Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LULUSAN TERBAIK
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar hotel dengan kelembutan yang kontras dengan badai di hati Keyla selama seminggu terakhir. Di dalam suite yang luas, tawa riuh dan aroma parfum manis memenuhi udara. Keyla duduk di depan cermin besar, sementara penata rias sibuk memulas wajahnya. Teman-teman dekatnya, Sarah dan Dinda, sibuk mencoba toga mereka sambil sesekali menggoda Keyla.
"Key, sumpah, lo cantik banget hari ini! Aura calon mahasiswi suksesnya keluar banget!" Sarah berseru sambil memegang bahu Keyla.
Keyla tersenyum, senyum yang tulus untuk pertama kalinya sejak malam kelam itu. "Makasih, Sar. Gue cuma pengen hari ini jadi hari yang paling bahagia. Tanpa drama, tanpa beban."
"Bener banget! Hari ini milik kita. Lupakan semua urusan orang tua, lupakan semua keribetan rumah. Kita bakal bersinar di panggung nanti!" timpal Dinda.
Keyla sengaja mengabaikan puluhan pesan dari ayahnya yang menanyakan lokasinya. Ia juga menolak mentah-mentah saat Alan menawarkan sopir pribadi untuk mengantarnya. Ia memilih untuk memesan taksi online, pergi diam-diam ke hotel bersama teman-temannya sejak subuh. Ia ingin merasa bebas, meski hanya untuk beberapa jam. Ia ingin menjadi Keyla yang berusia 18 tahun, bukan "jaminan utang" keluarga Atmadja.
Gedung pertemuan hotel bintang lima itu telah disulap menjadi lautan toga biru tua. Musik orkestra bergema, memberikan nuansa megah pada acara wisuda SMA tersebut. Keyla berada di barisan depan, bercanda dengan teman sekelasnya, membicarakan rencana kuliah dan mimpi-mimpi masa depan. Untuk sejenak, ia berhasil melupakan bahwa di jarinya pernah melingkar cincin yang melambangkan penjara emasnya.
"Key, lihat! Itu nyokap lo datang," bisik Sarah sambil menunjuk ke arah barisan orang tua.
Keyla menoleh sekilas. Kirana berdiri di sana dengan kebaya yang sangat elegan, matanya tampak sembab namun ia mencoba tersenyum pada putrinya. Keyla segera memalingkan wajah. Sakit hati itu masih terlalu segar. Ia tidak bisa memaafkan ibunya yang membiarkan dirinya "dijual". Ia memilih untuk terus tertawa dengan teman-temannya, mengabaikan tatapan memohon dari ibunya.
Suasana menjadi hening saat kepala sekolah menaiki podium untuk mengumumkan siswa lulusan terbaik dan berprestasi tahun ini.
"Dan gelar lulusan terbaik dengan pencapaian akademik dan non-akademik tertinggi jatuh kepada... Keyla Atmadja!"
Gedung itu meledak dalam tepuk tangan. Teman-teman Keyla bersorak, beberapa di antaranya berdiri dan meneriakkan namanya. Keyla terpaku sesaat, jantungnya berdegup kencang karena rasa bangga yang murni. Ini adalah hasil kerja kerasnya selama tiga tahun, satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli oleh uang Dipta atau dijual oleh ayahnya.
Dengan langkah anggun dan kepala tegak, Keyla menaiki panggung. Ia menerima piagam dan medali emas, lalu diminta untuk memberikan pidato singkat.
"Terima kasih untuk guru-guru saya, dan teman-teman seperjuangan saya," Keyla memulai dengan suara yang stabil meski ia merasa haru. "Pencapaian ini adalah pengingat bahwa tidak peduli seberapa besar badai yang mencoba merobohkan kita, selama kita memegang kendali atas diri kita sendiri, kita akan tetap berdiri tegak. Hari ini adalah awal dari kemandirian kita. Jangan biarkan siapapun mendikte masa depan kalian..."
Saat sedang berbicara, mata Keyla menyapu kerumunan orang tua di bagian belakang gedung. Gerakannya terhenti sejenak. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di sana, di barisan paling belakang, berdiri seorang pria yang kehadirannya seolah menyedot seluruh udara di ruangan itu. Dipta Mahendra.
