"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - RENCANA BALASAN
Kiara keluar dari rumah sakit tiga hari kemudian dengan instruksi ketat untuk bed rest. Arkan menjemputnya dengan sikap canggung, tidak banyak bicara, seperti tidak tahu harus bersikap bagaimana pada istri yang tiba-tiba berubah total.
"Kamu... sudah lebih baik?" tanyanya saat membukakan pintu mobil.
"Secukupnya untuk tidak mati," jawab Dara datar.
Arkan terlihat tertohok. "Kiara, tentang yang kemarin..."
"Aku tidak mau bahas itu sekarang, aku lelah."
Selama perjalanan pulang, hening. Arkan sesekali melirik ke arah Kiara, tapi tidak berani bicara. Dara menatap keluar jendela, pikirannya sudah jauh merencanakan, menghitung, menyusun strategi.
Sesampainya di rumah, Nyonya Devi sudah menunggu di ruang tamu. Wajahnya keras, tatapannya menusuk.
"Kiara, kita perlu bicara."
"Aku perlu istirahat, Bu..."
"SEKARANG."
Dara menghela napas, dia sudah menduga ini akan terjadi.
"Baiklah."
Mereka duduk di ruang tamu, Nyonya Devi di sofa utama seperti ratu di singgasananya, Arkan berdiri di samping, Dara duduk sendirian di sofa seberang. Lenna? Tidak terlihat, mungkin sengaja bersembunyi.
"Aku dengar kamu menuduh Lenna mencoba membunuhmu dan bayimu," Nyonya Devi langsung to the point.
"Bukan menuduh, itu fakta."
"JAGA BICARAMU!"
"Ibu yang minta bicara, jadi aku bicara dengan fakta."
Nyonya Devi terlihat seperti mau meledak, tapi Arkan meletakkan tangan di bahunya.
"Ma, tolong dengar dulu..."
"Dengar apa? Istri tidak berguna ini mencoba memfitnah Lenna yang sudah seperti anakku sendiri!"
"Fitnah?" Dara tersenyum pahit. "Ibu mau lihat hasil tes darahku? Di sana ada jejak ramuan herbal yang bisa memicu keguguran. Ramuan yang tidak pernah aku minum kecuali dari susu yang disiapkan Lenna."
"Itu bisa saja kamu minum sendiri lalu menyalahkan Lenna!"
"Untuk apa aku bunuh anakku sendiri?"
"Karena kamu tahu anak itu bukan anak Arkan!"
Dara bangkit, mengabaikan tubuhnya yang masih lemah. "CUKUP! Aku sudah muak dengan tuduhan ini!"
Dia melangkah ke arah Nyonya Devi, menatapnya dengan tatapan yang membuat wanita paruh baya itu tersentak.
"Ibu mau bukti? Baik. Kita tes DNA sekarang. Di rumah sakit pilihan Ibu, di depan mata Ibu. Aku tidak masalah."
"Tes DNA bisa dipalsukan..."
"Kalau begitu kita tes di tiga rumah sakit berbeda, atau lima, atau sepuluh sampai Ibu puas." Dara melipat tangannya di dada. "Tapi kalau hasilnya membuktikan anak ini adalah anak Arkan, Ibu harus minta maaf di depan seluruh keluarga."
Hening.
Nyonya Devi menatapnya dengan campuran shock dan marah. Tidak pernah sekalipun Kiara berani bicara seperti ini.
"Kamu... kamu berani..."
"Aku berani karena aku yang benar." Dara berbalik ke Arkan. "Bagaimana? Kamu mau ikut tes DNA atau tidak?"
Arkan terlihat terpojok, dia melirik ibunya, lalu ke Kiara.
"Aku... aku akan pikirkan..."
"Tidak ada yang dipikirkan, ya atau tidak."
"Kiara, ini tidak sesederhana..."
"SEDERHANA!" Dara meledak. Semua amarah yang ditahan selama ini tumpah. "Aku hampir MATI! Aku dipukuli olehmu sampai berdarah! Aku difitnah sebagai pelacur! Anakku hampir dibunuh! Dan kamu bilang INI TIDAK SEDERHANA?!"
