NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35: Ancaman Baru

Pesan itu masuk pukul dua belas malam.

Aluna sedang tidak tidur, berbaring di sisi kirinya seperti yang dokter anjurkan, matanya menatap langit-langit kamar yang gelap sementara Arsen tidur di sebelahnya dengan napas teratur. Ponselnya bergetar sekali, pelan, di atas nakas. Ia mengambilnya dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan Arsen.

Nomor tidak dikenal.

Ia membukanya.

"Selamat atas kehamilannya, Aluna. Sayang sekali kalau sesuatu terjadi sebelum bayinya sempat lahir."

Aluna tidak bergerak selama beberapa detik.

Lalu pesan kedua masuk.

"Arsen pikir dia bisa mengambil segalanya dariku dan tidak ada konsekuensinya. Dia salah. Dan kamu yang akan merasakannya duluan."

Pesan ketiga, tanpa kata-kata. Hanya sebuah foto. Foto Aluna yang diambil dari luar, melalui kaca jendela dapur, dua hari lalu, saat ia sedang berdiri di depan kompor dengan perut yang belum terlihat tapi sudah ada di sana. Sudut pengambilan gambarnya rendah, dari balik pagar, seperti seseorang yang sudah berdiri di sana cukup lama.

Ponsel itu jatuh dari tangannya.

"Arsen."

Suaranya tidak keluar seperti yang ia inginkan. Terlalu kecil, terlalu retak. Ia mencoba lagi, tangannya menyentuh lengan Arsen.

"Arsen."

Arsen terbangun dalam satu gerakan, seperti orang yang tidak pernah benar-benar tidur nyenyak. Matanya langsung membaca wajah Aluna sebelum bibirnya sempat membentuk kata-kata.

"Ada apa?"

Aluna menyerahkan ponselnya.

Arsen membaca ketiga pesan itu dalam keheningan yang lebih menakutkan dari kemarahan mana pun. Tidak ada perubahan ekspresi, tidak ada rahang yang mengencang, tidak ada tangan yang mengepal. Hanya diam yang panjang, dan mata yang berubah menjadi sesuatu yang berbeda, lebih gelap, lebih dingin, seperti permukaan laut sebelum badai yang sesungguhnya.

Ia meletakkan ponsel di nakas dengan gerakan yang terlalu terkontrol.

"Darren," katanya akhirnya. Bukan pertanyaan.

"Kamu kenal dia?"

"Mantan rekan bisnis." Suaranya datar. "Kami berpisah tidak baik-baik dua tahun lalu. Ada uang yang tidak bisa ia terima kembali, ada keputusan yang ia anggap pengkhianatan." Arsen menatap Aluna, matanya tidak bergerak. "Aku pikir ia sudah selesai."

"Tapi ternyata belum."

"Ternyata belum."

Arsen bangkit dari tempat tidur, berjalan ke jendela, memeriksa kunci dengan gerakan yang terlatih, lalu menarik tirai rapat-rapat. Ia mengambil ponselnya dari saku celana, menghubungi seseorang dengan tiga ketukan jari yang cepat. Panggilan diangkat dalam dua dering.

"Aktifkan protokol keamanan penuh untuk rumah mulai sekarang," katanya tanpa pembuka. "Dan cari tahu di mana Darren Saputra berada malam ini." Jeda sebentar. "Aku tidak peduli caranya."

Panggilan terputus.

Aluna memeluk lututnya di tengah tempat tidur, mengamati Arsen bergerak di kegelapan kamar dengan efisiensi yang terasa tidak manusiawi. Ini Arsen yang lain, bukan yang possessive dan mengendalikan dengan sentuhan dan keheningan. Ini Arsen yang tahu cara berperang.

"Kamu tidak akan cerita lebih banyak," kata Aluna. Bukan pertanyaan.

Arsen berbalik menatapnya. "Tidak malam ini."

"Arsen..."

"Aluna." Ia kembali ke tempat tidur, duduk di tepinya, tangannya menyentuh perut Aluna dengan gerakan yang sama seperti dua hari terakhir, ritual yang sudah menjadi bahasa mereka sendiri. Tapi malam ini gestur itu terasa berbeda. Ada desperation di baliknya, sesuatu yang nyata dan tidak tersaring. "Percayakan ini padaku."

"Ini bukan hanya tentang kamu yang ingin mengontrol situasi," balas Aluna pelan, tapi suaranya tidak gemetar. "Ada ancaman nyata. Aku berhak tahu."

Mata Arsen tidak bergerak darinya.

Lama.

"Darren pernah kehilangan seorang anak," katanya akhirnya, suaranya turun menjadi sesuatu yang hampir berbisik. "Dalam kondisi yang ia salahkan padaku, meski tidak sepenuhnya benar. Ia menyimpan dendam itu bertahun-tahun." Tangannya menggenggam tangan Aluna, pertama kalinya ia melakukan ini dengan cara yang terasa seperti memohon, bukan memiliki. "Ia tahu tentang kehamilanmu karena ada yang membocorkan. Dan ia akan gunakan itu."

Kamar itu hening.

Aluna merasakan dingin yang menjalar bukan dari AC, tapi dari sesuatu yang jauh lebih dalam.

"Seberapa berbahaya dia?"

Arsen tidak langsung menjawab.

Dan dalam keheningan itu, Aluna mendapat jawabannya.

Tiga hari berikutnya, rumah berubah lagi, kali ini lebih dramatis.

Dua orang pengamanan tambahan ditempatkan di luar, bergantian dua belas jam sekali, wajah-wajah yang tidak dikenal Aluna tapi tampaknya sangat dikenal Arsen. Kamera di setiap sudut eksterior rumah diganti dengan yang baru, resolusi lebih tinggi, sudut lebih luas. Semua jendela di lantai bawah dipasangi lapisan film anti-pecah.

Dan Arsen tidak pernah membiarkan Aluna keluar sendirian.

"Aku hanya mau ke apotek," protes Aluna suatu pagi.

"Aku antar."

"Ini sepuluh menit, Arsen."

"Aku antar." Suaranya tidak meninggikan nada, tapi tidak ada celah di sana.

Aluna menatapnya lama. Di satu sisi, ia tahu ancaman itu nyata, foto di luar jendela itu nyata, dan bayi yang ada di perutnya jauh lebih nyata dari segalanya. Tapi di sisi lain, ia merasakan tembok yang semakin tinggi, bukan hanya di sekeliling rumah, tapi di sekeliling dirinya. Setiap lapisan perlindungan yang Arsen tambahkan juga menambah satu lapisan pengawasan, satu lapisan kebergantungan yang tidak dimintanya.

"Ini tidak bisa jadi cara hidupku," bisiknya.

Arsen mendekat, tangannya menyentuh rahangnya dengan hati-hati. Matanya tidak dingin kali ini. Matanya lelah.

"Aku tahu," katanya pelan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, suara itu terdengar seperti pengakuan, bukan pembenaran. "Tapi sampai ini selesai, aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi padamu." Jempolnya mengusap pipinya. "Tidak pada kamu. Tidak pada anakku."

Kalimat itu menggantung.

Anakku.

Bukan anak kita.

Aluna merasakan sesuatu di dadanya, lagi, campuran yang sama antara kehangatan dan sesuatu yang menyesakkan, karena bahkan dalam ketakutan yang paling tulus sekalipun, Arsen tidak bisa berhenti merasa bahwa semuanya adalah miliknya.

Di luar, langit mendung.

Dan di suatu tempat di kota yang sama, Darren Saputra melihat layar ponselnya dan tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!