Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil Tua
Raka tidak berniat pergi ke sana, hari Minggu lagi, atau mungkin Senin—ia tidak lagi membedakan. Waktu berjalan dalam satu warna: abu-abu, pudar, tanpa arti. Tapi kakinya membawanya ke tempat ini, seperti biasa, seperti selalu, tubuh yang lebih tahu jalan pulang
Garasi kecil di belakang rumah pamannya. Tempat ia menyimpan mobil tua setelah menjualnya tiga bulan lalu—tidak, empat bulan, atau lima? Waktu berjalan aneh, melipat dan meregang, seolah tidak lagi mengikuti aturan yang dulu ia kenal.
Pamannya, Pak Tarno, melihatnya datang dari dalam rumah. Pria berusia enam puluh tahun mengenakan kaus oblong dan celana training, rambut putih yang tidak pernah dicat hitam seperti Ibu Rini. Ia tidak bertanya apa yang Raka cari hanya mengangguk, seolah tahu, mengerti bahwa beberapa hal tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
"Di situ, Ra," Pak Tarno menunjuk ke sudut garasi. "Pama belum sempat apain. Mau kamu bawa pulang?"
Ia menggeleng mobil itu bukan lagi miliknya, bukan bagian dari hidup yang bisa ia jalani.
Tapi ia berjalan ke sana melihat menatap dan mengingat.
---
Mobil Toyota Kijang 1997. Warna hijau tua, cat mengelupas di beberapa tempat, bemper depan penyok karena insiden lucu—Kinan belajar mundur dan menabrak tiang listrik, lalu tertawa terbahak-bahak sementara Raka panik memeriksa kerusakan.
"Aku bilang juga apa, Mas nggak bisa mundur hanya bisa maju. Kayak hidup."
Raka hanya tersenyum masam mengomel melihat nya tertawa meski kusut, rumit dan penuh masalah.
Ia membuka pintu, bau kulit sintetis sudah usang, parfum mobil yang Kinan beli di supermarket dan selalu diganti setiap bulan, bau rokok kretek sesekali ia isap saat stres—meski Kinan selalu protes, "Mas, aku nggak mau menjadi janda karena kamu kena kanker paru-paru."
Di dasbor, ada bekas stiker yang ia lepas dengan susah payah: "Baby on Board" Kinan tempel saat mereka berencana punya anak, dua tahun lalu, sebelum diagnosis datang dan merubah segalanya. Bekas lengket masih ada, jejak putih di cat mengelupas, seperti luka sembuh tapi meninggalkan bekas.
Di kaca spion, gantungan kecil: boneka kelinci warna pink, dengan mata buton sudah longgar satu. Hadiah dari Kinan untuk ulang tahun Raka yang ke-30, dengan kartu yang kini ia simpan di dompet—"Untuk suami yang kadang kelinci, kadang singa. Tapi selalu punya hati sebesar mobil tua ini. I love you, Sayang."
Raka mengambil boneka itu lalu mengecupnya lembut meski tahu ini bodoh, meski tahu tidak ada artinya.
---
Tiga tahun lalu. Raka baru mendapatkan mobil ini—warisan dari ayahnya yang meninggal, ia perbaiki dengan seluruh tabungan dimilikinya saat itu. Mobil tua, boros bensin, sering mogok, tapi miliknya. Milik mereka.
Kinan naik bersama dengan bunga-bunga dari gerobaknya yang ia pindahkan ke mobil. "Mobil pengantin, Mas," katanya, menempel stiker bunga di kaca "Kita bakal sering jalan-jalan me pantai, pegunungan. Ke mana pun. Asal bareng."
Dan mereka pergi ke Pantai Parangtritis berlari mengejar ombak, mengambil foto-foto buram dengan ponsel bekas.
Ke Dieng, di mana Kinan menggigil kedinginan meski sudah membawa tiga jaket, dan Raka memeluknya di dalam mobil mesin menyala heater rusak. Di Taman bunga di lereng Gunung Merapi, ia menangis melihat bunga-bunga indah dan berkata—"Suatu hari, Mas, aku pengen punya kebun kayak gini. Kecil aja buat kita berdua."
Suatu hari. Kata-kata yang selalu mereka ucapkan, yang selalu mereka tunda, kini tidak akan pernah tiba.
---
Setahun lalu.
Diagnosis: kanker ovarium stadium dua. Kata-kata yang terdengar seperti bahasa asing, seperti kutukan, lelucon kejam yang tidak lucu. Raka mengemudikan mobil ini, pulang dari rumah sakit bersamanya diam di kursi penumpang. Tidak menangis. Tidak bicara. Hanya menatap jendela, menatap dunia yang lewat, seolah mencoba menghabiskan waktu tiba-tiba terasa singkat.
