NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mansion Yang Membeku

Bagi orang luar, hidup Zayden Abbey adalah impian. Ayahnya, Ardiansyah Abbey, adalah konglomerat properti yang bisa membeli satu kecamatan jika dia mau. Namun bagi Zayden, kekayaan itu hanyalah debu. Sejak ibunya meninggal dunia, kehangatan di mansion itu ikut terkubur.

​Keadaan memburuk saat sang ayah menikah lagi dengan wanita bernama Siska, yang membawa anak perempuannya, Chyntia.

​Sore itu, terpaksa Zayden pulang ke mansion untuk mengambil beberapa dokumen penting. Baru saja ia melangkah di foyer yang megah, suara sinis sudah menyambutnya.

​"Oh, sang pangeran jalanan pulang," Siska berdiri di balkon lantai dua, menatap Zayden dengan pandangan meremehkan. "Kenapa? Uang sakumu kurang? Atau apartemenmu sudah terlalu bau knalpot?"

​Zayden tidak menjawab. Ia terus melangkah dengan wajah datar, jenis wajah yang membuat lawan tawurannya gemetar.

​"Zaydeeenn..." Sebuah suara manja yang menjijikkan bagi rungu Zayden terdengar dari arah ruang tengah. Chyntia muncul dengan gaun pendeknya, langsung mencoba menggelayut di lengan Zayden. "Kangen deh. Kenapa sih betah banget di apartemen sempit itu? Di sini kan ada aku."

​Zayden dengan kasar menyentakkan tangannya. Tubuhnya menegang. Rahangnya mengeras.

​"Jangan. Sentuh. Gue." desis Zayden. Suaranya rendah, mematikan.

​Zayden benci sentuhan. Baginya, sentuhan tanpa cinta adalah polusi bagi kulitnya. Itulah alasan dia lebih memilih tinggal di apartemen sederhana, tempat di mana tidak ada tangan-tangan palsu yang mencoba merenggut ruang pribadinya.

​"Halah, sok suci," Siska menimpali dari atas. "Kamu itu cuma anak yang gagal, Zayden. Tidak punya masa depan selain jadi sampah di jalanan. Lihat Chyntia, dia berprestasi di sekolahnya, tidak seperti kamu yang hanya tahu cara memegang gir motor."

​Zayden mengepalkan tangan, namun ia hanya menatap kosong ke depan.

"Setidaknya sampah jalanan tidak pernah berpura-pura jadi berlian di depan suami orang, Tante."

​Zayden berbalik, keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Di kepalanya, badai berkecamuk. Ia butuh pelarian. Ia butuh sesuatu yang benar-benar nyata.

​Malam itu, Zayden duduk di balkon apartemennya. Di depannya ada segelas kopi pahit dan buku catatan yang mulai penuh dengan coretan nama Amy.

​"Kenapa ya," gumam Zayden pada angin malam. "Gue benci disentuh orang, tapi kenapa waktu liat Amy di lampu merah itu, gue malah pengen genggam tangannya?"

​Ia teringat tatapan Amy yang kasar dan dingin. Anehnya, dinginnya Amy terasa jujur bagi Zayden. Tidak seperti dinginnya ibu tirinya yang penuh racun.

​Keesokan harinya di sekolah, Zayden terlihat lebih lesu namun matanya lebih tajam. Saat ia melihat Amy di depan loker, ia tidak langsung mengeluarkan puisi. Ia hanya berdiri di samping gadis itu.

​"Amy," panggil Zayden. Kali ini tanpa nada puitis yang berlebihan. Hanya suara seorang laki-laki yang sedang lelah.

​Amy melirik dari balik bahunya. Ia menyadari ada yang beda dari Zayden hari ini. "Apa? Mau kasih puisi sampah lagi?"

​"Nggak," Zayden menatap loker di depannya. "Gue cuma mau nanya. Gimana rasanya jadi Satu Derajat Celcius sepanjang waktu? Apa lo nggak ngerasa... kesepian?"

​Gerakan tangan Amy yang sedang merapikan buku terhenti sesaat. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Zayden. Untuk pertama kalinya, Amy melihat sisi lain dari sang Panglima. Bukan sisi bad boy, bukan sisi konyol, tapi sisi seorang anak tunggal yang kehilangan rumahnya.

​"Kesepian itu pilihan, Zayden," jawab Amy datar, meski suaranya sedikit melunak. "Lebih baik dingin daripada berpura-pura hangat tapi ternyata membakar."

​Zayden tersenyum miris. "Lo bener. Gue benci kepalsuan."

​Zayden secara tidak sadar mendekatkan tangannya ke arah tangan Amy di atas meja loker, tapi ia berhenti beberapa sentimeter sebelum bersentuhan. Ia takut ditolak. Ia takut kulitnya bereaksi negatif seperti saat disentuh Chyntia.

​Amy memperhatikan tangan Zayden yang gemetar kecil. Gadis itu tidak menjauh. "Kenapa berhenti? Takut saya gigit?"

​"Gue... gue nggak suka disentuh. Tapi entah kenapa, kalau itu lo... gue rasa gue nggak bakal keberatan," ucap Zayden jujur.

​Amy menatap mata Zayden lama, mencoba mencari kebohongan di sana, namun ia hanya menemukan kejujuran yang menyakitkan.

Amy kembali ke mode kasarnya untuk menutupi rasa canggung.

​"Jangan ngelantur. Mandi sana, jaket kamu bau debu jalanan lagi. Dan satu lagi," Amy menutup lokernya dengan keras. "Nanti sore, temuin saya di perpustakaan. Kerjain tugas matematika kamu yang dapet nilai nol itu. Jangan jadi bodoh hanya karena kamu sibuk jatuh cinta."

​Amy pergi begitu saja. Di belakang pilar, Dio, Hendi, Bima, dan Gara muncul dengan wajah terkejut.

​"WADUH! Bos diajak kencan di perpus!" seru Bima.

​"Itu bukan kencan, Bima! Itu namanya remedial cinta!" sahut Dio sambil tertawa.

​Zayden masih berdiri di sana, menatap tangannya sendiri. "Dia... dia nyuruh gue belajar? Gue rasa... gue bakal jadi juara kelas kalau gurunya dia."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 🥰🥰😍😍

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!