Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Konfrontasi Akhir
Langkah di Lorong Sunyi
Lantai koridor sayap timur terasa bergetar di bawah telapak kaki Elara, atau mungkin itu hanya ilusi dari syarafnya yang mulai menyerah. Jubah hitam yang ia kenakan terasa seberat timah, namun ia membutuhkannya untuk menyembunyikan tubuhnya yang terus-menerus menggigil. Setelah menguras energi Void untuk menghidupkan kembali taman Asteria dari racun korosif pagi tadi, Elara merasa seolah jiwanya sedang dikuliti perlahan dari dalam. Aroma mawar Asteria yang kini mekar dengan guratan perak masih menempel samar di pakaiannya, kontras dengan bau pengap dinding batu yang dingin.
"Nyonya, biarkan saya memanggil pengawal," bisik Rina saat mereka sampai di persimpangan jalan menuju kamar kaisar. "Wajah Anda tidak hanya pucat, Anda terlihat seperti mayat yang berjalan."
"Tidak, Rina. Kembali ke paviliun sekarang," perintah Elara, suaranya parau namun tidak terbantah. "Jika ada pengawal di dekatku, dia tidak akan berani muncul. Aku butuh dia merasa memiliki kesempatan."
"Tetapi jika dia benar-benar membawa senjata... Anda dalam kondisi tidak stabil," Rina mencengkeram lengan Elara dengan cemas.
"Justru karena aku tidak stabil, dia akan meremehkanku. Pergilah, Rina. Ini adalah perintah terakhirku untuk malam ini. Jangan keluar sampai fajar menyingsing, apa pun yang kau dengar," Elara melepaskan cengkeraman Rina dengan lembut namun tegas.
Rina membungkuk dalam, air mata tampak menggenang di sudut matanya sebelum ia berbalik dan menghilang di balik kegelapan tikungan koridor. Elara menarik napas panjang, merasakan paru-parunya berdenyut nyeri. Ia menyandarkan punggungnya sejenak pada pilar marmer yang dingin, mencoba mengumpulkan sisa-sisa energi di sirkuit Void-nya. Tangan kanannya kini benar-benar mati rasa hingga ke siku, namun ia bisa merasakan residu energi korosif Elena yang ia serap tadi pagi masih bergejolak di sana, siap untuk dilepaskan kembali.
Ia mulai berjalan lagi, langkahnya sengaja dibuat sedikit terseret. Suara denting lampu minyak yang tergantung di langit-langit koridor menjadi satu-satunya musik pengiring malam itu. Elara tahu Elena sedang mengawasinya. Ia bisa merasakan hawa kebencian yang tajam, sebuah frekuensi energi hitam yang tidak stabil, bersembunyi di balik bayangan pilar-pilar besar di depan sana.
"Keluarlah, Elena," suara Elara bergema di lorong yang sunyi. "Kau tidak pernah pandai menyembunyikan bau belerang dari sihirmu yang gagal itu."
Keheningan menyelimuti selama beberapa detik, sebelum sesosok bayangan melangkah keluar dari kegelapan. Elena tidak lagi mengenakan gaun merah mewahnya yang angkuh. Ia mengenakan pakaian pelayan yang kusam, rambutnya berantakan, dan matanya membelalak dengan kegilaan yang murni. Di tangan kanannya, sebuah belati upacara perak berkilauan terkena cahaya lampu minyak yang redup.
"Kau pikir kau sudah menang karena kaisar mencium tanganmu yang busuk itu?" desis Elena, suaranya gemetar oleh kemarahan yang meluap. "Kau pikir kau bisa menggunakan sihir rendahanmu untuk mempermalukanku di depan Vane?"
"Aku tidak mempermalukanmu, Elena. Kau melakukannya sendiri saat kau mencoba merusak bunga yang tidak bisa kau tumbuhkan," Elara berhenti sepuluh langkah di depan Elena, menatap belati itu dengan tatapan datar. "Mengapa kau membawa pisau? Di mana sihir hitam yang selalu kau banggakan itu? Apakah sudah habis tertelan oleh mawar-mawarku?"
"Diam! Kau tidak tahu apa-apa tentang kekuatanku!" Elena menerjang maju, namun langkahnya limbung. "Sekte telah menjanjikanku segalanya, dan kau datang hanya untuk menghancurkannya. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kau harus mati sebagai pengkhianat yang mencoba membunuhku!"
"Cobalah, Elena. Mari kita lihat apakah tanganmu yang gemetar itu bisa menembus kulitku sebelum jiwamu sendiri habis terbakar," Elara sengaja memprovokasi, melebarkan tangannya seolah menyerahkan diri.
