NovelToon NovelToon
Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: richard ariadi

Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.

Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mendarat di negara awan melayang alias negara chika sarenteng

Saat Luna Zhang melepaskan kekuatan penghancur tersebut di atas punggung Paus Angkasa, getarannya menembus dimensi, melampaui awan-awan Ghudik Sarenteng, hingga mencapai sebuah dunia yang terisolasi oleh kabut emas abadi 

Di sebuah istana yang terbuat dari kristal giok putih, seorang wanita dengan keagungan yang tak terlukiskan tengah bermeditasi. Ia adalah Permaisuri Zhang Mo-nyong, seorang Kultivator tingkat Tahao Ilahi.

Tiba-tiba, lantai istana yang diukir dengan relief sejarah dunia bawah mulai bergetar. Sebuah simbol berbentuk Teratai Langit Sembilan Kelopak—simbol klan Zhang yang paling purba dan terlarang—bersinar terang dengan cahaya ungu yang membutakan.

Permaisuri Mo-nyong:

(Membuka matanya yang berwarna emas, napasnya tertahan)

"Segel itu... Segel Permaisuri Langit Abadi telah pecah? Setelah ribuan tahun terkubur di dunia bawah yang kotor, pusaka klan Zhang kembali bernapas?"

Ia berdiri, dan setiap langkahnya menciptakan riak energi yang membuat para pelayan istana langsung bersujud ketakutan.

Seorang tetua klan dengan janggut putih panjang berlari masuk dengan wajah pucat.

Tetua Zhang

"Yang Mulia! Radar jiwa kita mendeteksi lonjakan energi Tahao dari arah perbatasan Negara Langit Melayang! Apakah itu... apakah itu pengkhianat yang membawa darah suci kita?"

Permaisuri Mo-nyong:

(Menatap ke arah horison dengan dingin)

"Bukan pengkhianat. Itu adalah 'Benih' yang kita buang ke dunia sekuler berabad-abad lalu untuk menyembunyikan kekuatan ini dari perang besar. Tampaknya, dia telah menemukan pelindungnya. Seorang pria yang membawa hawa dingin Mei Song dan api Bara Song."

Tetua Zhang

"Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita mengirim pasukan penjemput?"

Permaisuri Mo-nyong:

(Tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan niat tersembunyi)

"Tidak perlu pasukan. Jika dia benar-benar pewaris segel itu, dia akan datang sendiri ke sini untuk mencari jawaban. Tapi... awasi mereka. Aku ingin tahu apakah pria Song itu pantas bersanding dengan darah suci klan Zhang kita, atau hanya akan menjadi debu di bawah kakinya."

Sementara itu, di atas Paus Angkasa, Chen Song merasakan ada "mata" raksasa yang sedang mengawasi mereka dari langit yang lebih tinggi. Luna masih terbaring lemah di pangkuannya, namun di dahi Luna, samar-samar muncul tanda Teratai Langit yang sama dengan yang ada di istana Permaisuri Mo-nyong.

Oe Lu Tung

(Sambil menenggak tuak untuk menenangkan sarafnya)

"Nak Song, perasaan aku saja atau langit di atas kita mendadak jadi warna emas? Rasanya seperti ada bos besar yang lagi mengintip kita dari balik lubang kunci."

Oe Asu

(Gemetar)

"Bos, itu bukan perasaanmu. Bulu kudukku berdiri semua. Ini lebih seram daripada saat kita dikejar tentara Ghudik. Rasanya seperti... seperti diawasi oleh mertua yang galak."

Chen Song

(Mengencangkan pegangan pada pedangnya)

"Klan Zhang Utama... tampaknya rahasia identitas Luna jauh lebih besar daripada sekadar keluarga kaya di dunia sekuler. Mereka sudah tahu kita ada di sini."

Paus Angkasa akhirnya menyelam masuk ke dalam pusaran angin yang merupakan pintu masuk ke Negara chika Melayang. Kota-kota di sini tidak berdiri di atas tanah, melainkan di atas pulau-pulau yang melayang tinggi di udara, dihubungkan oleh jembatan pelangi energi.

Oe Shan Tung

"Wah... lihat itu! Gunungnya terbang! Kalau aku jatuh dari sini, apa aku akan sampai ke dunia sekuler lagi dalam bentuk rempeyek?"

Chen Song

"Jangan banyak bicara. Begitu kita mendarat, kita harus segera menyembunyikan Luna. Jika klan Zhang Utama mengirimkan utusan tingkat Tahao, kita belum cukup kuat untuk melawan mereka."

