NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 - Yang Dipilih

...Kadang, cinta tidak datang dengan pengakuan. Ia datang lewat keputusan kecil yang diulang setiap hari....

Happy Reading!

...----------------...

Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi lain di sekolah.

Bel masuk belum berbunyi. Koridor penuh langkah kaki yang saling beradu, suara kursi diseret asal, dan tawa-tawa kecil yang muncul lalu menghilang. Semua bergerak cepat, seperti biasa.

Tidak ada yang istimewa—setidaknya dari luar.

Shaira baru saja turun dari mobil mamanya. Ia tidak pernah benar-benar terbiasa datang ke sekolah dengan kendaraan sendiri. Dari dekat gerbang, ia melangkah pelan, menyesuaikan napas, sambil memperbaiki tali tas di pundaknya.

Tas itu terasa lebih berat hari ini. Tali tasnya sedikit menekan pundaknya, meninggalkan rasa pegal tipis yang baru terasa saat ia berjalan.

Mungkin karena buku tambahan. Atau mungkin karena kepalanya belum sepenuhnya ringan.

Ia baru beberapa langkah berjalan ketika suara motor berhenti di dekat parkiran.

Shaira menoleh hampir refleks.

Raven.

Ia turun dari motornya, helm masih di tangan, rambutnya sedikit berantakan karena angin. Tatapannya langsung tertuju ke Shaira—bukan terburu-buru, tapi pasti. Seolah keberadaannya di sana sudah diperhitungkan.

“Berat?” tanyanya singkat.

Nada suaranya datar. Tapi perhatian itu nyata.

Shaira mengangkat bahu, mencoba terdengar santai. “Biasa aja.”

Raven tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, jaraknya terlalu dekat untuk ukuran orang yang tidak berniat melakukan apa-apa.

Tiba-tiba, tangan Raven sudah meraih tali tasnya.

Tas itu terangkat begitu saja.

“Eh—” Shaira refleks menahan. “Aku bisa.”

Raven sudah keburu menyampirkannya ke bahunya sendiri. Gerakannya tenang, tanpa ragu. Seolah ia sudah sering melakukan hal seperti ini.

“Bisa,” katanya.

Lalu, setelah jeda singkat, “Tapi aku mau.”

Kalimat itu sederhana. Tidak dinaikkan nadanya. Tidak diberi penekanan.

Justru itu yang membuat Shaira kehabisan kata. Seolah perhatian itu datang tanpa memberi ruang untuk ditolak.

Ia menatap Raven. “Nanti dikira aneh.”

Raven melirik sebentar ke sekeliling. Beberapa siswa berlalu-lalang, sibuk dengan urusan mereka sendiri.

“Biarin,” katanya singkat.

Dan tanpa menunggu jawaban, Raven mulai melangkah.

Shaira mengikutinya.

Langkahnya terasa lebih ringan. Bukan karena tasnya berpindah bahu—tapi karena untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak merasa berjalan sendirian.

...----------------...

Di koridor, Nafiz menyusul dari belakang dengan langkah cepat. “Rav, hari ini lo rajin amat.”

Raven tetap berjalan. “Biasa.”

“Biasa?” Nafiz tertawa kecil. “Lo bawa tas orang.”

Shaira refleks ingin meraih kembali tasnya. Ada dorongan kecil di dadanya—malu, bercampur sungkan.

Tapi Raven sedikit menggeser bahunya, menjauhkan tas itu dari jangkauan Shaira.

Gerakannya halus. Protektif, tapi tidak berlebihan.

“Kenapa?” tanya Raven datar.

Nafiz mengangkat tangan. “Oke, oke. Gue cuma bilang.”

Tidak ada candaan lanjutan. Tidak ada ejekan tambahan.

Raven tidak memberi ruang untuk itu.

Dan entah kenapa, justru itu yang membuat Shaira merasa… diposisikan.

Bukan sebagai seseorang yang harus dijelaskan, tapi seseorang yang sudah cukup dimengerti.

...----------------...

Di dalam kelas, suasana masih setengah ramai. Beberapa siswa berdiri, beberapa lainnya sudah duduk sambil mengobrol.

Raven menarik kursi di samping Shaira dan duduk. Tas Shaira ia sandarkan rapi di kaki meja, seolah itu memang tempatnya.

“Rav,” panggil seseorang dari barisan belakang. “Sini aja, rame.”

Raven menoleh sebentar. “Enggak.”

Nada suaranya tenang. Tidak defensif. Tidak perlu alasan.

