NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: RENCANA LICIK DAN PENGAKUAN TERSEMBUNYI

 

Seminggu telah berlalu sejak insiden penculikan Rara. Kehidupan Putri dan Rizky perlahan mulai kembali ke jalur yang tenang, meski bayang-bayang ketakutan masih sering menghantui. Rara sudah boleh pulang dari rumah sakit dan kini tinggal bersama mereka di kediaman Adinata, di bawah pengawalan ketat dan penuh kasih sayang. Rara tampak lebih ceria, sering tertawa lagi, dan selalu menempel pada Putri maupun Rizky, seolah takut kehilangan mereka lagi.

Namun, di balik kedamaian yang tampak itu, ketegangan politik dan kriminal di dunia bawah tanah semakin memanas. Pak Hidayat masih ditahan di sel isolasi sementara menunggu persidangan, dan Pak Darmawan juga mendekam di penjara yang sama, meski di blok terpisah. Kasus mereka menjadi sorotan media nasional, mengungkap jejak-jejak korupsi dan kekerasan yang selama ini tersembunyi di balik nama besar keluarga Adinata dan kelompok Pak Darmawan.

Suatu sore, di ruang kerja pribadi Rizky di kediaman Adinata, suasana tampak hening. Putri sedang duduk di sofa sambil memeriksa beberapa dokumen hukum yang dia salin dari arsip lama—sisa-sisa pekerjaan pengumpulan buktinya. Rizky sedang berdiri di dekat jendela besar, menatap halaman rumah di mana Rara sedang bermain dengan anjing peliharaan keluarga, ditemani Nina.

Wajah Rizky tampak serius, seolah ada beban berat yang dia pikul sendirian selama ini. Dia menoleh ke arah Putri, lalu berjalan mendekat dan duduk di hadapan istrinya.

"Putri," panggil Rizky pelan.

Putri mengangkat wajahnya dari tumpukan kertas. "Ya, Rizky? Ada apa? Kamu kelihatan gelisah sekali sejak tadi."

Rizky menghela napas panjang, tangannya meremas ujung celana panjangnya dengan gugup. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Sesuatu yang sudah lama aku simpan, dan aku rasa sekarang saatnya kau mengetahuinya. Sebelum hal-hal yang lebih buruk terjadi."

Putri menaruh dokumen di tangannya, merasa ada nada serius dalam suara Rizky. "Tentang apa ini, Rizky?"

"Tentang Ayah... tentang Pak Hidayat," jawab Rizky, matanya menatap tajam ke dalam mata Putri. "Dan tentang apa yang sebenarnya aku tahu selama ini."

Sebelum Rizky sempat melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka dengan kasar. Bang Rio berlari masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat dan penuh keringat dingin.

"Pak Rizky! Bu Putri! Bahaya!" teriak Bang Rio.

Rizky dan Putri langsung bangkit berdiri. "Ada apa, Bang Rio? Tenang, bicara pelan-pelan!" seru Rizky.

"Pak Hidayat... Pak Hidayat diserang di dalam tahanan!" lapor Bang Rio, suaranya gemetar. "Tadi pagi saat jam kunjungan, ada seorang pengacara baru yang mengaku ditunjuk oleh keluarga untuk membela Pak Hidayat. Tapi saat dia masuk ke ruang interogasi, dia tiba-tiba mengeluarkan senjata tajam dan menikam Pak Hidayat di perut!"

"Apa?!" seru Putri dan Rizky serempak, kaget bukan main.

"Bagaimana keadaan Ayah? Apakah dia selamat?" tanya Rizky cepat, wajahnya pucat pasi meski ayahnya adalah seorang penjahat, dia tetap anak yang punya hati.

"Petugas polisi segera menembak pelaku itu di kaki, dan Pak Hidayat segera dibawa ke rumah sakit militer untuk operasi darurat. Kabarnya, kondisinya kritis tapi masih berjuang," jawab Bang Rio. "Tapi ada lagi yang lebih mengerikan, Pak. Pelaku itu, sebelum pingsan, sempat berteriak bahwa perintah itu datang dari Pak Darmawan. Dan dia bilang... target selanjutnya adalah Putri Aulia."

Darah seakan berhenti mengalir di tubuh Putri. "Aku?"

"Benar, Bu Putri. Pak Darmawan ingin membalas dendam. Dia tahu kalau dia tidak bisa keluar, dia ingin menghancurkan apa pun yang disayangi Pak Hidayat, dan dia tahu Putri adalah kelemahan terbesar sekarang, selain Rara," jelas Bang Rio.

"Tidak mungkin... Dia sudah di dalam penjara, bagaimana bisa dia masih mengatur semua ini?" tanya Putri tak percaya, namun pikiran hukumnya segera bekerja. "Kecuali... dia punya koneksi kuat di luar, atau ada orang dalam yang membantunya."