Pendaratan mereka di Negara Angin Duduk (alias Chika Sarenteng) tidaklah mulus. Sesuai namanya, negara ini memiliki tekanan udara yang sangat aneh—di sini, angin tidak bertiup ke samping, melainkan menekan ke bawah seolah-olah langit sedang mencoba menduduki bumi.

Paus Angkasa yang mereka tumpangi hanya bisa menurunkan mereka di "Dermaga Awan Terendah". Begitu kaki mereka menginjak daratan yang terbuat dari gumpalan awan padat, Trio Oe langsung merasakan sensasi luar biasa.

Oe Shan Tung (Langsung ambruk dengan posisi duduk sila) "Aduh! Kenapa bokongku mendadak berat sekali?! Rasanya seperti ada gajah yang duduk di pundakku!"

Oe Asu (Berusaha berdiri tapi malah terlihat seperti sedang melakukan squat) "Ini bukan negara Angin Duduk, Bos! Ini negara Sembelit! Perutku kram menahan beban udara ini!"

Oe Lu Tung (Berusaha mengayunkan kapaknya tapi gerakannya melambat seperti di dalam air) "Nak Song! Apa-apaan tempat ini? Orang-orang di sini jalannya jongkok semua apa bagaimana?!"

Chen Song(Berdiri tegak, menggunakan aura Api-Esnya untuk membelah tekanan udara) "Tenangkan dirimu. Di Chika Sarenteng, hanya mereka yang memiliki ketenangan batin yang bisa berdiri tegak. Jika kau melawan anginnya, dia akan menekanmu lebih keras."

Luna Zhang Terbangun

Di tengah tekanan yang luar biasa itu, Luna Zhang perlahan membuka matanya. Tanda teratai di dahinya bersinar ungu redup, dan secara ajaib, tekanan udara di sekitar Luna menghilang sepenuhnya.

Luna Zhang(Suaranya terdengar jernih dan berwibawa) "Song... aku mendengar suara. Suara dari tempat yang sangat tinggi. Mereka memanggilku 'Putri yang Terbuang'..."

Chen Song(Membantu Luna berdiri) "Itu pengaruh Permaisuri Mo-nyong dari klan Zhang Utama. Luna, kau sekarang adalah mercusuar bagi mereka. Kita harus segera menemukan Makam Leluhur Angin Song untuk menyembunyikan auramu."

Mereka berjalan menuju gerbang kota yang dijaga oleh prajurit yang mengenakan jubah lebar yang menggelembung seperti balon.

Penjaga Chika"Berhenti! Kenapa kalian berjalan tegak? Di negara ini, berjalan tegak adalah bentuk kesombongan terhadap Dewa Angin! Kalian harus berjalan jongkok atau minimal membungkuk 45 derajat!"

Oe Lu Tung (Mendongak dengan susah payah) "Heh, Jubah Balon! Temanku ini punggungnya lagi kaku, kalau disuruh jongkok nanti dia kentut dan kalian semua terbang ke langit!"

Oe Asu (Berbisik) "Bos, jangan bawa-bawa kentut di negara Angin... nanti sirkulasinya muter di sini saja!"

Chen Song (Maju ke depan, mengeluarkan koin emas Ghudik) "Kami pengembara dari jauh. Kami membawa 'obat' untuk menenangkan angin." (Chen Song sedikit melepaskan hawa dingin Mei Song, membuat angin yang menekan di sekitar penjaga itu membeku sejenak dan menjadi ringan).

Penjaga Chika (Terkesima) "O-oh! Ahli pengendali suhu! Silakan masuk, tapi tolong... jangan buat badai di pasar, kami baru saja mencuci jemuran awan!"

Di dalam kota, hiruk-pikuknya sangat unik. Orang-orang berpindah tempat dengan cara melompat tinggi dan membiarkan angin "menduduki" mereka untuk mendarat tepat sasaran.

Oe Asu "Wah, lihat itu, Bos! Ada emak-emak belanja ke pasar pakai cara terjun payung tanpa payung!"

Oe Shan Tung "Kalau aku yang lompat begitu, mungkin pulau melayang ini langsung miring ke kiri."

Tanpa mereka sadari, di atas awan tertinggi Chika Sarenteng, sebuah mata raksasa yang dibentuk dari cahaya emas (milik Permaisuri Mo-nyong) terus memperhatikan Luna.

Suara Ghaib Mo-nyong: (Hanya terdengar oleh Luna) "Putriku... kau membawa pengawal-pengawal yang aneh. Apakah pria setengah es setengah api itu benar-benar bisa melindungimu saat aku memutuskan untuk menjemputmu pulang?"

Luna Zhang mencengkeram tangan Chen Song lebih erat. Ia tahu, perjalanan di Negara Angin Duduk ini akan mengungkap siapa dirinya sebenarnya.

