Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gula dan kopi
Ternyata Ibunya sudah menyiapkan masakan yang enak untuk menyambut kedatangan tamunya itu, sebelum mereka datang memang beberapa hari yang lalu mereka sudah memberitahukan bahwa mereka akan datang. Oleh karenanya masih ada waktu untuk mempersiapkan semuanya, dan hingga persiapan itu telah sempurna.
"Tadi kalian langsung kemari apa?" Tanya Yanti.
"Iya Bun, ada apa?"
"Nggak papa, mana katanya mau ngomong penting. Kok sampe sekarang nggak ngomong ngomong," Tanya Yanti.
"Nggak tau juga, tunggu saja nanti."
"Baiklah. Yaudah, ayo bantuin ngangkat ini kedepan,"
"Baik Bunda,"
Indira pun membantu Yanti untuk mengangkat makanan itu menuju ke ruang tamu tepat dimana Sugik berada, dan satu persatu hidangan itu pun disajikan diatas meja. Indira pun lalu mengambilkan piring untuk Sugik, dan mengambilkan beberapa centong nasi untuk tamunya itu.
"Ayo dimakan," Ucap Yono, Ayah tiri dari Indira.
"Dira, ambilkan lauknya juga itu. Bunda masak banyak kok, kalo cuma sedikit mana cukup," Ucap Yanti sambil menunjuk ke sepotong ayam yang ada di piring Sugik.
"Mau nambah?" Tanya Indira kepada lelaki itu.
"Nggak usah nggak usah, nggak doyan ayam soalnya." Jawab lelaki itu malu malu.
"Udah nggak papa, aku tambahin ya,"
"Nggak usah Dira, udah bosen makan ayam terus,"
Mendengar ucapan dari Sugik, rasanya Indira seperti direndahkan, tidak biasanya ia bisa dimasakkan ayam oleh orang tuanya, namun dihadapan Indira lelaki itu mengatakan hal tersebut. Padahal kedua orang tua Indira juga sudah berusaha untuk menjamu tamunya dengan baik, namun itulah jawaban dari lelaki itu seolah olah tidak menghargai.
Kedua orang tua Indira hanya bisa diam, karena keduanya juga takut menyinggung perasaan dari lelaki itu, namun lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan bagaimana perasaan keduanya saat ini. Mereka berusaha untuk menjamu tamu mereka dengan baik, lantas hal yang tidak baiklah yang mereka terima.
"Dira, kamu nambah ya, Bunda masaknya banyak soalnya," Ucap Yanti.
"Udah Bunda, ini aja belum habis. Nanti kalo lebih Dira bawa pulang ya? Buat bekal dirumah," Ucap Indira.
"Baiklah, bentar Bunda siapkan bekal dulu,"
"Iya Bunda,"
Beberapa hal yang dilakukan oleh Sugik hari ini membuat Indira sangat ragu dengannya, entah mengapa dirinya merasa bahwa nantinya ia tidak akan bahagia jika tinggal bersama dengan lelaki seperti itu. Apalagi ketika mendengar ceritanya, ia bahkan tidak pernah makan nasi berkat karena itu bagian untuk ayam mereka dirumah.
Setelah selesai makan, Indira pun langsung membantu Ibunya untuk membereskan meja makan yang ada disana, dan ia pun ikut Ibunya untuk mencuci piring dibelakang. Apa yang dilakukan oleh Sugik hari ini telah menyinggung perasaan Indira, namun Indira tidak menceritakan hal itu kepada Ibunya.
"Habis ini rencanamu mau kemana?" Tanya Yanti.
"Nggak tau juga Bunda,"
"Nggak jadi kerumah orang tuanya? Katanya habis dari sini langsung kerumah orang tuanya,"
"Mungkin. Lah sampai detik ini juga dia tidak bilang apa apa gitu loh, nunggu dia bilang dulu habis itu langsung ke sana. Oh iya Bunda, masak kesana aku tidak bawa apa apa?"
"Hemm iya juga, gimana kalo kamu belikan sesuatu dulu?"
