Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8# Hilang Dalam Kabut
Matahari seharusnya sudah naik tinggi, namun di balik tebing Saka, cahayanya hanya berupa gumpalan abu-abu yang suram. Rencana awal untuk berangkat menuju Menara pagi ini resmi dibatalkan. Rayden masih belum bisa berdiri dengan tegak. Ia meringkuk di dalam pondok kayu kecil milik Harry, tubuhnya sesekali tersentak kaget meskipun hanya karena suara angin yang menerpa dedaunan. Traumanya terlalu dalam; bayangan rahang Phenix Omega yang hampir mengoyak perutnya terus menghantuinya setiap kali ia memejamkan mata.
"Kita tidak bisa pergi dengan kondisi dia seperti itu," ucap Arlo sambil menatap pintu pondok yang tertutup. "Dia akan menjadi beban dan mangsa empuk jika kita paksa keluar sekarang."
"Tiga hari," sahut Harry sambil mengasah pisaunya aktivitas yang tidak pernah ia hentikan. "Kita beri dia waktu tiga hari untuk pulih. Jika dalam tiga hari dia masih ketakutan, kita harus membuat keputusan sulit."
Keadaan di camp Saka selama beberapa jam pertama terasa sunyi. Finn mencoba menghibur Rayden di dalam pondok, sementara Zephyr dan Lira berjaga di lorong masuk gua. Naya sibuk mempelajari beberapa dokumen usang yang ia bawa dari laboratorium sebelumnya, mencoba memahami pola kerja Menara.
Namun, sekitar tengah hari, Selene yang sejak tadi diam di sudut camp tiba-tiba berdiri. Ia menatap ke arah tenda tempat Dokter Luz seharusnya beristirahat. "Di mana wanita itu?"
Pertanyaan Selene membuat Arlo dan Harry tersentak. Mereka segera memeriksa tenda Luz. Kosong. Tas kecilnya masih ada, namun jas putih profesornya dan sang pemilik telah lenyap.
"Sial! Dia kabur?!" geram Harry. Ia langsung berlari menuju mulut gua. Batu-batu penutup gua masih berada di tempatnya, namun ada celah sempit yang sepertinya sengaja digeser dari dalam. "Dia keluar sendirian. Apa dia gila atau dia memang sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak kita?"
"Atau mungkin dia pergi memanggil bantuan untuk Menara," tuduh Zephyr dengan suara dingin. "Aku sudah bilang jangan pernah percaya pada orang yang bangun dari peti mati."
Kecurigaan pun meledak. Selama beberapa jam berikutnya, suasana di camp Saka berubah dari tenang menjadi paranoid. Arlo merasa dikhianati; ia baru saja mulai menaruh sedikit harapan pada Luz, namun kini wanita itu hilang tanpa pamit. gerak-gerik Luz yang pergi diam-diam di tengah kondisi mereka yang sedang rapuh memperkuat kesan bahwa dia memang antagonis yang sedang menjalankan rencana jahatnya.
Namun, saat mereka sedang sibuk berdebat tentang pengkhianatan Luz, tanah di bawah kaki mereka bergetar.
BOOM... BOOM...
"Suara itu lagi..." bisik Lira, wajahnya memucat. "Tapi... frekuensinya berbeda. Lebih banyak."
Tiba-tiba, dinding tebing Saka yang selama ini dianggap aman berguncang hebat. Dari atas tebing titik yang seharusnya mustahil dicapai seekor Phenix Omega melompat turun ke tengah-tengah camp. Makhluk itu tidak lagi tertipu oleh mineral gua. Ia masuk dengan mata kuning yang menyala merah darah, tanda bahwa sistemnya sedang dalam mode overdrive.
"Mereka masuk! Lindungi Rayden!" teriak Arlo.
Kekacauan pecah di dalam Saka. Tempat yang selama sembilan tahun menjadi tempat aman bagi Harry kini berubah menjadi arena pembantaian. Finn segera mengunci pintu pondok Rayden dari dalam, sementara Arlo, Zephyr, dan Harry bertarung mati-matian melawan monster yang masuk. Setelah pertarungan yang brutal dan menguras tenaga di mana meja-meja kayu hancur dan kebun sayur Harry luluh lantak, mereka akhirnya berhasil membunuh monster itu dengan kerja sama tim yang nekat.
Namun, kemenangan itu terasa pahit. Camp Saka kini berantakan. Pagar pelindung hancur, dan yang paling menakutkan: keamanan Saka telah bocor.
"Tempat ini sudah tidak aman," gumam Harry dengan tatapan kosong melihat rumah yang ia bangun selama sembilan tahun hancur. "Jika satu bisa masuk, yang lain akan menyusul. Kita tamat."
Di saat mereka sedang dilanda keputusasaan, sebuah langkah kaki terdengar dari lorong gua. Semua senjata langsung terarah ke sana. Dokter Luz muncul dengan napas tersengal, pakaiannya robek-robek dan wajahnya penuh goresan luka. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak logam hitam yang memancarkan dengungan listrik.
"Jangan menembak!" seru Luz. Ia jatuh berlutut karena kelelahan.
"Kau! Kau sengaja membiarkan monster itu masuk agar kau bisa pergi ke laboratorium lagi, kan?!" Harry menerjang dan mencengkeram kerah baju Luz.
"Aku pergi... untuk mengambil ini!" Luz mengangkat kotak itu. "Ini adalah Electro-Pulse Barrier. Tanpa ini, Menara akan terus mengirimkan sinyal koordinat camp ini ke setiap Phenix Omega di hutan. Aku harus mengambilnya dari sub-laboratorium terdekat sebelum sistem keamanan menguncinya selamanya!"
Naya segera mendekat, ia memeriksa kotak itu. Matanya berbinar. "Ini... ini pemancar gelombang mikro. Jika kita memasangnya di titik-titik tebing, ini akan menciptakan perisai listrik yang bisa mengacaukan sensor monster."
"Tapi kita harus memasangnya di luar pintu gua agar jangkauannya maksimal," ucap Luz sambil menatap Arlo. "Dan aku butuh bantuanmu, Naya. Hanya kau yang cukup pintar untuk menyambungkan sirkuitnya sementara aku melakukan enkripsi."
Meskipun masih sangat curiga dan marah karena Luz pergi tanpa izin, mereka tidak punya pilihan. Saka sudah rusak, dan ini satu-satunya cara bertahan hidup.
Arlo, Zephyr, Finn, dan Harry segera keluar dari gua untuk membentuk barisan pertahanan di depan mulut lorong, sementara Lira tetap di dalam untuk menjaga Rayden. Di luar, suasana sangat mencekam. Kabut hutan seolah tahu bahwa mereka sedang memasang pertahanan.
"Cepat, Naya!" teriak Arlo sambil mengayunkan potongan besi tajamnya ke arah semak yang bergerak.
Tiga ekor Phenix Omega muncul dari balik kabut, menyerang dengan beringas. Arlo dan Zephyr harus bertarung di garis depan, menangkis serangan kaki raksasa monster-monster itu. Finn melemparkan botol-botol bahan bakar untuk menciptakan barikade api.
Di tengah desing kaki monster dan raungan hutan, Naya dan Dokter Luz bekerja dengan sangat fokus. Jari Naya bergerak lincah menyambungkan kabel-kabel halus di bawah pandangan tajam Luz.
"Satu kabel lagi!" seru Naya.
Tepat saat seorang monster hampir menginjak posisi Naya, Arlo melompat dan menangkis kaki itu dengan sekuat tenaga hingga bahunya berderak. Di saat kritis itu, Naya menekan tombol aktif pada kotak tersebut.
BZZZZZZZT!
Sebuah gelombang energi transparan berwarna biru menyambar ke arah tebing-tebing Saka, membentuk kubah listrik yang tidak terlihat namun bisa dirasakan energinya. Monster-monster yang berada di dekat mulut gua langsung terlempar mundur seolah-olah terkena sengatan ribuan volt. Mereka mendengking kesakitan dan segera melarikan diri ke dalam kegelapan hutan.
Naya jatuh terduduk, napasnya memburu. Perisai itu terpasang. Saka kembali aman, setidaknya untuk sementara.
Arlo menatap Dokter Luz yang masih memegangi luka di lengannya. Wanita itu tampak sangat lelah, namun ia tidak meminta maaf atas kepergiannya yang tiba-tiba. Ia tetap dingin dan penuh rahasia.
"Kau hampir membuat kami mati, Dokter," ucap Arlo pelan.
Luz menatap Arlo dengan mata abu-abunya yang tajam. "Aku melakukan apa yang harus dilakukan. Di dunia ini, Arlo, keselamatan tidak datang dengan izin. Ia datang dengan pengorbanan."
Meskipun alat itu menyelamatkan mereka, rasa tidak percaya pada Luz semakin mengakar di hati setiap orang. Bagi mereka, Luz adalah penyelamat sekaligus ancaman yang nyata.