NovelToon NovelToon
Sang Putri Hutan, Ratu Pilihan Kingdom Conqueror

Sang Putri Hutan, Ratu Pilihan Kingdom Conqueror

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Raja Tentara/Dewa Perang / Fantasi Wanita / Cinta setelah menikah
Popularitas:207.9k
Nilai: 5
Nama Author: Demar

Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Anak Itu

Lily melangkah keluar menuju taman istana. Udara malam menusuk kulit. Embun menggantung di dedaunan, dan cahaya obor di kejauhan tidak cukup untuk mengusir dingin. Pangeran Adric dan Pangeran Alaric berdiri kaku di bawah pohon tua. Pada akhirnya, nuraninya membawanya ke tempat ini.

Lily menghentikan langkahnya sejenak. Dadanya terasa sesak saat matanya menangkap detail yang tak bisa ia abaikan. Kaki Adric gemetar halus, menopang tubuhnya dengan satu betis yang tampak lebam keunguan. Bekas pukulan itu masih segar, kulitnya terkelupas dan bengkak. Napasnya sedikit tertahan setiap kali ia memindahkan tumpuan ke kaki lain.

"Dia kejam… bahkan pada darah dagingnya sendiri," batin Lily miris.

Ia tidak langsung mendekat. Lily memperhatikan bagaimana Adric berusaha terlihat tetap tegar, berdiri dengan dagu terangkat. Sementara Alaric mulai kehilangan kesadaran, matanya setengah terpejam, kepalanya beberapa kali terangguk sebelum terangkat lagi.

Akhirnya Lily menghampiri mereka dalam diam.

Begitu Adric menyadari kehadirannya, wajah anak itu langsung mengeras.

“Apa yang kau lakukan di sini?” katanya ketus. “Pergi!”

Lily berhenti di hadapan mereka. Tatapannya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diusir mentah-mentah. Ia tidak menanggapi kemarahan Adric. Ia tahu, kata-kata anak itu bukan miliknya sendiri. Pikirannya telah dipenuhi bisikan, dan racun yang ditanam dalam oleh orang tak punya hati di sekitarnya.

“Kenapa kau masih di sini?” Adric mendesak, suaranya meninggi.

Lily menghela napas pelan, tidak berniat basa-basi. “Kuberi dua pilihan,” katanya datar. “Ikut denganku ke Royal Chambers, atau bermalam di sini sampai pagi.”

Adric mendengus. “Aku tidak ingin ikut denganmu.”

“Yakin?” Lily tidak memaksa. Namun sorot matanya bergeser pada Alaric yang hampir tertidur sambil berdiri.

Adric mengikuti arah pandangnya. Ia melihat wajah adiknya yang menguap lebar, lalu mengucek matanya. Perhatiannya jelas sudah terpecah oleh dingin dan kantuk. Seketika hatinya mencelos oleh rasa bersalah. Kalau saja ia tidak membantah papanya, Alaric tidak akan mendapatkan hukuman ini.

Lily mengangkat bahu ringan. “Baiklah, kalau kau tidak ingin ikut.” katanya sambil berbalik. “Aku tidak akan memaksa.”

Langkahnya baru satu ketika suara kecil itu menyusul.

“Tunggu!”

Lily berhenti, senyum tipis terbit di bibirnya sebelum berbalik. Ketika berhadapan dengan Adric, wajahnya kembali datar seolah tidak menantikan jawaban itu.

“Bagaimana jika Papa marah?” tanya Adric ragu.

“Aku tidak peduli,” jawab Lily tanpa ragu. “Bukankah kau juga tidak peduli?”

Adric terdiam lama seolah berpikir keras, lalu akhirnya mengangguk pelan.

Tanpa banyak bicara, Lily berjongkok di hadapan mereka, lalu mengangkat tubuh kedua anak itu sekaligus. Satu lengan menopang Adric, dan satu lagi Alaric.

