NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8

Pagi itu langit tampak sedikit mendung, awan kelabu menggantung rendah seolah menahan cahaya matahari untuk menembus bumi. Tidak seperti biasanya, Jay tidak melakukan aktivitas aneh yang kerap ia jalani setiap hari, karena hari ini berbeda.

Hari ini ayahnya, Jackman, akan kembali.

Ada satu hal yang pasti akan menjadi perhatian utama Jackman begitu ia tiba: aktivitas ekspor semua barang dagangan di pasar gelap yang selama ini ia percayakan sepenuhnya kepada Jay. Tidak akan ada ruang untuk kesalahan, tidak pula toleransi untuk kelalaian. Semua harus berjalan sebagaimana mestinya.

Dan pagi yang mendung itu berubah menjadi lebih gelap, serta sunyi ketika mobil hitam milik Jay memasuki area bandara pribadi keluarga mereka. Deretan pengawal dan petugas keamanan bandra telah bersiaga, berdiri tegak dengan setelan gelap dan wajah tanpa ekspresi. Suasana terasa kaku, seolah udara sendiri menahan napas menanti kedatangan satu sosok yang memiliki kuasa atas semuanya.

Jay keluar dari mobilnya dengan langkah terukur. Jas hitamnya rapi, rambutnya tersisir sempurna, wajahnya datar tanpa emosi. Ia berdiri tidak jauh dari landasan, menunggu suara mesin jet pribadi yang mulai terdengar dari kejauhan.

Tak lama, pesawat itu mendarat dengan mulus. Angin dari baling-balingnya menyapu halaman, membuat jas Jay sedikit berkibar. Namun ia tidak bergeming.

Seseorang turun lebih dulu.

Helena.

Wanita itu telah lebih dulu menyusul Jackman beberapa hari yang lalu. Bukan tanpa alasan. Ia membawa kabar yang tidak bisa disampaikan hanya melalui perantara, terlebih melalui sambungan telepon yang bahkan jarang disentuh oleh pria itu.

Kegiatan Amal lima tahunan keluarga mereka akan segera dilaksanakan.

Sebuah acara besar yang bukan sekadar formalitas sosial, melainkan simbol kekuasaan, pengaruh, dan dominasi nama besar keluarga itu di hadapan para petinggi, pengusaha, hingga pejabat penting dan para Mafia yang menyamar sebagai pejabat seperti orang normal lainnya.

Acara yang selalu menjadi sorotan. Dan selama ini, hanya ada satu nama yang berdiri sebagai pemimpin sekaligus pondasi utamanya.

Jackman.

Pria itu memang dikenal tidak menyukai penggunaan ponsel untuk urusan penting. Baginya, keputusan besar tidak layak dibicarakan melalui layar dan sinyal. Ia lebih percaya pada tatap muka, pada tekanan suasana, pada cara seseorang menahan napas saat berbicara di hadapannya.

Karena itulah Helena memutuskan untuk datang langsung.

Ia tahu, kabar tentang kegiatan amal tersebut bukan sekadar pengumuman jadwal. Banyak kepentingan yang harus dirancang. Daftar tamu yang harus dipilih dengan cermat. Mitra kerja dunia atas dan dunia bawah yang harus diperhitungkan. Dan tentu saja, citra keluarga yang harus tetap berdiri di puncak.

Tapi bagi Jackman, itu adalah deklarasi kekuasaan.

Dan itulah alasan kepulangannya dipercepat.

Helena melangkah anggun menuruni tangga pesawat lebih dulu. Gaun panjang berwarna krem membalut tubuhnya dengan elegan, kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya. Empat tahun. Empat tahun lamanya mereka tidak saling bertatap muka.

Jay tidak tersenyum. Ia hanya menatap.

Helena melepas kacamata hitamnya perlahan. Tatapannya tajam, dingin, penuh penilaian.

“Sudah lama,” ucapnya singkat.

“Empat tahun,” jawab Jay tanpa nada.

Helena mendekat beberapa langkah, cukup dekat hingga hanya mereka yang bisa mendengar percakapan itu. Suaranya rendah, namun sarat sindiran.

“Aku heran,” katanya pelan, “dari mana kau mendapatkan watak tidak tahu malu itu, Jay? Sifat yang selalu menggerogoti keluarga ini.”

Ekspresi Jay tidak berubah. Rahangnya sedikit mengeras, tetapi sorot matanya tetap tenang.

“Jika keluarga ini rapuh hanya karena aku,” balasnya datar, “mungkin yang salah bukan watakku.”

Helena tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip ejekan.

“Kau selalu pandai memutar kata. Tapi ingat satu hal, reputasi keluarga ini dibangun dengan darah dan harga diri. Jangan kau hancurkan hanya karena ambisimu.”

Jay menahan tatapannya tanpa gentar.

“Aku hanya menjalankan apa yang Ayah percayakan.”

Helena hendak mengatakan sesuatu lagi, namun langkah berat yang turun dari tangga pesawat membuat keduanya terdiam.

Jackman muncul.

Aura pria itu seolah mengubah tekanan udara di sekitar mereka. Para pengawal serempak menunduk hormat. Tidak ada yang berani bergerak sembarangan. Wajah Jackman tegas, garis rahangnya kuat, tatapannya tajam seperti elang yang siap menerkam.

Ia berhenti beberapa langkah dari Jay.

Tanpa pelukan. Tanpa senyum.

