NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WAWANCARA DAN BAYANG-BAYANG

Senin siang, kantor LokalMart terlihat lebih rapi dari biasanya.

Arief dan Rian datang pagi-pagi untuk bersih-bersih. Meja dirapikan, lantai dipel, kabel-kabel ditata rapi, bahkan tanaman plastik kecil ditaruh di beberapa sudut untuk kesan lebih hidup.

Dina datang jam sebelas dengan tas besar berisi sample produk yang dikirim seller kemarin sore. Batik tulis dari Solo, tas kulit dari Bandung, kopi bubuk dari Toraja, kerajinan tangan dari Yogyakarta.

Semua ditata di meja panjang yang biasanya dipakai untuk meeting.

Rajendra datang jam dua belas, pakai kemeja biru muda dan celana bahan hitam. Rambutnya disisir rapi, wajahnya terlihat sedikit lebih segar setelah tidur cukup semalam.

"Wah, kantor keliatan bagus," komentar Rajendra sambil melihat sekeliling.

"Makasih," jawab Arief sambil lap keringat di dahi. "Gue sama Rian udah beberes dari jam delapan."

Dina mengecek jam dinding.

"Masih ada waktu dua jam sebelum mereka datang. Rajendra, lu udah prepare jawaban untuk pertanyaan interview?"

"Udah. Kemarin gue bikin notes."

"Bagus. Inget ya, jawab dengan natural. Jangan terlalu scripted. Mereka suka authenticity."

"Gue paham."

Jam dua siang tepat, pintu kantor diketuk.

Dina membuka pintu. Tiga orang masuk. Pria pertama, usia tiga puluhan dengan kacamata dan kemeja kotak-kotak, membawa tas messenger. Pria kedua, lebih muda, membawa kamera DSLR dengan lensa besar. Wanita ketiga, pakai blazer hitam, membawa clipboard dan voice recorder.

"Selamat siang. Saya Adi dari Jakarta Biz," kata pria pertama sambil mengulurkan tangan. "Ini fotografer kami, Toni. Dan ini editor kami, Sari."

Rajendra berjabat tangan dengan mereka semua.

"Rajendra. Senang bertemu. Silakan masuk."

Mereka masuk, melihat sekeliling kantor dengan tatapan menilai.

"Kantor yang cozy," komentar Sari sambil menulis sesuatu di clipboard. "Berapa luas ruangan ini?"

"Sekitar enam puluh meter persegi," jawab Dina. "Lantai dua dari ruko tiga lantai."

"Perfect untuk startup bootstrap. Bikin artikel lebih relatable."

Toni mulai setup kamera, mengecek lighting, mengatur angle.

Adi mengeluarkan laptop dari tas, membuka dokumen notes.

"Oke, jadi kita akan mulai dengan interview dulu. Sekitar tiga puluh menit. Terus foto produk dan foto tim. Total sekitar dua jam. Siap?"

"Siap," jawab Rajendra.

Mereka duduk di area yang sudah disiapkan. Rajendra duduk di kursi, Adi di seberangnya dengan voice recorder di tengah meja.

Sari duduk di samping dengan clipboard, mencatat.

"Pertanyaan pertama," kata Adi sambil melihat notes-nya. "LokalMart itu konsepnya dari mana? Kenapa fokus ke produk lokal?"

Rajendra menjawab dengan tenang.

"Indonesia punya kekayaan produk lokal yang luar biasa. Batik, kerajinan tangan, kopi, makanan tradisional. Tapi mayoritas UMKM yang produksi produk ini belum punya akses ke market yang lebih luas. Mereka cuma jual offline, di pasar tradisional atau door to door. LokalMart hadir untuk jembatani itu. Kami bantu mereka go online dengan cara yang mudah."

"Kompetitor seperti Tokopedia dan Bukalapak juga ada. Apa yang bikin LokalMart beda?"

"Kami bukan general marketplace. Kami curated. Setiap seller yang masuk ke platform kami harus lewat verifikasi ketat. Setiap produk harus punya cerita. Kami gak cuma jual produk, kami jual story di balik produk. Siapa pembuatnya, dari mana asalnya, kenapa produk ini special."

Adi mengangguk sambil mencatat.

