NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Sahabat

"Jadi untuk hari ini kalian menginap di sini saja. Dan besok pagi, kalian harus ikut aku. Akan kutunjukkan sesuatu." Kata kepala desa.

***

Keesokan paginya kepala desa mengajak rombongan kakek mengikutinya untuk menunjukkan sesuatu.

"Arah jalanan ini masih terasa familiar meskipun sudah berubah di bandingkan 10 tahun lalu." Ucap Kakek.

"Ingatanmu tajam sekali, Henry." Jawab kepala desa.

Nenek menggenggam erat tangan kakek seolah tak siap saat melewati tempat yang dulunya rumahnya. Tak siap jika banyak kenangan yang terukir membuncah keluar. Sebab dalam lubuk hati kecilnya merasa bahwa sepanjang jalan familiar ini pasti akan melewati rumahnya dulu yang telah dijual. Kakekpun membalas lembut genggaman tangan nenek seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.

Dan tak lama kemudian kepala desa berhenti di depan sebuah rumah, "Akhirnya sampai."

Theo dan Maerin terlihat penasaran dari ekspresi wajahnya. Tampak rumah kecil yang cukup bersih, rapi dan terawat namun tak terasa tanda-tanda ada penghuninya. Kakek dan nenek terdiam seolah membatu batinnya penuh dengan berbagai macam emosi dan menjadi satu.

"Maaf, kepala desa. Apakah ini tujuan kita? Lalu kenapa berhenti di depan rumah ini?" Tanya Theo penuh penasaran. Sebelum kepala desa menjawab, nenek berkata sambil memeluk kakek dan membenamkan wajahnya di dada kakek untuk menutupi tangisnya, "Ini dulunya rumah kami yang sangat berharga. Kakek membangunnya sedikit demi sedikit hingga menjadi seperti yang kau lihat sekarang ini, nak. Dan rumah ini terlihat sama persis seperti terakhir kami meninggalkannya untuk dijual. Benar-benar tak ada yang berubah."

Kakek hanya memeluk erat nenek tanpa mengucapkan sepatah katapun dan berusaha keras menahan air mata agar tak mengalir keluar. Theo pun langsung paham dengan situasi yang terjadi. Kepala desa pun menunggu keadaan lebih tenang dan berkata, "Aku sudah membeli kembali rumah ini, dan selalu membersihkan serta membuatnya tetap seperti 10 tahun lalu. Yah aku membayar orang sih untuk melakukan pekerjaan itu hehehe. Aku hanya menyakini bahwa suatu hari kalian akan kembali, jadi ternyata suatu hari itu adalah hari ini. Dan hari akan kupertegas bahwa aku menghadiahkan rumah ini untukmu wahai sahabatku, Henry. Selamat datang kembali..." Kepala desa tak meneruskan ucapannya, dia menunduk sambil menyeka sedikit air mata yang keluar dari matanya dengan jari tangan kirinya. Seolah ingin masih menjaga wibawanya.

Kakek yang berusaha tenang akhirnya tak bisa menahan tangisnya. Tangisnya pecah keluar sambil memeluk nenek lebih erat. Kepala desa berjalan mendekati kakek dan menepuk lembut pundak kakek.

"Brent! Sebanyak apapun ucapan terima kasihku tak kan pernah cukup untuk kebaikanmu ini. Aku sangat-sangat berterima kasih padamu, aku benar-benar berhutang banyak padamu. Aku..." Kata kakek pada kepala desa.

"Cukup, Henry. Cukup. Kau dan istrimu pantas mendapatkan ini. Berkali-kali kau dan istrimu selalu menolongku dan keluargaku. Jadi anggaplah ini buah dari kebaikan-kebaikan kalian di masa lalu." Ucap kepala desa.

"Nah, mari hentikan tangisan di hari bahagia ini. Jangan sampai tersebar gosip bahwa ada orang-orang tua yang menangis histeris. Ha ha. Mari masuk ke dalam rumahmu. Kalian tak ingin masuk dan berkeliling?" Ucap kepala desa dengan sedikit candaan.

