Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 2
Yurie Harielyn Nazeeran belajar tentang kesunyian sejak usianya belum genap sepuluh tahun.
Bukan kesunyian karena tidak ada suara, melainkan kesunyian karena tidak ada yang benar-benar mendengar. Rumah besar keluarga Nazeeran selalu ramai—langkah kaki pembantu, suara pintu dibuka dan ditutup, denting peralatan makan, televisi yang menyala hampir sepanjang hari. Namun semua itu tak pernah benar-benar menyentuh Yurie.
Ia hidup di sela-sela.
Ada, tapi tidak dianggap.
Hari-harinya berjalan dengan pola yang sama, nyaris tanpa perubahan. Ia bangun sebelum fajar benar-benar menyingsing, membersihkan rumah sebelum penghuni lain membuka mata, lalu kembali menghilang ke kamar kecilnya di ujung koridor. Kamar itu dulunya gudang, sebelum Agnesa memutuskan Yurie tidak pantas menempati kamar utama lantai dua.
“Perempuan tidak tahu diri,” begitu katanya dulu.
“Dikasih tempat saja sudah bagus.”
Yurie tidak membantah.
Ia belajar bahwa membantah hanya akan membuat semuanya lebih buruk.
Seiring waktu, tubuhnya tumbuh, wajahnya berubah, tetapi statusnya di rumah itu tidak pernah bergeser. Ia bukan anak pemilik rumah, bukan pula pembantu resmi. Ia berada di antara—cukup rendah untuk diperintah, cukup tinggi untuk disalahkan.
Agnesa memastikan itu setiap hari.
“Kenapa gelas di rak dapur kurang satu?”
tanyanya suatu pagi, suaranya tajam.
Yurie menoleh cepat. “Kemarin pecah, Ma. Yurie sudah—”
“Sudah apa?” potong Agnesa. “Sudah ceroboh lagi?”
Yurie menunduk. “Maaf.”
Kayla yang duduk di meja makan hanya terkekeh kecil. “Makanya hati-hati. Kalau rusak terus, lama-lama kamu nggak layak dikasih makan.”
Yurie mengepalkan jarinya di balik rok panjangnya. Ia tidak menatap siapa pun. Diam adalah pilihan paling aman.
Ayahnya, Bimantara Nazeeran, duduk di ujung meja, membaca berita di ponsel. Ia tidak ikut campur. Tidak membela, tidak menegur. Seolah keberadaan Yurie di ruangan itu hanyalah bayangan yang lewat.
Dulu, saat Yurie masih kecil, ia sering bertanya-tanya kapan ayahnya akan kembali menjadi sosok yang ia ingat. Ayah yang mengangkatnya tinggi-tinggi, yang tersenyum ketika Yurie memeluk kakinya, yang menggendongnya ke kamar saat ia tertidur di sofa.
Namun semakin besar Yurie, pertanyaan itu berubah menjadi pemahaman pahit:
ayahnya tidak akan kembali.
Kayla tumbuh dengan kehidupan yang sangat berbeda. Ia sekolah di tempat elit, mengenakan seragam mahal, dan selalu pulang dengan cerita tentang teman-temannya. Agnesa mendukung setiap keinginannya. Tas baru, ponsel terbaru, liburan singkat—semuanya selalu tersedia.
Yurie melihatnya dari jauh.
Ia sering berdiri di balik jendela, mengamati mobil Kayla keluar masuk halaman rumah. Dalam diam, Yurie membayangkan dirinya duduk di bangku kelas, menulis di buku tulis, mendengarkan guru menjelaskan pelajaran. Bukan karena ia ingin menjadi hebat, melainkan karena ia ingin merasa normal.
Sekali saja. Namun mimpi itu terlalu berani untuk diucapkan.
Hari ulang tahunnya yang kedelapan belas datang tanpa tanda apa pun. Tidak ada ucapan selamat, tidak ada perhatian khusus. Jika bukan karena kalender kecil di dinding kamarnya, Yurie mungkin akan melewatkannya begitu saja.
Tanggal itu ia lingkari sendiri, dengan pulpen biru yang tintanya hampir habis. Delapan belas tahun.
Yurie duduk di tepi ranjang, menatap pantulan wajahnya di cermin kecil. Rambut pirangnya tergerai sederhana, sedikit bergelombang.
Matanya yang hijau tampak lebih dewasa, lebih dalam, seolah menyimpan terlalu banyak hal yang seharusnya tidak dipikul oleh gadis seusianya.
Ia mengingat ibunya.
“Kalau Yurie sudah besar,” kata Shella dulu, sambil menyisir rambutnya pelan, “Yurie boleh jadi apa saja yang Yurie mau.”
Janji itu masih terngiang, meski orang yang mengucapkannya telah lama tiada.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Yurie memberanikan diri meminta sesuatu.
