Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sore hari, saat Kayla sedang membereskan barang-barangnya di kamar pembantu, pintu terbuka pelan. Ashabi berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak terkejut.
“Kayla, Ibu bilang kamu mau berhenti kerja?” tanya Ashabi tanpa basa-basi.
Kayla menoleh, hatinya langsung berdesir melihat ekspresi pria itu. “Iya,” jawabnya pelan.
Ashabi melangkah masuk, mendekat. “Kenapa? Apa karena Zahira?”
Kayla terdiam sesaat, lalu menggeleng tegas. “Bukan.”
“Lalu kenapa?” tanya Ashabi terdengar lebih keras, sarat emosi yang tertahan.
Kayla menatapnya lurus-lurus, matanya memerah. “Aku tidak bisa bekerja dengan tenang, Mas Abi. Nayla sakit. Dia membutuhkan aku di sisinya.”
Ashabi terdiam. Bahunya turun, napasnya berat.
Kayla menghela napas. “Aku tahu kamu baik. Tapi ini tentang tanggung jawabku sebagai kakak. Aku tidak bisa membagi diri.”
Keheningan menggantung di antara mereka. Akhirnya Ashabi mengangguk pelan.
“Kalau itu keputusanmu, aku tidak bisa memaksa.” Meski berkata begitu, matanya menyimpan kekecewaan yang tak terucap.
Hujan baru saja reda ketika Dalfa menyalakan kembali mesin mobilnya. Namun, suasana petang itu sudah gelap. Lampu jalan masih basah, memantulkan cahaya kuning yang bergetar di genangan air. Wiper sesekali bergerak, menghapus sisa tetes hujan di kaca depan, seolah ikut membersihkan kegelisahan yang menggerogoti pikirannya.
Dari kejauhan, ia melihat Kayla melangkah keluar dari gerbang rumah. Bahunya menunduk, langkahnya cepat, tetapi lelah. Tas kain besar tergantung di lengannya, berisi bekal untuk adik-adiknya. Sebuah ojek online sudah menunggunya.
Dalfa tidak menyalakan lampu utama. Ia menunggu beberapa saat, memastikan Kayla benar-benar berjalan menjauh, lalu perlahan mengikuti di belakangnya.
Jaraknya tidak terlalu dekat, cukup jauh agar tidak mencolok, tetapi cukup untuk memastikan ia tidak kehilangan jejak.
Kayla tidak menyadari apa pun. Dia turun di pinggir jalan raya. Lalu, berjalan melewati gang sempit yang licin, melewati warung kopi tua yang lampunya remang-remang, melewati deretan kontrakan berdinding kusam dengan cat mengelupas.
Langkah Dalfa melambat saat ia melihat Kayla berhenti di depan sebuah kontrakan sederhana. Bangunannya kecil, berpagar besi berkarat, dengan jemuran tergantung kain mukena dan seragam sekolah anak-anak. Lampu teras menyala temaram.
Kayla membuka gerbang, lalu menghilang di balik pintu.
Beberapa saat Dalfa hanya duduk diam, menatap rumah itu. Dadanya terasa berat, bukan karena letih, melainkan karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Perlahan, ia berjalan. Sepatunya menginjak genangan air kecil di jalan tanah. Suara langkahnya pelan, hampir tak terdengar.
Di depan sebuah warung kecil tidak jauh dari kontrakan Kayla, beberapa warga duduk mengobrol. Ada ibu-ibu yang menunggu cucunya, seorang bapak paruh baya yang sedang mengisap rokok, dan dua pemuda yang tertawa pelan.
Dalfa mendekat. “Permisi,” suaranya rendah, tetapi tegas.
Mereka menoleh serempak. Seketika suasana berubah. Kehadiran Dalfa dengan jas rapi, sepatu mahal, dan aura dinginnya terasa asing di lingkungan sederhana itu.
“Iya, Mas. Ada perlu apa, ya?” jawab seorang ibu setengah ragu.
Dalfa mengangguk sopan. “Saya ingin bertanya. Apa Ibu kenal perempuan yang tinggal di kontrakan itu?” ia menunjuk ke arah rumah Kayla.
Ibu itu mengangguk.
“Oh, maksud Mas, Mbak Kayla?”
“Iya, Bu. Kayla ...,” ulang Dalfa pelan.
“Mbak Kayla itu orang baik dan sopan. Dia juga pekerja keras. Tidak gengsi kerja jadi pembantu demi menghidupi adik-adiknya. Dia pergi kerja dari pagi sampai sore,” jelas sang ibu.
Dalfa menghela napas kecil. “Beliau tinggal sendiri?”
