Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERENCANAAN PERNIKAHAN DAN DETAIL PERSIAPAN
Senin siang, Mayra dan Dev duduk di ruang pertemuan penthouse, berhadapan dengan tim dari Elysian Weddings, perencana pernikahan yang mereka pilih dari tiga kandidat.
Di hadapan mereka duduk Karina, seorang wanita berusia tiga puluhan dengan gaya profesional namun ramah, dan asistennya, Reza, yang terlihat sangat teliti dengan buku catatan tebal di tangannya.
"Jadi, Tuan dan Nyonya Armando," Karina membuka percakapan dengan senyum hangat, matanya berbinar penuh antusiasme. "Saya sudah dengar dari Pak Dev bahwa kalian menginginkan pernikahan yang intim dan romantis di Taman Eden, tanggal 22 bulan depan. Itu sekitar lima minggu dari sekarang. Cukup waktu untuk membuat semuanya sempurna, meskipun akan cukup padat."
"Ya, benar." Mayra menjawab sambil meraih tangan Dev di atas meja, jemari mereka saling bertaut dengan nyaman. "Kami sudah melihat tempatnya kemarin dan langsung jatuh cinta. Sekarang kami butuh bantuan untuk mengatur semua detail supaya semuanya berjalan lancar."
Karina membuka laptopnya dan menampilkan beberapa portofolio pernikahan yang pernah dia tangani di Taman Eden. Gambar-gambar indah mulai bermunculan di layar. Dekorasi yang memukau, pencahayaan yang sempurna, momen-momen bahagia yang terabadikan dengan cantik.
"Ini beberapa contoh pernikahan yang sudah kami koordinasikan di tempat yang sama. Seperti yang kalian lihat, tempatnya sangat fleksibel. Bisa romantis klasik, bisa modern elegan, bahkan bisa bergaya bohemian santai. Tergantung visi kalian," jelas Karina sambil menggeser layar, memperlihatkan berbagai konsep yang berbeda namun sama-sama memukau.
Mayra menatap foto-foto itu dengan kagum, matanya berbinar. Sebagai perencana acara, ia tahu persis kerja keras di balik setiap detail yang terlihat. "Wow, semuanya cantik sekali. Tapi aku rasa aku lebih suka yang romantis klasik dengan sentuhan modern. Tidak terlalu tradisional yang kaku, tapi juga tidak terlalu berani. Ada di tengah-tengah, yang abadi."
"Sempurna. Itu sebenarnya keahlian kami," Karina tersenyum lebar, jelas senang dengan arah yang dipilih Mayra. "Sekarang, ceritakan tentang visi kalian. Warna apa yang kalian bayangkan? Ini akan menjadi fondasi untuk semua elemen dekorasi."
Mayra sudah memikirkan ini sejak akhir pekan kemarin. Bahkan ia sempat membuat papan inspirasi digital di pinterest. "Aku mau dominasi putih dan merah muda lembut, seperti merah muda pucat. Dengan aksen emas untuk kesan elegan. Dan banyak tanaman hijau untuk nuansa alami. Aku tidak mau yang terlalu ramai atau berlebihan. Elegan tapi tetap hangat."
Dev mengangguk setuju, jempolnya mengusap punggung tangan Mayra dengan lembut. "Aku suka itu. Lembut tapi tetap mewah. Cocok dengan karakter kita berdua."
Reza mencatat dengan cepat di buku catatannya, tangannya bergerak lincah. "Putih, merah muda pucat, aksen emas, banyak tanaman hijau. Dicatat. Untuk bunga, ada preferensi khusus? Ini penting karena akan mempengaruhi keseluruhan suasana."
"Mawar putih dan merah muda, bunga baby's breath, mungkin beberapa peony kalau musimnya tepat, dan banyak daun kayu putih untuk bagian hijaunya," jawab Mayra dengan yakin. Sebagai perencana acara, ia tahu persis apa yang ia inginkan dan bagaimana mewujudkannya. "Aku mau aromanya lembut, tidak terlalu menyengat. Dan kombinasi tekstur yang beragam supaya tidak monoton."
"Pilihan yang sangat bagus," puji Karina dengan tulus. "Sekarang untuk struktur acara. Upacara pernikahan akan di gazebo, lalu resepsi di area terbuka dengan tenda transparan atau sepenuhnya di luar ruangan?"
Dev dan Mayra saling bertukar pandang, berkomunikasi tanpa kata seperti pasangan yang sudah lama bersama. "Bagaimana kalau kita siapkan tenda transparan sebagai cadangan, tapi kalau cuacanya bagus, kita sepenuhnya di luar ruangan?" Dev mengusulkan dengan logis.
"Pilihan yang cerdas," Karina mengangguk setuju. "Cuaca November di Puncak cukup tidak bisa diprediksi, jadi lebih baik berjaga-jaga. Kami akan menyiapkan tenda indah dengan lampu-lampu kecil berkilau di dalamnya. Jadi kalau harus memakai tenda pun, tetap akan terlihat ajaib."
"Oh, aku suka ide lampu-lampu kecil itu," Mayra langsung bersemangat, matanya berbinar membayangkannya. "Banyak lampu kecil di pohon-pohon juga ya. Aku mau saat sore menjelang malam, semuanya terlihat seperti dari negeri dongeng. Sangat romantis dan menenangkan."
Karina tersenyum lebar, jelas menikmati antusiasme Mayra. "Mayra, aku suka cara kamu berpikir. Baik, pemasangan lampu kecil dalam skala besar, anggap sudah selesai. Kami akan buat suasana yang benar-benar memukau."
Mereka melanjutkan diskusi tentang detail-detail lainnya dengan sangat mendetail: jumlah tamu, 50 orang sudah terkonfirmasi, pakaian yang disarankan, semi-formal bertema pesta taman, musik, band akustik langsung yang bisa membawakan lagu-lagu romantis, katering, menu perpaduan antara Indonesia dan Barat dengan sentuhan modern, kue pengantin, naked cake dengan bunga segar yang terlihat natural, dan bahkan detail kecil seperti papan selamat datang dan kenang-kenangan untuk tamu.
"Untuk pengaturan tempat duduk, aku lebih suka meja bundar dengan maksimal enam orang per meja. Lebih intim dan tamu-tamu bisa lebih banyak berinteraksi," kata Mayra sambil membayangkan tata letaknya. "Aku tidak mau suasana yang kaku seperti pernikahan formal pada umumnya. Aku mau semua orang merasa nyaman dan bisa menikmati acaranya."
"Dan masing-masing meja bisa punya hiasan tengah yang berbeda tapi tetap padu dengan tema. Campuran antara rangkaian tinggi dengan rangkaian rendah supaya tidak monoton dan ada variasi visual," tambah Karina sambil membuat sketsa di iPad-nya, tangannya bergerak cekatan.
Dua jam berlalu dengan sangat produktif. Di akhir pertemuan, mereka sudah punya papan konsep yang jelas, jadwal yang detail, dan daftar pekerjaan untuk minggu-minggu mendatang.
"Baik, jadi langkah selanjutnya," Karina mereview catatannya dengan teliti. "Minggu ini kami akan menyelesaikan pemilihan vendor. Toko bunga, katering, band, fotografer, juru video. Kami sudah punya vendor terpercaya yang biasa kami pakai, tapi kalau kalian punya preferensi khusus, tolong beritahu kami."
"Untuk fotografer dan juru video, aku ada permintaan," Mayra mengangkat tangan. "Aku kenal seorang fotografer berbakat, namanya Dimas. Dia pernah meliput beberapa pernikahan yang aku tangani. Karyanya luar biasa dan gayanya sangat natural dan spontan. Persis yang aku suka. Dia bisa menangkap momen-momen emosional tanpa terlihat mengganggu."
"Boleh, kirimkan portofolio dan kontaknya ke kami. Kami akan koordinasi langsung," Reza mencatat dengan cepat, memastikan tidak ada yang terlewat.
"Dan satu lagi," Dev ikut berbicara. "Untuk kue pengantin, istriku punya teman yang punya toko kue butik. Kuenya luar biasa dan dia ahli dalam membuat naked cake dengan bunga segar. Mungkin kita bisa pakai dia?"
Karina mengangguk antusias. "Tentu saja! Kami sangat menghargai kalau kalian punya vendor yang sudah kalian percaya. Kami akan bekerja sama dengan mereka untuk memastikan semuanya padu."
Setelah pertemuan selesai dan Karina serta Reza pamit, Mayra merosot di sofa dengan napas lega, tubuhnya terasa lemas tapi puas.
"Ya ampun, ini baru perencanaan saja sudah bikin kewalahan," keluh Mayra sambil tertawa kecil, tangannya mengelus pelipisnya yang sedikit pusing.
Dev duduk di sampingnya dan menarik Mayra ke dalam pelukannya, membiarkan istri tercintanya bersandar dengan nyaman. "Makanya kita pakai jasa profesional. Biar mereka yang tangani stresnya, kita tinggal menyetujui dan menikmati prosesnya."
"Tapi aku senang kok," Mayra berkata sambil bersandar di dada Dev, mendengarkan detak jantungnya yang menenangkan. "Aku senang karena kali ini kita merencanakan bersama. Bukan dalam keadaan kacau atau terburu-buru seperti dulu. Kita punya waktu untuk membuat semuanya persis seperti yang kita mau. Ini terasa lebih nyata."
"Dan hasilnya akan sempurna. Aku yakin," Dev mengecup puncak kepala Mayra dengan lembut, aromanya yang khas memenuhi indra Dev.
***
Sisa minggu itu berlalu dengan berbagai pertemuan dan pengambilan keputusan yang melelahkan namun menyenangkan.
Rabu sore, mereka bertemu dengan toko bunga yang direkomendasikan Karina, seorang wanita muda bernama Putri yang portofolionya benar-benar memukau. Dia menunjukkan contoh rangkaian dengan warna-warna yang Mayra inginkan. Perpaduan putih, merah muda pucat, dan hijau yang sangat harmonis. Mayra langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang karena memang persis seperti yang ia bayangkan.
Kamis malam, mereka mencicipi menu dari layanan katering. Dev dan Mayra mencoba berbagai pilihan, dari makanan pembuka sampai makanan penutup, dan memilih menu yang seimbang antara tradisional Indonesia dan modern Barat. Prosesnya menyenangkan meskipun mereka hampir kekenyangan di akhir sesi.
"Aku suka sate lilit untuk makanan pembuka, dan daging sapi wellington untuk hidangan utama," Mayra mencatat pilihannya di ponselnya. "Kombinasinya unik tapi aku rasa akan sangat disukai tamu."
"Kombinasi yang menarik tapi aku suka," Dev setuju sambil menyeruput air putih untuk menetralkan lidahnya. "Dan untuk makanan penutup, selain kue pengantin, kita bisa tambah meja dessert dengan berbagai macam kue tradisional dan modern. Biar tamu punya banyak pilihan."
Jumat sore, mereka melakukan panggilan video dengan Dimas si fotografer, membahas gaya yang mereka inginkan untuk foto-foto pernikahan. Dimas terlihat antusias dan penuh ide-ide segar.
"Aku mau momen spontan lebih banyak dari foto yang diatur," jelas Mayra dengan tegas. "Aku mau foto-foto yang menangkap emosi dan kebahagiaan tulus, bukan yang kaku dan formal seperti foto studio. Aku mau foto yang kalau dilihat bertahun-tahun kemudian, masih bisa membuat kami merasakan kembali emosi hari itu."
"Itu keahlian saya," Dimas menjawab dengan senyum percaya diri. "Saya akan menyatu dengan latar belakang dan menangkap semua momen indah secara natural. Kalian bahkan tidak akan sadar kalau saya sedang memotret."
Sabtu pagi, Mayra pergi mencari gaun dengan Dina. Akhirnya, waktu untuk mencari gaun yang sempurna. Ini momen yang sudah Mayra tunggu-tunggu sejak lama.
Sementara itu, Dev menghabiskan waktu dengan Marco untuk mencari setelan yang tepat untuk pernikahan. Meskipun Dev punya puluhan setelan desainer, dia ingin sesuatu yang istimewa untuk hari ini. Sesuatu yang berbeda dari setelan bisnis formalnya.
"Kamu yakin tidak mau tuksedo hitam klasik?" tanya Marco sambil menelusuri rak di toko. "Kamu pasti terlihat sangat tampan dengan tuksedo."
"Terlalu formal untuk pernikahan di taman," jawab Dev sambil menyentuh beberapa kain. "Aku lebih suka setelan abu-abu muda atau biru dongker, dengan rompi. Lebih cocok untuk suasana pesta taman tapi tetap elegan. Dan lebih nyaman juga untuk acara outdoor."
Setelah mencoba beberapa pilihan dan mendapat komentar jujur dari Marco, Dev menemukan yang sempurna. Setelan biru dongker dengan pola halus yang tidak mencolok, rompi senada, dan kemeja putih yang rapi. Terlihat mewah tapi tidak terlalu formal. Pas untuk suasana pernikahan taman yang mereka inginkan.
"Mayra pasti akan suka," komentar Marco sambil mengangguk menyetujui, membayangkan bagaimana pasangan itu akan terlihat berdampingan nanti.
"Semoga," Dev tersenyum kecil sambil melihat pantulan dirinya di cermin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar tidak sabar untuk hari pernikahannya.
****
BERSAMBUNG
menunggu mu update lagi