NovelToon NovelToon
Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pengantin Pengganti / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arum Mustika Ratu menikah bukan karena cinta, melainkan demi melunasi hutang budi.
Reghan Argantara, pewaris kaya yang dulu sempurna, kini duduk di kursi roda dan dicap impoten setelah kecelakaan. Baginya, Arum hanyalah wanita yang menjual diri demi uang. Bagi Arum, pernikahan ini adalah jalan untuk menebus masa lalu.

Reghan punya masa lalu yang buruk tentang cinta, akankah, dia bisa bertahan bersama Arum untuk menemukan cinta yang baru? Atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02. Rumah baru

Langit mulai meredup ketika mobil hitam yang ditumpangi Arum berhenti di halaman megah kediaman keluarga Argantara. Gerbang besi tinggi berlapis ukiran emas perlahan terbuka, memperlihatkan taman luas dengan air mancur di tengahnya, serta rumah bergaya kolonial yang berdiri kokoh di ujung jalan berbatu.

Arum menatapnya dari balik jendela, napasnya tercekat. Rumah itu indah tapi entah mengapa, hawa di sekitarnya terasa dingin, sunyi, dan berbahaya seperti tempat di mana senyum bisa berubah menjadi racun dalam sekejap. Ketika pintu mobil dibuka, udara sore yang lembab menerpa wajahnya. Dia menjejakkan kaki ke pelataran untuk pertama kalinya sebagai Nyonya Argantara. Tapi langkahnya terasa berat.

Oma Hartati keluar lebih dulu, disambut dengan hormat oleh para pelayan dan asisten rumah tangga yang berbaris rapi di depan pintu. Lalu, di ambang pintu, berdirilah empat orang, Tuan Argantara, Maya, Elion, dan seorang wanita bergaun merah yang menawan yaitu, Alena.

Arum menatap mereka satu per satu. Tuan Argantara tampak gagah meski rambutnya memutih, auranya penuh wibawa dan kekuasaan. Di sampingnya, berdiri Maya, wanita cantik dengan senyum yang terlihat manis di wajah, tapi dingin di mata. Dan sedikit di belakang mereka, seorang pria muda tinggi, tampan, dengan senyum percaya diri. Elion Argantara, adik tiri Reghan.

Sementara wanita di samping Elion, dengan gaun merah yang anggun dan tatapan licin penuh rasa ingin tahu adalah Alena. Arum tidak tahu siapa dia, tapi sejak pertama kali menatap mata Alena, jantungnya bergetar aneh. Wanita itu memandangnya seperti seseorang yang menyimpan rahasia besar di balik senyum ramahnya.

“Selamat datang di rumah keluarga Argantara, Nyonya muda,” sapa Maya lembut. Senyumnya menawan, tapi entah kenapa, Arum merasa dingin menjalar dari ujung jari hingga tengkuknya.

“Terima kasih, Nyonya,” jawab Arum pelan sambil menunduk sopan.

Oma Hartati tersenyum puas. “Mulai sekarang, Arum tinggal di sini. Kalian semua tahu, pernikahan mereka sah di mata hukum dan agama.”

Tuan Argantara mengangguk. “Aku mendengarnya. Semoga pernikahan kalian membawa ketenangan di rumah ini.”

Nada suaranya berat, dalam, dan mengandung sesuatu yang sulit ditebak apakah restu, atau sekadar basa-basi.

Arum menatap pria itu sopan. “Terima kasih, Tuan.”

Di sampingnya, Reghan masih duduk di kursi roda, wajahnya tetap tanpa ekspresi, hanya sesekali memandangi wajah-wajah yang menatapnya. Pandangan matanya berhenti sejenak pada Alena dan Elion. Suasana seketika menegang, tatapan mata mereka bertemu antara Reghan dan Alena.

Ada sesuatu di udara yang membuat Arum menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Ia tak tahu apa hubungan di antara mereka, tapi jelas, tatapan itu bukan tatapan biasa.

Maya cepat memecah keheningan dengan tawa lembutnya. “Mari, kita masuk dulu. Makan malam sudah disiapkan.” Ia melangkah ke depan, mempersilakan mereka masuk.

Arum berjalan perlahan di belakang Oma, sementara dua pelayan mendorong kursi roda Reghan. Setiap langkahnya terasa berat. Tatapan orang-orang di ruangan itu seperti pisau yang mengupas kulitnya perlahan.

Di meja makan besar, suasana tampak hangat di permukaan, lilin menyala lembut, hidangan tersusun rapi, semua terlihat mewah dan sempurna. Tapi di bawah semua itu, Arum bisa merasakan sesuatu yang menekan, seperti udara yang menahan napas.

Tuan Argantara duduk di ujung meja, memimpin jamuan. Di sisi kanan, Maya duduk anggun, sementara Elion dan Alena duduk berdampingan di sisi kiri. Reghan dan Arum ditempatkan berhadapan langsung dengan mereka.

