Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: SISI GELAP SANG PEMILIK
Mansion Dirgantara malam itu terasa seperti kuburan mewah. Suara langkah kaki para pengawal yang berpatroli di luar kamar menjadi satu-satunya melodi yang menemani kegelisahan Alana. Ia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun emas yang kini terasa mencekik lehernya.
Pintu kamar terbuka dengan bantingan keras. Arkano masuk dengan wajah yang sepenuhnya menggelap. Ia melepas jasnya dan betapa besar amarah yang ia tahan sejak di hotel tadi.
"Arkano, dengarkan aku—"
"Diam!" bentak Arkano. Suaranya menggelegar, membuat Alana tersentak.
Arkano melangkah mendekat, mengintimidasi Alana hingga punggung wanita itu menyentuh kepala ranjang. Ia menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Alana, mengurungnya.
"Kau pikir aku bodoh, Alana? Kau pikir aku tidak tahu pria itu adalah rekan timmu di kepolisian?" Arkano mendesis tepat di depan wajah Alana. Napasnya memburu, aroma wiski dan kemarahan menguar darinya. "Kau menggunakan pesta amalku untuk melakukan transaksi informasi dengan tikus itu!"
Alana mencoba mengatur napasnya yang bergetar. "Dia hanya khawatir padaku! Dia ingin memberitahuku bahwa keselamatanku terancam!"
"Keselamatanmu terancam karena kau bermain api denganku!" Arkano mencengkeram dagu Alana, memaksanya mendongak. "Kau sudah menjadi milikku sejak kau menandatangani surat pernikahan itu. Tapi kau masih berani membawa pria lain masuk ke dalam urusanku?"
"Lepaskan, Arkano! Kau menyakitiku!" Alana mencoba memberontak, namun kekuatan Arkano jauh di atasnya.
Arkano justru semakin mendekatkan wajahnya. Tatapan matanya yang tadi penuh amarah, kini berubah menjadi tatapan obsesif yang dalam. "Sakit ini tidak sebanding dengan rasa dikhianati, Alana. Aku memberimu kemewahan, aku memberimu perlindungan, bahkan aku memberimu akses ke ruang kerjaku... dan ini balasanmu?"
Tiba-tiba, Arkano menarik tangan Alana dan mencium pergelangan tangannya dengan kasar. "Mulai detik ini, kau tidak akan keluar dari kamar ini. Tidak untuk taman, tidak untuk dapur. Jika kau butuh sesuatu, Marco yang akan membawakannya. Dan tikus kecilmu itu..." Arkano menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk Alana berdiri. "Dia sedang menikmati keramah-tamahan Marco di gudang bawah tanah."
"Jangan sakiti Rian! Dia tidak tahu apa-apa!" jerit Alana.
Arkano tidak mempedulikan teriakan itu. Ia berdiri tegak, merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. "Tidurlah. Besok kau akan melihat apa yang terjadi pada orang yang mencoba mencuri apa yang sudah menjadi hak milik Arkano Dirgantara."
Begitu Arkano keluar dan mengunci pintu dari luar, Alana jatuh terduduk di lantai. Air mata frustrasi jatuh di pipinya. Ia gagal total. Bukan hanya datanya palsu, tapi ia juga membahayakan nyawa Rian.
Aku harus bertindak, pikir Alana. Ia menghapus air matanya dengan kasar. Sebagai agen intelijen berprestasi, ia tidak boleh menyerah pada emosi.
Alana mulai memeriksa setiap sudut kamar. Arkano mungkin sudah tahu tentang lipstik pemancarnya, tapi dia tidak tahu bahwa Alana memiliki alat pelacak cadangan yang dijahit di dalam keliman gaunnya.
Ia merobek jahitan gaun emasnya dan mengambil sebuah kawat kecil yang bisa digunakan untuk membobol kunci manual. Ia menunggu hingga tengah malam, saat suara patroli di koridor mulai berkurang frekuensinya.
Dengan sangat hati-hati, Alana memasukkan kawat itu ke lubang kunci pintu kamarnya. Klik.
Pintu terbuka sedikit. Alana mengintip. Koridor sedang sepi. Ia menyelinap keluar, bergerak tanpa suara seperti bayangan. Tujuannya hanya satu: Gudang bawah tanah di sayap barat mansion.
