Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang di Balik Gaun Putih
Persiapan pernikahan yang dilakukan dalam waktu singkat ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Meskipun restu Arman sudah digenggam erat, dunia di luar pagar rumah mereka tidak selembut pelukan Donny. Kabar mengenai rencana pernikahan CEO ternama dengan putri dari sahabat lamanya mulai menyebar, memicu bisik-bisik yang tidak sedap di kalangan kolega bisnis Donny dan lingkaran sosial Katya.
Bagi publik, Donny adalah duda mapan yang kehilangan istrinya secara tragis, sementara Katya hanyalah gadis muda yang baru saja lulus kuliah. Label "simpanan" atau "pernikahan karena hutang budi" mulai mampir ke telinga Katya melalui media sosial dan tatapan sinis teman-teman sekantornya.
Namun, di dalam butik pengantin yang sunyi di daerah Kebayoran, Katya mencoba mengabaikan itu semua. Ia sedang berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun putih sederhana namun sangat elegan.
"Om suka?" tanya Katya sambil menoleh ke arah Donny yang duduk di sofa panjang.
Donny tidak langsung menjawab. Ia menatap Katya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di mata Donny, Katya tidak hanya mengenakan gaun; ia mengenakan seluruh impian dan harapan yang pernah Donny doakan dua dekade lalu.
"Kamu terlihat luar biasa, Katya. Terlalu indah untuk pria seperti saya," jawab Donny rendah.
Katya menghampiri Donny, berlutut di depannya tanpa peduli gaun mahalnya akan kotor. "Berhenti merendah, Om. Kita sudah melewati masa-masa paling sulit. Sekarang hanya ada kita."
Donny mengelus pipi Katya. Namun, kecemasan di wajahnya tidak bisa hilang sepenuhnya. "Saya hanya takut, Katya. Saya takut dunia akan menyakitimu karena pilihanmu mencintai saya."
Tepat saat itu, pintu butik terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat mewah dan gaya bicara yang tajam masuk tanpa permisi. Namanya Sandra, adik dari mendiang istri Donny. Selama ini, Sandra adalah orang yang paling vokal mengkritik bagaimana Donny mengelola harta peninggalan kakaknya.
"Jadi ini calon pengantin barumu, Donny?" suara Sandra menggelegar, penuh nada sarkasme. "Seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum tahu cara mengurus rumah tangga? Atau dia hanya tahu cara menguras rekeningmu?"
Donny berdiri, wajahnya mengeras. "Sandra, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku datang untuk mengingatkanmu, Donny. Kakakku meninggal dengan meninggalkan banyak rahasia. Dan aku tidak akan membiarkan harta keluarga kami jatuh ke tangan gadis ingusan yang ayahnya saja butuh uangmu untuk tetap hidup," Sandra menatap Katya dengan tatapan menghina. "Berapa hargamu, manis? Berapa Donny membayarmu agar kamu mau tidur dengan pria yang usianya pantas menjadi ayahmu?"
Plakk!
Tamparan itu tidak datang dari Donny, melainkan dari Katya. Tangannya gemetar, namun matanya menyala penuh keberanian.
"Saya mencintainya bukan karena uangnya. Saya mencintainya karena dia adalah satu-satunya pria yang menjaga kehormatan saya bahkan sebelum saya tahu artinya," ujar Katya dengan suara bergetar namun tegas. "Dan jika Anda ingin membahas harta, silakan bicara dengan pengacara kami. Tapi jangan pernah hina ayah saya."
Sandra memegangi pipinya, terkejut dengan keberanian Katya. Ia menoleh pada Donny. "Kamu lihat, Donny? Kamu memilih macan kecil. Tapi hati-hati, macan ini akan mencabikmu jika dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam kematian kakakku."
Sandra pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam butik. Katya menoleh pada Donny, mencari penjelasan.
"Apa maksudnya, Om? Kematian istri Om... ada apa sebenarnya?"
Donny memijat pangkal hidungnya. "Itu cerita panjang, Katya. Cerita yang saya harap tidak perlu kamu dengar di hari-hari bahagia kita."
"Om, kita akan menikah. Tidak boleh ada rahasia lagi," desak Katya.
