Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH DI ATAS ALTAR MONTSERRAT
POV Maria Joanna
Telingaku berdenging hebat akibat ledakan granat yang menghancurkan pintu kayu kamar Ibu. Debu putih dari reruntuhan dinding menutupi pandanganku sejenak, namun sosok yang melangkah masuk dari balik kepulan asap itu tak mungkin salah kukenali.
Adrian.
Pria itu berdiri di sana dengan setelan taktis hitam, laras panjang di tangannya, dan senyum sarkastis yang dulu pernah kucintai namun kini sangat ingin kumusnahkan. Luka bekas siksaan dari pengawal Ayah di Jakarta masih terlihat di wajahnya, namun matanya memancarkan kegilaan yang mengerikan.
"Bagaimana, Maria? Terkejut melihatku bangkit dari kubur?" suaranya yang parau menggema di ruangan biara yang sempit. "Kau pikir Raja Arthur bisa melenyapkanku begitu saja? Ayahmu itu terlalu naif. Dia tidak tahu bahwa ibuku—wanita yang kau sebut permaisuri pertama—memiliki jaringan yang jauh lebih dalam daripada yang bisa ia bayangkan."
Aku berdiri tegak di depan Ibu, menggenggam pistol perak pemberiannya dengan tangan yang kini sama sekali tidak gemetar. Rasa takutku sudah terbakar habis oleh kebencian.
"Jadi, laporan kematianmu di penjara itu adalah rencana ibumu untuk memancingku ke sini?" tanyaku dengan nada sedingin es.
"Cerdas," Adrian terkekeh, langkahnya mendekat perlahan. "Gunung ini adalah tempat yang sempurna untuk mengakhiri drama dua puluh tahun ini. Begitu kalian berdua mati, ibuku akan mengklaim tahta Spanyol, dan aku akan menguasai jaringan bisnis kakekmu di China. Tidak akan ada lagi penghalang bagi garis keturunan darah murni kami."
"Kau bukan darah murni, Adrian. Kau hanyalah parasit yang bersembunyi di balik nama besar Ayahku!" teriakku.
Tanpa peringatan, aku menarik pelatuk pistolku.
DOR!
Di luar gedung utama biara, Sebastian dan unit taktis bayangannya terjebak dalam baku tembak sengit dengan tentara bayaran yang dibawa Adrian. Sebastian baru menyadari bahwa serangan ini telah direncanakan dengan sangat matang. Pasukan Adrian menggunakan perlengkapan yang hanya dimiliki oleh Unit Pasukan Khusus Internasional.
"Komandan! Kami terdesak di sektor gerbang! Mereka menggunakan senjata berat!" lapor salah satu anak buah Sebastian melalui radio yang bising oleh suara peluru.
Sebastian, dengan luka di perut yang kembali terbuka, membalas tembakan sambil terus merangkak menuju sayap biara tempat Maria berada. "Bertahanlah! Jangan biarkan satu pun dari mereka mencapai kamar Putri!"
Sebastian merasa sangat bersalah. Ia yang membawa Maria ke sini, dan ia yang terjebak dalam jebakan permaisuri lama. Jika Maria atau Julia terluka, Spanyol bukan hanya kehilangan pewarisnya, tapi juga akan memicu perang nuklir dengan Kekaisaran China yang sudah bersiap di perbatasan laut.
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar kembali mengguncang menara biara. Sebastian melihat bagian atas biara mulai runtuh. "PUTRI MARIA!"
POV Maria Joanna
Peluruku menyerempet bahu Adrian, membuatnya meringis kesakitan dan membalas dengan rentetan tembakan yang menghancurkan meja di sampingku. Aku dan Ibu segera berguling ke belakang pilar batu yang kokoh.
"Maria, pergi lewat lorong rahasia di bawah meja!" perintah Ibu, suaranya tetap tenang di tengah hujan peluru
.
"Tidak tanpa Ibu!" tegasku.
Adrian tertawa gila di luar sana. "Berapa lama kalian mau bersembunyi? Maria, ingat saat di Jakarta kau merangkak di kakiku memohon ampun? Aku ingin kau melakukan itu sekali lagi sebelum aku mengirimmu menyusul nenek moyangmu!"
Aku menatap Ibu, dan ia memberikan kode yang kumengerti. Ia akan mengalihkan perhatian, dan aku akan menyerang dari samping. Ibu melemparkan sebuah guci keramik ke arah yang berlawanan, membuat Adrian mengalihkan tembakannya.
Dalam sepersekian detik, aku keluar dari persembunyian, berlari di atas reruntuhan, dan menerjang Adrian dengan seluruh tenagaku. Kami terjatuh bersama, berguling di atas lantai biara yang kasar. Pistol perakku terlepas, namun tanganku berhasil meraih pisau komando yang terselip di pinggang Adrian.
Jleb!
Aku menusukkan pisau itu ke pahanya. Adrian menjerit, namun ia membalas dengan hantaman popor senjata ke kepalaku. Pandanganku berkunang-kunang. Ia mencengkeram leherku, mencekikku dengan tangan kirinya yang kuat sementara tangan kanannya merogoh saku, mengeluarkan sebuah jarum suntik berisi cairan kuning pekat.
"Ingat video skandal itu, Maria? Cairan ini akan membuatmu tampak seperti overdosis obat-obatan. Dunia akan mengenalmu sebagai putri yang mati karena gaya hidup kotor, bukan sebagai martir," desis Adrian tepat di depan wajahku.
Aku berjuang untuk bernapas, tanganku meraba-raba lantai, mencari apa pun. Tanganku menyentuh liontin singa emas yang terjatuh dari leherku saat berguling tadi. Ujung liontin itu tajam, terbuat dari berlian asli yang dibentuk khusus.
Dengan sisa tenagaku, aku menghujamkan liontin itu tepat ke mata kiri Adrian.
"AAARRGGHHH!" Adrian melepaskan cekikannya, memegang matanya yang kini bersimbah darah.
Aku terengah-engah, menghirup udara sebanyak mungkin. Aku segera mengambil pistolku yang tergeletak tak jauh dari sana. Aku berdiri, menodongkan senjata itu tepat ke jantung Adrian yang sedang merangkak kesakitan.
"Ini untuk keluarga angkatku yang kau hancurkan," ucapku dengan suara yang bergetar namun penuh tekad. "Dan ini untuk ibuku yang kau biarkan menderita selama dua puluh tahun."
Raja Arthur tiba di puncak Montserrat tepat saat matahari mulai terbit. Ia berlari melewati tumpukan mayat tentara bayaran di lorong biara, jantungnya hampir copot karena ketakutan. Saat ia mencapai kamar Julia, ia berhenti mematung.
Ia melihat Maria Joanna berdiri tegak dengan pistol di tangan, menatap tubuh Adrian yang tergeletak tak bernyawa di depannya. Di belakang Maria, Julia berdiri dengan air mata yang mengalir di pipinya, namun dengan senyum bangga yang tak terlukiskan.
Arthur menghambur ke arah mereka, merangkul kedua wanita paling penting dalam hidupnya itu. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Singa Spanyol itu menangis tersedu-sedu.
"Sudah berakhir... semuanya sudah berakhir," bisik Arthur.
Namun, di tengah momen haru itu, Sebastian mendekat dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya. Ia memberikan tabletnya kepada Arthur dan Maria. Di layar, siaran berita internasional sedang menyiarkan pengumuman dari Beijing:
"Kaisar China telah wafat pagi ini. Paman Maria, Jenderal Zhao, secara resmi mengambil alih kekaisaran dan menyatakan perang terhadap siapa pun yang melindungi Maria Joanna, menuduhnya sebagai dalang di balik pembunuhan sang Kaisar."
Warisan Julia yang seharusnya membawa kemakmuran, kini membawa Maria ke dalam konflik tingkat dunia yang jauh lebih berbahaya.