Radit hanyalah pecundang yang hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan, sampai sebuah Sistem Misterius memberikan kunci menuju takdir yang gelap. Mengambil identitas sebagai sang Topeng Putih, ia merayap dari titik terendah menuju puncak tertinggi dunia bawah. Kekuasaan dan darah menjadi makanannya sehari-hari, hingga kehadiran Rania menyuntikkan kembali setitik cahaya di hatinya.
Namun, dunia tak membiarkannya bahagia. Tragedi berdarah di kampus menghancurkan dunianya dan merenggut Rania. Saat air mata berubah menjadi api, Radit melepas kemanusiaannya untuk meratakan dunia dengan dendam. Kini, setelah badai pembalasan mereda, Radit melangkah pergi meninggalkan singgasana berdarahnya. Ia memulai pencarian terakhir: menemukan kembali kepingan cintanya yang hilang, meski ia harus melawan takdir itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Radit duduk diam beberapa detik, tidak ada ancaman, tidak ada pertarungan. Namun pertemuan itu lebih berat dari pada duel. Jauh di luar kampus, Wijaya Kusuma menaiki mobil hitam sederhana. Ia menutup mata sejenak.
" Bukan anak biasa." Gumam nya pelan.
" Dan bukan musuh."
Mobil melaju, di belakang nya pohon tua tetap bergoyang tenang. Namun takdir telah mencatat, Barat telah bertemu pusat pusaran. Lapangan utama kampus berubah total, spanduk warna - warni terbentang, lampu panggung di pasang tinggi. Dan suara uji mikrofon memecah sore.
Pentas seni tahunan kampus, tempat tawa, musik dan sejenak pelarian dari tekanan hidup.
Radit berdiri di tepi kerumunan , menatap panggung dengan ekspresi netral. Baginya , cara seperti ini hanyalah jeda .
" Radit !"
Di ujung sana Rania melambai kan tangan dengan antusias. Ia mengenakan jaket kampus, rambut nya di ikat sederhana.
" Kamu datang juga." Kata nya ceria.
" Duduk bareng , yuk."
Radit mengangguk dan mengikuti. Di sekitar mereka mahasiswa tertawa, bersorak, berfoto. Tidak ada aura, tidak ada niat membunuh hanya kehidupan.
Pentas di buka dengan tarian tradisional, di susul band indie kampus. Sorakan menggema, namun di balik keramaian. Beberapa pasang mata tidak menatap panggung .
Mereka menatap... Orang - orang. Di dekat STAN makanan. Seorang pria berjaket gelap berdiri.
Wijaya Kusuma, ia memegang minuman plastik, tatapan nya menyapu kerumunan. Ia berhenti sesaat pada Radit. Tidak lama, tidak mencurigakan, namun cukup.
Di sisi lain lapangan, seorang wanita berhijab krem berbincang hangat dengan panitia. Senyum nya lembut, Aqilla Dewantara , ia memuji konsep acara, memberi saran kecil dan sesekali melirik ke arah Rania.
Di antara kerumunan mahasiswa laki-laki, seorang pemuda tertawa keras, mudah berbaur cepat dikenal .
Arsha Kusuma , ia menepuk bahu orang yang baru di kenal nya, menggali cerita tanpa terlihat memaksa. Hanya satu yang tidak hadir.
Tengku Guntara, namun bayangan nya ada. Di balik kamera keamanan, di data lalu lintas kampus, di laporan singkat tanpa nama.
" Acara nya rame ya." Kata Rania sambil tersenyum.
" Rasa nya kampus... Seperti hidup."
Radit mengangguk. " Ya."
Ia menatap panggung, namun insting lama nya berbisik. Terlalu banyak ketenangan palsu. Lampu panggung meredup. Pengisi acara utama bersiap. Sorak Sorai memuncak, dan di tengah cahaya, musik, dan tawa— empat arah mata angin diam - diam bertemu kembali di satu titik yang sama .
Bukan sebagai musuh... Belum ... !! Namun pentas seni ini bukan hanya sekedar hiburan. Ia adalah awal panggung yang lebih besar . Dan Radit — tanpa topeng , tanpa pedang, telah berdiri tepat di tengah nya.
Lampu panggung menyala terang. Musik memuncak, sorakan mahasiswa bergulung seperti ombak. Lalu —
BLIZZZZZ !!!
Lampu berkedip , satu detik — dua detik. Radit mengangkat kepala, ada yang salah. Di udara, jauh dari gedung fakultas, empat bayangan meluncur turun tanpa suara , di balik jaket hitam mereka, lambang Falcon berkilat redup.
" Target terkonfirmasi." Suara dingin terdengar dari komunikator.
" Empat pewaris terdeteksi di area kampus.". Nada suara itu berhenti sejenak.
" Operasi kilat. Jangan memancing keluarga besar."
Aura di lepaskan. Master — tahap akhir.
Tekanan itu tidak di arah kan ke mahasiswa — namun bagi orang yang peka , udara kampus retak.
Wijaya Kusuma menurun kan Gelas nya. Senyuman nya hilang. " Jadi mereka... Memilih bertindak !" Gumam nya pelan.
Di sisi lain lapangan Aqilla Dewantara berhenti berbicara.
" Cepat evakuasi semua orang." Bisik nya pada seseorang yang tak terlihat.
" Sekarang."
Arsha Kusuma tertawa kecil— namun nata nya dingin.
" Falcon benar-benar ingin mati cepat."
Ledakan pertama terjadi di belakang panggung.
