NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sembilan

"Dek..besokkan libur weekend, kalian ikut kami  ke puncak yah!" ajak narida menatap alia penuh harap,

"Idihhhh, ogahh.." sahut alia kocak,

"Gak asyik tahu, liburan bareng pengantin baru"

Narida tertawa mendengar ucapan alia, tangannya sudah terulur ingin menjawil pinggang alia yang sudah terlebih dahulu berkelit.

"Aku udah janji ama luka, dan besok juga jadwal aku belanja bulanan, nari" jelas alia berdiri di ambang pintu, menatap narida yang sedang memakai flat shoesnya.

"Aku paham kok" angguk narida tersenyum lucu

"lagian tawaran tadi juga cuman basa basi doang" candanya sambil tertawa lucu,

"Buset..."sahut alia yang ikut tertawa.

Ia mengantarkan narida sampai keluar dari pintu pagar rumahnya, taksi pesanannya sudah menunggu.

Tangan alia masih melambai-lambai, sampai taksi yang di kendarai narida hilang dari pandangannya.

#########

"Bunda...luka mau mainan robot itu.." rengek luka sore itu saat mereka berada di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup padat pengunjung.

Mungkin karena weekend suasananya lumayan ramai, alia menghela nafasnya kesal dan berat.

"Bundaaa..," rengek luka lagi, menahan langkah alia.

"Kan tadi bunda udah beliin, mobilan yang luka mau" jawab alia mencoba sabar.

Rengekan luka mulai membuat alia kesal, mana antrian di kasir cukup panjang. Desahan kesal alia mulai terdengar melihat antrian yang panjang dan rengekan luka.

Alia akui ia memang sedikit kurang sabar menghadapi luka, selama ini ia terbantu oleh Narida dalam menghadapi kemanjaan luka yang memang sedikit luar biasa.

Luka sudah terduduk di lantai, menatap alia dengan mata yang berkaca, alia tahu jika ia tidak menuruti kemauan luka, maka putranya itu dipastikan akan tantrum.

Alia mendesah kasar, jika ia menuruti kemauan luka, maka antriannya akan di serobot, jika tidak dituruti, bisa-bisa mereka akan jadi tontonan.

Dengan sedikit kasar, tangannya menyentak tangan luka untuk berdiri, sebelah tangannya mendorong trolinya keluar dari antrian.

"Ayo..,kita cari mainan yang luka mau"

Putranya itu meloncat-loncat kegirangan, wajah tampannya terlihat imut, ketika bocah berteriak mengucapkan ucapan terima kasih.

Alia yang tadinya kesal karena tingkah luka, melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putranya itu, kekesalan itu hilang tidak berbekas. Ia pun tersenyum manis menatap putranya yang sudah berlari ke rak mainan yang ia mau.

"Luka sayang bunda, sayang banget" ujar bocah tampan itu berulang-ulang.

Sebelah tangannya memeluk mainan robot itu, alia tersenyum tangannya dengan terampil membuka bungkus sandwich isi ayam milik luka, tangannya menyodorkan sandwich itu ke mulut luka, menyuapi putranya yang sibuk menatap mainan impiannya.

"Makan dulu nak.." tegur alia mengingatkan luka yang begitu excited karena mainan barunya.

 Alia memutuskan untuk makan siang yang terlambat di gerai yang berada di dalam pusat perbelanjaan, sementara luka sibuk mengunyah makanannya, alia hanya memesan ice americano untuknya.

Matanya masih sibuk mengamati putranya yang lalai karena mainan barunya, sesekali tangannya juga sibuk menyuapkan makanan, dan mengusap mulut putranya yang belepotan, tiba-tiba alia dikagetkan oleh suara yang menyapanya.

"Alia..! Wakil manager tim pemasaran..!"

Alia menoleh terkejut, sapaan yang tidak biasa itu membuat alia mengerutkan kening dan memicingkan matanya ke arah sumber suara.

"Ehh..pak bara" sapa alia sopan, ia berdiri dari duduknya.

Pria yang barusan menyapa alia itu, ternyata Umbara harsyah laksana, bosnya. Pria itu terlihat santai dengan pakaian yang terlihat maskulin, ia mengenakan celana jeans dengan kaus berkrah, tampilannya sedikit sederhana, mengingat bahwa dia seorang konglomerat. Tapi itu memberikan nilai di hati alia, ternyata tidak semua orang kaya berpenampilan sombong dan wah.

"Bapak mau duduk ?" tanya alia menawari bara yang terlihat sendirian dan kebingungan mencari tempat duduk yang penuh oleh pengunjung sore itu.

"Boleh?" Tanya bara balik,

 Alia mengangguk dan tersenyum ramah.