Donny akhirnya membawa Katya duduk kembali. Dengan suara berat, ia mulai bercerita. "Istri saya, Marina, tidak meninggal karena kecelakaan biasa. Dia menderita depresi berat karena tekanan dari keluarganya—keluarga Sandra. Mereka menuntut saya untuk terus menyuntikkan dana ke bisnis mereka yang hampir bangkrut. Marina terjepit di antara cintanya pada saya dan loyalitas pada keluarganya. Malam itu, dia mengemudi dalam keadaan tidak stabil."
Donny menatap tangannya. "Sandra selalu menyalahkan saya. Dia bilang saya terlalu keras pada Marina. Dia mengancam akan menghancurkan reputasi saya jika saya tidak terus memberi mereka uang. Pernikahan kita... adalah sasaran empuk bagi mereka untuk membuat skandal."
Katya menggenggam tangan Donny erat-erat. "Kita akan hadapi mereka, Om. Bersama Ayah juga."
---
Malam harinya, di rumah Arman, suasana terasa lebih hangat meskipun ancaman Sandra masih membayangi. Arman sedang duduk di teras bersama Donny, seperti kebiasaan mereka dulu. Bedanya, sekarang Donny bukan lagi tamu, tapi calon menantu.
"Don," panggil Arman. "Aku mendengar tentang Sandra."
"Maafkan aku, Man. Aku menyeret Katya ke dalam masalah pribadiku."
Arman menggeleng. "Justru aku yang harus minta maaf. Aku tidak tahu bebanmu seberat itu. Tapi dengarkan aku, Donny. Katya itu lebih kuat dari yang kamu kira. Dia memiliki darahku yang keras kepala. Jika dia sudah memilihmu, badai sebesar apa pun tidak akan membuatnya lepas."
Arman menyerahkan sebuah kotak kecil. "Ini cincin milik ibunya Katya. Pakailah untuk melamarnya secara resmi besok pagi di depan keluarga besar kita. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku bangga menyerahkan anakku padamu."
Keesokan harinya, acara pertunangan resmi digelar secara sederhana di rumah Arman. Donny berlutut di depan Katya, di hadapan orang tua dan beberapa kerabat dekat.
"Katyamarsha," suara Donny terdengar sangat tulus. "Dua puluh satu tahun lalu saya memberikan nama itu agar kamu tumbuh menjadi wanita yang murni dan tulus. Hari ini, saya datang untuk meminta kesediaanmu, agar nama itu bersanding dengan nama saya. Maukah kamu menjadi pendamping hidup saya, dalam suka maupun duka?"
Katya tersenyum dengan air mata yang mengalir di pipinya. "Iya, Om. Katya mau."
Cincin itu melingkar di jari Katya, sebuah pengikat yang jauh lebih kuat dari sekadar dokumen beasiswa atau janji-janji palsu. Namun, di luar sana, Sandra sedang bekerja sama dengan seorang jurnalis nakal untuk merilis sebuah artikel fitnah yang menuduh Donny melakukan manipulasi terhadap keluarga Arman demi mendapatkan Katya.
Judul artikel itu sudah siap cetak: "Skandal CEO: Membeli Putri Sahabat dengan Mahar Nyawa."
Donny yang menerima bocoran berita itu dari Zaky—asisten kepercayaannya—hanya bisa terdiam di ruang kerjanya malam itu. Ia tahu, perjuangannya belum berakhir. Ia harus melindungi Katya dari kejamnya tinta media, sembari mempersiapkan pernikahan yang tinggal menghitung hari.
Ia mengambil ponselnya dan menelepon Sandra. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Sandra. Tapi ingat, setiap kata yang kamu tulis tentang Katya, akan saya balas dengan seluruh kekuatan hukum yang saya miliki. Saya tidak akan membiarkanmu merusak nama yang sudah saya jaga selama dua puluh satu tahun."
Donny menatap foto Katya saat bayi di dompetnya, lalu menatap Katya yang sedang tertawa bersama ibunya di ruang tengah. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi hanya melindungi seorang anak kecil, tapi ia sedang bertempur untuk wanita yang menjadi alasan jantungnya tetap berdetak.