BOOM !!!!
Panggung seni runtuh sebagian. Teriakan panik pecahan, mahasiswa berlarian, beberapa jatuh, beberapa menjerit. Keindahan di malam itu hancur dengan satu napas.
" FALCON !!!'" Teriak seseorang.
Bayangan hitam mendarat di tengah lapangan . Pemimpin melangkah maju, aura nya menghantam tanah.
" Empat pewaris." Kata nya datar.
" Serah kan diri." Tidak ada jawaban yang ada — keheningan berbahaya. Radit berdiri di antara mahasiswa yang panik. Rania menarik lengan nya.
"Radit ! Kita harus pergi !"
Ia menoleh pada nya tenang. Terlalu tenang.
" Rania." Kata nya rendah.
" Cepat ikut semua orang untuk evakuasi dan jangan menoleh."
" Lalu kamu—?"
Radit mendorong nya pelan ke arah kerumunan.
" Aku akan menyusul ."
Ia berbalik., di saat yang sama — Wijaya melangkah ke depan melepas kan penyamaran sipil nya. Aura pewaris Barat mengalir, tajam dan terkendali.
" Falcon." Kata nya tenang.
" Kalian salah memilih panggung."
Aqilla berdiri di sisi lain, formasi pelindung lembut terbentang, menghalau pecahan dan kepanikan. Arsha menyeringai, energi Timur berputar seperti pisau tersembunyi.
" Empat pewaris ." Kata nya santai.
" Satu kampus."
" Berani sekali." Pemimpin Falcon tertawa dingin.
" Kalian bukan keluarga besar. ." kata nya.
" Hanya penerus .". Ia mengangkat tangan.
" Bunuh cepat ."
Puluhan anggota Falcon bergerak. Dan pada saat itu — Radit melangkah masuk ke jalur mereka. Topeng tidak ada, pedang tidak terlihat. Namun niat membunuh nya membuat udara membeku
Seorang anggota Falcon menghalangi nya.
" Menjauh."
CRACK !!!
Tubuh itu terhempas ke tanah. Radit tidak berhenti. Langkah nya tenang di tengah kekacauan kampus. Empat pewaris menoleh bersamaan.
Tatapan mereka bertemu dengan satu kesimpulan yang sama. Ini bukan Medan yang seharus nya di sentuh oleh Falcon . Dan malam pentas seni itu — berubah menjadi mejad perang tersembunyi.
Di mana mahasiswa hanya melihat kekacauan. Namun dunia bayangan sedang menahan napas. Jeritan memenuhi lorong kampus.
Lampu darurat menyala merah, membuat dinding beton tampak seperti di lumuri darah. Sebagian anggota Falcon berpencar.
" Kejar yang kabur. "
" jangan biar kan ada saksi yang menganggu ! "
Mereka tidak lagi peduli pada perintah awal. Dalam kekacauan , naluri pemburu mengambil alih. Rania berlari, napas nya tersenggal. Sepatu nya nyaris terlepas, di belakang nya langkah kaki berat semakin mendekat.
" Di sana. " teriak seseorang. Ia berbelok ke lorong seni, masuk ke ruang penyimpanan alat panggung. Gelap, Sunyi, . Rania menutup mulut nya sendiri, menahan isak.
tenang... Tenang... Namun — CREAKK !!!! Pintu terbuka perlahan . Bayangan tinggi berdiri di ambang pintu.
" ketemu ! "
Tangan besi mencengkeram pergelangan Rania. Iaberbalik .
" Lepas !! "
PLAKK!!!
Satu tamparan membuat dunia berputar, tubuh nya jatuh berlutut.
" Diam. " suara itu dingin.
" kalu tidak mau mati. "
Anggota Falcon lain masuk .
" Apa ada yang bersembunyi di sini ? " tanya yang satu.
" Ada. " jawab nya. " Tapi perempuan biasa. "
Suara dari seberang terdiam sesaat.
" Bawa. Dia bisa jadi umpan ! "
dis isi lain kampus — Radit berhenti melangkah. Dia merasakan sakit di dada nya. Bukan suara, bukan teriakan, namun ikatan halus yang ia jaga sejak lama tertarik paksa, mata nya menggelap.
" Rania.... "
Udara sekitar nya retak , para pewaris merasakan nya bersamaan. Wijaya menyipit kan mata.
" Tekanan ini.... "
Aqilla berbisik, wajah nya memucat.
" ini bukan milik Master akhir. "
Tengku menelan ludah . Radit mengangkat kepala , di kejauhan , ia mulai merasakan . Langkah nya berubah , tidak tergesa, tidak ragu, hanya satu tujuan . Sementara itu, Rania di seret melewati tangga darurat. Air mana jatuh tanpa suara.
" Radit..... " bisik nya lemah.
Anggota Falcon tersenyum tipis.
" kalau dia datang. " kata nya.
" Bagus. ''
ia tidak tahu— bahwa saat nama nya itu di ucap kan , hukuman telah di tetap kan . Dan di balik kekacauan kampus , malam itu bersiap menelan darah pemburu yang salah memilih mangsa.
Bersambung......
" Kami menangkap sandera perempuan muda. "
alurnya lambat,terlalu Datar dan tidak jelas disetiap babnya.
tidak ada ruang disetiap bab yg membuat pembaca berimajinasi.
yg patut ditunggu apakah akhir dari skenario film ini happy end atau malah sad end.
Ku baca pelan" , Jdi radit emng g mudah.. 😥😭