Ibu itu menggeleng. “Tidak. Dia tinggal sama tiga adiknya. Mereka itu yatim piatu, kasihan sekali.”
Kalimat itu seperti batu yang menghantam dada Dalfa. Gambar wajah Kayla yang tenang, tertutup, penuh kewaspadaan, kembali terlintas di benaknya.
“Apa Ibu tahu tentang masa lalunya?” tanya Dalfa, suaranya sedikit lebih pelan.
Para warga saling berpandangan.
Seorang bapak paruh baya menggeleng. “Kami tidak tahu banyak, Mas. Yang kami tahu, dia perempuan baik. Rajin, sopan, tidak macam-macam. Sering kelihatan capek, tapi tidak pernah mengeluh.”
Dalfa terdiam. Jemarinya meremas ponsel di saku celananya. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah foto, Queen.
Foto seorang wanita malam. Bergaun merah menyala, riasan tebal, rambut terurai indah, dan yang paling mencolok adalah sepasang mata amber yang bersinar di bawah lampu redup.
Ia menyerahkan foto itu kepada ibu tadi. “Kalau orang ini, apakah Ibu mengenalnya?”
Ibu itu menatap lama foto tersebut, mengerutkan kening, beberapa detik hening. Lalu, matanya melebar. “Lho, ini Kayla, kan?” katanya spontan.
Dalfa tertegun.“Kayla?” ulangnya, nyaris berbisik.
“Iya, ini Kayla. Tapi ... Ya Allah, kelihatannya beda sekali kalau pakai make up begini,” ujar sang ibu. “Biasanya dia juga tidak pernah pakai baju terbuka seperti ini. Waktu belum berhijab pun, dia selalu sopan.”
Jantung Dalfa berdetak semakin keras.
Seorang pemuda ikut mengintip foto itu. “Benar, wajah wanita itu percis Mbak Kayla,” katanya canggung.
Dalfa menarik kembali fotonya perlahan. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya berputar liar. Kayla dan Queen.
Nama itu bertabrakan di kepalanya. Wajahnya yang selama ini tampak dingin kini berubah, rahangnya mengeras, matanya berkilat dengan sesuatu yang sulit dibaca. Ada rasa marah, terkejut, terluka, bingung, semuanya bercampur.
Dalfa pun mengangguk singkat kepada warga. “Terima kasih.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya. Lampu dashboard memantul di wajah Dalfa yang tegang.
Pria itu menatap lurus ke depan, tetapi yang ia lihat hanya bayangan Kayla. Wanita yang sering menunduk ketika berpapasan dengannya. Wajah Kayla yang ketakutan saat piring pecah. Wanita yang selalu buru-buru menarik tangannya saat ia hampir menyentuhnya. Kayla selalu berhati-hati, selalu berjaga jarak.
Lalu, kini Queen. Wanita penghibur yang pernah ia lihat di foto, yang pernah dibicarakan teman-temannya dengan nada tergila-gila.
Tiba-tiba Dalfa merasa dadanya terasa sesak. Jemarinya mengetuk kemudi tanpa sadar.
“Jadi, Queen itu kamu,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Senyum tipis tersungging di bibirnya. Bukan senyum kemenangan karena menemukan jawaban. Melainkan senyum getir karena kebenaran yang terungkap jauh lebih menyakitkan daripada ketidaktahuan.
Dalfa teringat kembali mimpinya. Wanita bermata amber yang basah oleh air mata, bergetar ketakutan. Ternyata, bukan sekadar bayangan. Itu adalah kenangannya yang pernah dilupakan.
Dalfa menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Matanya terpejam dan dadanya naik turun perlahan. Kini ia tahu, Kayla adalah Queen.
Entah mengapa, alih-alih merasa jijik atau marah, hatinya justru terasa perih. Seolah ia baru saja membuka luka lama seseorang tanpa sengaja.
Di dalam rumah kontrakan, Kayla duduk di tepi kasur. Nayla sudah tertidur, napasnya teratur tetapi lemah.
Kayla mengusap lembut rambut Nayla, air mata mengalir tanpa suara. “Ya Allah, kuatkan aku,” bisiknya lirih.
Di luar, hujan kembali turun. Dalfa masih duduk di dalam mobil, menatap rumah kecil itu dalam diam.
Dua dunia berbeda, tetapi kini terikat oleh satu kebenaran yang tak bisa ditarik kembali.
Di dashboard mobil Dalfa, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
[Tuan Dalfa, berhentilah mencari Queen. Kebenaran itu bisa menghancurkan lebih dari satu orang.]
Dalfa menatap layar itu lama. Matanya menyipit.
Alih-alih mundur ia justru menggenggam ponselnya semakin erat.
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya