NovelToon NovelToon
Milik Sang Ketos Dingin

Milik Sang Ketos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: kasychan_A.S

Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.

​Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

​Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.

​Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.

follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32- Arlan vs Vero

Arlan mematikan mesin motornya tepat di depan pintu besi gudang yang sedikit terbuka. Ia turun, melepaskan helm, dan menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. Hawa dingin markas ini terasa lebih nyaman baginya daripada suasana hangat yang dipaksakan di rumah.

​"Yo, Arlan! Akhirnya si Ketua OSIS keluar kandang juga!" seru sebuah suara berat dari arah sofa.

​Itu Darrel. Cowok dengan jaket denim belel itu bangkit berdiri sambil melemparkan sekaleng minuman dingin ke arah Arlan. Arlan menangkapnya dengan satu tangan tanpa ekspresi.

​"Tumben lo jam segini baru muncul. Habis urusan OSIS atau ada 'proyek' rahasia di rumah?" Darrel menyeringai, mencoba memancing informasi. Di antara anak-anak yang lain, Darrel memang yang paling berani menggoda Arlan.

​Arlan tidak menjawab. Ia duduk di kursi kayu tunggal, meneguk minumannya hingga separuh. Pikirannya tidak benar-benar ada di gudang ini. Ia teringat bagaimana ia kabur dari rumah tadi pergi tanpa pamit pada Bundanya adalah hal yang jarang ia lakukan. Biasanya, sebelum keluar rumah, Arlan akan memastikan Bundanya tidak marah, atau minimal ia akan memeluk Bundanya dari belakang untuk merayu agar diizinkan keluar.

​Tapi malam ini, keberadaan Aluna merusak rutinitas itu. Arlan terlalu gengsi untuk bersikap manja di depan Aluna, apalagi setelah ia mengeluarkan kalimat "status di atas kertas" tadi.

​"Lan, telinga lo... kenapa merah gitu?" Darrel menyipitkan mata, memperhatikan bekas jeweran Nada yang masih tersisa.

"Habis kena sidang maut ya?"

​Arlan langsung menarik kerah jaketnya ke atas untuk menutupi telinganya."Nggak usah di bahas," jawabnya ketus.

​Darrel tertawa kecil. "Galak amat. habis dapet hukuman dari emak lo?"

Arlan hanya mendengus, matanya menatap tajam ke arah Darrel yang masih terkekeh. "Berisik. Gue ke sini buat tenang, bukan buat disidang sama lo," desis Arlan, suaranya sedingin es yang membuat tawa Darrel perlahan memudar.

"Santai bro, santai, oke deh, Tapi kalau seminsalnya lo ada masalah lo cerita aja ke gua sama Barra" Ucap Darrel.

"Barra mana? " Tanya Arlan singkat.

"Barra belum dateng, Lan. Tadi katanya masih ada urusan bentar sama adeknya," jawab Darrel sambil melirik jam di ponselnya. "Paling sepuluh menit lagi juga nongol dia."

​Arlan hanya ber-oh singkat, lalu menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang keras. Pikirannya kembali melayang ke ruang tamu rumahnya. Biasanya, jam segini ia sudah meringkuk di sofa sambil menonton TV bersama Bundanya, atau mungkin kepalanya sudah berada di pangkuan Nada sementara wanita itu mengelus rambutnya. Itu adalah ritual penenang Arlan setiap kali ia lelah.

​Tapi sekarang? Gara-gara Aluna, Arlan harus menjaga imejnya sebagai cowok dingin. Ia tidak rela jika Aluna melihat sisi manjanya itu dan menjadikannya bahan ledekan di sekolah.

​"Kenapa lo? Kayak orang gelisah gitu," tegur Darrel lagi, menyadari Arlan yang terus-menerus memutar-mutar kaleng minumannya.

​"Gue nggak apa-apa," jawab Arlan tajam.

