"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Sang Penguasa Tanpa Hati
BAB 15: Sang Penguasa Tanpa Hati
Satu bulan telah berlalu sejak malam di kamar 702 yang menghancurkan segalanya. Jakarta masih tetap sama—bising, sesak, dan kejam. Namun, bagi dunia bisnis di ibukota, ada sesuatu yang berubah secara drastis. Rangga Adiguna telah kembali ke takhtanya di Grup Sarah, bukan lagi sebagai Manajer Pemasaran yang ramah, melainkan sebagai Direktur Operasional yang paling ditakuti.
Pagi itu, di ruang rapat utama yang berdinding kaca, suasana terasa mencekam. Enam orang manajer senior duduk dengan keringat dingin di dahi mereka. Rangga duduk di kursi pimpinan, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang dijahit sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya... mata itu kini terlihat seperti dua bongkah es yang tidak mengenal kata belas kasihan.
"Ini yang kalian sebut laporan?" suara Rangga memecah keheningan. Suaranya rendah, namun tajam seperti sembilu.
Ia melempar sebuah map dokumen ke tengah meja bundar itu. "Target penjualan turun tiga persen, dan alasan kalian adalah 'fluktuasi pasar'? Jika aku ingin mendengar alasan sampah seperti itu, aku akan menyewa robot, bukan membayar gaji mahal kalian."
"Tapi Pak Rangga, kondisi ekonomi sedang—"
"Besok pagi, aku ingin surat pengunduran dirimu ada di mejaku, Hendry," potong Rangga tanpa menoleh.
Hendry—pria yang dulu sempat menghina Rangga saat Rangga menjadi buruh gudang—terpaku.
Wajahnya pucat pasi. Setelah kembali ke kekuasaannya, hal pertama yang dilakukan Rangga adalah membeli perusahaan tempat Hendry bekerja, menutupnya, dan membawa Hendry ke bawah kendalinya hanya untuk menghancurkannya secara perlahan.
"Pak, tolong... saya punya keluarga," rintih Hendry.
Rangga berdiri, merapikan kancing jasnya. Ia menatap Hendry dengan tatapan kosong. "Keluarga? Kamu pikir aku peduli? Dunia ini tidak butuh orang lemah, Hendry. Dan kamu... kamu adalah sampah yang lupa tempatnya."
Rangga melangkah keluar dari ruang rapat tanpa menoleh lagi. Maya, sekretarisnya yang kini kembali bekerja untuknya, bergegas mengikuti dari belakang dengan langkah cepat. Maya merasa ngeri melihat perubahan bosnya. Rangga tidak pernah tersenyum lagi. Ia tidak pernah makan siang di kantin lagi. Ia hanya bekerja, bekerja, dan bekerja, seolah-olah ia sedang berusaha membunuh waktu agar tidak sempat untuk berpikir.
"Pak Rangga, ada jadwal makan malam dengan investor dari Shanghai jam tujuh nanti," ujar Maya hati-hati.
"Batalkan. Aku ingin meninjau proyek di Sentul malam ini," jawab Rangga singkat.
"Tapi Pak, ini sudah hari ketujuh Anda tidak istirahat cukup. Ibu Sarah berpesan—"
Rangga berhenti mendadak, membuat Maya hampir menabrak punggungnya. Rangga menoleh, sorot matanya begitu dingin hingga Maya merasa darahnya membeku. "Jangan pernah sebut nama itu di depanku jika kamu masih ingin melihat matahari besok pagi. Paham?"
Maya menunduk dalam. "Baik, Pak. Maafkan saya."
Rangga masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas. Ia mengunci pintu. Di ruangan yang semerbak aroma parfum mahal dan kopi pahit itu, Rangga berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota. Ia mengeluarkan sebuah benda dari saku jasnya—sebuah ponsel lama yang layarnya retak.
Itu adalah ponsel yang dulu sering ia gunakan untuk menghubungi Arini.
Ia menyalakannya. Layar itu menampilkan foto wallpaper seorang gadis yang sedang tertawa di bawah pohon kamboja. Arini. Rangga menatap foto itu dengan rahang yang mengeras. Rasa benci dan cinta berperang di dalam dadanya, menciptakan rasa pusing yang sudah menjadi sahabat karibnya setiap hari.
"Di mana kamu sekarang, Rin? Apakah kamu sedang tertawa dengan pria itu menggunakan uang ibuku?" bisiknya dingin.