Pendaratan di Chika Sarenteng (Negara Angin Duduk) ternyata membawa kejutan bagi si raksasa Oe Shan Tung. Saat mereka melewati distrik "Awan Bawah", seorang pria tua bertubuh tambun dengan janggut putih panjang tiba-tiba berteriak dari sebuah rumah kayu yang melayang rendah.

"Shan Tung?! Kau masih hidup, dasar karung nasi?!" teriak pria itu.

Ternyata, itu adalah Ki Buyut Angin, kawan lama Shan Tung saat ia masih menjadi kuli angkut antar-dimensi sebelum bergabung dengan klan Oe.

Ki Buyut mengundang mereka ke rumahnya yang unik—sebuah rumah yang tidak punya fondasi, melainkan diikat dengan rantai besar ke sebuah batu apung. Di dalam rumah ini, tekanan "Angin Duduk" tidak terasa karena Ki Buyut menggunakan Menyan Penolak Beban.

Ki Buyut Angin

"Masuk, masuk! Maaf rumahnya agak goyang, maklum semalam ada badai masuk angin. Shan Tung, kau tambah lebar saja! Apa klan Oe memberimu makan batu?"

Oe Shan Tung

(Tertawa hingga rumahnya bergoyang)

"Hahaha! Ki Buyut! Kenalkan, ini Tuan Chen Song dan Nyonya Luna. Kami sedang dalam perjalanan... yah, perjalanan hidup dan mati."

Sambil menikmati hidangan khas Chika Sarenteng—Sup Awan Kenyal yang bisa melayang di dalam mangkuk—mereka mulai berbincang.

Oe Lu Tung

(Berusaha menangkap potongan daging di supnya yang terbang)

"Woi! Kenapa makanannya tidak mau diam?! Aku mau makan, bukan mau latihan memanah!"

Oe Asu

(Menggunakan belatinya untuk menusuk bakso awan yang melesat)

"Bos, di sini kalau mau makan harus pakai teknik bela diri. Kalau lambat, baksonya bisa terbang keluar jendela dan jadi hujan di dunia bawah."

Ki Buyut Angin

(Menatap Chen Song dengan serius)

"Tuan Chen, Anda punya aroma yang tidak enak bagi penguasa di sini. Di Chika Sarenteng, angin punya telinga. Dan saat ini, para tetua Klan Zhang Utama sedang menyebar mata-mata angin untuk mencari wanita dengan tanda teratai."

Chen Song

"Ki Buyut, kami butuh lokasi Makam Leluhur Angin Song. Hanya di sana aura Luna bisa tersamarkan oleh pusaran badai purba."

Ki Buyut Angin

(Berbisik)

"Makam itu ada di Puncak Nafas Terakhir. Masalahnya, puncaknya terus berpindah-pindah mengikuti arah kentut naga langit. Tapi, karena Shan Tung adalah kawanku, aku akan memberitahu rahasianya: Makam itu hanya akan muncul jika kau bisa membuat angin di sana 'berhenti duduk' dan mulai 'berdiri'."

Oe Lu Tung

"Gampang itu! Si Asu kalau sudah melepas gasnya, jangankan angin, malaikat pun bakal berdiri buat pergi menjauh!"

Saat malam makin larut, Luna Zhang berdiri di balkon rumah, menatap langit emas yang berkilauan. Chen Song mendekatinya.

Luna Zhang

"Song, aku merasakan Permaisuri Mo-nyong semakin dekat. Dia tidak lewat angin, tapi lewat darahku. Rasanya seperti ada ribuan jarum emas yang mencoba menarik jiwaku ke atas sana."

Chen Song

(Memeluk Luna dari belakang, menyalurkan hawa hangat Bara Song)

"Aku sudah mengalahkan Song Yan, dan aku akan menghadapi klan Zhang Utama jika mereka mencoba mengambilmu. Kau bukan milik mereka, Luna. Kau adalah istriku."

Tiba-tiba, rumah Ki Buyut berguncang hebat. Rantai pengikat rumah itu berderit kencang. Di luar, terlihat bayangan-bayangan hitam yang terbang tanpa sayap, mengelilingi rumah tersebut.

Oe Asu: (Terbangun dari mimpinya)

"Aduh! Siapa yang main ayunan malam-malam begini?! Pusing kepalaku!"

Ki Buyut Angin

"Sial! Itu Pasukan Elang Emas dari Klan Zhang Utama! Mereka sudah mencium keberadaan Nyonya Luna!"

