NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3: Jaring-Jaring Pengkhianatan dan Tawaran Rahasia Sera

Suasana di dalam kereta kuda menuju kediaman Lane terasa mencekam. Adrian duduk di depan Elara dengan napas yang memburu. Jas abunya yang rapi kini tampak kusut, dan topeng serigalanya telah ia lempar ke lantai kereta. Wajah yang biasanya dipenuhi senyum palsu itu kini memerah karena amarah yang tertahan.

"Siapa yang melakukannya, Elara?" suara Adrian rendah, bergetar karena emosi. "Siapa yang menukar dokumen itu? Kau sengaja membiarkanku mempermalukan diriku sendiri di depan para investor, bukan?"

Elara menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu jalanan ibu kota yang melintas dengan tenang. Ia tidak menoleh sedikit pun. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Adrian. Bukankah kau sendiri yang membawa tas itu? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau memegang semua kendali?"

"Jangan bermain-main denganku!" Adrian memukul dinding kereta dengan keras. "Hutang judi itu... itu seharusnya sudah ditutup! Seseorang sengaja menggali masa laluku untuk menjatuhkanku tepat di saat aku akan mengumumkan pertunangan kita!"

Elara akhirnya menoleh. Matanya yang pink menyala memberikan tatapan yang begitu dingin hingga Adrian terdiam sesaat. "Mungkin itu adalah peringatan dari Tuhan, Adrian. Bahwa seorang pembohong tidak akan pernah bisa membangun kerajaan di atas tumpukan hutang dan rahasia."

"Kau..." Adrian menyipitkan mata. "Kau berbeda sejak bangun dari pingsan waktu itu. Kau tidak lagi menatapku dengan cinta. Kau menatapku seolah aku adalah musuhmu. Apakah ini karena Grand Duke Alaric? Apakah kau berselingkuh dengan monster itu di belakangku?"

Elara tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat anggun namun mematikan. "Berselingkuh? Kita bahkan belum resmi bertunangan, Adrian. Dan menyebut Alaric sebagai 'monster'? Berhati-hatilah dengan ucapanmu. Monster jauh lebih jujur daripada pria yang menggunakan nama calon istrinya untuk menutupi kegagalannya di meja judi."

Adrian hendak membalas, namun kereta berhenti. Mereka telah sampai di kediaman Lane. Tanpa menunggu bantuan dari Adrian, Elara turun dari kereta dengan anggun.

"Kita akan bicara lagi besok setelah kau bisa berpikir jernih, Adrian," ucap Elara tanpa menoleh. "Dan saranku... bersihkan kekacauanmu sebelum para investor menarik seluruh modal mereka dari proyek pelabuhan."

Sementara itu, di sebuah sudut gelap di taman kediaman Valerius yang masih ramai, Sera berdiri dengan gelisah. Ia telah melihat semua kejadian di aula. Ia melihat bagaimana Adrian hancur, dan ia melihat bagaimana Grand Duke Alaric menatap Elara.

Sera bukan wanita bodoh. Ia tahu bahwa kapal yang ia tumpangi—Adrian—mulai bocor dan terancam tenggelam. Ia butuh sekoci baru.

"Anda tampak sangat cantik malam ini, Nona Sera."

Sera tersentak dan berbalik. Di sana, berdiri salah satu asisten pribadi Grand Duke Alaric, seorang pria bernama Kael yang dikenal sebagai tangan kanan sang Duke di dunia gelap.

"Tuan Kael," Sera segera memperbaiki posisinya, mencoba memasang wajah paling manis dan rapuh miliknya. "Saya hanya... sedikit terkejut dengan apa yang terjadi pada Tuan Adrian. Kasihan sekali Nona Elara harus mengalami hal memalukan seperti ini."

Kael tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Grand Duke melihat potensi dalam diri Anda, Nona Sera. Anda adalah orang yang sangat dekat dengan Nona Elara. Anda tahu semua rahasianya, bukan?"

Mata Sera berkilat. Ini adalah kesempatannya. "Tentu saja. Saya tahu banyak hal. Termasuk dokumen-dokumen keuangan rahasia keluarga Lane yang bahkan Tuan Adrian tidak tahu di mana Elara menyimpannya."