“Apa yang kau lakukan?!” seru Adric, wajahnya memerah antara terkejut dan malu.

“Tidak usah berpura-pura,” kata Lily ringan. “Kakimu sakit, bukan?”

Ia mulai melangkah menuju Royal Chambers dengan langkah mantap. Ia telah hidup di alam liar sejak lahir, kedua anak ini bukan beban berat bagi tubuhnya.

Di bahu Lily, Alaric membuka matanya sedikit. Ia menatap wajah wanita itu dari jarak dekat, matanya berbinar samar meski kantuk masih menguasai.

“Nenek sihir ini sangat kuat,” pikirnya polos sebelum akhirnya kembali menyandarkan kepala dengan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Lily menggendong kedua anak itu hingga ke kamar mandi Royal Chambers. Uap tipis naik saat air mulai mengalir, memecah dingin yang menempel di kulit mereka sejak dari taman. Begitu air menyentuh kakinya, Alaric tersentak kecil dan membuka mata.

“Dingin,” gumamnya lirih, suara bocah yang baru terbangun setengah sadar.

“Sebentar saja.” jawab Lily singkat.

Ia berjongkok, mencuci kaki Alaric lebih dulu. Jemarinya bergerak cekatan, membersihkan sisa rumput basah dan tanah yang melekat di sela jari. Ia membuka lapisan luar pakaian bocah itu dengan hati-hati, lalu membasuh wajahnya, mengusapnya bersih tanpa tergesa.

“Naiklah ke atas tempat tidur.” katanya setelah selesai.

Alaric mengangguk patuh. Ia melangkah keluar kamar mandi, berjalan perlahan menuju tempat tidur besar yang terasa terlalu luas baginya, lalu naik dan duduk di atasnya.

Lily kemudian menoleh pada Adric.

“Tahan sedikit,” katanya singkat.

Ia mencuci kaki Adric, air membasuh luka di betisnya. Luka itu terlihat lebih jelas di bawah cahaya. Lily membersihkannya perlahan, teliti, sama seperti saat ibundanya membasuh lukanya sewaktu terjatuh di bebatuan Moonveil.

Adric merasakan nyeri menjalar, namun ia mengatupkan rahang, menahan diri agar tidak meringis. Ada perasaan ganjil melihat Lily berjongkok di hadapannya, membersihkan lukanya dengan lembut, tanpa ekspresi kesal atau marah. Namun ia cepat-cepat menepis perasaan itu.

"Dia orang jahat," katanya dalam hati.

“Jangan sok baik padaku.” ketus Adric. Ia memejamkan mata, bersiap menerima amarah. Namun amarah yang ia prediksi tidak pernah datang, sampai ia kembali membuka mata.

Lily tetap membersihkan lukanya dengan hati-hati. Setelah itu ia membuka lapisan luar pakaian Adric dan membasuh wajahnya dengan gerakan yang sama. Ia tidak menghafal, ia hanya mempraktekkan apa yang ibundanya lakukan padanya dan kedua kakaknya sebelum malam datang di Moonveil.

“Sudah, ayo keluar…” katanya.

Alaric duduk bersandar di atas tempat tidur, tiba-tiba merasa tidak mengantuk lagi. Ruangan ini masih terasa asing baginya.

Lily menarik selimut dan menyampirkannya ke tubuh Alaric.

Alaric menatap Lily lekat-lekat. Ia memperhatikan wajah wanita itu dengan saksama, seolah mencoba mencocokkan cerita yang ia dengar dengan kenyataan di depannya.

“Apa dia sungguh nenek sihir jahat?” batinnya ragu.

“Telungkup!” perintah Lily pada Adric.

Ia mengambil mangkuk kayu kecil dan mulai meracik tanaman obat dari Moonveil. Serbuk daun Binahong berwarna hijau tua yang dikenal mampu meredakan bengkak dan memulihkan memar. Lalu ekstrak Lidah Buaya, yang bersifat menenangkan luka dan menghentikan rasa panas. Dan yang terakhir, ia menambahkan bubuk daun Pegangan untuk melengkapi ramuan itu, berfungsi mempercepat pemulihan jaringan. Semuanya di aduk menjadi satu.