Ia tetap di sana.

Shaira membuka bukunya, tapi sudut matanya menangkap Raven yang bersandar santai di kursi. Seolah tidak ada tempat lain yang lebih penting.

Dan untuk pertama kalinya, Shaira tidak merasa harus layak untuk ditemani.

Ia hanya… ditemani.

...----------------...

Jam pelajaran berjalan.

Raven tidak banyak bicara. Tapi kehadirannya terasa konsisten.

Saat Shaira meminjam penghapus Nara, Raven sudah lebih dulu mendorong kotak pensilnya ke arah meja Shaira.

Saat Shaira terbatuk kecil, Raven menggeser botol minumnya mendekat, tanpa melihat.

Tidak ada satu pun gerakan yang mencolok. Tapi semuanya tepat waktu.

Seorang siswi berdiri di depan pintu kelas.

“Raven,” panggilnya ramah.

Raven menoleh. “Kenapa?”

“Tolong titip absen.”

“Iya.”

Nada suaranya sopan, datar.

Siswi itu melirik Shaira sekilas sebelum pergi.

Raven tidak. Ia justru kembali menunduk ke buku, lalu mendorong selembar catatan ke arah Shaira.

“Ketinggalan,” katanya pelan.

Shaira memperhatikan bagaimana Raven bahkan tidak menoleh lagi ke arah pintu.

Dan Shaira sadar—bukan siapa yang datang yang penting, tapi ke mana Raven selalu kembali.

...----------------...

Di jam istirahat, mereka duduk di bangku dekat kantin. Suasana agak ramai, tapi tidak berisik.

Nara dan Keno pergi membeli minum, meninggalkan Shaira dan Raven berdua.

“Capek?” tanya Raven.

Shaira menoleh cepat. “Enggak.”

Lalu tertawa kecil. “Kok nanya gitu terus sih?”

Raven menatap ke depan. “Soalnya kamu suka bilang enggak.”

Shaira terdiam. Kalimat itu terlalu akurat.

“Kamu merhatiin banget,” gumamnya, sambil menatap ujung sepatunya.

Raven mengangkat bahu. “Kebiasaan.”

Jawaban itu terdengar ringan.

Tapi Shaira tahu—kebiasaan itu bukan sesuatu yang Raven lakukan tanpa alasan.

...----------------...

Setelah istirahat, Shaira harus ke ruang guru.

Ia berdiri sambil merapikan buku di tangannya, bersiap melangkah sendiri seperti biasa.

Namun, di saat yang hampir bersamaan, Raven ikut berdiri.

Shaira menoleh, sedikit terkejut.

“Kamu mau ke mana?” tanyanya, nada suaranya refleks.

“Aku temenin,” jawab Raven singkat.

Tidak ada penjelasan lanjutan.

Raven tidak ikut masuk ke ruang guru. Tapi ia juga tidak kembali ke kelas, tidak bergabung dengan yang lain. Ia hanya berdiri di koridor, bersandar pada dinding dekat pintu, seolah itu keputusan yang sudah ia buat bahkan sebelum Shaira bertanya.

Shaira melangkah masuk dengan perasaan aneh di dada.

Bukan karena diperhatikan. Tapi karena… ditemani tanpa harus diminta.

Di dalam ruang guru, urusan Shaira selesai lebih cepat dari yang ia kira. Beberapa menit kemudian, ia melangkah keluar.

Langkahnya otomatis melambat.

Raven masih di sana.

Bersandar di dinding yang sama, ponsel di tangannya, layarnya menyala tapi tidak benar-benar ia perhatikan.

Begitu Shaira muncul, pandangannya langsung terangkat. Cepat. Seolah sejak tadi, itulah yang ia tunggu.

“Kukira kamu udah balik,” ucap Shaira pelan.

“Enggak.”

Satu kata. Pendek. Tanpa nada khusus.

Tapi di kepala Shaira, kata itu terasa lebih panjang.

Enggak—aku nunggu. Enggak—aku di sini. Dan tanpa sadar, Shaira tersenyum kecil.

...----------------...

Hujan turun pelan setelah pelajaran terakhir.

Bukan hujan deras yang memaksa semua orang berlari, tapi cukup untuk membuat langkah melambat dan waktu terasa lebih panjang.

Mereka berteduh di depan kelas.

Udara berubah dingin, lebih lembap. Suara hujan jatuh ke lantai keramik membentuk irama halus, menenangkan.

Raven berdiri di samping Shaira, tasnya masih tersampir di bahu. Sudah lama di sana, tapi ia tidak pernah mengeluh.