Gesekan Belati dan Jiwa
Elena menjerit, sebuah suara parau yang penuh dengan keputusasaan, lalu berlari menerjang Elara. Elara memiliki kesempatan untuk menggunakan sihir Void untuk melempar Elena ke dinding, namun ia menahan insting itu. Ia teringat pada strategi pilihan ketiganya. Ia butuh bukti fisik. Ia butuh Elena menjadi penyerang di mata hukum kekaisaran.
Sedikit lagi... batin Elara menghitung jarak.
Saat belati itu terayun ke arah dadanya, Elara memutar tubuhnya dengan gerakan yang tampak lambat karena kelelahan. Belati perak itu hanya menyayat lengan atasnya, merobek kain jubah hitam dan kulitnya. Rasa perih yang tajam menyengat sarafnya, dan darah hangat mulai merembes keluar. Elara meringis, namun ia menggunakan momentum itu untuk mencengkeram pergelangan tangan Elena dengan tangan kanannya yang hitam di balik sutra.
"Aku menangkapmu," bisik Elara di telinga Elena saat tubuh mereka bertabrakan.
"Lepaskan aku! Dasar iblis!" Elena mencoba menusuk lagi, namun Elara menekan telapak tangannya tepat ke ulu hati Elena.
Kontak fisik itu memicu protokol penyerapan Void secara instan. Elara memejamkan matanya, merasakan aliran energi hitam yang kotor dan tidak stabil mengalir dari tubuh Elena ke dalam sirkuit energinya sendiri. Ini bukan sihir yang dimurnikan; ini adalah residu mentah dari entitas Void yang selama ini dikonsumsi Elena. Rasanya seperti menelan cairan logam mendidih. Elara merasakan pembuluh darah di lehernya menonjol, dan penglihatannya memerah.
"Apa... apa yang kau lakukan...?" suara Elena melemah. Matanya yang tadi penuh kegilaan kini mulai meredup, digantikan oleh ketakutan yang luar biasa. "Kau... kau menghisapku..."
"Aku tidak menghisapmu, Elena. Aku hanya mengambil kembali apa yang tidak pantas kau miliki," Elara mempererat cengkeramannya. "Kau menggunakan kekuatan ini untuk menindas yang lemah. Sekarang, rasakan bagaimana rasanya menjadi kosong."
Elena mulai terengah-engah, tubuhnya melorot ke lantai, namun Elara tetap memeganginya, memaksa proses penyerapan itu tuntas. Ia bisa merasakan energi Elena merosot drastis—dari tingkat master yang sombong menjadi tidak lebih dari rakyat jelata tanpa setetes pun mana di tubuhnya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki penjaga istana terdengar dari ujung koridor yang berlawanan. Elara tahu ini adalah momen yang ia tunggu. Ia sengaja melepaskan cengkeramannya dan membiarkan dirinya terjatuh ke belakang, mendarat di atas ubin dingin dengan posisi yang memperlihatkan luka sayatan di lengannya yang bersimbah darah.
"Tolong...!" Elara bersuara dengan nada yang sangat lemah, sebuah akting yang sempurna dari seorang korban yang teraniaya.
"Berhenti di sana!" teriak seorang penjaga yang muncul dengan obor menyala.
Elena berdiri mematung di tengah koridor, masih menggenggam belati perak yang berlumuran darah Elara. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong, dan napasnya memburu. Di mata para penjaga yang baru tiba, situasinya sangat jelas: Selir Utama Elena, dengan pakaian pelayan yang mencurigakan, baru saja melakukan upaya pembunuhan terhadap penasihat pribadi kaisar yang sedang terluka parah.
"Apa yang terjadi di sini?" Suara bariton yang berat dan penuh otoritas memecah ketegangan.
Valerius melangkah maju dari balik bayangan pengawalnya. Ia mengenakan jubah tidur sutra, wajahnya yang biasanya kaku kini dipenuhi oleh amarah yang membara saat matanya jatuh pada Elara yang tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dari lengan.
"Yang Mulia... dia... dia penyihir..." Elena mencoba berbicara, namun suaranya hanya berupa bisikan serak yang tidak koheren. Kekosongan energi di tubuhnya membuatnya hampir tidak bisa berdiri tegak.
Valerius tidak memandang Elena. Ia segera berlutut di samping Elara, mengangkat kepala wanita itu ke pangkuannya. Tangannya yang dingin menyentuh wajah Elara dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.
"Elara? Bicaralah padaku!" perintah Valerius, suaranya bergetar oleh emosi yang ia sendiri mungkin tidak pahami.
"Dia... dia menyerang saya di kegelapan, Yang Mulia..." Elara berbisik, kelopak matanya bergetar. "Saya hanya ingin... membawakan laporan taman... tapi dia..."
Valerius mendongak ke arah Elena. Tatapannya kini bukan lagi tatapan seorang kekasih atau kaisar, melainkan tatapan seorang algojo. "Elena... kau sudah melampaui batas yang bisa kutoleransi."