Pria itu berdiri tegak dengan setelan jas hitam custom-made yang sangat formal. Rambutnya tertata rapi, dan wajahnya yang berusia 40 tahun itu memancarkan aura dingin namun sangat tampan. Ia berdiri di samping Kirana, namun ia tidak berbicara pada wanita itu. Matanya terkunci hanya pada satu objek: Keyla yang berada di atas panggung.
Saat mata mereka bertemu, Dipta tidak tersenyum. Ia hanya menatap Keyla dengan intensitas yang membuat lutut Keyla hampir lemas. Pria itu kemudian mulai bertepuk tangan. Perlahan, namun dengan suara yang terdengar paling keras di telinga Keyla. Ia bertepuk tangan seolah sedang merayakan kemenangan pribadinya—kemenangan karena memiliki gadis paling cerdas di sekolah itu.
Keyla mengepalkan tangannya di balik podium. Kenapa dia harus datang? Kenapa dia tidak bisa membiarkanku tenang sehari saja?
Namun, Keyla segera teringat janjinya pada diri sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, memutuskan untuk mengabaikan kehadiran pria itu. Ia melanjutkan pidatonya dengan penuh semangat, memberikan senyum terbaiknya kepada teman-temannya, seolah Dipta hanya sekadar bayangan yang tidak berarti.
**
Setelah acara resmi selesai, suasana berubah menjadi pesta kecil di lobi gedung. Siswa-siswi sibuk berfoto, saling berpelukan, dan merayakan kebebasan.
Keyla sedang tertawa saat Sarah tiba-tiba berbisik, "Key, itu... pria yang sama nyokap lo... siapa sih? Ganteng banget tapi auranya serem, kayak bos mafia di drama Korea."
Keyla menoleh ke arah yang ditunjuk Sarah. Dipta sedang berdiri beberapa meter darinya, memegang segelas minuman dengan santai. Kirana mencoba berbicara padanya, namun Dipta hanya memberikan jawaban satu atau dua kata tanpa melepaskan pandangannya dari Keyla.
Keyla memutuskan untuk menantang. Ia berjalan melewati Dipta dengan sengaja, tertawa keras bersama teman-temannya, bertingkah seolah pria itu adalah orang asing yang tidak sengaja berada di sana.
Dipta tetap pada posisinya. Sesuai janjinya seminggu yang lalu untuk memberikan Keyla "ruang", ia benar-benar bersikap seolah tidak mengenal Keyla secara pribadi. Ia tidak memanggilnya, tidak mendekat, dan tidak melakukan klaim kepemilikan seperti biasanya. Ia hanya berdiri di sana, menjadi pengamat yang dingin.
Namun, setiap kali Keyla tertawa dengan teman pria sekelasnya, ia bisa merasakan tatapan Dipta yang menajam, seperti elang yang siap menerkam jika mangsanya melangkah terlalu jauh dari batas.
"Hebat ya dia, benar-benar diam," gumam Keyla dalam hati. Namun, ada bagian kecil dari dirinya yang merasa terganggu dengan kedinginan Dipta hari ini. Pria itu seolah sedang menunjukkan bahwa meski ia diam, ia tetap memegang kendali penuh.
Pesta wisuda akan dilanjutkan nanti malam secara privat oleh para siswa, dan Keyla sudah bersiap untuk pergi. Saat ia berjalan menuju pintu keluar hotel bersama teman-temannya, ia berpapasan dekat dengan Dipta.
Langkah Keyla melambat. Ia menatap Dipta dengan tatapan menantang, berharap pria itu mengatakan sesuatu. Namun, Dipta hanya menatapnya datar, seolah Keyla hanyalah salah satu lulusan biasa yang kebetulan lewat. Ia bahkan tidak menganggukkan kepala.
"Ayo, Key! Kita harus siap-siap buat pesta nanti malem!" teriak Dinda dari jauh.
"Iya, sebentar!" sahut Keyla.
Sebelum benar-benar pergi, Keyla sempat melirik Dipta sekali lagi. Pria itu kini sedang berbicara dengan Kirana dengan wajah serius. Keyla tahu, ketenangan Dipta hari ini hanyalah ketenangan sebelum badai. Pesta malam nanti akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kebebasan yang ia perjuangkan.
Di balik wajah dinginnya, Dipta bergumam pelan saat Keyla menjauh, "Bersenang-senanglah hari ini, Keyla. Karena setelah matahari terbenam, kau akan sadar bahwa sejauh apa pun kau berlari, jalannya akan selalu kembali padaku."
***
Bersambung...