Arkan terdiam... benar-benar terdiam.
"Aku beri kamu waktu dua hari. Setelah itu, kalau kamu tidak mau tes DNA, aku yang akan minta cerai. Dan aku akan bawa semua bukti ini ke pengadilan."
"Kamu tidak bisa..."
"Coba saja aku." Dara menatapnya dingin. "Kamu lupa, aku masih sah jadi istrimu. Dan secara hukum, aku berhak atas separuh harta gono-gini. Mau coba bercerai denganku dengan tuduhan selingkuh tanpa bukti? Silakan, pengacaraku akan senang."
Bohong... Dia belum punya pengacara, tapi mereka tidak perlu tahu itu.
Nyonya Devi terlihat pucat. "Kamu... kamu berani mengancam keluarga Adisaputra?"
"Aku tidak mengancam, aku membela hakku." Dara berbalik, berjalan ke arah tangga. "Aku mau istirahat dua hari, ingat itu."
Dia naik tangga dengan punggung tegak, meski setiap langkah terasa berat.
Begitu pintu kamar tertutup di belakangnya, tubuhnya ambruk di sofa. Keringat dingin membasahi dahinya, jantungnya berdebar keras.
Tapi dia tersenyum.
Langkah pertama, tunjukkan kamu tidak bisa diinjak lagi.
Berhasil.
***
Malam harinya, Regan datang diam-diam ke kamarnya melalui pintu belakang dan tangga darurat yang jarang dipakai.
"Kak, aku lihat tadi. Keren banget!" bisiknya sambil masuk.
"Kamu dengar?"
"Aku parkir mobil di depan rumah saat Kakak baru sampai. Dengar semuanya dari jendela ruang tamu yang terbuka." Regan nyengir. "Ibu sampai speechless, pertama kalinya aku lihat dia kayak gitu."
"Itu baru awal."
Regan mengeluarkan laptopnya. "Aku bawa kabar baik, kamera di apartemen Rio sudah terpasang. Dan jackpot, Lenna datang tadi sore."
"Serius?"
"Liat ini."
Regan memutar video. Rekaman CCTV menunjukkan Lenna masuk ke apartemen Rio dengan kunci sendiri artinya dia sudah sering ke sana. Beberapa menit kemudian, Rio pulang. Mereka berpelukan, berciuman tidak ada keraguan, ini hubungan yang intim.
"Aku juga merekam suara mereka." Regan memutar audio.
Suara Lenna terdengar jelas, "Rio, aku capek main-main. Kapan kita bisa bersama terang-terangan?"
Suara Rio, "Sabar, sayang. Kamu bilang sendiri kan, kamu perlu waktu untuk dapat harta keluarga Adisaputra dulu. Setelah itu kita bisa kabur."
Lenna, "Iya, tapi Kiara itu susah mati! Aku sudah kasih ramuan itu, tapi dia masih selamat!"
Rio, "Ramuan apa?"
Lenna, "Yang kamu belikan dari dukun itu, yang bisa bikin keguguran. Harusnya dia kehilangan bayi terus Arkan makin benci sama dia. Tapi entah kenapa dia selamat..."
Dara mengepalkan tangannya mendengar pengakuan itu.
Rio, "Mungkin dosisnya kurang, lain kali tambahin."
Lenna, "Tidak bisa, dia sekarang waspada. Bahkan adik Arkan yang menyebalkan itu, Regan mulai ikut campur."
Rio, "Regan? Bukannya dia di Surabaya?"
Lenna, "Dia pulang, dan sepertinya dia curiga padaku. Menyebalkan!"
Regan menghentikan audio. "Masih ada banyak lagi, mereka ngobrol sampai sejam. Semua terekam."
Dara tersenyum... senyum penuh kepuasan. "Ini... ini sempurna, pengakuan langsung dari mulutnya sendiri."