"Tidak, Yang Mulia! Dia menjebakku! Dia menyerap kekuatanku!" Elena berteriak histeris, menjatuhkan belatinya yang berdenting nyaring di lantai batu. "Lihat tangannya! Lihat sihir hitamnya!"
Valerius melirik tangan Elara yang terbungkus sarung tangan sutra yang kini basah oleh darah merah segar—darah manusia biasa. Tidak ada tanda-tanda sihir hitam yang keluar dari sana. Di mata Valerius, Elena hanyalah seorang wanita pencemburu yang sudah kehilangan akal sehatnya.
"Tangkap dia," perintah Valerius kepada para penjaga dengan suara yang dingin seperti es. "Bawa dia ke penjara bawah tanah. Tidak ada seorang pun yang boleh menemuinya, termasuk Panglima Vane. Jika dia melawan, patahkan kakinya."
"Yang Mulia! Jangan! Valerius!" jeritan Elena bergema di sepanjang koridor saat para penjaga menyeretnya pergi dengan kasar.
Elara memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya lebih dalam pada dada Valerius. Di balik rasa sakit yang berdenyut di lengannya dan rasa mual akibat menyerap energi kotor Elena, ia merasakan sebuah kepuasan yang dingin. Elena telah jatuh. Faksi militer lama kini telah kehilangan pion utamanya di dalam istana.
"Tetaplah bersamaku, Elara. Jangan tutup matamu," Valerius berbisik, tangannya membelai rambut Elara dengan posesif. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi. Siapa pun."
Elara tidak menjawab. Ia hanya membiarkan dirinya hanyut dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri, sebuah kemenangan yang dibayar dengan darah, tepat seperti cara Valerius menghancurkan Asteria dulu.
Sisa Kehancuran di Balik Selimut
Aroma tajam obat-obatan herbal dan kain kasa yang direndam dalam alkohol menyambut kesadaran Elara saat ia membuka mata. Ia tidak lagi berada di koridor yang dingin, melainkan di atas ranjang luas dengan kelambu sutra berwarna merah tua—kamar pribadi kaisar. Di samping tempat tidur, sebuah baskom perak berisi air yang kini memerah menunjukkan bahwa seseorang baru saja membersihkan lukanya. Elara mencoba menggerakkan lengan kirinya, namun rasa nyut-nyutan yang tajam segera memperingatkannya untuk tetap diam.
"Jangan bergerak dulu," suara Valerius terdengar dari kegelapan di sudut ruangan. Ia duduk di kursi kayu tinggi, masih mengenakan jubah tidur yang sama, namun matanya terlihat merah akibat kemarahan yang belum sepenuhnya padam. "Tabib sudah menjahit sayatan di lenganmu. Dia bilang belati itu beracun, tapi anehnya, racunnya seolah kehilangan kekuatannya saat menyentuh darahmu."
Elara menarik napas pendek, merasakan jantungnya berdetak tidak teratur. Ia tahu mengapa racun itu gagal; sihir Void di dalam tubuhnya telah melahap komponen sihir dalam racun tersebut sebelum sempat menyebar. "Selir Elena... di mana dia, Yang Mulia?"
"Di tempat yang seharusnya ia huni sejak lama. Penjara bawah tanah, di sel yang paling dalam," Valerius bangkit dan berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menatap Elara dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara perlindungan posesif dan kecurigaan yang tersisa. "Dia meracau tentang kau yang mencuri kekuatannya. Dia bersumpah bahwa kau adalah monster yang menggunakan sihir hitam Asteria untuk melumpuhkannya."
"Orang yang kehilangan akal akan mengatakan apa saja untuk menyelamatkan diri, Yang Mulia," Elara menjawab dengan suara yang sengaja dibuat bergetar. Ia menatap tangannya yang kini terbungkus perban putih bersih. "Saya hanya seorang tawanan yang mencoba bertahan hidup. Bagaimana mungkin saya memiliki kekuatan untuk melumpuhkan seorang penyihir sehebat Selir Utama?"
Valerius terdiam, jemarinya membelai pinggiran perban di lengan Elara. "Vane mencoba mengajukan protes tadi. Dia bilang penahanan Elena tanpa pengadilan terbuka akan memicu gejolak di militer. Aku mengusirnya. Aku mengatakan padanya bahwa jika dia lebih peduli pada seorang selir yang mencoba membunuh penasihatku daripada keselamatan istana, maka dia bisa bergabung dengan Elena di sel bawah tanah."
Elara merasakan kemenangan kecil itu berdenyut di dadanya. Ia telah berhasil memutus jalur komunikasi antara Elena dan faksi militer lamanya. Tanpa kehadiran fisik Elena untuk memberikan perintah atau energi sihir, Vane akan kehilangan arah. Namun, Elara juga tahu bahwa tubuhnya sendiri sedang berada di ambang kehancuran. Energi kotor yang ia serap dari Elena pagi ini terasa seperti lumpur panas yang menyumbat sirkuit energinya.
