Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jarak yang mulai berbicara
Setelah sampai di Australia, Yeye mengabariku. Tidak lama kemudian, teleponku berdering. Suaranya terdengar sedikit lelah, tapi nyata.
“Hey, I’ve arrived,” katanya. “I’m going to the work location now. It might take a while, but when I get home, I’ll call you.”
Aku mengiyakan sambil tersenyum sendiri. Entah kenapa, hanya dengan mendengar suaranya, jarak terasa sedikit lebih dekat.
Beberapa waktu setelah itu, teleponku kembali berdering. Kali ini video call. Wajahnya muncul di layar, dengan latar langit kelabu. Dia mengarahkan kameranya ke sekitar.
“Look,” katanya, “it’s raining here.”
Aku tertawa kecil.
“Hey, how are you? What are you doing now?”
“A bit tired,” jawabnya jujur. “I just arrived.”
Dia sudah mengganti pakaiannya. Kini dia mengenakan hoodie, celana bermotif buah-buahan yang terlihat lucu, dan di tangannya ada rokok. Di sekitarnya ada beberapa temannya. Suasananya asing bagiku, tapi aku merasa sedikit diikutsertakan.
Dia mendekatkan ponsel ke wajahnya, lalu tersenyum.
“Say hey to my friends.”
Aku sempat gugup, tapi tetap menyapa.
“Hey… hello. How are you?”
Salah satu temannya tertawa kecil dan bertanya,
“What’s your name?”
“How are you?”
Aku menjawab pelan tapi jelas,
“I’m fine, thank you.”
Percakapan mengalir begitu saja. Kami berbicara tentang hal-hal kecil, hal-hal sepele, sampai aku sendiri lupa apa topiknya. Waktu berjalan tanpa terasa. Untuk sesaat, aku lupa bahwa kami berada di negara yang berbeda, di zona waktu yang tidak sama.
Akhirnya, Yeye menghela napas panjang.
“I think I need to sleep. I’m really tired.”
Aku mengangguk, meski ada sedikit rasa enggan. Dia terlihat benar-benar lelah. Tempat itu bukan rumah pribadi. Lebih seperti fasilitas perusahaan—banyak orang, banyak kamar, suasana yang ramai tapi terasa dingin.
“Okay,” kataku. “Call me tomorrow morning when you wake up.”
Dia mengangguk dan tersenyum kecil.
“Yeah. I will.”
Setelah telepon ditutup, aku menatap layar yang kini gelap. Ada rasa hangat yang tersisa, bercampur dengan keheningan kamar. Aku meletakkan ponselku di samping, menarik napas pelan.
Sedikit menyenangkan, pikirku.
Karena aku sempat takut—takut dia akan melupakanku begitu saja setelah sampai. Takut aku hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan singkatnya di Bali.
Tapi malam itu, dia menelepon.
Dia mengingat janjinya.
Dan untuk saat itu, aku merasa cukup.
Setelah panggilan itu berakhir, aku masih memegang ponselku beberapa saat. Layarnya sudah gelap, tapi kehadirannya seolah masih tertinggal di kamar. Aku merebahkan tubuhku, menatap langit-langit, membiarkan pikiranku berkelana ke tempat yang jauh—ke hujan di Australia yang baru saja dia tunjukkan padaku.
Ada rasa tenang yang aneh. Bukan tenang karena yakin, tapi tenang karena setidaknya malam itu, aku tidak dilupakan. Aku membayangkan dia berbaring di tempat tidurnya yang asing, di ruangan yang bukan rumahnya, dikelilingi orang-orang yang sama-sama lelah. Aku bertanya-tanya apakah dia juga memikirkan aku sebelum memejamkan mata.
Pagi harinya, aku terbangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena alarm, tapi karena kebiasaan baru yang tanpa sadar mulai terbentuk—menunggu kabar darinya.
Aku membuka ponsel beberapa kali, memastikan sinyal, memastikan tidak ada panggilan yang terlewat.
Beberapa jam berlalu. Lalu akhirnya, sebuah pesan masuk.
"Good morning "
Itu pesannya