"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 22. Aku bersikap sesuai bagaimana orang memandang diriku. [RUKMINI]
Rukmini masuk kedalam kios yang akan di kontrakan padanya itu dan melihat - lihat isinya. Meski memang tidak besar dan mojok, tapi Rukmini suka. Di sana ramai, di lantai dua nya Rukmini bisa membayangkan dia akan duduk di sana menikmati paginya sambil menatap pemandangan pasar.
'Uangku hampir cukup untuk menyewa tempat ini, kelak aku bisa berdiri sendiri di sini.' Batin nya..
Rukmini memang tidak pernah tau berapapun nominal bayaran nya dari para laki - laki yang menidurinya selama ini, uang itu ibunya yang simpan. Tapi para pria itu ada yang memberi Rukmini tips, dan Rukmini simpan sendiri uang nya. Meski belum terlalu banyak, tapi dia percaya dia bisa.
"Kang, iki tak bayar separo dulu boleh, ndak?" Tanya Rukmini.
Dia berada di lantai dua bersama pemilik kios itu, sebenar nya bukan pemilik, hanya pengelola saja. Pemilik nya menitipkan pada pria itu agar kios - kios nya tetap di jaga dan terawat, sebut saja calo..
"Waduh den ayu, belum bisa nek iku." Ucap pria itu, sambil menggosok - gosok kedua tangan nya dan senyum nya canggung.
"Seminggu lagi pasti tak lunasi." Ucap Rukmini, pria itu sejenak diam.
"Mmm.. Gimana yo." Ucap nya, menggosok - gosok tengkuk nya.
Rukmini membaca gelagat pria itu, sejak tadi Rukmini tau tatapan pria itu sudah nakal, Rukmini lalu tersenyum dan mendekat lalu mengalungkan tangan nya di lengan pria itu.
"Nek tak kasih iki dulu.. mau ndak, kang?" Ucap Rukmini, dia merayu pria itu sambil menggesek sedikit bagian dada nya di lengan pria itu.
"Serius iki mbak? Eh, den ayu?" Wajah pria itu seketika berubah semangat.
"Saya ndak pernah bohong, akang mau di mana?" Ucap Rukmini, wajah nya tersenyum menggoda.
'Semua laki - laki sama saja, hanya memikirkan nafsu!' Batin Rukmini, saat ini tatapan pria itu terus menatap dada Rukmini yang memang menggoda.
'Laki - laki adalah binatang penuh nafsu!' Batin Rukmini lagi.
Dia muak tapi tidak ada yang bisa dia lakukan, satu - satu nya yang dia bisa hanya melayani pria, jadi dia pakai saja cara itu. Toh.. Semua orang juga sudah tau dia perempuan seperti itu, jadi kenapa tidak sekalian saja pikir Rukmini.
Tanpa ba bi bu lagi, pria tadi langsung merangkul pinggang Rukmini, senyum nya mereka karena tanpa dia datang mencari Rukmini, Rukmini yang datang mencarinya dan itu.. gratis.
"Di sini saja, den ayu." Ucap pria itu, lalu melancarkan aksinya.
Pria yang mengantar Rukmini masih di bawah, dia masih duduk di becak nya sambil menunggu Rukmini yang sedang tawar menawar dengan calo kios itu.
"Jono, kok koe di sini?" Tanya ibunya Rukmini, Laki - laki yang di panggil Jono adalah laki - laki yang mengantar Rukmini.
"Eh, Wa Sri. Iyo aku nganter den ayu." Ucap Jono, ibunya Rukmini keheranan, dia tidak kenal siapa den Ayu.
"Den ayu sopo? Aku kan langgananmu, tak cari - cari sudah pergi." Ucap ibunya Rukmini.
"Lho, yo aku ndak tau kalo den ayu ndak bilang wa Sri." Ucap Jono, ibunya Rukmini bingung..
"Den ayu - den ayu ne sopo toh!?" Tanya ibunya Rukmini, Jono garuk - garuk.
"Anu.. Mbak Mini, wa." Ucap Jono, ibunya terkejut.
"Lho! Koe sama Rukmini!? Mana dia?" Tanya ibunya, Jono menoleh ke dalam kios.
"Tadi ke dalam pasar, wa." Ucap Jono, entah kenapa dia berbohong.
"Anak iku! Pergi ndak bilang - bilang, sekarang pake Jono segala!" Ucap ibunya Rukmini, lalu pergi ke arah dalam pasar.
Jono tau dulu nya Rukmini bukan perempuan seperti itu, dan Jono tau ibunya Rukmini yang menjual Rukmini untuk melayani laki - laki, Dia kenal Rukmini waktu dulu, hanya sebatas kenal bukan berteman. Tapi entah kenapa dia menutupi keberadaan Rukmini, Jono pikir barang kali memang Rukmini sengaja tidak bilang ibunya.
Dan tak lama kemudian Rukmini keluar dari kios bersama si calo kios yang masih cengengesan di sebelah Rukmini. Wajah Rukmini tetap kalem dengan senyum lembut nya dan berjalan menghampiri Jono.
"Pie den ayu? Jadi ngontrak di sini?" Tanya Jono, Rukmini mengangguk.
"Jadi, nanti seminggu lagi saya kesini lagi untuk bayar sisa nya." Ucap Rukmini, melirik calo tadi.
"Den ayu, hati - hati di jalan." Ucap calo, dan Rukmini mengangguk.
"Terimakasih kang." Ucap Rukmini.
"Oh ndak, saya yang terimakasih, hehehe.." Ucap pria itu.
Rukmini lalu naik ke atas becak Jono, dan Jono membawa Rukmini pergi, kembali pulang. Sepanjang jalan itu Jono mengayuh dan tidak ada pembicaraan sama sekali karena Rukmini memejamkan matanya.
Setelah sampai di depan rumah, barulah Rukmini membuka matanya dan pelan - pelan turun dari becak.
"Makasih yo, mas." Ucap Rukmini, Jono tersenyum senang.
"Nggih den ayu, sami - sami." Ucap nya, dia lalu memutar balikan becak nya.
Rukmini sedikit heran, Jono sungguhan sama sekali tidak meminta bayaran apapun darinya. Padahal jarak dari pasar sangat jauh, dan Jono menunggu sampai pulang pergi.
"Opo dia juga minta bayaran pakai tubuhku?" Gumam Rukmini.. Tapi Jono sudah pergi dengan becak nya.
Rukmini lalu masuk ke rumah, dia lalu membuka baju nya dan pergi mandi.
Di tempat lain, ayah Rukmini sedang duduk di bawah pohon sambil menyesap rokok di tangan nya. Dia ada di ladang sekarang ini bersama beberapa teman - teman seumuran nya yang juga sedang istirahat di ladang.
"Kang Yono, anakmu laris manis yo, sawahmu makin lebar." Ucap teman nya.
"Hehehe.." Ayah Rukmini hanya terkekeh saja.
Teman - teman nya saling pandang melihat itu, ayah Rukmini seperti tidak semangat sama sekali.
"Koe kenapa toh, kang? Tak liatin dari tadi kok lesu muka ne?" Tanya yang lain.
"Beberapa hari iki, aku kok mimpi buruk terus. Rasane koyo di kejar setan setiap malam, ndak pernah bisa tidur." Ucap ayah Rukmini.
"Halah, wong mimpi paling kembang turu. Sampean ndak usah terlalu di pikirkan toh, namanya yo mimpi." Ucap teman nya, Yono terdiam..
Mimpinya terlalu mengerikan kalau hanya di bilang sekedar mimpi, sudah 3 hari dia mimpi hal yang sama sampai dia bisa ingat detail mimpi nya.
'Mosok iyo kembang turu..' Batin ayah Rukmini.
Ayah Rukmini bermimpi dia dan istrinya bersimbah darah dan lari - lari dengan panik dan ketakutan, tapi dia tidak pernah tau siapa yang mengejar nya, dia tidak melihat rupa orang atau siapapun itu yang membuat nya sangat ketakutan.
"Wes toh jangan terlalu di pikirkan. Nanti malam Rukmini terima tamu, ndak? Kebetulan hasil panenku banyak, aku sudah lama pengen cicipi rasa Rukmini, kang." Ucap teman ayah Rukmini, rupanya sama saja.
"Heh! Sampean lupa Rukmini koyo ponakanmu dewe, lho!" Teman yang lain menegur.
"Lah yo ndak apa - apa toh, Wong Rukmini di bayar. Katanya dia juga sudah semakin lihai, aku penasaran." Ucap pria tadi.
"Nanti malam sudah full tamu, tapi nek sampean mau yo tak bilang ke bojoku." Ucap ayah Rukmini, teman nya terkekeh.
"Sampean kok ndak marah toh, kang?!" Ucap teman nya yang waras.
"Nek koe percaya, aku yo sudah sering tidur sama Rukmini. Memang dia sudah semakin lihai, puas aku." Ucap ayah Rukmini, semua rekan nya syok.
"Heh! Kang!! Yang bener toh!" Ucap teman nya terkejut.
"Wong Rukmini bukan anakku kok, yo aku pake juga ndak masalah." Ucap ayah Rukmini, semua teman nya hanya bisa saling pandang mendengar itu.
...BERSAMBUNG!...
menarik dan makin penasaran...🤔🤔