NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

minimarket

Pikirannya berubah menjadi mesin yang berderak kencang, memutar ulang setiap fragmen kejadian dalam satu waktu yang bersamaan.

Meski matanya sudah terasa seberat timah, meski jiwanya sudah mengangkat bendera putih tanda menyerah, otaknya terus membedah setiap detik kegagalan itu.

Andersen beranjak dari kasurnya yang berbau apek, langkahnya goyah seolah bumi di bawahnya belum benar-benar stabil. Ia menyambar ponsel miliknya yang tergeletak dingin di nakas kayu.

Dengan gerakan yang kaku, Lelaki itu membuka pintu kamar. Derit engsel pintu yang tua itu membelah sunyi apartemen di sudut kota Belanda tersebut. Ia melangkah keluar, menatap ke sekeliling ruangan yang dipenuhi bayangan panjang dari jendela-jendela tinggi khas arsitektur Eropa Utara.

Andersen membuka pintu satu per satu dengan gerakan mekanis, seolah ia sedang menyisir setiap sudut labirin yang sengaja dibangun untuk membingungkannya.

Kamar mandi dengan ubin porselen dingin, sebuah gudang sempit yang berbau kayu lembap. Setiap ruangan itu terasa asing, tanpa jejak kehidupan yang ia kenali.

Ingatannya masih tertinggal di atas hamparan salju yang memerah, membuat apartemen ini terasa seperti sebuah dimensi antara yang hampa. Akhirnya, jemarinya yang masih kaku menyentuh gagang pintu keluar.

Andersen melangkah keluar, disambut oleh lorong panjang yang tertutup dan sunyi. Dinding-dindingnya seolah menghimpit, menciptakan atmosfer klaustrofobik yang hanya bisa ditemukan pada bangunan-bangunan tua di Eropa Utara.

Andersen berjalan perlahan, suara langkah kakinya menggema di atas lantai linoleum, menuju arah lift yang cahayanya berkedip pucat di ujung lorong.

Ketika pintu lift terbuka dengan denting logam yang dingin, Andersen masuk ke dalamnya. Ia menyentuh tombol lantai dasar, merasakan getaran mesin tua yang mulai turun membawa beban raga dan jiwanya yang hancur.

Di dalam kotak logam yang sempit itu, ia menatap pantulan dirinya di cermin.

Andersen tidak lagi peduli pada logika ruang dan waktu. Ketika hidup sudah menjadi sebuah labirin tanpa ujung, mempertanyakan bagaimana ia bisa berpindah benua dalam sekejap hanyalah pemborosan energi yang sia-sia.

Baginya, takdir kini adalah sebuah mesin teka-teki yang rusak, dan ia hanyalah komponen kecil yang dipaksa berputar di dalamnya.

Di dalam kotak logam lift yang sempit itu, sebuah sensasi asing tiba-tiba menyergap indranya. Aroma Oriental & Gourmand. Aroma hangat dari vanilla, rempah-rempah, dan amber menciptakan nuansa misterius dan mewah.

Aroma itu tertinggal di udara, seolah seseorang baru saja menaikinya beberapa detik sebelum Andersen masuk. Wangi itu bukan sekadar parfum; itu adalah sebuah kunci yang membuka laci memori yang paling ia hindari.

Scarlette.

Sebagai seorang bangsawan Inggris yang terjebak dalam pusaran kestabilan politik orang tuanya, persembunyian adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup.

Di dunia ini, nama besar seringkali menjadi vonis mati dan gadis itu adalah yang paling ahli dalam menyembunyikan ekornya.

Pintu lift terbuka dengan denting pelan. Andersen melangkah keluar, menyusuri jalanan yang basah oleh sisa hujan. Ia menatap layar ponselnya, pemandu digital di tangannya.

Mencari titik terang di tengah kota yang mulai terlelap. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Angin Belanda bertiup kencang, membawa aroma tanah dan kelembapan yang menusuk.

Sebuah lampu neon dari Albert Heijn atau mungkin sebuah Avondwinkel (toko malam) lokal berpendar di kejauhan.

Andersen melangkah masuk, berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang kosong dan pikirannya yang bising.

Roti apa yang cocok untuk lidah yang sudah mati rasa ini? batinnya. lelaki itu merindukan kelembutan roti khas Asia, sesuatu yang empuk seperti janji yang belum diingkari.

Daripada roti Eropa yang keras dan menantang, sekeras takdir yang sedang dihadapi olehnya. Matanya berbinar redup saat menemukan roti margarine sederhana di sudut rak.

Andersen melangkah menuju kasir dan melihat seorang gadis sedang berdiri di sana, tampaknya sedang mencari kembalian atau ragu dengan belanjanya.

"Biar saya saja yang bayar," ucapnya datar.

Gadis itu menoleh, memberikan senyuman tipis yang semula terasa hangat, namun seketika membekukan darah di nadi Andersen.

Senyum itu milik Scarlette.

Kedua orang itu keluar dari toko tersebut, setelah Andersen membayar barang belanjaan gadis tadi.

"Mengapa kau masih mengikutiku, Scarlette?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa filter, sebuah kesalahan yang lahir dari memori yang terlalu penuh.

Scarlette, sang bangsawan Inggris yang seharusnya masih menjadi misteri di garis waktu ini, seketika mengubah raut wajahnya.

Senyum ramahnya menguap, digantikan oleh tatapan sinis yang tajam dan dingin. Merupakan ciri khas seorang tokoh politik yang merasa terancam.

"Bagaimana kau bisa mengenalku?" tanya Scarlette dengan nada rendah yang menusuk.

Andersen tertegun. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya yang terasa linu. Bodoh, maki batinnya sendiri.

Ia lupa bahwa di dunia ini, Margarette belum mati, kecelakaan truk itu belum terjadi, dan pertemuan mereka di pesta itu mungkin baru akan terjadi dalam hitungan hari.

Atau bahkan sudah terhapus sama sekali. Lelaki itu terbangun di sebuah titik waktu yang berbeda, membawa beban ingatan dari masa depan yang kini dianggap sebagai delusi oleh semesta.

Bagi Gadis yang ada disampinya itu, lelaki di depannya ini hanyalah orang asing yang lancang menyebut namanya di sebuah minimarket sunyi di Belanda pada pukul 11 malam.

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!