Shaira melirik ke arahnya.

“Kamu nggak bosen?” tanyanya pelan. “Dari tadi bawain.”

Raven menoleh sebentar. Tatapannya singkat, tapi fokus. “Mau diambil?”

Nada suaranya datar, bukan menggoda. Seolah pilihan itu benar-benar ada di tangan Shaira.

Shaira menggeleng kecil. “Enggak.”

Raven mengangguk.

“Ya udah.”

Dan itu saja.

Tidak ada pembahasan lanjutan. Tidak ada penjelasan kenapa ia mau melakukan ini. Seolah hal-hal seperti itu tidak perlu dijustifikasi.

Hujan terus turun.

Mereka diam, berdiri berdampingan, cukup dekat untuk saling menyadari napas satu sama lain, tapi tidak saling menuntut percakapan.

Diam yang tidak canggung. Hanya suara hujan yang mengisi ruang di antara mereka.

“Rav,” panggil Shaira akhirnya.

“Hm?”

“Makasih.”

Raven menoleh. Alisnya sedikit naik. “Buat apa?”

Shaira terdiam beberapa detik. Ia mencari kalimat yang tepat, lalu akhirnya menyerah.

“Buat… banyak hal.”

Raven menatapnya sebentar lebih lama dari biasanya. Tidak menyelidik. Tidak juga bertanya.

Ia hanya mengangguk kecil. “Sama-sama.”

Dan entah kenapa, Shaira merasa… dimengerti tanpa harus menjelaskan.

...----------------...

Di gerbang sekolah, hujan sudah hampir reda.

Raven menurunkan tas itu dari bahunya dan menyerahkannya kembali pada Shaira. Gerakannya hati-hati, seolah barang itu lebih dari sekadar tas.

“Kamu pulang sama Nara?” tanyanya.

“Iya.”

“Hati-hati.”

Shaira menatapnya beberapa detik sebelum bertanya, “Kamu ke mana?”

“Latihan.”

“Oh.” Shaira mengangguk. Lalu, tanpa sadar, tersenyum kecil. “Semangat.”

Raven membalasnya dengan senyum tipis. Hampir tidak terlihat. Sekilas. Seolah hanya lewat.

Tapi Shaira melihatnya. Dan itu cukup.

Di perjalanan pulang, Shaira akhirnya mengerti.

Motor melaju pelan di antara sisa hujan yang masih meninggalkan jejak basah di aspal. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantul di genangan kecil yang tersisa. Angin sore menyentuh wajahnya, dingin tipis, tapi tidak mengganggu.

Pikirannya justru terasa lebih jernih dari biasanya.

Tidak ada momen besar hari ini. Tidak ada pengakuan yang membuat jantung berdegup kencang. Tidak ada janji yang diucapkan dengan suara serius.

Dan anehnya, Shaira tidak merasa kekurangan apa pun.

Karena Raven tidak hadir dalam bentuk kata-kata. Ia hadir dalam pilihan-pilihan kecil.

Dalam langkah yang menunggu di luar ruang guru tanpa diminta. Dalam tas yang ia bawa sejak pagi tanpa pernah dibahas. Dalam obrolan yang ia hentikan sebelum melukai. Dalam jarak duduk yang ia dekatkan tanpa menyentuh.

Hal-hal sederhana. Nyaris tak terlihat. Tapi dilakukan berulang. Dan tidak berubah.

Shaira menyadari sesuatu yang pelan tapi pasti—

Raven tidak membuatnya merasa harus bersaing. Ia juga tidak pernah menuntutnya menjadi lebih dari dirinya sendiri. Dan ia tidak membuat Shaira membandingkan diri dengan masa lalu yang bahkan tidak ia alami.

Ia tidak sedang diperebutkan. Tidak diuji. Tidak ditimbang-timbang.

Ia tinggal.

Dan Raven memilih tinggal di situ bersamanya.

Pilihan itu tidak diumumkan. Tidak dibanggakan. Tidak dijadikan pembuktian. Tapi justru karena itu, rasanya menenangkan.

Dan hari ini, di tengah semua hal kecil yang terlihat sepele bagi orang lain, Shaira merasa aman dengan caranya sendiri.

Bukan karena dimenangkan. Bukan karena mengalahkan siapa pun.

Tapi karena, tanpa perlu diminta, tanpa perlu dipertanyakan, ia dipilih.

...----------------...

...“Raven — selalu memilih tinggal.”...

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!