Tepat saat itu, suara deru motor lain terdengar masuk ke area gudang. Seorang cowok dengan jaket kulit hitam masuk dengan terburu-buru. Wajahnya tampak sedikit panik.

​"Sori telat! Gila, jalanan macetnya nggak ngotak!" seru Barra sambil melepas helmnya. Ia langsung menghampiri Arlan dan Darrel yang sudah duduk di sofa. "Eh, Lan! Lo udah dari tadi? Tumben banget jam segini udah nyampe markas."

Brukk!!

Tiba-tiba pintu markas mereka didobrak oleh seseorang dari belakang, pelakunya adalah anggota genk lain musuh bebuyutan mereka Vero bersama dengan kedua temannya yang mengikutinya yaitu Rezza dan juga Gibran.

Ketegangan langsung memuncak di dalam gudang yang semula sunyi itu. Arlan, yang sedari tadi hanya melamunkan Bundanya, seketika berdiri. Sorot matanya yang dingin kini berubah menjadi tajam dan mematikan, seperti predator yang wilayahnya baru saja diusik.

​"Vero," desis Arlan pelan, namun nadanya sarat akan ancaman.

​Vero melangkah maju dengan angkuh, menyeringai lebar sambil menatap berkeliling markas Arlan dengan tatapan meremehkan. Di belakangnya, Rezza dan Gibran bersedekap dada, memasang wajah menantang yang seolah memancing keributan.

​"Wah, wah... Ketua OSIS teladan kita lagi ngumpul tengah malem?" Vero tertawa hambar. "Gue kira lo lagi di rumah, lagi ngerjain tugas sekolah sambil dengerin lagu pengantar tidur."

​Arlan meremas kaleng minuman di tangannya hingga penyok tak berbentuk, lalu melemparnya ke tempat sampah dengan akurasi yang tepat. Ia benci jika ketenangannya diusik, apalagi oleh orang seperti Vero.

​"Mau apa lo ke sini?" Barra maju selangkah, berdiri di samping Arlan dengan kepalan tangan yang sudah siap. Darrel juga ikut memasang posisi waspada. "Markas kita bukan tempat pembuangan sampah, jadi sampah kayak kalian nggak seharusnya ada di sini."

​Vero mendengus, matanya tetap tertuju pada Arlan. "Santai, gue cuma mau mastiin sesuatu. Gue denger-denger belakangan ini lo sering nggak fokus. Apa Ketua OSIS kita mulai bosen jadi anak baik dan mau main kasar lagi sama gue?"

​Vero melirik telinga Arlan yang sedikit merah bekas jeweran Nada tadi. "Loh, telinga lo kenapa tuh? Habis kena jewer ya? Masa pemimpin geng telinganya merah kayak abis dihukum guru BK?"

​Darrel dan Barra menahan tawa, sementara rahang Arlan semakin mengeras. Rahasia bahwa ia baru saja dijewer Bunda adalah hal yang paling memalukan bagi Arlan jika sampai ketahuan musuhnya.

​"Keluar dari sini sebelum gue bikin lo nggak bisa jalan besok pagi," ucap Arlan dengan suara rendah yang menggetarkan nyali. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Vero.

​"Wih, takut banget!" Gibran menyahut dari belakang Vero.

Arlan mencengkeram kerah jaket Vero dengan satu tangan yang kuat, menarik cowok itu mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Dan lo nggak mau lihat apa yang bisa dilakukan tangan ini kalau lo nggak segera angkat kaki dari markas gue."

​Rezza dan Gibran hendak maju membantu Vero, tapi Barra dan Darrel langsung menghadang mereka. Pertarungan besar sepertinya hanya tinggal menunggu satu gerakan kecil lagi.

Tanpa aba-aba, Arlan mendorong tubuh Vero dengan kasar hingga cowok itu terjungkal menabrak meja kayu di belakangnya. Suara

 Braakk!!!

Suara keras itu bergema di dalam gudang.