"Kita lawan, Nan," kata Raka saat itu, suaranya tegas meski tangannya gemetar di setir. Mas bakal cari uang..akan kita lawan."
Ia menoleh sembari tersenyum. Senyuman yang sama, terlalu cerah untuk seseorang baru saja mendengar kematian mengetuk pintu. "Iya, Mas kita lawan. Tapi... tapi kalau nanti uangnya nggak cukup, kalau nanti..."
"Nggak ada kalau nanti," potong Raka tegas "Ada. Pasti ada."
Tapi uang tidak ada. Tabungan habis dalam enam bulan. Pengobatan memakan biaya yang tidak pernah mereka bayangkan—jutaan per bulan, puluhan juta per tahap, uang yang tidak mereka miliki dan tidak bisa mereka pinjam selamanya.
Mereka mulai menjual. Perhiasan pernikahan yang tidak pernah Kinan kenakan—"Nggak perlu mewah-mewah, Mas, yang penting kita bahagia." Televisi, kulkas, mesin cuci. Harta benda yang dulu mereka kumpulkan dengan susah payah, kini dijual dengan harga murah kepada orang asing yang tidak tahu cerita di baliknya.
Lalu mobil ini.
Raka ingat momen itu jelas. Malam hari, di garasi ini, dengan Kinan yang duduk di kursi penumpang—terlalu lemah untuk berdiri lama, terlalu sakit untuk berjalan jauh. Mereka menatap kenangan yang melekat pada setiap inci, menatap satu-satunya yang tersisa dari kehidupan yang dulu mereka kenal.
"Jual aja, ya dik,"ucap Raka pelan, hampir tidak terdengar di tengah dengung mesin pendingin ruangan. " Mas nggak butuh mobil. tapi biaya pengobatan. Mas... gak ingin .. ."
Kinan menangis dalam pelukannya "Mas.. mobil ini rumah... ini tempat kita. Ini..."
"Ini mobil, Nan" Ia memotong lembut menggenggam tangan—kurus, pucat, dengan bekas jarum infus menghiasi—lalu mengelus rambutnya . "Ini cuma benda sayang, kamu lebih penting dari semuanya. Kita... kita masih punya kenangan. Di sini."Raka menepuk dadanya. "Di sini. Nggak bisa dijual. Nggak bisa hilang."
Mobil itu akhirnya dijual ke pamannya dengan harga murah tidak sepadan dengan kenangan, tapi cukup untuk dua siklus kemoterapi. Dua siklus yang kemudian menjadi empat, delapan, enam belas. Dua siklus yang kemudian tidak cukup, hanya memperpanjang sementara, yang kemudian tidak mengubah akhir.
Kini, melihat mobil ini lagi, Raka bertanya pada diri sendiri: Apa gunanya? Apa gunanya menjual segalanya, jika akhirnya tetap kehilangan?
---
Raka duduk di kursi pengemudi. Posisi yang sama, bau yang sama, sunyi yang sama—tapi tanpa Kinan di sampingnya. Tanpa tangan yang menggenggamnya saat ia mengemudi. Tanpa suara yang menyanyikan lagu dangdut sumbang. Tanpa alasan untuk pergi ke mana pun.
Ia memutar kunci kontak. Mesin menyala bunyi kasar yang familiar—bunyi yang selalu membutuhkan beberapa detik untuk "membangunkan diri," seperti kata Kinan. "Mobil kita tua, Mas, kayak kita nanti. Pelan, tapi masih jalan."
Tua. Ya. Mereka berencana tua bersama. Berencana menjadi nenek kakek berdebat tentang garam terlalu banyak atau terlalu sedikit. Berencana memiliki cucu yang akan mereka ceritakan tentang mobil tua ini, tentang pantai, gunung, cinta yang tidak pudar.
Raka mematikan mesin Tidak sanggup mendengar mesin menyala. Pamannya muncul di pintu garasi menatapnya tidak bicara, hanya menunggu.
"Aku nggak bisa bawa pulang, Pak," katanya turun dari mobil menutup pintu. "Aku... nggak sanggup."
Pak Tarno mengangguk mengerti, atau berpura-pura mengerti—Raka tidak peduli. Yang penting ia tidak ditanya, tidak diberi nasihat, tidak diminta untuk "kuat" atau "sabar" atau kata-kata kosong lainnya.
"Di sini aja, Ra," kata pamannya akhirnya. "Sampai kamu siap."
Raka menatap pamannya sendu
"Makasih Paman... untuk semuanya."
Ia berjalan keluar dari garasi tidak menoleh lagi belakang, Namun baru saja beberapa langkah pamannya menjerit kuat
" Raka...coba kamu kemari lagi, lihat mobilnya hidup sendiri."
mampir 🤭