“Bagaimana perjalanan kalian?” tanya Maya dengan senyum palsu yang terlalu manis. “Kau pasti lelah, Arum. Rumah ini besar, tapi jangan khawatir. Semua pelayan siap membantumu.”

“Terima kasih, Nyonya,” jawab Arum sopan.

Elion menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu melirik Arum dengan senyum menggoda. “Kau beruntung, Nona. Tidak banyak wanita yang bisa duduk di sini sebagai Nyonya muda Argantara.”

Nada suaranya halus, tapi mata Reghan menajam tajam, menusuk Elion dalam diam. Alena menimpali lembut, “Benar, banyak wanita akan iri pada posisi sepertimu.”

Ia menatap Arum dalam-dalam, lalu dengan santai menggenggam tangan Elion di atas meja.

“Termasuk wanita yang dulu pernah menantikan kursi itu.”

Arum mengerutkan kening kecil, dia tak mengerti. Sementara Reghan memalingkan wajah, rahangnya menegang, matanya membeku menatap ke arah piring.

Oma Hartati yang memperhatikan semuanya menatap tajam ke arah Alena, lalu berkata dingin, “Makanlah, tidak perlu basa-basi berlebihan.”

Percakapan pun mereda, hanya tersisa denting sendok dan pisau yang beradu pelan. Arum mencoba menelan makanannya, tapi rasanya seperti pasir. Ia sadar, rumah megah ini bukan rumah tapi arena. Setiap senyum di meja itu terasa seperti jebakan.

Malam itu, setelah jamuan berakhir, Oma Hartati menggandeng tangan Arum.

“Nak, jangan biarkan tatapan atau kata mereka menjatuhkanmu. Di rumah ini, semua orang pandai bersembunyi di balik topeng.”

Arum menatap wajah tua itu, suaranya lirih, “Saya tahu, Oma. Tapi bagaimana jika topeng itu adalah satu-satunya yang membuat mereka tampak manusia?”

Oma terdiam, sementara di seberang lorong, Reghan memandangi punggung istrinya yang menjauh, matanya redup dingin tapi dalam.

Rumah besar keluarga Argantara tampak mewah di luar, tapi di dalamnya, setiap cinta menyimpan dendam, dan setiap senyum menyembunyikan luka.

Arum, berbalik setelah berbicara dengan Oma Hartati, dia mendapati Reghan di lorong rumah di tempat semula dia berdiri.

“Aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan kamar masing-masing,” suara Reghan terdengar pelan tapi tegas. “Kau tidur di kamar sebelah.”

Arum menunduk sopan. “Baik.”

Ia ingin bicara sesuatu entah berterima kasih, entah sekadar menanyakan keadaan, tapi suara itu seperti tertelan oleh kesunyian. Reghan sudah memutar kursi rodanya, beranjak menuju kamar utama tanpa menoleh lagi. Arum berdiri di sana cukup lama.

Hujan di luar makin deras, menimpa atap rumah dan mengirimkan gema lembut ke seluruh ruangan.

Malam itu, Arum berdiam di kamar barunya, kamar luas dengan balkon yang menghadap taman belakang. Ia membuka jendela, membiarkan angin malam dan aroma hujan masuk. Matanya menatap kosong ke arah pepohonan yang berayun lembut.

Di sisi lain dinding, Reghan duduk di kursi roda di depan jendela kamarnya sendiri. Tangannya menggenggam segelas minuman, matanya menerawang ke luar, memandangi hujan yang jatuh deras. Bayangan masa lalu menari-nari di benaknya, tatapan Alena, suara tawa lembutnya, malam ketika ia berjanji akan menikahinya dan pagi ketika semuanya hancur karena kecelakaan yang merenggut bukan hanya kakinya, tapi juga kepercayaannya pada cinta.

Namun, dia tahu Arum tidak bersalah. Tapi yang membuatnya marah adalah kenyataan bahwa gadis itu menikah dengannya karena uang, bukan karena cinta, bukan karena peduli. Dan itu cukup baginya untuk menolak semua bentuk kelembutan.

Pintu kamarnya diketuk pelan.

“Tuan Reghan...” suara lembut itu terdengar dari balik pintu. “Aku hanya ingin memastikan, apa Tuan sudah ingin tidur?”

Tak ada jawaban, Reghan menggenggam gelas minumannya kuat hingga hampir retak.

“Kalau Tuan butuh sesuatu, aku ada di kamar sebelah.”

Masih hening, beberapa detik kemudian, Reghan akhirnya berkata tanpa menoleh, suaranya datar dan dingin, ketika mendengar suara pintu terbuka perlahan.

“Aku tidak butuh apa pun darimu. Dan mulai malam ini, jangan pernah masuk ke kamarku tanpa izin.”

Suara itu menampar lebih keras dari pukulan. Arum menunduk, menggenggam gaun tidurnya erat-erat.