"Ini pasti ulah jaringan sisa Pak Darmawan yang belum tertangkap bersih," kata Rizky dengan suara dingin, amarahnya mulai memuncak. "Mereka berani menyakiti Ayah, dan mereka berani mengancammu, Putri. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Rizky menoleh ke Bang Rio. "Bang Rio, perketat keamanan di rumah ini. Gandakan pengawal di sekitar Rara. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa pemeriksaan ketat. Dan hubungi Detektif Rian sekarang juga! Aku ingin tahu detail serangan itu."

"Siap, Pak! Saya akan lakukan sekarang!" jawab Bang Rio, lalu segera berlari keluar untuk menjalankan perintah.

Kini tinggal Putri dan Rizky di ruang kerja itu. Suasana menjadi hening namun penuh dengan ketegangan yang mencekam. Ancaman nyata kembali menghantam mereka, lebih dekat dan lebih berbahaya dari sebelumnya.

Putri duduk kembali di sofa, tangannya gemetar. Dia memikirkan orang tuanya, lalu Pak Hidayat yang kini hampir mati, dan ancaman terhadap dirinya serta Rara. "Rizky... apa ini tidak akan pernah berakhir? Selalu ada bahaya..."

Rizky berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Putri, menggenggam kedua tangan istrinya yang dingin. Dia menatap Putri dengan tatapan yang sangat serius dan penuh penyesalan.

"Putri... dengar aku. Sebelum kejadian ini semakin rumit, aku harus memberitahumu kebenaran. Kebenaran yang sudah aku sembunyikan sejak lama," ucap Rizky lembut namun tegas.

Putri menatap mata suaminya, merasakan ada sesuatu yang besar akan terungkap. "Apa itu, Rizky?"

Rizky menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian yang sangat besar. "Aku tahu... aku sudah tahu tentang kejahatan Ayah sejak aku masih duduk di bangku SMA."

Putri terbelalak kaget. "Apa? Kamu tahu? Sejak SMA?"

Rizky mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Ya. Saat itu, aku tidak sengaja mendengar percakapan Ayah dengan salah satu anak buahnya di ruang kerja ini. Aku mendengar mereka membahas tentang... penghancuran bisnis saingan, dan bagaimana cara 'menyingkirkan' penghalang. Awalnya aku tidak percaya, tapi rasa penasaran membuatku menyelidikinya perlahan. Dan semakin aku tahu, semakin aku ngeri. Aku menemukan bukti-bukti, dokumen-dokumen rahasia, dan aku akhirnya sadar... bahwa bisnis keluarga ini dibangun di atas darah dan air mata orang lain."

Suara Rizky pecah. "Aku bahkan tahu... aku tahu bahwa kematian orang tuamu bukan kecelakaan. Aku mendengar Ayah menyebut nama Ayahmu beberapa kali, dan bagaimana dia merasa 'berhasil' mengambil alih bisnis kayu mereka."

Putri merasa dunia seakan berhenti berputar. Selama ini dia menyembunyikan dendamnya, berpikir bahwa Rizky tidak tahu apa-apa, bahwa Rizky adalah anak polos yang tidak tahu menahu tentang dosa ayahnya. Tapi ternyata... Rizky sudah tahu sejak lama.

"Kenapa... kenapa kamu diam saja?" tanya Putri, suaranya bergetar, campuran antara kaget dan rasa sakit hati. "Kalau kamu tahu sejak SMA, kenapa kamu tidak menghentikannya? Kenapa kamu tidak melaporkannya? Kenapa kamu membiarkan orang yang membunuh orang tuaku bebas selama ini?!"

Air mata jatuh dari pipi Rizky. "Maafkan aku, Putri... Maafkan aku. Saat itu aku masih anak-anak. Aku takut. Aku takut pada Ayah, aku takut pada kekuatan yang dia miliki. Aku takut kalau aku berbicara, dia akan menyakitiku, atau bahkan menyakiti orang-orang yang aku sayangi. Aku merasa lemah... aku merasa tidak punya kekuatan apa pun untuk melawan raksasa itu. Aku memilih untuk menutup mata dan telinga, berpura-pura tidak tahu, dan hidup dalam kebohongan itu."

Rizky menggenggam tangan Putri lebih erat, menempelkannya ke wajahnya. "Tapi kemudian... kau datang, Putri. Kau datang membawa keberanian yang tidak aku miliki. Kau berani melawan, berani mencari kebenaran, meski kau sendirian. Melihatmu berjuang untuk keadilan, melihatmu berjuang untuk Rara... itu membuatku sadar bahwa diam bukanlah pilihan. Bahwa kejahatan tidak akan berhenti kalau orang baik memilih diam."

"Aku mulai diam-diam membantu usahamu, Putri. Saat proyek-proyek Ayah gagal beruntun, itu bukan hanya kebetulan atau ulahmu saja. Aku juga membantu merusaknya dari dalam. Aku memberikan informasi pada Nina agar dia bisa membantumu. Aku mendirikan usaha kecil untuk membantu anak-anak korban mafia karena aku ingin menebus dosa-dosa Ayah, dosa keluargaku."