"Tadinya sih aku mau belikan brounis atau apa gitu, tapi nggak jadi orang dia nggak ngasih kabar. Katanya dari berangkat dari rumah jam 7, eh ternyata molor sampai 10 gitu loh. Jadi ya nggak ada persiapan untuk beli,"
"Kita keluar sebentar saja nyari sesuatu yang bisa dibawa kesana,"
"Beli apa terusan?"
"Ya yang biasanya dipake, kayak gula dan kopi. Pasti akan terpakai dirumahnya nanti,"
"Baiklah, habis ini beli ya."
"Oke."
Indira lalu bilang kepada Sugik untuk keluar sebentar bersama dengan Ibunya, Sugik pun menawari Indira untuk memakai motornya namun Indira menolaknya dan memilih untuk memakai motor milik Ibunya itu.
Setelahnya keduanya langsung melaju pergi dari sana menuju ke suatu tempat, karena rumah tersebut jaraknya lumayan dekat dengan pasar sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya sampai dilokasi tujuan. Indira pun memarkirkan motornya didepan sebuah toko, dan nampak toko itu sepi pembeli.
"Bunda aja yang beli ya, aku tidak tau," Ucap Indira sambil memberikan selembar uang dengan pecahan besar.
"Yaudah kamu tunggu disini saja dulu, biar Bunda masuk sendirian aja,"
"Iya Bunda,"
Untung saja Indira masih punya orang tua yang bisa ia andalkan saat ini, jika dirinya sendirian maka tidak akan ada yang bisa ia andalkan untuk saat ini. Indira pun menunggu Ibunya didepan toko sambil bermain ponsel miliknya, dan tak lama kemudian akhirnya Ibunya selesai membeli hal yang dimaksud.
"Ini nanti kasihkan ke mereka," Ucap Yanti sambil memberikan sesuatu didalam keresek hitam kepada Indira.
"Iya Bunda,"
"Biar tidak dihina oleh mereka jadi kamu harus bawa sesuatu untuk mereka, tunjukkan ketulusanmu,"
"Iya,"
Bukan bermaksud apa apa Ibunya mengatakan hal itu kepada Indira, Yanti sendiri juga memiliki rasa khawatir kepada Indira karena Indira adalah anak orang tidak punya. Berbeda jauh dengan lelaki itu yang notabenenya anak orang kaya, sehingga hal itu takut apabila Indira nanti direndahkan disana.
Tak lama kemudian akhirnya mereka berdua telah tiba dirumah itu, Indira langsung turun dari motornya dan menaruh barang belanjaannya ke dalam rumah. Dirinya pun kembali duduk dihadapan Sugik untuk menemaninya mengobrol, namun Sugik tetap fokus dengan ponselnya.
"Followers t*k tok ku banyak loh, banyak yang mau berteman denganku," Ucap Sugik pamer mengenai followers nya kepada Indira.
"Aku nggak punya," Ucap Indira.
"Mau banyak followersnya tinggal kamu aja sering sering upload vidio, nanti juga banyak sendiri kok followersnya,"
"Nggak tertarik juga,"
Meskipun Indira melihat sendiri bahwa Sugik memiliki begitu banyak followers, tapi Indira sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Indira lebih memilih untuk tidak memiliki followers yang membuatnya terkenal, dan memilih untuk tetap tersembunyi agar tidak banyak orang yang mengenalnya.
Indira hanya menunggu lelaki itu berbicara serius kepada Ibunya, sebelumnya memang perjanjiannya seperti itu dan lelaki itu ingin berbicara serius. Namun hingga sore mereka disana, bahkan sama sekali tidak ada pembicaraan yang serius, usia yang tidak lagi muda seharusnya dirinya paham mengenai hal itu.
"Udah sore, pulang aja yok," Ucap Indira yang sudah kesal.
"Baiklah ayo," Jawab Sugik.
Hingga akhirnya Indira memutuskan untuk pulang saja daripada mereka harus kemalaman nantinya, meskipun begitu sama sekali tidak ada obrolan penting diantara mereka semua. Indira langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya, dan langsung diikuti oleh Sugik yang ikut serta berpamitan.
Keduanya langsung bergegas untuk meninggalkan rumah kedua orang tua Indira, dan hanya ada suasana diam diantara kedua orang itu. Indira juga tidak berminat untuk mengajak lelaki itu mengobrol, karena Indira merasa bahwa lelaki itu memang tidak berniat serius kepadanya.
