Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Masa libur dari neraka itu akhirnya resmi berakhir pada hari Rabu sore.
Suara deru ban mobil Alphard hitam yang bergesekan dengan aspal pelataran, diikuti ketukan hak sepatu tinggi yang beradu nyaring dengan lantai marmer teras, menjadi pertanda kembalinya dua penguasa rumah ini. Suara melengking tawa mereka yang memekakkan telinga langsung merobek ketenangan sore yang sudah Citra nikmati selama beberapa hari terakhir.
Pintu utama terbuka lebar. Putri dan Kinan melangkah masuk dengan gaya angkuh khas sosialita yang baru memborong isi pulau dewata. Kacamata hitam desainer besar masih bertengger arogan di wajah mereka, kulit mereka tampak lebih eksotis kecokelatan akibat berjemur, dan aroma sunblock beraroma kelapa bercampur parfum mahal seketika menguar merusak keheningan udara Mansion Aditama.
Di belakang mereka, sopir dan Ujang, tukang kebun rumah, tampak mandi peluh kerepotan menggotong lima koper super besar yang ukurannya beranak pinak dari saat mereka berangkat.
Citra sedang duduk anteng di ruang keluarga, menyusun beberapa tangkai bunga lili putih ke dalam vas kristal tinggi. Seminggu yang lalu, kedatangan mereka dengan raut wajah ketus dan suara memerintah seperti ini pasti sudah cukup untuk membuat jantung Citra berdebar ketakutan, membuat lututnya lemas, dan tangannya gemetar.
Namun hari ini, Citra hanya menoleh sekilas, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan sangat tenang dan teratur. Setelah melihat langsung kehancuran Putra yang terkapar mabuk di lantai dan menemukan titik terlemah sang diktator, ancaman dari dua gadis manja ini tiba-tiba terasa menyusut. Di mata Citra sekarang, mereka tak lebih dari sekadar dua balita tantrum yang sedang merengek karena tidak mendapat permen.
"Heh, penunggu rumah!" seru Kinan lantang, melemparkan tas selempang Dior-nya asal-asalan ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi bantingan keras yang memekakkan telinga. Matanya menatap Citra dengan kilat kebencian yang menyala. "Ngapain kamu duduk santai bersila di situ? Nggak lihat kita pulang bawa barang banyak dan capek? Bantuin bawa koper-koper raksasa itu ke atas! Sekarang!"
Putri ikut menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang dengan kasar, mengibaskan tangannya di depan wajah seolah kepanasan luar biasa. "Bikinin minuman dingin sana. Infused water kek, jus kek, apa aja yang segar. Haus banget nih habis berjam-jam duduk di pesawat. Jangan lelet, ya! Gerak!"
Alih-alih panik, terburu-buru berdiri, dan menunduk meminta maaf seperti biasa, Citra justru menuntaskan pekerjaannya memotong ujung tangkai bunga lili terakhir dengan gerakan yang sangat lambat, presisi, dan sengaja diulur-ulur.
Ia kemudian berdiri dengan postur tubuh yang tegak paripurna, merapikan lipatan celemeknya perlahan, dan menatap kedua adik iparnya lurus-lurus dengan wajah sedatar pualam. Tatapan matanya yang dulu selalu menunduk penuh ketakutan itu kini kosong dan luar biasa dingin. Tidak ada senyum palsu untuk mengambil hati, tidak ada raut kepanikan.
"Ujang, tolong koper-koper Non Putri dan Non Kinan diantar perlahan sampai ke depan pintu kamar mereka di lantai dua, ya. Hati-hati, barangnya mahal semua," perintah Citra pada tukang kebun itu dengan nada bicara yang sangat tenang dan berwibawa, layaknya nyonya rumah sungguhan yang sedang mendelegasikan tugas.
Citra sama sekali tidak menyentuh gagang koper itu. Ia membiarkan pekerja yang memang dibayar untuk mengangkat barang berat melakukan tugasnya.
Kinan melotot hebat, rahangnya nyaris jatuh ke lantai tak percaya instruksinya mentah-mentah diabaikan oleh sang kakak ipar. "Heh! Aku nyuruh kamu, ya! Telingamu budek?! Kenapa malah nyuruh Ujang? Kamu pikir kamu ini majikan di rumah ini?!"
Citra tidak mengalihkan pandangannya dari Kinan. "Tangan kanan saya masih sedikit kaku akibat tumpahan air kopi mendidih dari Mas Putra tempo hari kalau dipakai mengangkat beban berpuluh-puluh kilo ke lantai dua, Kinan," jawab Citra lancar. Tidak ada nada membela diri atau memelas, hanya menyampaikan sebaris fakta yang sangat dingin. "Daripada kopermu jatuh menggelinding di tangga dan barang-barang mewah di dalamnya rusak karena kecerobohan saya, lebih baik Ujang yang tenaganya jelas lebih kuat yang membawanya. Bukankah logika itu lebih masuk akal dan menguntungkanmu?"
Kinan membuka mulutnya, bersiap membentak lebih keras, namun tak menemukan satu pun celah untuk mendebat logika itu tanpa terdengar seperti orang bodoh. Jika ia memaksa dan menyalahkan tangan Citra, sama saja ia sedang mengusik kebrutalan kakaknya sendiri.