​"Hajar!" teriak Rezza melihat bosnya diperlakukan seperti itu.

​Rezza merangsek maju, namun Barra lebih cepat. Satu bogem mentah mendarat telak di rahang Rezza hingga cowok itu tersungkur. Sementara itu, Gibran mencoba menyerang Darrel dari samping, tapi Darrel dengan gesit menghindar dan melakukan tendangan memutar yang mengenai perut Gibran.

​Vero bangkit dengan wajah merah padam. Amarahnya memuncak. Ia berlari ke arah Arlan dan melayangkan pukulan lurus. Arlan dengan refleks Ketua OSIS-nya yang disiplin namun dipadukan dengan insting petarung jalanan, memiringkan kepala sedikit. Pukulan Vero meleset tipis di samping telinganya.

​Arlan tidak memberi celah. Ia menangkap lengan Vero, memutarnya, dan memberikan satu hantaman lutut keras ke arah ulu hati Vero.

​"Argh!" Vero terbatuk, tubuhnya membungkuk menahan sakit.

​"Gue udah bilang, jangan pernah injakkan kaki sampah lo di sini," ucap Arlan dingin. Ia menjambak rambut Vero agar cowok itu mendongak menatapnya. Sorot mata Arlan saat ini benar-benar gelap, tidak ada lagi jejak anak manja yang tadi merindukan usapan Bundanya.

​Di sudut lain, Barra dan Darrel masih sibuk meladeni Rezza dan Gibran. Suara pukulan dan hantaman benda tumpul memenuhi ruangan. Arlan yang biasanya tenang, malam ini seolah melepaskan seluruh rasa frustrasinya soal Aluna dan kejengkelannya pada status pernikahan itu lewat setiap serangannya pada Vero.

​Vero yang belum menyerah, mencoba menyapu kaki Arlan. Arlan melompat mundur, lalu dengan satu gerakan cepat, ia melayangkan tendangan samping yang mengenai dada Vero hingga cowok itu terjerembap ke lantai yang berdebu.

​"Cabut!" teriak Vero sambil terengah-engah, menyadari kalau mereka kalah jumlah dan kalah tenaga.

​Rezza dan Gibran yang sudah babak belur segera membantu Vero berdiri. Mereka mundur perlahan menuju pintu markas yang tadi mereka dobrak.

​"Urusan kita belum selesai, Arlan!, Awas aja lo" ancam Vero sambil mengusap darah di sudut bibirnya sebelum akhirnya menghilang di kegelapan malam dengan motor mereka.

Suasana gudang kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas Arlan, Barra, dan Darrel yang memburu. Arlan merapikan jaketnya yang sedikit berantakan, wajahnya kembali datar, seolah baru saja melakukan hal sepele.

1
Ria Irawati
roman-romannya jatuh cinta nih🤭
j_ryuka
yeh peluk aja
only siskaa
mulai suka ciee
SarSari_
kok senyum² ya...🫣🫣
SarSari_
duuh mulai datang si penganggu😤
Mentariz
savage abizzz 👍
Mentariz
Wah udah hapal banget nih pesanan aluna
Mentariz
Gak tahan godaan juga kan, lun 🤭
Panda%Sya🐼
Sariawan itu musuh terbesar ku 😭
Panda%Sya🐼
Arlan jangan gitu... nanti bucin kan susah
pojok_kulon
Nanti juga kamu nempel terus Al
pojok_kulon
Berisik amat Al
j_ryuka
peluk peluk peluk
j_ryuka
ngapa di tempat sampah 😭😭kalau terbang lagi gimana
pojok_kulon
haduh Al jangan keras kepala
pojok_kulon
Sadis banget Arlan
Ria Irawati
yah nantangin nih bocah
SarSari_
udah ngincer dari awal toh ternyata,🫣
Suo
galak bgt banh
Suo
gemes bgt sama mereka berduaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!