“Hasil ekspor kuartal ini,” ucap Jackman langsung, suaranya dalam dan penuh wibawa. “Aku ingin laporan lengkapnya malam ini.”

Jay menunduk hormat. “Semua berjalan sesuai target. Bahkan melampaui.”

Tatapan Jackman menyipit tipis, menilai. Bukan sebagai ayah kepada anak, melainkan sebagai pemimpin kepada bawahannya.

“Kita akan lihat.”

Helena kembali mengenakan kacamata hitamnya, berdiri di sisi Jackman seperti bayangan yang anggun namun dingin.

Jay mempersilakan mereka menuju mobil utama. Langkah Jackman mantap, setiap pijakannya seolah menegaskan siapa penguasa sebenarnya.

Langit masih mendung.

Dan Jay tahu, badai yang sesungguhnya baru saja tiba.

Di sisi lain, kabar kepulangan Zavier telah beredar lebih cepat daripada angin musim hujan. Nama itu kembali disebut-sebut di perusahaan, di antara para staf, bahkan di kalangan mitra bisnis yang diam-diam selalu mengikuti dinamika keluarga tersebut.

Belum lagi di dunia Mafia yang semakin bergejolak. Siapakah pewaris Jackman yang sesungguhnya.

Zavier kembali.

Dan kepulangannya tidak pernah berarti sesuatu yang sederhana.

Beberapa orang menganggapnya sebagai pesaing alami Jay. Sebagian lagi melihatnya sebagai ancaman yang belum selesai. Zavier bukan tipe pria yang pulang tanpa tujuan. Jika ia kembali, pasti ada sesuatu yang ingin ia ambil—atau rebut.

Namun yang paling mengherankan adalah sikap Jay sendiri.

Drew, yang berdiri setengah langkah di belakang Jay sejak dari bandara, memperhatikan tuannya dengan saksama. Ia sudah mendengar kabar itu sejak tadi malam. Bahkan para pengawal lain pun mulai berbisik-bisik, bersiap menghadapi kemungkinan benturan dua nama besar dalam satu atap.

Tetapi Jay?

Tidak ada perubahan.

Wajahnya tetap tenang. Langkahnya tetap stabil. Tidak ada rahang yang mengeras, tidak ada sorot mata yang berubah. Seolah kabar itu hanyalah angin lalu yang tak pantas mengusik pikirannya.

Di dalam mobil menuju mansion utama, akhirnya Drew angkat suara.

“Tuan,” ucapnya hati-hati, “kabar tentang Tuan Zavier… sepertinya benar. Ia sudah mendarat tadi pagi.”

Jay tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, menembus kaca jendela yang dipenuhi bayangan langit mendung.

“Aku tahu,” jawabnya singkat.

Drew sedikit terkejut. “Anda… tidak merasa perlu melakukan sesuatu?”

“Apa yang harus kulakukan?” Jay menoleh perlahan, tatapannya datar namun tajam. “Panik? Menyambutnya dengan perang?”

Drew terdiam.

Jay kembali menatap ke depan.

“Orang yang terganggu adalah orang yang merasa terancam,” lanjutnya tenang. “Jika ia kembali, berarti ia siap bermain. Dan jika ia siap bermain… maka aku juga sudah lama berada di papan yang sama.”

Nada suaranya tidak tinggi. Tidak pula emosional. Justru ketenangan itulah yang membuat Drew merasakan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang tidak kasat mata, tetapi nyata.

Bukan ketidakpedulian.

Melainkan keyakinan.

Di luar, langit masih menahan hujan.

Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, dua nama besar telah kembali ke medan yang sama.

Jay tetap diam.

Namun ketenangannya bukan berarti tanpa persiapan.

Bersambung

1
@emak aisyah
tidak tau lagi mau berkata apa,di tunggu pertempurannya Thor pastikan Jay tak terkalahkan
wiwied
next
@emak aisyah
ya ampun,bang NEWBE update bersamaan tapi kenapa aku lebih milih Jay,Jay aku padamu 😍😍
daniez
upp
daniez
ok
@emak aisyah
keren,tidak ada kata selain keren,KEREN KALI THOR semangat di tunggu updatenya 🙏
@emak aisyah
cas cis cus pokoknya gas torr
@emak aisyah
satu kesalan satu ciuman bikin kesalahan trs aahhh🤣🤣
@emak aisyah
lah jadi kacau,kasihan Anna nggk tau apa² jadi sasaran semua orang gerak cepat Jay simpan jangn sampai ada yang menyentuhnya
@emak aisyah
nggk bisa nafas aku bacanya
@emak aisyah
masuk babak menegangkan,apakah Jay masih diam saja saat di tindas zavier
@emak aisyah
blm terjadi tapi aku udah kasihan Ama Anna
@emak aisyah
lah kirain tak sama,ternyata sama² psikopat
@emak aisyah
ko bisa orng berbahaya kaya Jay bisa kuat diam saja di siksa😔😔
@emak aisyah
keren tidak salah kalian author terbaik semangat thor💪💪
@emak aisyah
halo kakak author salam kenal saya fans NEWBEE HK mau ikut nimbrung di sini🙏🙏
eva nindia
makasih up nya thor...
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
eva nindia
baguss kluar ajaa jay,,, bangun dinasti baru mu....
eva nindia
🙄 knapa insting c jackman gak jalan
eva nindia
cba tahta itu d serahin ke zavier djamin ancurr 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!