“Baik, Tuan.”

Ketika langkah kakinya menjauh, Reghan memejamkan mata. Ia menyesal, tapi tak ingin menyesal. Sebab rasa iba bisa berubah menjadi cinta, dan cinta adalah sesuatu yang sudah lama ia kubur.

Malam beranjak larut. Arum masih terjaga, duduk di tepi ranjang sambil menatap cincin di jarinya. Cincin yang tampak berkilau tapi terasa hampa. Ia tak menangis, dia hanya diam, seperti batu yang sudah menerima takdirnya.

Sementara dari kamar sebelah, suara roda kursi Reghan terdengar pelan, dia tidak tidur, hanya menatap foto lama di tangannya, foto seorang wanita tersenyum di tepi danau.

“Cinta itu mati bersamamu, Alena.” gumam Reghan. Di rumah yang megah itu, dua jiwa terkurung di dalam pernikahan tanpa cinta. Satu mencoba bertahan dengan hati yang pasrah, satu lainnya bertahan dengan luka yang menolak sembuh.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Reghan terlalu ceroboh mempertaruhkan keselamatan Arum dan Revan tanpa pengawalan padahal tau bahaya mengintai..aneh
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
apa Reghan mau melamar ulang Arum ya, tp malesnya pasti ada para siluman kumpul di sana.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syutingnya ceritanya lagi musim hujan apa gimana thor, perasaan hujan mulu.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: hihihihiii... terbawa suasana sambil makan yg anget² selebihnya inget apa yaa...jangan sampe ingetnya kenangan. 🤣🤣🫣
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
thor ga kedengaran lagi kabar para siluman Maya dan antek²nya juga keluarga yg dulu membesarkan Arum gimana tuh... sudah dapet kartu merah belum.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hebatnya Dr Gavin dia dewasa pemikirandan tindakannya juga bijak ga egois..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
resiko besar yg harus kamu merasakan Reghan kalau ankmu harus memanggil pria lain papahnya jd cobalah lapang dada karna Dr Gavin punya peran besar dalam kehidupan Arum sama Revan
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Dr Gavin salut dengan kedewasaan dan kelapangan hatimu...👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ikutan berat banget jadi Arum.🤭🤭
kembali lg ke author yg punya sekenario mereka, mau gimana lagi Reghan masih mencintai Arum dan begitupun sebaliknya meskipun rasanya ga rela mereka balikan tp alasa Revan butuh ayah kandungnya selalu jd alasan utama padahal aku dukungnya Arum sama Dr. Gavin.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
heehhh pada telaaaattt bertindaakkk.. setelah kesakitan Arum yg kalian lakukan di rumah itu
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa baru sekarang kamu tegasnya Reghan, ternyata harus kehilangan dulu baru bertindak
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kekuasaan di atas segalanya yg kecil makin tertindas sedangkan yg berkuasa hidup bahagia... tp kalau bener endingnya Arum balikan sama Reghan waaahh di luar prediksi aku yg baca...
logika saja dari awal Arum di buat menderita di rumah Argantara dan segitu mudahnya minta maaf trs balikan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
thor jangan di buat balikan tapi kalaupun di buat balikan lg jangan sampai di kasih gampang, enak saja Arum berjuang sendiri tanpa Reghan atau siapa pun... apa lg mereka sudah membuat luka pd Arum.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
jangan sampe Arum di bikin balikan lagi sama Lelaki plin plan seperti Reghan thor sudah cukup Arum menderita tapi malah di tambah lagi penderitaannya dengan Revan yg sakit parah... trs apa kabar dengan orang² yg buat dia menderita... kasihan Arum
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aneh masa iya di rumah sebesar itu ga ada cctv maen nuduh sembarangan dan Reghan ga berubah sama sekali yrs Arum dengan b0d0hnya mudah percaya dengan Reghan dan omanya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
syukurlah Arum pergi buat kewarasan diri dari pada bertahan di sana tp ga di anggap
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hadeuuhh Arum kamu mah manut bae sudah tau mereka manfaatin kamu, kamu di rumah itu bukan untuk di jadikan pesuruh suman tapi fokus pd Reghan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kasian Arum, bukan hanya tekanan dan beban fisiknya saja yang dia tanggung tapi juga mentalnya...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
dr Samuel aneh emangnya dia psikolog atau dokter umum kok seolah² keadaan Arum ga penting buat dia.. aneh, dia di bayar buat mengobati kalaupun bukan bidangnya tp penyampaianmu ga yg seharusnya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Reghan ga ada harga dirinya sama sekali dengan mantan sendiri saja lemah..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sudah tau tanggung jawabmu diperusahaan membutuhkan kamu tp kamu tetap terpuruk dengan orang yg sudah meninggalkan kamu demi harta Reghan dan yg mirisnya kamu ga mau sembuh dan move on dari siluman Alena..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!