Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merawat Si Pengecut
Hujan di luar sana mungkin sudah mulai mereda menjadi rintik-rintik tipis, namun badai di hati Rara justru baru saja dimulai. Ia baru saja sampai di kamar kosnya dengan tubuh yang menggigil. Pakaiannya yang basah kuyup segera ia lepaskan, dan ia memutuskan untuk mandi air hangat guna mengusir rasa dingin yang menusuk sekaligus menenangkan pikirannya yang kalut. Setelah selesai, ia mengganti pakaiannya dengan kaus longgar dan celana kain yang nyaman. Rambutnya masih sedikit lembap saat ia mengeringkannya dengan handuk, mencoba mengusir bayangan Genta yang berlutut di bawah hujan tadi.
Hatinya terasa kosong, seperti sebuah lubang hitam yang baru saja menelan semua harapannya, ketika ponsel di atas kasurnya bergetar hebat. Sebuah nomor yang sangat ia kenali, nomor Genta, memanggilnya. Ia mengabaikannya sekali dengan perasaan ragu. Namun ketika panggilan kedua masuk, rasa itu menggerogoti egonya.
"Halo, Genta?" Suara Rara bergetar, terjepit di antara amarah yang masih membara dan sisa kekhawatiran yang tak bisa ia bunuh sepenuhnya.
"Halo? Apakah ini dengan Mbak Rara?" Suara di seberang sana bukan milik Genta. Suaranya berat, parau, dan terdengar sangat panik. "Ini petugas keamanan di apartemen Skyview. Mas Genta baru saja diantar oleh petugas keamanan kampus, Mbak. Katanya ditemukan pingsan di parkiran fakultas dalam kondisi basah kuyup. Tubuhnya panas sekali, Mbak. Kami melihat nama Mbak di daftar panggilan terakhir dan satu-satunya nomor yang tidak menggunakan nama jabatan atau kode organisasi."
Rara membeku. Handuk di tangannya jatuh ke lantai. "Pingsan? Tapi... tapi dia... bagaimana kondisinya sekarang?"
"Kami sudah membawanya ke unitnya di lantai 12 atas instruksi pengelola karena ia menolak keras dibawa ke rumah sakit sebelum kehilangan kesadaran total. Dia terus menggumamkan nama Mbak. Tolong, Mbak, sepertinya kondisinya cukup parah. Dia menggigil hebat."
Rara tidak berpikir dua kali. Amarahnya tentang pengkhianatan di lobi rektorat seolah menguap, digantikan oleh rasa takut yang nyata akan kehilangan. Ia segera menyambar jaket tebal dan mencari ojek daring. Sepuluh menit kemudian, ia sudah berdiri di depan pintu Unit 1205 yang megah. Setelah petugas keamanan membukakan pintu dengan kartu akses cadangan dan pergi, Rara melangkah masuk ke dalam kerajaan Genta yang selama ini dirahasiakan dari dunia.
Apartemen itu nampak sangat luas untuk ditinggali satu orang, namun terasa sangat sunyi hingga suara napas Rara pun bergema. Desainnya minimalis dengan furnitur serba abu-abu dan hitam yang kaku. Segalanya tertata sangat rapi, hampir terlalu rapi hingga terasa seperti ruang pameran toko furnitur yang steril daripada sebuah rumah. Tidak ada foto keluarga di dinding, tidak ada sentuhan personal yang hangat, hanya rak buku tinggi yang dipenuhi literatur hukum internasional yang berat, serta sebuah meja kerja dengan PC gaming berspesifikasi tinggi yang layarnya masih menyala redup, menampilkan antarmuka Fantasy World yang ditinggalkan begitu saja.
Udara di dalam sana sangat dingin karena AC pusat yang masih menyala maksimal. Rara segera berjalan menuju kamar utama yang pintunya terbuka sedikit. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei satin abu-abu, Genta tergeletak lemas. Wajahnya yang biasanya tegas dan angkuh kini nampak layu dan sangat rapuh. Pipinya memerah karena demam tinggi yang membakar, dan napasnya terdengar pendek-pendek, berat, seolah setiap tarikan udara adalah sebuah perjuangan.
"Genta?" bisik Rara pelan, mendekati sisi tempat tidur.
Genta tidak menjawab. Ia hanya menggigil di bawah selimut tebalnya, jemarinya mencengkeram kain sprei dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih, seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa atau mencoba berpegangan pada kenyataan yang kian memudar.
Rara segera bergerak dengan sigap. Ia mematikan AC, menggantinya dengan suhu yang lebih hangat. Ia menemukan handuk kecil dan wadah air di dapur apartemen yang nampak sangat bersih, seolah jarang sekali digunakan untuk memasak makanan nyata.
