Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Pagi itu dimulai dengan sesuatu yang terasa… aneh.
Bukan karena berita. Bukan karena audit. Tapi karena suasana hati Arcelia sendiri. Ia bangun dengan dada terasa berat tanpa alasan jelas.
Setelah mandi dan berpakaian, ia turun ke ruang makan. Mama Mirella sudah menyiapkan sarapan. Elvarin terlihat lebih ceria hari ini. Bang Kaiven membaca sesuatu di tablet. Papa Alveron tampak sedikit lebih tenang dibanding kemarin.
“Audit sementara bersih,” katanya singkat saat duduk.
Arcelia mengangguk. Harusnya itu kabar baik. Tapi firasatnya belum hilang.
Di sekolah,
Suasana tampak normal. Terlalu normal. Beberapa siswa masih membicarakan berita, tapi tidak seheboh kemarin.
Saat Arcelia masuk kelas, ponselnya bergetar.
Notifikasi media sosial.
Ia membuka.
Dan jantungnya langsung terasa jatuh. Sebuah akun anonim mengunggah foto lama papanya, diambil dari sudut yang tampak mencurigakan, seolah-olah sedang menerima amplop dari seseorang di parkiran hotel.
Captionnya singkat:
“Transaksi diam-diam?”
Tangan Arcelia langsung dingin. Ini manipulasi. Ia tahu foto itu pasti diambil tanpa konteks. Tapi di dunia media sosial.... Konteks jarang dipedulikan.
Komentar sudah mulai bermunculan.
“Pantas aja diperiksa.”
“Kelihatan banget.”
Arcelia menutup aplikasi itu cepat-cepat.
Kaelion memperhatikan wajahnya yang berubah.
“Apa?”
Ia menunjukkan layar ponselnya.
Kaelion mengatupkan rahang. “Ini jelas framing. Sudutnya sengaja dibuat seperti itu.”
“Orang nggak peduli sudut,” bisik Arcelia. “Mereka cuma lihat gambar.”
Saat istirahat, beberapa siswa mulai terang-terangan menunjuk layar ponsel sambil melirik ke arahnya.
Ada yang berbisik.
Ada yang tertawa kecil.
Arcelia berjalan melewati mereka tanpa bicara. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai terbakar. Ini bukan lagi soal bisnis. Ini serangan pribadi.
Kaelion menghentikannya di tangga menuju lantai dua.
“Jangan baca komentar.”
“Aku nggak baca.”
“Jangan pura-pura kuat.”
Arcelia menatapnya.
“Aku memang kuat.”
Hening.
Lalu ia menambahkan lebih pelan, “Aku cuma capek.” Itu pertama kalinya ia mengakuinya.
Sore itu di rumah,
Bang Kaiven sudah tahu soal foto tersebut.
“Kita sudah lacak sumbernya,” katanya. “Akun palsu. Baru dibuat dua hari lalu.”
“Bisa diturunkan?” tanya Arcelia.
“Kita laporkan. Tapi butuh waktu.”
Papa Alveron duduk lebih tenang dari yang Arcelia kira.
“Itu foto lama,” katanya. “Papa tahu momen itu. Waktu itu, Papa sedang menerima dokumen legal dari klien.”
“Papa tidak marah?” tanya Arcelia pelan.
Papa Alveron tersenyum tipis.
“Marah? Tentu saja Sayang. Tapi kemarahan yang tidak terkontrol hanya menguntungkan mereka.”
Arcelia menggigit bibirnya. Ia ingin marah. Ingin membalas. Ingin menulis sesuatu yang keras. Tapi ia menahan diri.
Mama Mirella memegang bahu putrinya.
“Serangan personal berarti mereka kehabisan cara profesional.”
Kalimat itu membuat Arcelia terdiam.
Jadi ini tahap kedua.
Menyerang reputasi.
Menyerang nama.
Menyerang keluarga.
Malamnya,
Arcelia menerima pesan lagi.
Dari Selena.
Media sosial itu kejam, ya?
Arcelia menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Kau terlalu takut untuk bermain terang-terangan?
Balasan datang cepat.
Perang modern tidak selalu pakai pedang.
Arcelia tersenyum tipis.
Kau benar. Tapi tetap saja… yang bertahan bukan yang paling licik. Tapi yang paling solid.
Tidak ada balasan kali ini. Arcelia meletakkan ponselnya. Ia berdiri di depan cermin. Menatap dirinya sendiri. Ia masih remaja, masih sekolah. Masih harus mengerjakan tugas dan presentasi.
Tapi hidupnya kini berdiri di antara konflik dua keluarga besar. Dan untuk pertama kalinya, Ia tidak hanya ingin bertahan. Ia ingin menang.
Di sisi lain kota,
Selena mematikan layar ponselnya. Ekspresinya tidak lagi sepenuhnya santai. Karena satu hal mulai terlihat jelas, Arcelia Virellia bukan target yang mudah dihancurkan.
Dan tahap kedua… Belum cukup membuatnya runtuh.
Malam semakin larut,
Tapi Arcelia belum juga memejamkan mata. Ia duduk di lantai kamarnya, bersandar pada sisi tempat tidur. Laptop terbuka, menampilkan ulang foto yang viral itu.