"Ini langsung pulang apa gimana?" Tanya Sugik ditengah tengah perjalanan mereka.
"Katanya kerumah orang tuamu," Jawab Indira heran.
"Ibuku nggak ada dirumah hari ini, dirinya ada acara pengajian ditempat lain soalnya. Kapan kapan aja kita kesananya,"
"Bukannya emang sudah janjian dari lama ya? Seharusnya kalo mau ada tamu yang akan datang tuh nggak ikut pengajian sekali juga nggak papa,"
"Iya nggak tau, percuma saja kita datang kerumah kalo nggak ada Ibuku."
Indira sudah pasrah dan dirinya benar benar merasa tidak dihargai oleh lelaki itu, ini saja baru perkenalan mereka namun ia sudah tidak dihargai, bagaimana nantinya jika keduanya menikah? Lantas penderitaan seperti apa yang akan dialami oleh Indira nantinya. Benar benar tidak habis pikir, hubungan seperti ini tidak pantas untuk dilanjutkan.
Tak beberapa lama kemudian, akhirnya mereka telah sampai juga didepan rumah Bude dari lelaki itu dan rumah itu berada bersebelahan dengan rumah yang ditinggali oleh Indira. Indira lali turun dari motornya itu, ia langsung berpamitan untuk pulang karena merasa sangat lelah dirinya saat ini.
"Dira," Panggil Sugik ketika Indira melangkah pergi.
"Ada apa?" Tanya Indira sambil menoleh.
"Ini barang bawahanmu ketinggalan,"
Indira lalu melihat sebuah kantong keresek dengan isi penuh yang masih tergantung di gantungan yang ada dimotor itu. Indira mengingatnya bahwa itu adalah gula dan kopi yang dirinya beli sebelumnya, Indira sendiri tidak minum kopi sehingga sangat disayangkan bahwa ada kopi dirumahnya.
"Buat kamu aja," Jawab Indira.
"Loh bukannya ini milikmu ya? Kok dikasihkan ke aku?"
"Anggap saja sebagai hadiah perkenalan, kasihkan saja ke orang tuamu. Bilang kalo itu dari Ibuku,"
"Makasih ya,"
"Iya sam sama."
Indira langsung bergegas untuk meninggalkan lelaki itu, dirinya langsung menuju kerumah tempat dirinya tinggal saat ini. Setelah sampai dia langsung menutup pintu rumah tersebut dan langsung membersihkan tubuhnya karena dirinya ingin segera istirahat saat itu juga.
Setelah semuanya selesai, Indira langsung merebahkan tubuhnya yang kelelahan di kasur kamarnya. Tak lama kemudian ia pun mendengar bahwa ponselnya berdering, ia langsung melihat siapa yang menelponnya, dan ia melihat bahwa Ibunya tengah menelponnya saat ini.
"Ada apa Bunda?" Tanya Indira.
"Kamu dimana?" Tanya Yanti.
"Oh ini dirumah, baru selesai mandi aku. Ada apa Bunda?"
"Kamu nggak jadi kerumah orang tua lelaki itu? Kenapa nggak jadi kesana?"
"Hemm... Katanya orang tuanya nggak dirumah hari ini, jadi nggak jadi datang kesana."
"Loh bukannya sudah janjian ya? Bahkan janjiannya sudah seminggu lebih. Kok nggak ada dirumah?"
"Katanya ada pengajian jadi dia pergi ke pengajian. Sudahlah nggak papa, lagian aku juga capek kalo terus melakukan perjalanan."
"Yaudah kalo gitu."
Seketika itu juga hanya ada keheningan diantara keduanya, Indira sendiri juga takut jika bilang itu kepada Ibunya, namun ia harus bisa memutuskan bahwa ia tidak mau lagi untuk melanjutkan hubungan tersebut. Bukan kebahagiaan yang akan dirinya dapatkan nantinya, justru hanya akan ada kesengsaraan saja.
"Bunda, aku mau ngomong," Ucap Indira ditengah tengah keheningan itu.
"Ngomong apa Dira? Bilang aja sama Bunda,"
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.