"Storytelling approach. Menarik. Terus untuk sistem pembayaran, kenapa pilih COD?"

"Karena mayoritas orang Indonesia masih belum trust belanja online. Mereka takut barang gak sampai atau kualitas gak sesuai. COD kasih mereka rasa aman. Mereka bayar setelah barang sampai dan mereka lihat langsung."

"Tapi COD itu high risk untuk bisnis. Bagaimana kalau buyer gak bayar?"

"Kami punya sistem mitigasi. Double confirmation sebelum pengiriman. Rating system untuk buyer. Kalau buyer sering cancel atau gak bayar, mereka gak bisa pakai COD lagi."

Sari mengangkat tangan.

"Boleh saya tanya? Anda anak dari keluarga Baskara kan? Grup Baskara yang punya bisnis logistik besar. Kenapa Anda mulai startup sendiri dari nol? Kenapa tidak join bisnis keluarga?"

Rajendra terdiam sebentar.

Pertanyaan yang dia tahu akan datang, tapi tetap tidak enak dijawab.

"Saya ingin membangun sesuatu dengan tangan saya sendiri. Bukan karena nama keluarga. Bukan karena privilege. Saya ingin prove bahwa saya bisa tanpa itu semua."

"Tapi tetap ada advantage kan? Network, pengetahuan bisnis dari keluarga?"

"Pengetahuan mungkin iya. Tapi network, funding, resource, semua saya bangun sendiri. LokalMart tidak pakai uang keluarga sama sekali. Kami mulai dengan modal pas-pasan, tim kecil, kantor sederhana. Exactly seperti startup pada umumnya."

Sari menulis dengan cepat.

Adi melanjutkan.

"Bicara soal tim, berapa orang sekarang?"

"Lima orang inti. Lead programmer, backend engineer, marketing lead, logistik partner, dan saya."

"Semua full time?"

"Iya. Dan kami kasih equity ke semua. Karena kami percaya startup itu tentang ownership bersama, bukan cuma founder yang untung."

"Bagus. Investor?"

"Sudah dapat seed funding dari angel investor. Untuk skala operation dan marketing."

"Berapa besar funding-nya?"

Rajendra ragu sebentar. Ini informasi sensitif, tapi kalau tidak dijawab bisa terlihat mencurigakan.

"Lima ratus juta rupiah."

Adi dan Sari menatap satu sama lain, impressed.

"Itu cukup besar untuk seed funding startup baru. Investor percaya sama visi Anda."

"Saya berharap begitu."

Interview berlanjut selama empat puluh menit. Pertanyaan tentang target market, strategi marketing, proyeksi pertumbuhan, challenge yang dihadapi.

Rajendra menjawab semuanya dengan tenang dan jelas. Dina duduk di pojok, mendengarkan, sesekali tersenyum bangga.

Setelah interview selesai, Toni mulai foto produk. Sample batik ditaruh di meja dengan lighting yang bagus. Tas kulit difoto dari berbagai angle. Kopi ditata dengan aesthetically pleasing.

Lalu foto tim. Rajendra dengan Arief dan Rian di depan komputer. Dina di depan whiteboard dengan notes marketing. Foto bersama semua orang dengan produk di tengah.

Jam empat sore, sesi foto selesai.

"Terima kasih banyak," kata Adi sambil packing laptopnya. "Artikel akan publish akhir minggu ini. Kami akan kirim draft dulu untuk review sebelum publish."

"Terima kasih juga sudah mau datang," jawab Rajendra.

Mereka berjabat tangan, tim Jakarta Biz pergi.

Setelah pintu tertutup, Arief langsung teriak.

"Bos, lu keren tadi! Jawaban lu smooth banget!"

Rajendra tersenyum.

"Gue nervous sebenernya."

"Gak keliatan sama sekali."

Dina berjalan mendekat.

"Lu handle pertanyaan tentang keluarga dengan bagus. Gue khawatir lu akan uncomfortable, tapi lu tetap profesional."

"Thanks. Gue coba jawab sejujur mungkin tanpa terlalu expose konflik keluarga."

"Perfect balance."

Mereka bersih-bersih sedikit, lalu duduk santai sambil ngobrol ringan tentang interview tadi.

Jam lima sore, Rian pulang duluan. Arief menyusul sepuluh menit kemudian.