Putri terdiam, air matanya mengalir deras. Dia bingung. Sebagian dari dirinya marah karena Rizky menyembunyikan kebenaran dan membiarkan kejahatan terjadi begitu lama. Tapi di sisi lain, dia bisa merasakan ketulusan dan penyesalan yang mendalam dari Rizky. Dia melihat betapa beratnya beban yang dipikul Rizky sendirian selama bertahun-tahun.

"Jadi... selama ini kamu tahu siapa aku sebenarnya? Tahu kalau aku menikahimu dengan niat balas dendam?" tanya Putri pelan.

Rizky mengangguk. "Aku mulai curiga sejak beberapa bulan pernikahan. Tapi aku tidak peduli, Putri. Aku tidak peduli apa niat awalmu. Yang aku pedulikan adalah kau. Aku mencintaimu, Putri Aulia. Aku mencintaimu bukan karena siapa ayahmu atau siapa musuhmu, tapi karena dirimu sendiri. Kau adalah cahaya yang masuk ke dalam kegelapan hidupku."

Putri menatap Rizky, dan di antara air matanya, dia merasakan rasa cinta yang mendalam menyelimuti hatinya. Dendam yang selama ini dia bawa perlahan terasa lebih ringan, bukan karena dia lupa, tapi karena dia sadar dia tidak sendirian lagi. Rizky bukan lagi bagian dari musuh, tapi dia adalah pasangannya, temannya, dan orang yang juga berjuang untuk kebenaran.

"Rizky..." bisik Putri, lalu dia memeluk suaminya erat-erat. "Aku juga mencintaimu. Maafkan aku karena menyembunyikan segalanya darimu. Maafkan aku karena mencurigaimu."

"Tidak, Putri. Aku yang harusnya minta maaf. Maaf karena aku pengecut selama ini. Tapi sekarang, semuanya sudah berbeda. Kita tidak akan menyembunyikan apa pun lagi. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama," bisik Rizky di telinga Putri.

Mereka berpelukan lama, melepaskan semua beban, semua rahasia, dan semua rasa takut. Pengakuan itu menjadi titik balik dalam hubungan mereka. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi bayang-bayang dusta. Mereka kini berdiri di sisi yang sama, berpegang tangan, siap menghadapi rencana licik Pak Darmawan dan segala bahaya yang akan datang.

Tiba-tiba, ponsel Rizky berdering keras. Itu adalah panggilan dari Detektif Rian. Rizky melepaskan pelukannya, mengusap air matanya, lalu mengangkat ponsel itu dengan wajah yang kini penuh tekad.

"Halo, Detektif... Ya, kami sudah tahu soal serangan pada Ayah... Apa? Pelaku itu mati? Dia dihabisi oleh orang dalam sebelum sempat bicara?..." Rizky menatap Putri dengan tatapan tajam. "Baik, Detektif. Kami mengerti. Kami akan bersiap. Terima kasih atas informasinya."

Rizky menutup telepon. "Putri, Pak Darmawan tidak main-main. Pelaku yang menyerang Ayah sudah dibunuh di dalam rumah sakit sebelum sempat memberikan kesaksian. Ini bukti kalau jaringannya masih sangat kuat dan berbahaya."

Putri mengangguk, matanya kini tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan keberanian yang membara. Sebagai mantan mahasiswa hukum dan sebagai wanita yang sudah kehilangan segalanya namun menemukan kembali kekuatannya, dia tahu apa yang harus dilakukan.

"Kita tidak bisa menunggu mereka menyerang lagi, Rizky," kata Putri tegas. "Kita harus bergerak. Kita punya semua bukti yang aku kumpulkan, kita punya kesaksian, dan sekarang kita punya kekuatan bersama. Kita harus mengungkap semuanya sekarang juga. Kita harus mengakhiri ini sekali dan untuk selamanya."

Rizky tersenyum tipis, bangga pada istrinya. "Kau benar, Putri. Kita akan bergerak malam ini juga. Kita akan bawa semua bukti ke polisi, dan kita pastikan Pak Darmawan dan sisa-sisa kejahatannya tidak bisa menyakiti siapa pun lagi."

Malam itu, di kediaman Adinata, sebuah tekad baru lahir. Putri dan Rizky, yang dulu terikat oleh perjanjian dan dendam, kini bersatu oleh cinta dan keadilan. Mereka siap membuka pintu menuju kebenaran, tidak peduli seberapa gelap dan menakutkan jalan yang harus mereka tempuh.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Rahasia besar akhirnya terungkap! Rizky mengaku sudah tahu kejahatan ayahnya sejak SMA tapi diam karena takut, dan dia diam-diam sudah membantu Putri selama ini. Putri pun melepaskan rasa curiganya dan mereka kini bersatu sepenuhnya. Jika kamu berada di posisi Putri saat mendengar pengakuan Rizky, apakah kamu akan langsung memaafkan kesunyiannya selama ini, atau butuh waktu untuk menerima kenyataan itu?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!