Saat obat itu menyentuh kulit Adric, ia meringis tertahan. Rasa perih menjalar singkat namun tajam. Diam-diam, air mata menetes membasahi bantal. Bukan karena sakit, melainkan karena sensasi asing saat ada seseorang mengobatinya tanpa tanpa perintah. Adric cepat-cepat menyeka air matanya agar tidak terlihat.

Lily menyelesaikan pekerjaannya, lalu menutup luka itu dengan sobekan kain bersih.

“Selesai.”

Adric memutar tubuhnya perlahan.

“Kau bisa tidur seperti biasa,” kata Lily sambil menarik selimut hingga menutup tubuhnya. “Jangan terlalu banyak bergerak.”

Ia berhenti sejenak, menatap kedua anak itu. Sejujurnya, hatinya sedikit terenyuh. Meski ayahanda dan ibundanya telah tiada, ia jauh lebih beruntung dari mereka.

“Hari ini adalah hari ini. Tidurlah dengan tenang dan jangan pikirkan apa pun di hari esok.” lanjut Lily dengan suara lebih lembut.

Ia kembali ke kursi di sisi ruangan, duduk dengan punggung menghadap tempat tidur. Eri masih berbaring di bawah kursi, enggan berpindah seolah tahu tuannya sedang memiliki kesibukan.

Dari balik selimut, Adric dan Alaric menatap punggung wanita itu dengan perasaan yang tak mampu mereka namai.

1
Andi
knp tdk ada up??????
Lisna Saris
mmmm modussnyaaa
Moren Arzie Jimin
lily serupa mama nya🤭
listia_putu
semoga stelah ini hubungan chris dan pangeran lebih hngat ya. kan udh ada lily di antara mereka
Aretha Shanum
e eleh modus modus, gengsi aja digedein , makan tuh gengsi, rasain sakit atas bawah
💃💃 H💃💃💃
gk sabar nunggu up nya thorrr 😍😍
dwi alfiah
dia lgi caper lily
Bunda Hilal
astagaaa jahatnya kau jandiiiiis
Nita Nita
chris pengen dimanja juga😄
MomRea
mungkin selama ini King Christopher kurang kasih sayang orang tua, jadi ada yg perhatian dikit, terus minta lebih di utamakan 😄😄
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
van aurora
ehmm..sesama jomblo akut kayanya si arick ini...modus erick modus
Umu Istinaroh
halah alesan kamu chris biar d temeninin ma lili terus.
murni ali
Modus king Chris tumbalin pengawal arick biar 🤭😁😁Semangattt king ngerayu nya💪💪🤭

Semangattt terus mbak penulis sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
Terimakasih up nya hari ini 🙏🙏
Mien.pters
King Cristopher mulai berakting nih
Engkar Sukarsih
aduh...mama ini raja king cristopher banyak modusnya 😇😇😇😇
Engkar Sukarsih
yang mana nih ,yang nyerinya king cristopher 🤪🤪🤪🤪
mery harwati
Putri Liliane datanglah ke kamar raja dengan dua pangeran itu, agar raja tau rasanya kecewa tak bisa berduaan denganmu Putri Liliane 😛
Aq kasih kopi biar tambah semangat mengerjai raja yang ingin mengerjaimu Lili💪
Biyan Narendra
Teruslah tumbuh,berkembang dan mekar para pangeran
mery harwati
Christ pasti berharap Liliane datang sendiri ke kamarnya, tapi kenyataannya Liliane akan mengajak Adric & Alaric dengan alasan mereka berdua sedih karena "papa" terluka oleh Jandice
Dan zonk lah harapan Chris untuk berduaan dengan Liliane 😛🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!