Suasana malam di rumah melayang Ki Buyut Angin yang tadinya tenang mendadak mencekam. Dari balik kabut emas Chika Sarenteng, muncul sepasukan ksatria yang menunggangi burung elang mekanik. Di depan mereka, memimpin dengan gagah namun tampak sangat unik, adalah sang panglima Mas Gatot.

Mas Gatot dikenal sebagai jenderal paling ditakuti di Klan Zhang Utama, bukan hanya karena kekuatannya, tapi karena bibirnya yang sangat tebal—konon itu adalah hasil latihan pernapasan tingkat tinggi yang membuat setiap kata yang diucapkannya memiliki tekanan udara yang dahsyat, jika belum tau juga cari di tiktok ketik pencarian mas gatot marah.

Mas Gatot

(Bicaranya agak berat karena beban bibirnya)

"Berhenti di situ! C-Chen Song! Serahkan Nyonya Luna Zhang kepada kami. Ini adalah perintah langsung dari Permaisuri Mo-nyong. Jangan memaksa saya mengeluarkan teknik Tiupan Maut Seribu Inci!"

Oe Asu

(Menahan tawa sambil bersembunyi di balik pintu)

"Bos Lu Tung, lihat itu! Itu orang apa ikan mas koki? Bibirnya kalau kena angin duduk pasti bunyinya plop-plop!"

Oe Lu Tung

"Hus! Jangan sembarangan! Tapi benar juga... kalau dia jatuh tersungkur, kurasa bibirnya bisa jadi bantal darurat."

Mas Gatot tidak terima dihina. Ia mengambil napas dalam-dalam, dadanya membusung, dan bibirnya yang tebal itu mulai bergetar.

Mas Gatot

"JURUS ANGIN KEMPES TIUPAN BADAI KENCANG!"

Fuuuuuuuuuu! Angin yang keluar dari mulut Mas Gatot begitu kencang hingga rumah Ki Buyut Angin miring 60 derajat. Piring-piring dan sisa sup awan beterbangan mengenai wajah Trio Oe.

Chen Song

(Maju ke depan, matanya berkilat merah-biru)

"Mas Gatot, bibirmu mungkin kuat menahan angin, tapi apakah kuat menahan bara api leluhurku?"

Chen Song melepaskan tebasan Pedang Bara Es. Gelombang api hitam yang dingin membelah tiupan angin Mas Gatot. Udara di depan Mas Gatot membeku seketika, membentuk kristal es yang nyaris menjepit bibir tebalnya.

Melihat Mas Gatot kesulitan karena bibirnya mulai beku terkena hawa Chen Song, Trio Oe melancarkan aksi sabotase konyol.

Oe Asu

"Shan Tung! Sekarang! Lemparkan 'hadiah' dari dapur!"

Oe Shan Tung melemparkan segumpal besar Lemak Babi Hutan yang sangat licin ke arah Mas Gatot. Mas Gatot yang sedang sibuk merapal mantra tidak sempat menghindar.

Plak! Lemak itu mendarat tepat di bibir tebal Mas Gatot.

Mas Gatot

"Apa ini?! Licin sekali! Mb-mb-mb..." (Bicaranya jadi tidak jelas karena bibirnya terlalu licin untuk menutup) "Pasukan! Serang! Kenapa kalian hanya diam?!"

Pasukan Elang Emas

"Maaf Jenderal, kami tidak mengerti perintah Anda! Suara Anda terdengar seperti orang sedang berkumur!"

Di tengah kekacauan itu, Luna Zhang melangkah maju. Cahaya ungu dari tanda teratainya terpancar kuat, membuat elang-elang mekanik milik pasukan Mas Gatot kehilangan kendali dan mulai terbang berputar-putar seperti layang-layang putus.

Luna Zhang

"Mas Gatot, sampaikan pada Permaisuri Mo-nyong... aku bukan barang yang bisa diambil sesuka hati. Jika dia ingin bertemu, biarlah dia yang turun ke dunia bawah ini, bukan mengirim badut dengan bibir tebal seperti Anda."

Mas Gatot

(Mencoba bicara dengan bibir yang licin dan gemetar karena wibawa Luna)

"I-ini penghinaan! Kalian akan menyesal! Plop!" (Suaranya berakhir dengan bunyi gelembung sabun).

Ki Buyut Angin

"Sudah cukup main-mainnya! Shan Tung, bantu aku menyalakan Mesin Turbo Kentut rumah ini! Kita harus pergi sebelum Mas Gatot memanggil bantuan armada udara!"

Dengan bantuan energi api Chen Song sebagai bahan bakar, rumah Ki Buyut Angin melesat menjauh dari kejaran Pasukan Elang Emas, meninggalkan Mas Gatot yang masih sibuk mengelap bibirnya yang licin dengan jubah emasnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!