"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Selir
Menjadi pijakan bagi saudara sepupunya? Pada akhirnya Rini yang menikah dengan Dilan sebagai istri kedua sebelum waktu terulang memang memiliki seorang anak.
Memang benar, Meiji hanya akan dijadikan batu loncatan bagi anak itu nanti. Walaupun pada akhirnya dibunuh, mungkin karena dianggap tidak memiliki nilai guna lagi.
Jadi...Neiji disingkirkan kemungkinan karena ingin membuat perusahaan baru untuk melindunginya dengan Meiji?
"Jangan menangis." Neiji menghela napas.
"Kalau tidak menangis boleh aku melakukannya denganmu?" Tanya Lily menghapus air matanya.
"Tidak, kita obati dulu punggungmu." Pemuda yang menurunkan Lily dari pangkuannya. Membuka kotak P3K, mencoba mengobati lukanya. Rasa perih dan dingin, dari salep? Entahlah...tapi aliran udara terasa. Apa pemuda ini meniup lukanya?
Lily menelan ludahnya memegang dada kirinya rasa nyaman yang entah mengapa membuat jantungnya berdegup cepat? Wanita yang tidak mengetahuinya.
"Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya?" Batinnya, mengingat sebelum waktu terulang, dirinya menolak Neiji tanpa mencoba mengenalnya lebih dalam.
"Neiji..." Panggilnya menelan ludah.
"Em?" Pemuda yang masih konsentrasi mengobati lukanya.
"Aku menyukaimu."
"Em, aku juga...sangat."
Hanya itulah yang diucapkan oleh pemuda ini. Pemuda yang jarang tertawa, sering tersenyum tapi sudah pasti hanya senyuman palsu. Untuk kali ini Lily mempercayainya. Kehangatan yang diberikan, bahkan tanpa sentuhan fisik.
"Neiji buat anak mau? Biar aku yang diatas. Kan jadi lebih mudah."
"Tidak."
"Ayolah..."
"Tidak."
"Besok aku akan sembuh."
"Bagus."
"Kamu akan membajakku saat aku sembuh."
"Iya!"
"Yes!"
Terkadang ada beberapa pembicaraan absurb. Pemuda yang benar-benar rupawan, rambut hitam kontras dengan kulit putihnya, senyuman yang menggoda, alis begitu tegas, wajah CEO sombong. Tapi hatinya seperti kepong-pong. Tapi yang jelas dari luar Neiji memang terlihat dingin.
Tapi, kala mengobati Lily senyuman malu-malu menyungging di wajahnya. Bagaimana remaja SMU yang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Mengapa wanita ini begitu tidak sabaran melakukannya dengannya? Membuatnya semakin gemas. Tidak tau harus bagaimana? Haruskah dirinya mandi air dingin lagi?
***
Tapi di satu sisi, semuanya berjalan sesuai yang diduga. Mereka benar-benar sebagai penonton dalam pertunjukan.
Lily dan Neiji tidak campur tangan secara langsung. Benar-benar tidak terlibat dalam segalanya. Walaupun benang tipis boneka marionette sejatinya dikendalikan oleh mereka.
Silvia melangkah menuju rumahnya. Lebih tepatnya rumah yang dibelikan oleh Dilan, kekasihnya. Kepalanya yang sebelumnya mengalami sedikit luka telah diobati.
Tapi.
Tiba-tiba saja semua barang-barangnya dikeluarkan dari rumah. Dilempar keluar, oleh beberapa orang yang menggunakan setelan jas rapi.
"Apa yang kalian lakukan!?" Bentaknya dalam tangisan. Mencoba menghentikan mereka.
Brak!
Dirinya didorong tersungkur oleh salah seorang pengawal. Kala itu seseorang tiba-tiba melangkah mendekatinya. Lebih tepatnya seorang wanita.
Wajah wanita itu tersenyum dingin."Rumah ini harus dikosongkan. Karena ini akan menjadi hadiah dari Dilan untukku..." Kalimat penuh senyuman dari Rini.
Inilah persaingan dalam istana Harem. Siapa yang tidak disukai kaisar pada akhirnya akan dikurung dalam istana dingin. Dalam artian semua miliknya ditarik hingga habis-habisan.
"Brengsek! Kamu sudah merencanakan semua ini! Keji! Saat Dilan mengetahui segalanya kamu akan---" Tangan Silvia bergerak hendak menampar Rini.
Plak!
Rini menamparnya duluan. Wajah wanita itu tersenyum dingin."Besok adalah acara pernikahanku dan Dilan. Kamu harus hadir...oh ya...jangan lupa menggunakan pakaian yang pantas. Setidaknya ambil pinjaman online. Karena semua yang diberikan Dilan padamu, telah menjadi milikku." Bisiknya pada Silvia.
Pupil mata wanita itu bergetar penuh dendam dan rasa sakit. Hanya karena hasutan kecil, bukan! Hanya karena kesalahan kecil Dilan dapat seperti ini padanya. Dangkal! Sungguh dangkal rasa cinta pemuda ini.