Mereka akhirnya berjalan menuju ke dalam rumah. Maerin pun berjalan sambil menggandeng nenek. Dan nenek berjalan sambil melihat sekitar seolah dia mengingat semua kenangan-kenangan yang terukir di sana. Setelah masuk ke dalam, seolah masih terasa seperti mimpi bagi kakek dan nenek. Mereka terpaku terdiam, berusaha mencerna kenyataan ini. Theo melihat sekitar, tak banyak perabotan di dalam namun terasa cukup nyaman untuk ukuran rumah yang baru pertama kali didatanginya. Mereka duduk untuk beristirahat sambil berbincang ringan. Theo pun menanyakan sesuatu pada kepala desa, "Maaf, kepala desa. Sepanjang pengamatan saya penduduk di desa ini tak begitu banyak, dan terlihat ada beberapa rumah yang tak terawat. Apakah rumah-rumah itu kosong?"

"Kau jeli sekali, nak. Ya memang beberapa pemuda yang orang tuanya sudah meninggal memilih pergi ke kota. Aku tentu tak bisa menahannya. Sebab memang desa ini sangat terpencil dan jauh dari apapun. Yah aku sebenarnya membayar orang untuk membersihkan pekarangan rumah-rumah kosong itu, namun tak serutin merawat rumah ini sih, hehehe. Aku merasa jadi kepada desa yang kurang kompeten."

"Kau ini bicara apa? Kau sangat kompeten, Brent." Ucap kakek dengan tulus.

"Anu.. mungkin ini terdengar lancang. Tapi apakah boleh jika saya saja yang merawat rumah-rumah kosong itu. Dan sebagai gantinya, saya diizinkan untuk tinggal di sini. Saya akan menyewa salah satu rumah kosongnya. Yang paling kecil pun tak apa." Ucap Theo dengan penuh harap agar diizinkan tinggal di desa ini.

"Apa yang kau katakan, nak. Tinggallah bersama kami. Kau dan Maerin sudah kami anggap sebagai keluarga." Kata nenek dengan penuh kasih sayang.

"Yang dikatakannya benar. Kalian tinggallah bersama Henry. Untuk apa meminta izin tinggal disini? Kalian sudah diterima di sini sejak menginjakkan kaki di desa ini. Bahkan Kalian juga merawat Henry dan istrinya. Aku mengucapkan terima kasih untuk itu. Baiklah, aku akan pamit sekarang. Nikmatilah waktu kalian. Tak usah mengantarkanku ke depan. Aku nisa jalan sendiri. Hahaha..." Kepala desa berjalan keluar dan melambai sambil berkata, "Henry! Besok temani aku memancing ikan ya. Hahahaha..." Suara tawa kepala desa samar-samar terdengar dan menghilang.

"Dasar, Brent tak berubah sedikitpun. Hahaha." Ucap Kakek.

"Maerin, aku minta maaf tak menanyakan pendapatmu terlebih dulu, dan langsung memutuskan menetap di sini." Ucap Theo pada Maerin.

"Saya tak keberatan, saya memang suka di sini selama ada anda dan kakek serta nenek." Kata Maerin sambil tersenyum tulus.

"Kurasa akan butuh waktu lama untuk merenovasi rumah ini." Kata kakek.

"Rumah ini sudah bagus, kek. Untuk apa direnovasi lagi?" Tanya Theo.

"Kamar di rumah ini hanya ada dua, untuk sementara Maerin bisa menempati kamar putraku. Dan kita membutuhkan 2 kamar lagi. Untukmu, Theo dan untuk Maerin jika nanti putraku kembali." Kata Kakek sambil salah satu tangannya memegangi dagunya seolah tanda sedang berpikir.

"Benar. Itu rencana yang bagus." Imbuh nenek.

"Tak perlu repot-repot untuk kami, kek. Kelak jika putra kalian kembali. Kami akan menyewa salah satu rumah kosong yang terdekat dengan ini. Jadi biarkan rumah ini seperti ini." Theo berkata sambil menoleh ke arah Maerin. Maerinpun hanya mengangguk sambil tersenyum.

***

Keesokan harinya Theo ikut kakek pergi memancing dengan kepala desa. Tak disangka banyak para penduduk laki-laki yang tertarik dan ikutan memancing. Theo sedikit kaget namun dia sedikit senang, sebab secara gak langsung bisa berkenalan dan sambil mengenal warga desa. Tanpa sepengetahuan kakek, kepala desa seolah dengan sembunyi-sembunyi mengisyaratkan Theo untuk menemuinya. Kepala desa berbisik pada Theo, "Rahasiakan ini dari Henry."

Theo hanya mengangguk namun penuh pertanyaan dalam hatinya. Dalam hatinya, 'Apa yang hendak kepala desa bicarakan berdua denganku saja? Apakah aku harus diam-diam pergi dari desa ini sebab aku hanyalah orang asing?'

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!