"Silahkan pak"

Alia mempersilahkan bosnya itu duduk di tempatnya sementara ia pindah ke sebelah putranya yang masih asyik dengan mainannya.

 Pria itu meletakkan pesanannya di atas meja, menatap penasaran ke arah luka, sementara alia masih asyik menyuapi putranya yang benar-benar lalai oleh robot barunya itu.

"Saya lihat bapak sendirian?" Tanya alia berbasa-basi, pria itu mengangguk, terlihat ia menyesap ice colanya.

"kamu juga sendirian?"

Alia menatap bosnya itu dengan wajah tersenyum ramahnya, ada sedikit rasa terkejut, mengingat bara adalah seorang pimpinan di perusahaannya, namun dengan santai bara memanggil alia dengan 'kamu'.

"Saya berdua pak, dengan putra saya" jelas alia sopan.

Tiba-tiba luka merengek mengajak alia pulang, terlihat luka sudah tidak sabar ingin bermain dengan robot barunya.

"Sebentar nak" bujuk alia menyabarkan, terlihat perubahan pada wajah bara yang tidak alia sadari. Alia merapikan barang bawaannya, dan menoleh sekilas pada bara.

"Maaf pak, saya duluan" pamit alia sopan.

 Namun terlihat bara juga bangkit dari duduk dan menyejajari langkahnya. Alia menatap heran melihat pria itu yang berjalan santai di sisinya, namun yang membuat alia lebih terkejut, tiba-tiba luka meraih tangan bara dan mengenggam jari telunjuk pria itu erat.

 Terlihat keterkejutan di wajah bara, namun pria itu membalas genggaman bocah berusia 5 tahun itu. Alia ingin menarik tangan luka, namun bara melarangnya, sekilas mereka terlihat seperti sebuah keluarga.

"Bunda, apa oom ini bisa jadi ayah luka?" Celetukan luka yang tiba-tiba membuat alia mendelik kaget.

"Luka.." teriak alia tak enak hati,

"Maaf pak—"

"Tapi bunda bilang, luka boleh pilih ayah yang luka mau, kalau luka mau makan dan nurut, luka mau oom ini" sambung luka dengan wajah imutnya menyela ucapan alia, jari telunjuk mungilnya menunjuk bara tanpa beban.

"Aduh maaf pak,.." pinta alia tak enak hati.

Dengan gerakan cepat tangannya ingin menarik luka yang berjalan di sebelah kanan bara, namun putranya itu berkelit dengan cepat menghindarinya,Terlihat senyuman di wajah pria itu.

"Bolehkan om?" pinta luka menatap bara dengan bola matanya yang berwarna abu-abu.

Bara tertegun menatap wajah tampan bocah 5 tahun itu yang menatapnya penuh harap.

"Emang ayah luka dimana?" Tanya pria itu yang tiba-tiba berhenti, duduk mencangkung di hadapan luka.

"Ayah luka—"

"Aduh..maaf pak bara, anak saya lancang" seru alia menyela ucapan luka, menarik putranya itu dari hadapan bara dengan sebelah tangannya menutup mulut bocah laki-laki tampan itu.

"Saya pamit pak" pamit alia menundukkan kepalanya dengan hormat.

"Ayoo luka.." ajak alia menyeret langkah putranya yang terlihat berat meninggalkan bara yang melambaikan tangannya ke arah luka.

Bara mengamati kepergian mereka dengan tatapan penasaran, wajah bocah usia 5 tahun itu mengingatkan bara pada seseorang. Bola matanya yang abu-abu, rambutnya yang sedikit ikal, hidung mancungnya, kenapa bara merasa bocah itu mirip dengan langit.

Tapi yang membuat bara lebih heran adalah alia, wanita itu terlalu muda menurutnya, untuk memiliki seorang putra berusia 5 tahun.

 Menurut perkiraannya, wanita itu masih berusia di pertengahan 20-an, dan lagi apa kata bocah itu tadi, menginginkan dirinya untuk menjadi ayah.

Bara penasaran dengan alia, dari awal bara sudah tertarik dengan wanita cantik yang kelihatan sedikit cuek itu. Tampilannya yang terlihat dewasa dan mandiri, membuat bara selalu memperhatikan wanita itu, ada kesan dingin namun ramah, seperti memberi batasan atau garis yang jelas bagi orang lain untuk berpikir mendekatinya.

Wanita itu terlihat masih muda, namun entah mengapa bara merasa alia sedikit misterius, rasa tertarik akan wanita itu semakin membuatnya ingin mengetahui latar belakang alia. Matanya masih menatap ke arah alia dan putranya, namun bayangan mereka sudah tak tampak lagi.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!