Tinggal Rajendra dan Dina.

Dina packing laptopnya, tapi tidak langsung pergi. Dia duduk di kursi, menatap Rajendra.

"Lu tahu kan sidang lu dimajukan jadi minggu depan?"

Rajendra menatapnya, sedikit terkejut.

"Gimana lu tahu?"

"Lu bilang ke Arief kemarin. Arief cerita ke gue."

"Oh."

"Lu nervous?"

Rajendra diam sebentar.

"Sedikit. Tapi Pak Hartono bilang bukti kita kuat. Seharusnya menang."

"Seharusnya. Tapi lu tetap worried."

"Iya. Karena gue tahu keluarga gue. Mereka gak akan diam aja. Pasti ada sesuatu yang mereka rencanakan."

Dina menatapnya dengan tatapan serius.

"Bos, gue gak mau sok tahu tentang keluarga lu. Tapi gue cuma mau bilang, apapun yang terjadi di sidang nanti, lu gak sendirian. Lu punya kita. Lu punya LokalMart. Lu punya kehidupan baru yang lu bangun sendiri. Jangan lupa itu."

Rajendra menatap Dina, merasakan sesuatu hangat di dada.

"Thanks, Din. Serius."

"Jangan thanks. Kita tim."

Dina tersenyum, lalu berdiri, mengambil tasnya.

"Sekarang pulang. Istirahat. Besok kita lanjut kerja lagi."

"Lu juga. Jangan lembur lagi."

"Janji."

Dina keluar kantor, menutup pintu pelan.

Rajendra duduk sendirian beberapa menit, menatang ruangan kantor yang sepi.

Di tengah semua kekacauan hidupnya, tempat ini terasa seperti safe haven.

Tempat dimana dia bisa fokus ke sesuatu yang dia kontrol. Tempat dimana dia punya purpose.

Ponselnya bergetar, pesan dari Bima.

"Bro, draft laporan analisis dokumen palsu sudah jadi. Gue kirim via email. Review dan kasih feedback kalau ada yang perlu direvisi."

Rajendra membuka email, download attachment, membaca laporan itu.

Sepuluh halaman analisis detail tentang dokumen bank palsu. Font analysis, layout inconsistencies, digital manipulation indicators, semua dijelaskan dengan jelas dan scientific.

Di bagian akhir, kesimpulan tegas: "Berdasarkan analisis visual dan teknis, dokumen ini memiliki indikasi kuat sebagai dokumen palsu yang dibuat menggunakan software text editor dan bukan dari sistem internal perbankan."

Rajendra tersenyum kecil.

Ini cukup untuk starting point. Sekarang dia butuh ahli forensik certified untuk strengthen bukti ini.

Tapi itu bisa nanti. Setelah sidang. Setelah dia tahu hasil putusan.

One step at a time.

Di rumah keluarga Baskara, malam sudah larut tapi Dera belum tidur.

Dia duduk di ruang kerja Julian dengan laptop terbuka, layar menyala terang di ruangan gelap.

Dokumen baru sudah selesai dibuat. Invoice dari investor fiktif. Bukti transfer palsu. Email komunikasi palsu.

Semuanya terlihat real. Semuanya untraceable.

Tinggal tunggu waktu yang tepat untuk deploy.

Ponselnya berdering, panggilan dari seseorang yang dia hire untuk job khusus.

"Halo?"

Suara pria di seberang, kasar tapi profesional.

"Sudah selesai. File yang lu mau sudah gue plant di komputer target. Gak akan ketahuan sampai lu mau activate."

"Bagus. Lu akan dapat bayaran sisanya besok."

"Jangan lupa. Gue gak suka client yang telat bayar."

"Gue gak akan telat."

Sambungan terputus.

Dera tersenyum dingin di kegelapan.

Sidang lima hari lagi.

Kalau Rajendra menang, dia akan langsung execute.

Dan kali ini, Rajendra tidak akan bisa kabur.

Kali ini, dia akan jatuh dan tidak pernah bisa bangun lagi.

1
mini
aduh akubkurang srek thor gda chemistry sama dina😁✌️
aidios: hahaha iya kak maaf ya, memang jalan ceritanya ini lebih fokus ke balas dendamnya si rajendra 🤣
total 1 replies
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!