Ia memperbesar gambar.
Memperhatikan bayangan.
Pantulan kaca mobil.
Jam di dinding hotel yang terlihat samar di belakang. Kalau ini manipulasi… berarti ada yang sengaja mengambilnya dari sudut tertentu.
Tangannya bergerak cepat, membandingkan tanggal unggahan dengan jadwal lama yang pernah ia lihat di arsip keluarga.
Tahun lalu.
Itu berarti seseorang sudah lama menyimpan foto itu. Bukan serangan spontan. Ini direncanakan.
Tok.
Tok.
“Lia?”
Bang Kaiven masuk tanpa menunggu jawaban.
“Kamu masih lihat itu?”
Arcelia tidak menutup laptopnya kali ini.
“Bang, foto ini diambil setahun lalu. Berarti Selena sudah punya bahan sejak lama.”
Bang Kaiven mendekat. “Atau seseorang memberinya.”
Kalimat itu membuat udara kamar terasa lebih berat.
“Orang dalam lagi?” tanya Arcelia pelan.
“Bisa jadi. Atau mantan mitra yang kecewa Dek.”
Arcelia menghela napas.
“Jadi kita dikelilingi orang yang mungkin menunggu waktu untuk menusuk.”
Bang Kaiven menatap adiknya lama.
“Makanya kita harus lebih rapi dari sebelumnya.”
Keesokan paginya,
Situasi makin memanas.nBeberapa akun gosip bisnis mulai mengangkat ulang foto itu. Narasi dibentuk makin liar.
Arcelia baru saja duduk di kelas saat notifikasi berdatangan lagi. Ia mematikan ponselnya.
“Tidak mau lihat?” tanya Kaelion pelan.
“Kalau aku lihat terus, aku yang kalah duluan.”
Pelajaran berlangsung, tapi Arcelia sulit fokus.
Suara guru terdengar jauh. Yang terngiang justru komentar-komentar yang sempat ia baca semalam.
Korupsi.
Penggelapan.
Pantas kaya.
Tangannya mengepal di bawah meja.
Tiba-tiba, pintu kelas diketuk.
Seorang staf sekolah memanggil namanya. “Arcelia Virellia, ke ruang konseling sebentar.”
Beberapa siswa langsung saling pandang. Arcelia berdiri tanpa protes. Langkahnya stabil.
Di ruang konseling, guru pembimbing duduk dengan ekspresi hati-hati.
“Kami hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja,” katanya lembut.
“Saya baik.”
“Kalau ada tekanan dari siswa lain—”
“Saya bisa mengatasinya.”
Ia tidak ingin terlihat rapuh.
Tapi saat keluar dari ruangan itu, ia sadar sesuatu. Serangan ini sudah merambat ke mana-mana.
Sekolah.
Lingkungan sosial.
Nama keluarga.
Sore itu,
Di kantor Virellia, tim hukum akhirnya menemukan sesuatu. Akun anonim yang menyebarkan foto itu terhubung dengan IP address yang sama dengan perusahaan cangkang yang dulu menyerang mereka.
Bang Kaiven menunjukkan laporan itu pada Arcelia.
“Ini cukup kuat,” katanya. “Kita bisa mulai langkah hukum balik.”
Papa Alveron berdiri di dekat jendela.
“Belum,” katanya tenang.
Arcelia menoleh cepat.
“Kenapa belum?”
“Kita tunggu sampai mereka bergerak lagi.”
“Kenapa harus nunggu?” nada suara Arcelia hampir meninggi.
Papa Alveron menatapnya lembut, tapi tegas. “Karena kalau kita bergerak sekarang, mereka bisa menghilangkan jejak lebih cepat.”
Arcelia terdiam.
Ia benci harus menunggu. Tapi ia tahu papanya benar. Perang seperti ini bukan soal cepat. Tapi soal tepat.
Malamnya,
Kaelion mengirim pesan.
Aku dengar keluargaku mulai gelisah.
Arcelia mengetik balasan.
Selena panik?
Dia tidak suka kehilangan kendali.
Arcelia menatap langit dari balkon kamarnya. Angin malam terasa lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
Kalau dia panik… berarti kita mulai mengganggu rencananya. batinya
Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.
Hati-hati. Kalau dia merasa terdesak, dia bisa menyerang lebih personal.
Arcelia menatap layar itu lama.
Lebih personal?
Ia menelan ludah.
Apa lagi yang bisa lebih personal dari menyerang nama papaku?
Jawabannya datang lebih cepat dari yang ia kira.
Ponselnya bergetar lagi.
Notifikasi baru.
Sebuah video pendek. Bukan tentang Papa Alveron. Bukan tentang perusahaan. Tapi tentang dirinya.
Video saat ia berbicara tegas di lorong sekolah kemarin. Diputar ulang dengan potongan kata yang diedit.
Seolah-olah ia sedang meremehkan siswa lain.
Captionnya:
“Sikap asli Putri Virellia.”
Darah Arcelia terasa seperti membeku.
Tahap kedua… Baru saja naik level. Dan kali ini,,,,,, Sasarannya adalah dirinya sendiri.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....