Ia melewati dapur dan turun melalui tangga servis yang jarang digunakan. Bau lembap dan aroma besi mulai tercium saat ia semakin dekat ke area bawah tanah. Di ujung lorong, ia melihat sebuah pintu besi dengan satu penjaga di depannya.
Alana mengambil sebuah vas kecil dari meja pajangan di lorong. Ia melemparkannya ke arah berlawanan.
PRANK!
Penjaga itu segera berlari ke arah suara. Dengan cepat, Alana berlari ke pintu sel dan mengintip melalui celah kecil. Di dalam, Rian tampak terikat di kursi dengan luka lebam di wajahnya.
"Rian!" bisik Alana.
Rian mendongak, matanya yang bengkak melebar. "Alana? Kau gila! Pergi dari sini sebelum Arkano melihatmu!"
"Aku akan mengeluarkanku dari sini," Alana mencoba mencari kunci di sekitar meja penjaga.
"Tidak, Alana. Dengar... data itu..." Rian terbatuk darah. "Data itu bukan sekadar pelacak. Itu berisi daftar nama polisi yang sudah dibayar oleh Arkano. Hendra... namamu juga ada di sana sebagai 'investasi jangka panjang'. Alana, kau dijebak oleh kedua belah pihak!"
Alana mematung. Namanya ada di daftar milik Arkano? Sebagai investasi?
"Siapa yang kau sebut dijebak, agen?"
Suara bariton yang dingin itu berasal dari belakang Alana. Alana berbalik dengan cepat, jantungnya seolah berhenti berdetak. Arkano berdiri di sana, bersandar di dinding dengan tangan bersedekap. Di sampingnya, Marco sudah menodongkan pistol ke arah Alana.
Arkano berjalan mendekat, langkahnya tenang namun setiap hentakannya terasa seperti vonis mati. Ia menarik Alana menjauh dari sel Rian.
"Aku sudah menduga kau akan datang ke sini," ujar Arkano. Ia mengusap rambut Alana yang sedikit berantakan karena pelariannya. "Kesetiaanmu pada rekanmu memang mengagumkan, tapi sayangnya, itu adalah kelemahan terbesarmu."
Arkano menatap Rian di dalam sel, lalu kembali menatap Alana. "Kau ingin dia hidup?"
Alana mengangguk cepat, matanya memohon. "Tolong, biarkan dia pergi. Dia hanya menjalankan perintah."
Arkano menyeringai. "Baiklah. Aku akan membiarkannya hidup dengan satu syarat."
"Apa pun," jawab Alana tanpa berpikir panjang.
Arkano menarik Alana ke dalam pelukannya, sangat erat hingga Alana bisa merasakan detak jantung pria itu yang stabil. "Besok, kau sendiri yang akan mengirimkan laporan palsu kepada Hendra bahwa misimu berhasil dan Arkano Dirgantara telah hancur. Kau akan memutus semua hubungan dengan kepolisian, dan selamanya menjadi milikku. Tidak ada lagi agen Alana. Yang ada hanya Alana Dirgantara."
Alana menatap mata Arkano yang penuh obsesi. Ini bukan lagi sekadar pernikahan kontrak. Ini adalah penyerahan diri sepenuhnya.
"Jika aku melakukannya... kau akan melepas Rian?" bisik Alana.
"Aku akan mengirimnya kembali ke markasnya dalam keadaan hidup. Tapi jika kau mengkhianatiku sekali lagi," Arkano mencium kening Alana dengan lembut namun mematikan, "aku sendiri yang akan memastikan kau melihatnya mati di depan matamu."
Alana menoleh ke arah Rian yang menggelengkan kepala, lalu kembali ke Arkano. Di duniaku, pikir Alana, tidak ada lagi warna putih atau hitam. Hanya ada abu-abu yang pekat.
"Baiklah," ucap Alana lirih. "Aku setuju."
Arkano tersenyum puas. Ia menggendong Alana secara bridal style, membawanya keluar dari gudang bawah tanah yang dingin menuju kamar mereka di atas. Alana tidak melawan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Arkano, menyadari bahwa mulai hari ini, ia bukan lagi mata-mata. Ia adalah tawanan tercinta dari sang monster.