"Tapi kita tidak bisa langsung tunjukkan ini, Arkan dan ibu masih terlalu memihak Lenna. Mereka akan bilang rekaman ini dipalsukan."
"Aku tahu." Dara berpikir. "Kita perlu strategi lain. Bukan langsung menyerang, tapi pelan-pelan membuat mereka ragu pada Lenna."
"Seperti apa?"
"Mulai dengan hal kecil, inkonsistensi. Kebohongan-kebohongan kecil Lenna yang bisa kita bongkar satu per satu."
Regan mengangguk. "Aku suka cara berpikir Kakak, seperti meracun perlahan."
Dara tersentak mendengar kata "meracun" mengingatkannya pada Salma. Tapi dia menggeleng, mengusir ingatan itu.
"Regan, kamu bilang Lenna selalu ke apartemen Rio setiap Jumat malam dengan dalih pengajian?"
"Iya."
"Besok Jumat kita ikuti dia, tapi jangan sampai dia tahu."
"Terus?"
"Kita foto dia masuk apartemen Rio. Kita tunggu sampai dia keluar, kita pastikan timestamp-nya jelas bahwa dia di sana berjam-jam, bukan cuma 'mampir'."
"Lalu?"
"Lalu kita 'tidak sengaja' biarkan foto-foto itu terlihat oleh Nyonya Devi. Bukan kita yang tunjukkan langsung, itu terlalu mencurigakan. Tapi kita taruh di tempat yang pasti dia lihat."
Regan tersenyum lebar. "Kak, kamu jahat juga ya."
"Aku belajar dari orang yang lebih jahat."
"Siapa?"
Dara terdiam sebentar. "Orang yang pernah mengkhianatiku, dia mengajarkan kalau kamu mau menghancurkan seseorang, jangan terburu-buru. Biarkan mereka menghancurkan diri mereka sendiri."
Regan menatapnya dengan tatapan baru, respek bercampur sedikit takut.
"Kak, boleh aku tanya kamu ini sebenarnya siapa?"
"Aku Kiara, istrinya Arkan. Wanita yang hampir dibunuh tapi selamat, dan sekarang..." Dara tersenyum dingin, "...wanita yang akan balas dendam."
Keesokan harinya, Dara mengamati Lenna dari jendela kamarnya. Gadis itu sedang di taman, memetik bunga dengan senyum manis seolah tidak pernah mencoba membunuh siapapun.
Akting yang bagus, pikir Dara. Tapi aku tahu wajah aslimu.
Sari masuk membawa sarapan.
"Nyonya, ini sarapan yang disiapkan koki. Saya yang mengambilnya langsung dari dapur."
"Terima kasih, Sari."
Dara sudah memberi instruksi pada Sari hanya terima makanan langsung dari koki, jangan dari Lenna.
"Nyonya, boleh saya tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa... kenapa Nyonya tidak langsung laporkan Nona Lenna ke polisi? Bukankah ada bukti di hasil tes darah?"
"Karena bukti itu tidak cukup, Sari. Lenna bisa bilang dia tidak tahu ada racun di ramuan itu. Dia bisa bilang dia beli dari orang lain yang mungkin salah kasih, terlalu banyak celah."
"Lalu kenapa Nyonya tidak kabur saja? Ninggalin rumah ini?"
Dara menatap Sari, mata wanita itu penuh kekhawatiran tulus.
"Karena kalau aku kabur, Lenna menang. Dia dapat Arkan, dapat harta, dapat semua yang dia inginkan. Sementara aku? Aku kehilangan semuanya."
"Tapi nyawa Nyonya lebih penting..."
"Justru karena nyawaku penting, aku tidak akan lari." Dara tersenyum. "Aku akan buat mereka semua tahu bahwa wanita yang mereka injak, adalah wanita yang salah untuk diremehkan."
Sari menatapnya dengan campuran kagum dan khawatir. "Nyonya... hati-hati."
"Aku selalu hati-hati, Sari. Selalu... Kamu jangan khawatir."
lupita namanya siapa ya