"Anda sangat baik pada saya, Yang Mulia," bisik Elara, mencoba memberikan senyum lemah. "Padahal saya hanyalah pengingat akan masa lalu yang ingin Anda lupakan."
Valerius mencengkeram bahu Elara, tidak cukup keras untuk menyakiti, namun cukup kuat untuk menunjukkan intensitasnya. "Kau bukan hanya pengingat, Elara. Kau adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di istana yang penuh dengan kepalsuan ini. Elena mencoba menghancurkanmu karena dia tahu kau adalah kelemahanku. Dan aku tidak akan membiarkan kelemahanku dihancurkan oleh siapa pun."
Dilema martabat kembali membayangi batin Elara. Kata-kata "kelemahanku" dari mulut seorang pria yang membakar keluarganya adalah sebuah penghinaan yang dibungkus dengan sanjungan. Elara ingin meludahi wajah pria itu, namun ia memilih untuk memejamkan mata dan membiarkan Valerius mencium keningnya—sebuah pengkhianatan terhadap jiwanya sendiri demi misi yang lebih besar.
"Istirahatlah di sini malam ini. Pengawal pribadiku akan menjaga pintu," kata Valerius sebelum berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. "Besok, aku akan mengumumkan bahwa posisi Selir Utama telah dicabut. Istana ini butuh struktur baru, Elara. Dan aku ingin kau membantuku membangunnya."
Gema yang Merayap
Setelah Valerius tenggelam dalam tumpukan dokumennya, Elara berbaring diam, menatap bayangan kelambu yang bergerak pelan ditiup angin malam. Di balik ketenangan pura-puralnya, ia sedang bertarung melawan rasa sakit yang luar biasa. Tangan kanannya yang tersembunyi di bawah selimut terasa seperti terbakar. Ia bisa merasakan energi Void hitam milik Elena—energi entitas yang busuk—mencoba merusak sirkuit energi aslinya.
Aku harus memurnikannya... sekarang juga, batin Elara.
Dengan sangat hati-hati, ia memusatkan fokusnya. Ia menggunakan teknik analisis molekuler yang telah ia sempurnakan (Void Lv 1.2). Ia tidak mencoba membuang energi itu, karena itu akan membuang-buang sumber daya. Sebaliknya, ia mulai memecah partikel energi kotor Elena, memisahkan kebencian dan residu entitas dari kekuatan murni yang tersisa.
Secara perlahan, denyut menyakitkan di lengannya mulai mereda, berganti dengan rasa dingin yang menenangkan. Energi itu kini mulai menyatu dengan miliknya, meningkatkan kapasitas Void-nya lebih jauh lagi. Namun, setiap inci kekuatan baru yang ia dapatkan seolah-olah menambah lapisan kegelapan di dalam batinnya. Ia mulai kehilangan rasa belas kasihan; yang tersisa hanyalah kalkulasi dingin tentang siapa lagi yang harus jatuh.
Ia teringat pada Kaelen. Jenderal setianya itu pasti sedang menunggu kabar di luar tembok istana. Elara butuh memberitahunya bahwa tahap pertama telah selesai. Elena sudah jatuh, namun faksi militer lama masih memiliki taring melalui Panglima Vane.
Besok, aku harus mengonsolidasikan dukungan dari para pelayan dan rakyat rendah, pikir Elara. Ia merencanakan untuk menggunakan momen pemulihan taman Asteria sebagai alat propaganda—sebuah tanda bahwa kehadirannya membawa berkah bagi kekaisaran yang selama ini gersang di bawah sihir hitam Elena.
Malam itu, di kamar kaisar yang megah, Elara tidak tidur dengan nyenyak. Ia bermimpi tentang matahari Asteria yang perlahan-lahan tertutup oleh gerhana hitam. Namun dalam mimpinya, ia tidak lagi merasa takut. Ia justru berdiri di tengah kegelapan itu, memegang mahkota yang terbuat dari duri dan darah, siap untuk memimpin dunia yang telah ia hancurkan sendiri.
Saat fajar mulai menyingsing, cahaya oranye pucat menembus jendela kamar, menyinari wajah Elara yang kini tampak lebih tegas. Luka di lengannya mulai mengering dengan kecepatan yang tidak wajar, meninggalkan bekas luka tipis yang akan selalu mengingatkannya pada malam di mana ia mempecundangi seorang penyihir dan seorang kaisar sekaligus. Konfrontasi akhir telah usai, namun perang yang sesungguhnya—perang untuk menduduki tahta sebagai ratu yang absolut—baru saja dimulai.