Lebih baik dirinya menjadi selir dari pengusaha tua botak, daripada mengorbankan waktunya untuk pria penuh kebohongan ini.
Satu persatu barang-barang yang tidak berharga dilempar keluar. Barang-barang tidak berharga? Ada beberapa barang-barang kecil yang dibelikan Dilan seperti pajangan bola salju?
Prang!
Bola kaca yang hancur... entah kenapa Silvia menyentuh belahan kacanya. Saat itulah dirinya berpikir, kenapa tidak mengikuti Om Johnson tinggal di Australia. WNA yang pernah tergila-gila pada tubuhnya. Tentu saja itu karena dirinya mencintai Dilan. Mendapatkan harta dan pria yang dicintai sekaligus.
Ternyata semuanya hanya kebohongan. Dilan brengsek...
"Rini, kamu suka rumah barumu?" Tanya Dilan yang terlihat baru saja keluar dari mobilnya.
"Suka...tapi Silvia tergesa-gesa mengambil beberapa benda berharga, hingga menjatuhkan beberapa barang." Dusta Rini, yang sedikit tidaknya mengetahui itu adalah hadiah hari jadian pertama dari Dilan.
Pemuda yang akan semakin dan semakin membenci Rini. Itulah tujuannya.
"Kamu tidak menyukainya!?" Bentak Dilan.
"Dia yang memecahkannya. A...aku menyukainya. Aku menyukai apapun pemberianmu." Kalimat yang diucapkan Silvia cepat.
"Tapi kamu tidak terlihat seperti itu..." Dilan menjambak rambutnya.
Kemudian menghempaskan tubuhnya, hingga terjatuh di atas pecahan bola kaca dimana terdapat salju kecil dengan boneka kecil dua pengantin di dalamnya.
Tangannya terluka mengeluarkan darah segar.
"Pergi dari tempat ini. Karena tempat ini akan menjadi rumah Rini!" Tegasnya, hendak kembali memukul.
Ketika cinta, begitu cinta hingga rela mengeluarkan miliaran rupiah. Saat benci, akan menjadikan orang yang dicintainya sebagai sasaran akibat kekecewaannya pada pasangan dan ketidak mampuannya.
Hingga.
"Hentikan! Jangan pukuli klien kami!" Suara seseorang terdengar.
Mata Silvia tertuju pada pengacara tua yang baru saja masuk.
Dilan menghentikan pukulannya. Rasa kecewa kembali membuatnya semakin benci. Apalagi dengan hasutan Rini yang berucap."Silvia, bukankah Dilan sudah membekukan rekeningmu. Darimana pengacara ini. Apa kamu tidur dengan pria lain agar dapat menyewakan pengacara untukmu."
"Sudah aku duga! Kamu anj*ing betina musim kawin yang menikah dengan siapa saja!" Hinaan keluar dari mulut Dilan.
Dua orang yang saling melukai. Jika Dilan menunjukkan rasa bencinya, berbeda dengan Silvia yang menumpuk segalanya hingga menjadi sebuah dendam.
"Dilan! Kamu harus percaya padaku. Ada orang baik yang menyewakan pengacara untukku." Jelasnya terbata-bata.
"Orang baik? Orang baik menyewakan pengacara senilai ratusan juta rupiah? Dilan sebaiknya kamu minta Silvia mengenalkan pada orang yang menyewakan pengacara itu. Menolong orang tanpa imbalan apapun. Sungguh dermawan, jika mengenalnya kamu mungkin akan mendapatkan Porche secara percuma..." Wanita yang berpura-pura polos? Entahlah tapi berhasil menggiring opini Dilan.
"Pria mana yang akan menyewakan pengacara mahal jika kamu tidak menjadi penghangat tempat tidurnya!?" Suara bentakan menggema.
Dilan melangkah meninggalkannya ke dalam rumah."Rumah berserta isinya akan menjadi milikmu.." Ucapnya pada Rini, mengecup keningnya. Bahkan merangkul bahunya memasuki bagian dalam rumah.
Pintu depan yang ditutup dengan kasar.
Benar! Rasa cinta Silvia juga terhapus. Tepat terhapus saat menyadarinya. Jemari tangannya mengepal penuh dendam.
"Seseorang yang membayar saya, sudah menyewakan apartemen untuk anda. Mungkin besok bukti kebohongan Rini sudah terkumpul lengkap." Ucap sang pengacara.
Silvia bangkit perlahan, meraih beberapa pakainya. Memasukkannya ke dalam koper. Dirinya melangkah hendak pergi mengikuti sang pengacara.
Sedikit berbalik, menonggak menatap ke arah lantai dua. Lebih tepatnya kamarnya dan Dilan dulu. Dua orang terlihat berciuman mesra dari jendela. Seperti sengaja...
"Aku membencimu..."
Eng Ing Eng....
Bikin anak ya,Ly..
🤣🤣🤣
lanjut author, semangat