Dengan telaten, Rara memeras handuk hangat dan meletakkannya di dahi Genta. Begitu kehangatan handuk itu menyentuh dahinya, Genta merintih pelan, sebuah suara yang sangat menyayat hati. Matanya tidak terbuka, namun bibirnya yang pecah-pecah mulai bergerak, menggumamkan kata-kata yang membuat pertahanan Rara runtuh seketika.
"Ra... jangan pergi..." igau Genta, suaranya sangat serak. "Paladin... butuh Healer... Rara, tolong... gelap..."
Rara tertegun. Di tengah demamnya yang mencapai 40 derajat dan kesadarannya yang hampir hilang, Genta masih memikirkan dunia virtual yang menjadi satu-satunya tempat ia merasa aman. Genta mencari perlindungan pada sosok Healer yang beberapa hari lalu ia khianati secara terbuka di dunia nyata demi menjaga citra sempurnanya.
"Aku di sini, Genta," bisik Rara, air matanya mulai jatuh tanpa bisa dicegah, membasahi tangannya sendiri. "Aku di sini, dasar ksatria pengecut."
Tiba-tiba, tangan Genta yang gemetar keluar dari balik selimut dan menyambar pergelangan tangan Rara dengan gerakan putus asa. Genta menggenggamnya dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan jatuh ke dalam jurang kegelapan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng esnya.
"Jangan benci aku... aku terpaksa... Ayah akan membunuhku..." racau Genta lagi, air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam. Ia mulai menggigil lebih hebat, tubuhnya gemetar di atas ranjang mewah itu. "Paladin... butuh heal... Ra... maafkan aku..."
Rara menangis sesenggukan, namun tangannya tetap sibuk mengompres dahi Genta. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan tangannya diremas hingga terasa sakit oleh Genta. Ia terus mengganti kompres itu sepanjang malam, mendengarkan setiap igauan ketakutan pria itu tentang ayahnya yang kejam, tentang tekanan beasiswa Harvard, dan tentang betapa ia merasa sangat kesepian di tengah puja-puji ribuan mahasiswa. Malam itu, Rara menyadari bahwa setinggi apa pun zirah yang Genta bangun, di dalamnya hanyalah seorang anak kecil yang sangat butuh disayangi tanpa syarat.
***
Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden apartemen yang mahal, menerangi debu-debu yang menari di udara kamar yang kini terasa hangat. Genta perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat, seolah baru saja dihantam palu godam, namun rasa panas yang membakar tubuhnya tadi malam sudah mereda menjadi kehangatan yang nyaman dan menenangkan.
Ia merasakan sesuatu yang berat dan hangat di atas tangan kanannya.
Genta menoleh ke samping dengan gerakan sangat pelan. Ia tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan. Di sana, duduk di kursi kerja yang ia seret ke samping tempat tidur, Rara tertidur dengan posisi kepala bersandar di tepi ranjang. Wajah gadis itu nampak sangat lelah, rambutnya sedikit berantakan, dan jejak air mata yang mengering masih terlihat jelas di pipinya yang memucat.
Namun yang membuat jantung Genta berdesir hebat adalah tangan mereka. Tangan Rara masih digenggam erat oleh tangan Genta yang kini sudah tidak lagi tremor. Tangan gadis itu nampak begitu kecil di dalam genggamannya, namun kekuatannya semalam adalah satu-satunya hal yang menjaganya tetap waras di tengah badai demam.
Genta tidak berani bergerak. Ia menahan napasnya, takut jika satu gerakan kecil saja akan membangunkan Rara dan membuat gadis itu kembali menatapnya dengan mata dingin yang penuh luka seperti di bawah hujan kemarin. Dalam kesunyian pagi yang damai itu, Genta hanya menatap wajah Rara dengan penuh rasa sayang yang menyakitkan.
Ia merasa sangat bodoh dan hina. Ia baru saja melepaskan jabatan Presma yang ia banggakan, beasiswa Harvard yang ia kejar, dan mungkin hak waris dari ayahnya, namun melihat Rara tertidur sambil menjaganya seperti ini, Genta merasa ia baru saja memenangkan harta karun paling berharga yang pernah ada di Fantasy World maupun dunia nyata. Penyesalannya masih ada, lukanya belum sembuh, namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Genta merasa ia tidak perlu menjadi Pangeran Es untuk dicintai. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, sang Paladin yang akhirnya menemukan jalan pulang menuju Healer-nya yang sejati.