Citra tidak repot-repot menunggu balasan Kinan yang salah tingkah. Ia membalikkan badan dan melangkah ke arah dapur dengan langkah santai yang teratur.
Sepuluh menit kemudian, Citra kembali ke ruang keluarga membawa nampan perak berisi dua gelas kristal besar es jeruk peras murni yang embunnya menetes tampak sangat menyegarkan. Ia meletakkannya di atas meja di hadapan Putri dan Kinan tanpa bersuara sedikit pun.
Putri yang memang sudah sangat kehausan langsung menyambar gelas berembun itu dan meminumnya dengan tegukan besar. Namun sedetik kemudian, mata Putri membelalak. Ia sengaja menyemburkan sedikit minumannya kembali ke dalam gelas dan meletakkannya dengan kasar hingga es batunya berdentang keras.
"Cuih! Asem banget! Ini es jeruk atau cuka?!" bentak Putri, menatap Citra dengan wajah dibuat-buat jijik seolah baru saja menelan racun mematikan. "Kamu sengaja ya mau bikin dinding lambungku luka?! Kamu nggak bisa bedain mana gula mana garam?! Bikin minuman gampang aja nggak becus, dasar bisanya cuma numpang hidup dan ngabisin beras!"
Jika cacian ini dilontarkan minggu lalu, Citra pasti sudah menunduk dalam-dalam, meminta maaf berkali-kali dengan suara bergetar, dan berlari kembali ke dapur dengan mata berkaca-kaca menahan tangis untuk membuatkan minuman yang baru.
Namun kali ini, melihat wajah Putri yang berkerut marah merah padam, Citra hanya berdiri mematung di tempatnya bak patung lilin. Matanya menatap Putri dengan sorot kosong yang sangat apatis, menembus kepala gadis itu seolah ia sedang berbicara dengan dinding kosong.
"Oh, terlalu asam ya?" ucap Citra datar, tidak ada setitik pun nada penyesalan atau rasa bersalah dalam suaranya.
Tanpa sedikit pun raut panik, Citra berbalik melangkah pelan ke arah pantry kecil di sudut ruang keluarga. Ia kembali dengan membawa sebuah stoples kristal kecil berisi gula cair kental dan sebuah sendok teh perak, lalu meletakkannya dengan gerakan sangat lembut dan anggun tepat di samping gelas Putri.
"Silakan ditakar dan diaduk sendiri gula cairnya sesuai selera lidahmu, Putri," ucap Citra dengan nada sehalus sutra, namun kata-katanya menyayat setajam silet. "Takutnya, kalau saya yang bawa ke dapur dan saya buatkan ulang, takaran manisnya tetap akan salah dan membuatmu marah lagi. Maklumlah, lidah orang kampung yang biasa hidup susah seperti saya ini sepertinya selamanya tidak akan pernah bisa menyamai standar tinggi lidah sosialita kelas atas sepertimu."
Ruang keluarga raksasa itu seketika hening mencekam bagai kuburan.
Putri dan Kinan ternganga kaku, menatap Citra dengan mata membelalak tak percaya. Mulut mereka terbuka setengah, namun pita suara mereka lumpuh total. Serangan pasif-agresif yang Citra lemparkan barusan terlalu mematikan. Citra secara sukarela mengiyakan semua hinaan mereka, menyebut dirinya kampungan, bodoh, dan miskin dengan sangat gamblang di depan wajah mereka. Putri dan Kinan kehabisan amunisi. Bagaimana caranya menghina dan menjatuhkan mental seseorang yang bahkan sudah merendahkan dirinya sendiri dengan sangat santai, tanpa emosi, dan tanpa perlawanan?
"Kalau tidak ada lagi yang bisa saya bantu di sini, saya permisi ke belakang dulu. Masih ada bahan masakan mahal yang harus saya bersihkan dan saya siapkan untuk makan malam Mas Putra nanti," ucap Citra kelewat sopan, membungkuk sangat sedikit seolah mengakhiri pertunjukan teater.
Ia membalikkan badan dan melangkah menjauh perlahan, meninggalkan Putri dan Kinan yang wajahnya kini memerah padam terbakar amarah dan rasa malu seperti kepiting rebus. Mereka mendidih, napas mereka memburu karena kesal tak bisa melampiaskan kekesalan, namun anehnya mereka merasa kalah telak.
Mereka berdua seperti orang gila yang sedang mengayunkan pedang raksasa berkali-kali ke arah gumpalan asap tipis. Tidak ada satu pun luka fisik yang tercipta pada lawannya, justru mereka sendiri yang terengah-engah kehabisan tenaga karena memukul udara kosong.
Sesampainya di balik dinding dapur yang tak lagi terlihat oleh jangkauan mata kedua iblis kecil itu, sudut bibir Citra perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang memuaskan. Ia mengusap pinggiran meja dapur marmer yang dingin. Jantungnya tidak berdebar panik, matanya tidak memanas. Ketidakpedulian mutlak ternyata adalah tameng es paling kokoh yang tidak akan pernah bisa ditembus atau dilelehkan oleh amarah murahan siapa pun di rumah ini.
atau happy bersama lelaki lain
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih