Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Terakhir di Ambang Maut
Sore itu seharusnya menjadi sore yang tenang. Arsa, yang baru saja bisa berlari kencang, sedang bermain dengan bola kesayangannya di teras kafe. Odelyn sedang berada di dapur menyiapkan menu baru, sementara Gavin sibuk melayani pelanggan terakhir.
Tiba-tiba, bola Arsa memantul keluar gerbang, menuju jalan raya yang sedang cukup padat.
"Arsa! Jangan!" teriak Gavin saat melihat kaki kecil itu berlari mengejar bolanya tanpa melihat kiri-kanan.
Waktu seolah melambat.
Gavin melesat secepat kilat. Ia berhasil menangkap Arsa dan melempar bayi itu ke arah trotoar rumput yang aman, namun tubuh Gavin sendiri tak sempat menghindar.
Sebuah mini bus melaju kencang dan...
BRAKKK!
Suara benturan itu menghancurkan keheningan Katong.
Odelyn berlari keluar dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Ia menemukan Arsa menangis di rumput tanpa luka, namun Gavin...
Gavin terkapar di aspal dengan darah yang mulai mengalir deras.
Di rumah sakit, kondisi Gavin dinyatakan kritis. Kerusakan internalnya terlalu parah. Dalam momen kesadaran yang sangat tipis sebelum masuk ke ruang operasi yang menentukan hidup-mati, Gavin meminta perawat mengambil ponselnya.
Ia tidak menelepon ayahnya. Ia tidak menelepon pengacara. Ia menelepon Hediva.
"Hediva..." suara Gavin parau, terputus oleh deru napas yang berat.
"Gue... gue rasa waktu gue nggak banyak. Gue titip Odelyn... titip Arsa. Jangan biarkan mereka sendirian lagi. Jadi pelindung mereka, Div. Gue percayain satu-satunya harta berharga gue ke lo."
Gavin menutup teleponnya tepat saat kesadarannya menghilang.
Di seberang sana, di London, Hediva mematung di tengah pesta pertunangannya sendiri.Malam itu, Hediva sedang berdiri di atas podium bersama Sofia.
Cincin berlian sudah siap disematkan. Keluarga besar Vandermere dan keluarga Sofia—yang memegang kunci ekspansi bisnis Vandermere di Eropa Timur—sudah mengangkat gelas mereka.
Namun, telepon dari Gavin mengubah segalanya.
Sofia menyentuh lengan Hediva, menyadari wajah tunangannya memucat.
"Hediva? Ada apa? Semua orang menunggu."
Hediva menatap Sofia, wanita yang selama setahun ini menemaninya dengan tulus dan memberikan stabilitas bisnis yang luar biasa. Lalu ia menatap ponselnya, membayangkan Odelyn yang sedang hancur di Singapura dan Arsa yang kehilangan ayahnya.
Cinta sejati atau tanggung jawab bisnis? Odelyn atau Sofia?Hediva menarik napas panjang. Ia meletakkan cincin itu kembali ke dalam kotaknya.
Di depan ratusan tamu elit, Hediva melakukan hal yang paling memalukan bagi keluarga Vandermere.
"Maafkan saya, Sofia. Maafkan saya, semuanya," ucap Hediva lirih namun tegas.
"Seseorang yang sangat berharga bagi saya sedang meregang nyawa, dan saya sudah berjanji untuk menjaganya. Saya harus pergi."
Hediva berlari keluar dari aula, mengabaikan teriakan kemarahan ayahnya dan tangisan Sofia yang hancur. Ia langsung menuju jet pribadinya.
Di dalam pesawat, Hediva meremas tangannya. Ia tahu, dengan meninggalkan Sofia, ia baru saja menghancurkan reputasi bisnisnya dan memulai perang dengan keluarga Sofia.
Tapi bagi Hediva, nyawa Gavin dan masa depan Odelyn jauh di atas segalanya.Pagi harinya, Hediva sampai di rumah sakit Singapura. Ia menemukan Odelyn sedang duduk di lantai depan ruang operasi, memeluk lututnya, wajahnya kosong—persis seperti saat ia kehilangan bayinya dulu.
Hediva mendekat, melepas jasnya, dan menyampirkannya ke bahu Odelyn yang gemetar. Odelyn mendongak, matanya yang sembab menatap Hediva dengan penuh keputusasaan.
"Gavin... Gavin nyuruh kamu ke sini?" bisik Odelyn.
Hediva mengangguk pelan.
"Dia menitipkan kalian padaku, Odelyn. Dan aku tidak akan pernah melepaskan tanggung jawab itu, apa pun harganya."
Namun, di dalam hatinya, Hediva merasa bersalah. Ia merasa seperti pengkhianat bagi Sofia, namun ia juga merasa seperti pengecut jika membiarkan Odelyn hancur sendirian.
Dokter keluar dengan wajah mendung. "Operasinya selesai, tapi pasien masuk ke dalam koma yang dalam. Kami tidak tahu kapan dia akan bangun, atau apakah dia akan bangun."
Kini, kehidupan mereka benar-benar berada di titik paling rumit. Odelyn terjepit antara cinta pada suaminya yang tak berdaya dan kehadiran Hediva yang kembali menjadi pelindungnya.
Sementara Hediva harus menghadapi kehancuran bisnisnya di Eropa karena meninggalkan Sofia demi wanita yang secara teknis masih milik pria lain.Tiga bulan berlalu sejak kecelakaan itu.
Gavin masih terbaring kaku, dikelilingi mesin-mesin yang menjadi penyambung nyawanya. Odelyn membagi hidupnya antara rumah sakit, menjaga Arsa, dan memantau Hidden Corner yang kini terasa sangat sepi tanpa tawa suaminya.
Hediva benar-benar menepati janjinya. Ia memindahkan seluruh kantor pusat operasinya ke Singapura demi berada di samping Odelyn.
Ia yang menjemput Arsa sekolah, ia yang memastikan Odelyn makan, dan ia yang membayar seluruh biaya medis terbaik dunia untuk Gavin.
Namun, kedekatan ini adalah racun bagi hati mereka.
"Kamu harus istirahat, Lyn," ucap Hediva suatu malam, sambil menyampirkan selimut ke bahu Odelyn di ruang tunggu ICU.
Odelyn menatap Hediva dengan mata lelah. "Gavin nyuruh kamu buat jagain aku, bukan buat gantiin posisi dia, Hediva."
"Aku tahu," balas Hediva lirih.
"Tapi aku nggak bisa liat kamu hancur pelan-pelan kayak gini."
Ketenangan rapuh mereka hancur saat pintu lobi rumah sakit terbuka lebar. Sofia datang tidak dengan tangis, tapi dengan amarah seorang wanita kelas atas yang dihina di depan publik.
Didampingi pengacara dan bodyguard, Sofia melangkah menuju Odelyn.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Odelyn. Hediva langsung berdiri melindungi Odelyn, tapi Sofia berteriak lebih kencang.
"Jadi ini wanita yang bikin kamu ninggalin aku di altar, Hediva?!" teriak Sofia. "Wanita yang suaminya lagi sekarat tapi masih sempat-sempatnya narik laki-laki lain ke tempat tidurnya?!"
"Sofia, tutup mulutmu!" bentak Hediva.
"Nggak akan!" Sofia melemparkan setumpuk dokumen ke wajah Hediva.
"Keluargaku sudah mencabut semua investasi di Eropa Timur. Vandermere Group sedang kolaps di London, Hediva! Dan aku nggak akan berhenti di situ. Aku akan tuntut wanita ini karena pencemaran nama baik dan perusakan hubungan!"
Odelyn, meski dalam kondisi lemah, perlahan berdiri. Sisi Mastermind-nya yang sempat tertidur kini bangun karena harga dirinya diinjak-injak.
"Sofia, benar?" Odelyn mengusap pipinya yang memerah, matanya menatap Sofia dengan kedinginan yang membuat Sofia merinding.
"Kamu datang ke sini, di depan ruang ICU suamiku, hanya untuk meributkan soal laki-laki dan saham?"
Odelyn melangkah maju, meskipun wajahnya pucat.
"Dengar. Hediva di sini karena perintah suamiku. Kalau kamu merasa kehilangan investasi, itu karena kamu tidak cukup berharga bagi Hediva dibanding persahabatannya dengan Gavin. Jangan salahkan saya atas ketidakmampuan kamu menjaga tunanganmu sendiri."
Sofia tertawa sinis.
"Kita lihat seberapa kuat kamu bicara saat aku bangkrutkan setiap usaha yang kamu sentuh, Odelyn Wijaya."
Setelah badai Sofia mereda, Hediva harus menghadapi kenyataan bahwa perusahaannya benar-benar dalam bahaya besar. Namun, ia tetap menolak kembali ke London.
Satu malam, saat hanya ada Hediva dan Odelyn di kamar Gavin, jari Gavin tiba-tiba bergerak sedikit. Odelyn langsung memanggil dokter dengan penuh harapan.
Namun, diagnosanya pahit.
"Ada aktivitas otak, tapi pasien mengalami amnesia parsial dan gangguan motorik hebat. Kalaupun dia bangun, dia mungkin tidak akan ingat siapa Anda... atau siapa Arsa."
Odelyn terduduk lemas di samping ranjang.
Di saat yang sama, ponsel Hediva bergetar—pesan dari Sofia:
"Ini baru permulaan, Hediva. Aku akan hancurkan Odelyn, Arsa, dan sisa-sisa hidup Gavin sampai kalian memohon padaku."
Hediva menatap Odelyn yang sedang menangis sambil memegang tangan Gavin, lalu ia menatap pesan Sofia. Ia menyadari satu hal: Satu-satunya cara menyelamatkan Odelyn dari Sofia adalah dengan Hediva harus 'mengorbankan' dirinya kembali ke pelukan Sofia.
Di luar, tubuh Gavin mungkin hanya mesin dan selang, tapi di dalam kepalanya, Gavin sedang berada di sebuah teater tua yang gelap.
Di layar besar teater itu, terputar memori yang paling ingin dia lupakan: Masa-masa dia menghancurkan Odelyn.
Gavin melihat dirinya sendiri yang dulu—Gavin yang sombong, yang menertawakan tangisan Odelyn di kampus, yang membuang surat cinta Odelyn ke tempat sampah, dan yang paling menyakitkan: Gavin melihat saat dia meninggalkan Odelyn yang sedang hamil sendirian di tengah hujan.
"Enggak... tolong berhenti..."
Gavin berteriak di dalam mimpinya, tapi suaranya tidak keluar.
Dia dipaksa merasakan setiap tetes air mata Odelyn. Dia seolah masuk ke dalam tubuh Odelyn saat itu—merasakan rasa sakit di perutnya saat kehilangan bayi mereka, merasakan dinginnya pengkhianatan, dan merasakan betapa hancurnya harga diri seorang wanita yang tulus mencintainya.
Di dunia nyata, monitor jantung Gavin berbunyi sangat kencang. Tubuhnya berkeringat dingin meskipun ruangan ICU sangat dingin.
Gavin sedang disiksa oleh masa lalunya sendiri.
Sambil Gavin berjuang dengan "iblis" masa lalunya, di koridor rumah sakit, Hediva sedang berdiri di persimpangan jalan.
Sofia baru saja mengirimkan ultimatum terakhir: Kembali ke London malam ini dan umumkan pernikahan kita, atau aku akan merilis dokumen palsu yang menyatakan Gavin melakukan korupsi besar-besaran di proyek Katong—yang akan membuat Odelyn dipenjara sebagai ahli warisnya.
Odelyn mendekati Hediva yang tampak tegang.
"Hediva, ada apa?"
Hediva menatap Odelyn, lalu melihat ke arah Arsa yang tertidur di kursi tunggu. Hediva sadar, Sofia tidak akan berhenti sampai Odelyn hancur.
Satu-satunya cara memadamkan api ini adalah dengan Hediva "menyerahkan" dirinya sebagai tumbal.
"Aku harus balik ke London, Lyn," ucap Hediva dengan suara datar, mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Urusan bisnis keluarga sudah nggak bisa ditinggal."
Odelyn terdiam. Ia merasa ada yang aneh. "Hanya karena bisnis? Atau karena Sofia?"
"Hanya karena itu yang terbaik buat semua orang," jawab Hediva dingin.
Ia ingin Odelyn membencinya, agar Odelyn tidak merasa berhutang budi saat Hediva membatalkan semua tuntutan Sofia dengan cara menikahi wanita gila itu.
Di dalam komanya, Gavin sampai pada memori terakhir: saat dia tertabrak bus demi menyelamatkan Arsa. Di sana, di tengah kegelapan, dia melihat sosok bayi kecil yang dulu hilang—bayi pertama mereka.
Sosok bayi itu memberikan tangan kecilnya pada Gavin.
"Ayah, balik ya? Bunda butuh Ayah buat jagain Arsa. Jangan biarkan Bunda sendirian sama orang yang mau ambil dia."
Tiba-tiba, mata Gavin terbuka lebar di ruang ICU.
Napasnya memburu. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih rumah sakit. Ia ingat semuanya. Ia ingat kejahatannya dulu, ia ingat kecelakaan itu, dan ia ingat... pesan suaranya kepada Hediva.
Gavin mencoba bicara, tapi tenggorokannya kaku. Ia melihat Odelyn sedang berdiri di jendela, membelakangi ranjangnya, tampak sedang berdebat dengan Hediva yang sudah membawa koper.
"Kamu pikir aku nggak tahu, Hediva?!" suara Odelyn meninggi.
"Kamu mau nikahin Sofia cuma supaya dia nggak ganggu aku dan Gavin, kan? Jangan jadi pahlawan kesiangan! Aku lebih milih bangkrut daripada liat kamu jual diri buat kami!"
"Ini bukan soal pahlawan, Odelyn! Ini soal keselamatan Arsa!" balas Hediva.
Di ranjang, tangan Gavin gemetar. Ia berhasil meraih sebuah gelas kaca di samping tempat tidur dan menjatuhkannya.
PRANGGG!
Odelyn dan Hediva serentak menoleh. Mereka membeku melihat Gavin sudah membuka mata. Tapi tatapan Gavin bukan tatapan kosong amnesia. Itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja kembali dari neraka.
Gavin menatap Hediva dengan sisa tenaga yang ada. "Jangan... pergi... Hediva," bisik Gavin parau. "Gue... gue udah liat semuanya. Gue nggak bakal biarin siapa pun... berkorban lagi... buat kesalahan gue."
Ruangan ICU itu mendadak penuh dengan teknisi medis dan ketegangan yang mencekam. Gavin, meski tubuhnya masih sangat lemah dan kakinya mati rasa, menolak untuk memejamkan mata. Ia mencengkeram lengan Hediva dengan sisa tenaganya.
"Gue denger semuanya... tentang Sofia," bisik Gavin, suaranya parau tapi tajam. "Jangan jual hidup lo buat gue, Div. Gue punya sesuatu... yang gue simpan buat keadaan darurat."
Gavin mengisyaratkan Odelyn untuk mengambil laptop rahasianya di dalam brankas Hidden Corner. Di dalam folder terenkripsi yang bahkan Odelyn tidak tahu, terdapat data intelijen yang Gavin kumpulkan secara diam-diam saat ia menyusup ke ruang arsip Baron dulu.
Ternyata, keluarga Sofia adalah salah satu mitra gelap Baron dalam pencucian uang internasionalPintu ruang ICU tiba-tiba terbuka kasar. Sofia masuk dengan wajah penuh kemenangan, didampingi dua pengacara. Ia belum tahu kalau Gavin sudah sadar.
"Waktu habis, Hediva. Jet pribadiku sudah siap. Ikut aku sekarang, atau aku tekan tombol 'hancurkan' untuk Odelyn," ancam Sofia sombong.
"Tekan saja, Sofia," suara berat itu muncul dari ranjang.
Sofia tersentak hebat, hampir menjatuhkan ponselnya. Ia melihat Gavin menatapnya dengan pandangan sedingin es. Odelyn berdiri di samping Gavin, memegang laptop yang sudah menampilkan data transaksi ilegal keluarga Sofia.
"Satu langkah lagi kamu mengancam istriku," ucap Gavin sambil terengah,
"maka data ini akan terkirim otomatis ke Interpol dan Europol. Keluarga kamu tidak akan hanya bangkrut, Sofia. Kalian akan menghabiskan sisa hidup di sel yang sama dengan Nike."
Wajah Sofia berubah dari merah padam menjadi pucat pasi. Ia menyadari bahwa permainannya sudah berakhir. Dengan penuh dendam dan rasa malu, ia berbalik dan lari keluar dari rumah sakit, meninggalkan Singapura selamanya.
Setelah Sofia pergi, keheningan menyelimuti ruangan. Hediva menarik napas lega, namun hatinya perih. Ia melihat Gavin dan Odelyn saling berpegangan tangan.
Namun, saat dokter melakukan pemeriksaan lanjutan, sebuah kenyataan pahit terungkap. Benturan pada tulang belakang Gavin saat menyelamatkan Arsa mengakibatkan kelumpuhan permanen dari pinggang ke bawah.
"Gue... gue nggak bisa ngerasain kaki gue, Lyn," ucap Gavin dengan nada suara yang hancur.
Ia melihat ke arah Hediva yang berdiri gagah di ujung ruangan. Gavin merasa dirinya sekarang benar-benar menjadi beban.
"Div... lo bener. Odelyn butuh laki-laki yang bisa berdiri di samping dia. Bukan laki-laki di kursi roda."
Odelyn berlutut di samping ranjang Gavin. Ia mengambil tangan Gavin dan meletakkannya di pipinya.
"Dulu, lo hancurin hati gue, dan gue bertahan. Terus, lo pertaruhin nyawa buat anak kita, dan lo selamat," Odelyn menatap mata Gavin dengan penuh cinta dan otoritas.
"Lo pikir gue bakal ninggalin lo cuma karena lo nggak bisa jalan? Gue mencintai jiwa lo yang udah 'pulang', Gavin. Bukan cuma fisik lo."
Odelyn menoleh ke arah Hediva. "Dan kamu, Hediva. Terima kasih karena sudah hampir mengorbankan diri. Kamu tetap sahabat terbaik kami. Tapi Arsa butuh ayahnya, dan aku butuh pria yang jiwanya sudah aku maafkan."
Hediva tersenyum pahit, namun ada rasa damai di sana. Ia mendekat dan menepuk bahu Gavin. "Gue bakal cari dokter syaraf terbaik di dunia buat lo, Vin. Tapi sampai lo bisa jalan lagi, gue bakal tetep jadi 'paman' yang paling berisik buat Arsa. Jangan pernah ngerasa nggak pantes lagi."
Kemenangan atas Sofia tadi ternyata adalah ledakan tenaga terakhir Gavin. Setelah Sofia pergi, monitor jantung Gavin kembali berbunyi tak beraturan. Tubuhnya yang sudah ringkih tidak sanggup menahan komplikasi pasca-operasi.
Gavin menggenggam tangan Odelyn dengan sisa kekuatan yang sangat tipis. Matanya menatap Arsa yang digendong oleh Hediva di ambang pintu.
"Lyn..." bisik Gavin, air matanya jatuh.
"Maafin gue... buat semuanya. Dari awal kita ketemu... sampe sekarang. Gue nggak bisa... tepati janji buat tua bareng lo."
Gavin menoleh ke arah Hediva. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang dalam. Gavin tidak perlu bicara lagi; Hediva tahu itu adalah penyerahan tanggung jawab terakhir.
"Gue... pergi duluan... jagain... Ratu gue..."
Tangan Gavin melemas. Suara panjang monitor yang mendatar memenuhi ruangan. Gavin Danu dinyatakan meninggal dunia tepat di depan wanita yang pernah ia hancurkan, namun paling ia cintai.