam hati.
Pengalaman itu mengubah cara pandang Kanaya terhadap hidup. Itulah sebabnya sekarang, di masa kuliah, ia bekerja keras mencari beasiswa dan mengambil kerja sampingan sebagai guru les privat. Ia tidak ingin memberikan celah sedikit pun bagi ayahnya untuk kembali menghinanya. Setiap kali ia merasa lelah dengan tumpukan tugas dan kerjaan, ia selalu mengingat wajah ayahnya saat memaki-makinya. Luka itu ia ubah menjadi bahan bakar. Ia ingin membuktikan bahwa tanpa "uang makian" itu, ia bisa tumbuh menjadi wanita yang jauh lebih bermartabat dan mandiri daripada ayahnya sendiri.
Mohon maaf, Sahabat, aku keliru memahami hubungan mereka sebelumnya. Terima kasih sudah meluruskan. Jadi, Maya adalah kakak kandung Bagas, yang berarti Kanaya selama ini dibesarkan oleh tantenya (Maya) dan kakeknya (Mbah Akung).
Kehidupan Kanaya terasa lengkap bersama Budenya, Maya. Meskipun mereka tinggal bersama, ada banyak luka yang Kanaya simpan rapat-rapat sendirian. Ternyata, pengkhianatan Bagas terhadap keluarga besarnya—terutama kepada Mbah Akung—meninggalkan trauma mendalam pada Maya. Sebagai kakak perempuan yang harus menanggung malu dan beban mengurus anak dari adik laki-lakinya yang tidak bertanggung jawab, Maya sering kali kehilangan kendali atas emosinya.
Ada saat-saat di mana Maya tiba-tiba meledak jika teringat bagaimana Bagas meninggalkan Kanaya demi perempuan lain. Di saat itulah, Kanaya yang sudah kuliah menjadi bulan-bulanan amarahnya. Maya yang biasanya penyayang bisa berubah menjadi sangat kejam.
"Kamu itu sama saja dengan bapakmu! Darah laki-laki tidak tahu diri itu mengalir di kamu! Kamu itu cuma sampah yang ditinggalkan buat kami urus!" teriak Maya dengan mata nyalang.
Bahkan kata-kata yang jauh lebih kasar dan merendahkan martabat seperti "anak pelacur" sering terlontar begitu saja saat Maya sedang kalap. Bagi Maya, wajah Kanaya adalah cermin dari wajah adiknya, Bagas, yang telah menghancurkan harapan keluarga. Kanaya dipaksa memikul dosa-dosa ayahnya yang sebenarnya bukan kesalahannya.
Menghadapi itu semua, Kanaya hanya bisa diam membatu. Ia tidak membantah, tidak melawan, bahkan air matanya pun sudah tidak mau menetes lagi. Rasa sakit yang bertubi-tubi sejak kecil—mulai dari melihat Mbah Akung mengusir ayahnya, dimaki saat meminta uang lima puluh ribu, hingga melihat ayahnya bahagia dengan keluarga baru—telah membuat hatinya menjadi batu. Ia sudah sampai pada titik di mana makian sekeras apa pun terasa seperti angin lalu.
Ia tetap bertahan di rumah itu karena ia merasa berutang budi pada Maya yang sudah mau membesarkannya meskipun dengan penuh amarah. Kanaya paham bahwa Maya sebenarnya sangat menyayanginya, namun luka dari perbuatan Bagas terlalu besar sehingga Maya sering melihat Kanaya bukan sebagai keponakannya, melainkan sebagai bayangan dari adiknya yang berkhianat.
Di dalam kamarnya yang sunyi, Kanaya sering merenung. Ia merasa seperti pengungsi di dalam keluarganya sendiri. Di luar ia harus tampak kuat sebagai mahasiswi, namun di dalam rumah ia adalah samsak emosi. Ia hanya bisa menanti hari di mana ia cukup mandiri untuk pergi, bukan karena benci, tapi karena ia butuh bernapas tanpa bayang-bayang dosa ayahnya yang terus menghantuinya lewat mulut Budenya sendiri.
Malam itu, setelah badai amarah Maya mereda dan rumah kembali dicekam keheningan yang menyesakkan, Kanaya berbaring di atas kasurnya yang keras. Ia tidak menyalakan lampu. Hanya ada cahaya remang dari lampu jalan yang menembus celah ventilasi, membentuk garis-garis panjang di langit-langit kamarnya.
Kanaya menatap langit-langit itu dengan pandangan kosong. Kata-kata kasar "anak sampah" dan "anak pelacur" masih berdengung di telinganya, tapi jantungnya tidak lagi berdegup kencang karena takut. Hatinya sudah terlalu kebas.
"Aku selalu memahami kondisi Ibu..." bisiknya sangat lirih, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi. "Aku paham Ibu trauma karena kelakuan Ayah. Aku paham Ibu lelah mengurusku sendirian. Aku paham Ibu malu punya adik seperti Ayah."
Ia menarik napas panjang, namun dadanya terasa sesak seolah ada beban berton-ton yang menindihnya.
"Tapi... siapa yang memahami kondisiku?"
Satu pertanyaan itu menggantung di udara, tak terjawab. Kanaya teringat bagaimana ia harus memendam kerinduannya pada ayahnya demi menjaga perasaan Maya. Ia teringat bagaimana ia harus menelan makian ayahnya demi uang lima puluh ribu agar dapur mereka tetap mengepul. Ia teringat bagaimana ia harus berpura-pura tidak tahu tentang adik barunya agar Mbah Akung tidak stres.
Sepanjang hidupnya, Kanaya adalah "pakar" dalam memahami perasaan orang lain. Ia mahir membaca raut wajah Maya agar tidak salah bicara. Ia cerdas dalam menyembunyikan kesedihan agar Mbah Akung bisa meninggal dengan tenang. Namun, di rumah itu, tidak ada satu pun sudut yang tersedia bagi perasaan Kanaya sendiri. Bagi semua orang, Kanaya hanyalah objek: bagi ayahnya ia adalah beban, bagi budenya ia adalah pengingat luka.
Ia menatap langit-langit itu seolah mencari sosok Mbah Akung di sana. Hanya kakeknya yang dulu sering mengusap kepalanya tanpa perlu banyak bertanya. Kini, setelah Mbah Akung tiada, Kanaya benar-benar sendirian dalam pemahamannya.
"Semua orang minta dimengerti," gumamnya lagi, sudut matanya terasa panas namun tetap kering. "Tapi tidak ada yang pernah bertanya, 'Naya, kamu capek ya?' atau 'Naya, kamu sakit hati ya?'"
Kanaya memejamkan mata. Ia menyadari bahwa di dunia ini, kecerdasan emosionalnya yang tinggi adalah kutukan sekaligus pelindungnya. Ia terlalu pintar untuk membenci ibunya, tapi ia juga terlalu lelah untuk terus menjadi satu-satunya orang yang waras di tengah lingkaran trauma keluarga ini. Akhirnya, ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri dalam gelap, menunggu hari esok di mana ia harus kembali memakai topeng "anak kuat" dan kembali "memahami" semua orang, kecuali dirinya sendiri.