"Menarik," sahut Kael. "Grand Duke ingin menawarkan kerja sama. Jika Anda bisa memberikan informasi yang bisa 'membantu' Nona Elara—atau lebih tepatnya, memastikan Nona Elara terlepas dari jeratan Adrian—Grand Duke bersedia memberikan posisi yang jauh lebih tinggi bagi Anda di kediaman Ravenhurst."

Sera hampir saja memekik kegirangan. Kediaman Ravenhurst! Itu adalah puncak tertinggi kaum bangsawan. Jika ia bisa menjadi asisten di sana, atau bahkan lebih, ia tidak perlu lagi berpura-pura menjadi pelayan setia Elara.

"Katakan pada Grand Duke," bisik Sera dengan nada licik. "Saya akan memberikan apa pun yang beliau butuhkan. Termasuk kelemahan terbesar Elara Lane."

Sera tidak menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam jebakan yang telah disiapkan Elara dan Alaric. Elara tahu Sera akan berkhianat, dan Alaric akan menggunakan pengkhianatan itu untuk menghancurkan Adrian dan Sera secara bersamaan.

Malam itu, Elara tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon kamarnya, menghirup udara malam yang dingin. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah kehadiran di belakangnya. Bukan kehadiran yang mengancam, melainkan kehadiran yang memberinya rasa aman yang aneh.

"Kau seharusnya tidur, Elara. Hari ini adalah hari yang panjang."

Elara berbalik dan menemukan Alaric sudah berdiri di sana, entah bagaimana caranya ia bisa masuk ke dalam kamar yang dijaga ketat. Alaric tidak lagi memakai topeng tengkoraknya. Wajahnya yang tampan namun keras terpampang jelas di bawah sinar rembulan.

"Bagaimana kau masuk ke sini, Alaric?" tanya Elara, tidak merasa takut sedikit pun.

"Dinding setinggi apa pun tidak akan bisa menghalangiku jika aku ingin menemuimu," jawab Alaric. Ia melangkah mendekat, mengamati wajah Elara. "Kau tampak lelah. Apakah Adrian mengganggumu di kereta tadi?"

"Dia hanya berteriak seperti anjing yang terjepit," sahut Elara dingin. "Dia mulai curiga padamu. Dia pikir aku berselingkuh denganmu."

Alaric mengangkat sebelah alisnya. Ia mendekat hingga tubuhnya hampir bersentuhan dengan Elara. Ia meletakkan tangannya di pagar balkon, mengurung Elara. "Berselingkuh? Itu istilah yang kasar. Aku lebih suka menyebutnya 'mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal'."

Elara menatap mata gelap Alaric. "Kau sangat percaya diri, Duke. Ingat, ini adalah aliansi untuk balas dendam. Bukan romansa."

"Aku tahu," bisik Alaric, wajahnya merunduk hingga napasnya terasa di telinga Elara. "Tapi siapa bilang balas dendam tidak bisa dinikmati dengan sedikit... gairah? Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun, Elara. Aku membiarkanmu memilih pria itu di kehidupan—maksudku, di masa lalu—dan lihat apa yang dia lakukan padamu."

Elara tertegun. Alaric hampir saja mengatakan "di kehidupan sebelumnya". Apakah pria ini juga mengingat masa lalu? Ataukah dia memiliki kemampuan untuk melihat garis waktu?

Sebelum Elara sempat bertanya, Alaric mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru bening. "Ini adalah racun penawar. Jika Adrian mencoba memberimu minuman apa pun mulai besok, minumlah ini sebelumnya. Aku tidak akan membiarkan sejarah berulang."

Alaric mengecup kening Elara dengan lembut, sebuah kecupan yang terasa seperti janji suci dan kutukan secara bersamaan. "Tidurlah. Besok, kita akan mulai menghancurkan fondasi bank milik keluarga Miller. Aku ingin Adrian memohon di kakimu untuk selembar roti."

Dalam sekejap, Alaric menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan Elara dengan jantung yang berdegup kencang—bukan karena takut, tapi karena kesadaran bahwa ia telah melepaskan seorang iblis yang jauh lebih berbahaya daripada Adrian untuk melindunginya.

1
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!