Ia menunggu sampai semua berkumpul di ruang makan. Bimantara duduk di kursi utama, Agnesa di sampingnya, Kayla memainkan ponsel dengan wajah bosan. Yurie berdiri di ambang pintu, jantungnya berdegup cepat.
“Ayah,” panggilnya pelan.
Bimantara mengangkat kepala. “Apa?”
“Hari ini… ulang tahun Yurie.”
Hening sesaat.
Agnesa mengangkat alis. Kayla menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya.
“Lalu?” tanya Bimantara.
Yurie menelan ludah. “Ayah pernah bilang… kalau Yurie sudah dewasa, Yurie boleh minta satu hadiah.”
Agnesa tersenyum tipis, seolah sudah tahu ke mana arah pembicaraan itu.
“Apa hadiahmu?” tanya ayahnya, nada suaranya datar.
Yurie menarik napas dalam-dalam. “Yurie mau kuliah.”
Kata itu meluncur begitu saja, tanpa bisa ditarik kembali. Ruangan mendadak terasa sempit.
Agnesa tertawa kecil. “Kuliah?”
“Iya,” jawab Yurie cepat, takut keberaniannya menguap. “Yurie bisa belajar sambil kerja. Yurie nggak akan merepotkan—”
“Tidak,” potong Bimantara.
Satu kata itu jatuh keras.
“Kenapa?” tanya Yurie lirih.
“Karena tidak perlu,” jawab ayahnya singkat.
“Kamu sudah cukup membantu di rumah.”
Yurie menatapnya, matanya mulai berair. “Tapi Yurie ingin sekolah. Yurie ingin—”
“Cukup,” potong Agnesa. “Jangan bermimpi terlalu tinggi. Kamu tahu diri saja sudah bagus.”
Kayla tersenyum puas. “Iya. Nanti juga ujung-ujungnya di dapur.”
Yurie tidak berkata apa-apa lagi. Ia menunduk, lalu melangkah mundur keluar dari ruangan. Tidak ada yang memanggilnya kembali.
Dari kejadian tadi, Yurie menangis sendirian di kamarnya. Tangannya memeluk bingkai foto ibunya erat-erat.
“Ma,” bisiknya, “Yurie salah ya… berharap?”
Jawaban tidak pernah datang.
Beberapa hari setelah itu, rumah Nazeeran berubah. Bukan secara fisik, melainkan atmosfernya. Agnesa terlihat lebih sibuk dari biasanya. Teleponnya hampir tidak pernah lepas dari tangan. Senyumnya sering muncul—senyum yang tidak pernah Yurie sukai.
Bimantara pun sering pulang dengan wajah puas.
Yurie hanya menjalani rutinitasnya seperti biasa, hingga suatu sore ia dipanggil ke ruang keluarga.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, namanya dipanggil dengan nada resmi.
“Yurie, ke sini.”
Ia melangkah pelan, perasaan tidak enak menggelayut di dadanya.
Bimantara duduk di kursi utama. Agnesa di sebelahnya. Kayla bersandar santai di sofa.
“Duduk,” kata ayahnya.
Yurie duduk.
“Ada pembicaraan penting,” lanjut Bimantara.
Agnesa tersenyum lebar. “Kamu harus bersyukur.”
Yurie mengangkat wajahnya. “Tentang apa?”
“Kamu akan menikah,” kata Bimantara tanpa basa-basi.
Dunia Yurie seakan berhenti.
“Apa?” suaranya nyaris tidak terdengar.
“Keluarga Reynard membuka tawaran,” jelas Agnesa. “Putra mereka mencari calon istri dengan kriteria tertentu.”
Yurie mulai memahami. Jantungnya berdegup tidak karuan.
“Dan kamu memenuhi semua syarat itu,” lanjut Bimantara. “Sebagai imbalannya, keluarga kita akan menerima sembilan miliar.”
Yurie berdiri. “Tidak. Yurie tidak mau.”
Agnesa mendengus. “Ini kesempatan emas.”
“Ayah,” suara Yurie bergetar, “Yurie belum pernah bertemu orang itu. Yurie—”
“Ini bukan permintaan,” potong ayahnya tajam. “Ini keputusan.”
Kayla tertawa kecil. “Harusnya kamu senang. Akhirnya kamu berguna.”
Ancaman itu tidak diucapkan dengan keras, tetapi jelas terasa.
Yurie menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada yang berpihak padanya. Ia kembali duduk perlahan.
“Pernikahan akan berlangsung tujuh hari lagi,” kata Bimantara. “Bersiaplah.”
Dan saat itulah Yurie menyadari sesuatu yang menyakitkan:
namanya telah dijual, bahkan sebelum ia sempat memilih hidupnya sendiri.