Satu bulan yang lalu, setelah Rangga pergi dari rumah sakit, Arini menghilang. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa pasien telah dipindahkan oleh wali resminya. Rangga mencoba melacaknya, bukan karena ia masih mencintainya—setidaknya itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri—tapi karena ia ingin melihat Arini menderita. Ia ingin melihat wanita itu tahu bahwa ia telah kembali menjadi penguasa, dan bahwa Arini telah membuat kesalahan besar dengan mencampakkannya.
Namun, Arini seperti ditelan bumi. Tidak ada catatan medis di rumah sakit manapun di Jakarta. Ibu Sarah juga bungkam, hanya mengatakan bahwa Arini sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Rangga melemparkan ponsel itu ke atas meja dengan kasar. Ia membenci kenyataan bahwa meskipun ia sudah memiliki segalanya kembali, pikirannya tetap saja tertuju pada wanita pengkhianat itu.
Di saat yang sama, di sebuah tempat yang sangat jauh dari hiruk-pikuk Jakarta.
Sebuah bangunan putih berdiri di pinggir pantai yang terisolasi di daerah pesisir Jawa Tengah. Itu adalah sebuah sanatorium pribadi milik keluarga Adiguna yang tidak terdaftar di peta publik. Di dalam salah satu kamarnya yang menghadap langsung ke laut, Arini terbaring lemah.
Kondisinya kini jauh lebih tragis. Tubuhnya sangat kurus, hampir menyerupai kerangka yang terbungkus kulit pucat. Rambutnya sama sekali tidak ada, kepalanya kini hanya ditutupi oleh kain kasa karena ada prosedur pembedahan kecil untuk mengurangi tekanan di otaknya.
Arini menatap ombak dari balik jendela dengan pandangan sayu. Di tangannya, ia memegang selembar koran bisnis yang sudah agak lusuh. Di halaman depan, ada foto Rangga yang sedang memotong pita peresmian gedung baru. Rangga terlihat gagah, tampan, dan sangat berkuasa.
"Kamu sudah kembali ke tempatmu, Ga..." bisik Arini. Suaranya kini hanya berupa desisan yang sulit dimengerti.
Air mata jatuh dari sudut matanya yang cekung. Setiap napas yang ia ambil terasa seperti ribuan jarum yang menusuk paru-parunya. Kankernya telah mencapai stadium akhir yang paling ganas. Dokter di sanatorium itu sudah angkat tangan; mereka hanya memberikan morfin dosis tinggi untuk mengurangi rasa sakitnya, menunggu waktu yang sudah bisa dihitung dengan jari.
"Nona Arini, waktunya minum obat," ujar seorang perawat yang ditugaskan Ibu Sarah untuk menjaganya dalam kerahasiaan.
Arini menggeleng lemah. "Suster... tolong... ambilkan kotak di bawah ranjang."
Perawat itu menghela napas iba, lalu mengambilkan sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya, tersimpan tumpukan uang yang sudah kusam dan berbau debu gudang. Uang gaji pertama dan terakhir yang diberikan Rangga padanya.
Arini memeluk uang itu di dadanya. Bau debu gudang itu sudah hilang, digantikan aroma antiseptik, namun bagi Arini, uang itu masih membawa aroma keringat Rangga yang jujur.
"Kalau aku... mati nanti... tolong... pastikan uang ini ikut dikubur bersamaku," pinta Arini dengan napas tersengal.
"Jangan bicara begitu, Nona. Anda harus kuat."
Arini tersenyum getir. Kuat untuk apa? Tujuannya sudah selesai. Rangga sudah aman. Rangga sudah sukses. Rangga membencinya, dan itu adalah hadiah terbaik yang bisa ia berikan agar Rangga tidak perlu menangis saat mendengar kabar kematiannya nanti.
Namun, Arini tidak tahu bahwa di Jakarta, Rangga sedang menuangkan wiski ke dalam gelasnya, menatap hujan yang turun, dan tanpa sadar menggumamkan namanya dengan penuh luka.
"Aku membencimu, Arini. Aku sangat membencimu sampai rasanya aku ingin mati," gumam Rangga sambil meneguk minumannya hingga tandas.
Dua jiwa yang saling mencintai itu kini dipisahkan oleh dinding kesalahpahaman yang dibangun di atas pengorbanan yang terlalu besar. Dan sementara Rangga membangun kerajaan bisnisnya dengan hati yang beku, Arini perlahan-lahan mulai memejamkan matanya, bersiap untuk perjalanan panjang di mana rasa pusing dan sakit tidak akan bisa mengejarnya lagi.
Malam itu, monitor jantung di sanatorium pesisir itu kembali mengeluarkan bunyi yang tidak stabil. Arini sedang berada di ambang batas.